NovelToon NovelToon
Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.



Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Braden terus mengejar Monica yang berjalan cepat meninggalkannya. Monica marah padanya dan dia harus menjelaskannya.

Melihat hal itu, Dara melengos. Memang, dia sudah siap-siap akan rasa sakit yang mungkin dia rasakan saat memutuskan untuk menjadi kekasih Braden dulu. Apalagi, dia merubah penampilannya pun salah satunya untuk mengetes ketulusan Braden padanya.

Dulu, dia hanya iseng, menuruti trend ala-ala sinema ftv yang sering ditonton oleh ibunya. Dia yang kalau libur sekolah atau pulang sekolah tidak pernah keluyuran kadang berakhir ikut menemani ibunya nonton pun jadi kepikiran untuk melakukan hal konyol tersebut.

Merubah penampilan untuk mendapat pria yang benar-benar tulus mencintaimu apa adanya. Bukan karena ada apanya.

Dara kira, Braden benar-benar memiliki rasa padanya. Braden tulus padanya karena dia menerima bagaimana pun penampilannya.

Padahal, sejak dulu bisa dibilang kalau Braden itu cowok populer di sekolah. Bahkan, sampai sekarang pun ternyata tetap sama.

Tak disangka, kalau Braden mengungkapkan rasa padanya karena ada sebab lain. Memanfaatkan kepintaran serta kepolosannya, juga karena kasihan padanya.

Oh, dan satu lagi. Karena desakkan sang ibu yang bersahabat dengan Erina, ibu kandung Dara.

Tiga tahun bukan waktu sebentar, apalagi Braden selama ini kerap bersikap manis padanya meski mereka sempat menjalin hubungan jarak jauh.

Tapi, kini semuanya sudah terbukti. Braden tidak benar-benar tulus padanya.

"Cowok breng-sek!" maki Dara dalam hati.

Wajar 'kan kalau Dara masih merasa sakit hati saat melihat Braden yang sepertinya tidak mau kehilangan Monica?

"Hah. Sadarlah, Dara. Gak usah lo berharap lebih lagi tentang Braden. Apalagi ... Sekarang lo udah punya suami, lo udah nikah. Lo udah gak bisa ngelakuin semuanya sesuai sama mau lo."

Dara menggigit bibir, menahan rasa sesak di dada kala mengingat kalau statusnya bukan jomblo lagi, melainkan sudah menikah sekarang.

Hidupnya sudah dijual untuk membayar semua hutang ayahnya. Dara seakan sudah tidak memiliki hak untuk dirinya sendiri meski suaminya juga tidak menginginkannya.

 

"Monic, tunggu!" Braden mencekal pergelangan tangan Monica yang akhirnya bisa dia raih. Memegangnya erat karena Monica terus meronta agar cekalan tangan Braden bisa lepas dari tangannya.

"Dengerin penjelasan gue dulu," ucap Braden.

"Penjelasan apa?!" sentak Monica. "Lo udah berhasil ngerendahin harga diri gue di depan semua murid sekolahan ini tau, gak? Lo diam aja pas gue dimalu-maluin sama cewek cupu itu!"

Braden menyugar rambut dengan tangan sebelah kirinya. "Gak gitu, Babe. Gue ketua OSIS di sini. Gue harus bisa jaga image yang selama ini gue jaga. Apalagi lo liat sendiri tadi anak-anak juga ada yang ngerekam."

Monica menyentak napasnya kasar. "Bukan karena lo takut sama dia, 'kan?" tanyanya

Kedua alis Braden naik mendengar pertanyaan Monica. "Takut? Takut apa?"

"Ah sudahlah. Gak usah dibahas lagi," ujar Monica.

"Jangan marah lagi, hm."

"Iya."

Braden merangkul pundak Monica. "Ke ruang OSIS, yuk!" ajaknya.

"Ngapain? Kan rapatnya nanti sore." Monica heran.

"Di sana lagi sepi, lagian juga kayaknya seragam kamu harus dikeringin," bisik Braden.

Monica tersenyum tipis dan mengangguk. "Gue tau, Braden. Gue tau semuanya, dan gue gak bakal biarin lo jatuh lagi ke si cewek cupu itu!" batinnya.

 

Di kantin, Dara mengabaikan tatapan semua murid padanya. Dia pergi dengan Bebi yang mengikuti. Bebi mengajak Dara untuk pergi ke UKS. Takutnya kaki Dara melepuh karena tersiram air kuah bakso panas tadi.

Rafa yang tadi hendak membeli air minum dingin ke kantin sepulang dari mesjid pun turut menyaksikan aksi berani istri kecilnya.

Tanpa sadar, bibirnya mengulas senyum tipis. Sangat tipis hingga mungkin tidak ada yang bisa menyadarinya, termasuk dia sendiri.

Dalam hati, dia merasa salut karena Dara bukan termasuk wanita yang gampang ditindas meski penampilannya terkesan menunjukkan kalau dia adalah orang yang lemah.

Rafa memutuskan untuk kembali ke ruang guru saja. Apalagi saat Dara sepertinya akan pergi dari kantin.

"Lho, kamu kenapa lagi, Dara?" tanya Bu Nindi.

Dara nyengir. "Kaki saya kesiram kuah bakso, Bu. Saya sih ngerasa gak apa-apa, cuman temen saya aja ini yang lebay ngajak saya ke sini."

Bebi langsung melotot kesal. "Dih, malah dikatain lebay!" ujarnya dengan nada protes.

"Temen kamu bener loh, Dara. Bisa aja kaki kamu melepuh meski kehalang sama kaos kaki begini," ujar Bu Nindi kemudian memeriksa kaki Dara.

"Tuh, merah gini ih. Kena air aja pasti bakal agak perih ini."

Dara menggigit sedikit bibir bawahnya. Memang sih agak perih. Dia menghembuskan napas berat, kedua tangannya mengepal karena kesal pada Monica.

Setelah diolesi salep, Dara dan Bebi keluar dari ruang UKS karena harus segera masuk ke kelas. Jam terakhir jadwalnya matematika. Dia tidak ingin dihukum lagi karena terlambat masuk ke kelas oleh Rafa.

Dara terpaksa memakai sandal yang dipinjamkan oleh Bu Nindi. Sepatunya yang sebelah kanan basah dan tidak mungkin juga dia menggunakan sepatu hanya sebelah kiri saja.

Saat masuk, Dara langsung mendapat tatapan tajam dari Renita dan gengnya. Tidak peduli, Dara langsung saja duduk di kursinya.

Brak!

Renita langsung menggebrak meja Dara. "Lo anak baru, cupu tapi udah berani banget ngelawan Monica. Hebat ya lo!" sentaknya.

Dara menghela napas panjang. Sungguh, dia lelah dengan semua yang terjadi hari ini padanya. Dara mendongak, menatap penuh berani pada Renita.

"Lalu, masalahnya sama lo apa?" tanya Dara.

"Ya tentu masalah banget! Gue-"

"Lo kacungnya Monica?" potong Dara.

Kedua mata Renita melotot mendengarnya. "Lo-"

Dara kembali memotong ucapan Renita. "Dikasih apa lo sama dia? Sampe sebegitu setianya mengabdi sama dia. Bangga dijadiin kacung sama dia? Jadi bayang-bayang dia? Hanya karena lo nurutin semua keinginan dia, bukan berarti dia nganggap lo temen. Selama ini, apa pernah dia ngajak lo gabung meski hanya makan bareng di kantin? Gak kan?"

Renita dibuat bungkam dengan ucapan panjang lebar yang keluar dari mulut Dara.

Selama ini, Monica memang mengakuinya sebagai teman. Tapi, Monica tidak pernah mengajaknya walau sekedar makan dikantin bersama. Monica fokus dengan gengnya sendiri.

Pernah, dia ingin bergabung dengan Monica di kantin, tapi Monica menolaknya. Katanya bangkunya penuh.

Padahal, bangku berukuran panjang itu masih muat untuk dua orang. Tanpa menghiraukan perasaannya, Monica kembali berceloteh dan tertawa dengan teman sekelasnya.

"Stop merasa bangga hanya karena lo ngerasa jadi temennya. Lo berhak punya temen yang bisa lebih ngehargain lo apa adanya. Harusnya lo sadar, selama ini lo cuman dimanfaatin aja sama dia," ujar Dara.

Renita memicingkan matanya. "So' tau lo!" ucapnya lalu kembali ke bangkunya sendiri.

Dara mengedikkan bahunya, yang penting dia sudah mengatakan apa yang dia lihat selama ini.

"Lo bener, Ra. Selama ini, Renita bersikap berani sama murid lain karena ngerasa kalau dia tuh temennya Monica. Dia selalu mau aja tiap Monica nyuruh-nyuruh dia," bisik Bebi.

Dara tersenyum tipis. "Biarin lah. Yang penting jangan pernah ada dusta di antara kita aja."

Bebi mendorong pelan lengan Dara. "Bahasa lo!" Keduanya tertawa kemudian. Tawa yang terhenti karena Rafa masuk ke dalam kelas.

Rafa dan Dara sempat beradu tatap sesaat. Tapi, kemudian Rafa langsung memulai pelajarannya.

"Selamat siang semuanya. Langsung saja, buka halaman 70. Kita bahas dulu soal yang kalian kerjakan tempo hari," ucap Rafa.

❤️

Malamnya, Dara baru selesai mengerjakan tugas matematika dan bahasa indonesia. Besok libur, dan dia memutuskan untuk begadang menonton drama korea yang baru saja dia download di laptop miliknya.

Baru saja dia memutar episode 1, perutnya terasa perih dan keroncongan.

"Makan mie instan enak kayaknya," gumam Dara.

Dara celingukan menatap sekitar saat dia keluar dari kamar. Memastikan keadaan sepi dan tidak ada orang.

"Aman."

Dara menuruni tangga dan berjalan santai menuju dapur. Tidak menyala kan lampu ruang tengah maupun ruang makan, dia terus berjalan menuju dapur. Kebetulan, kalau malam lampu dapur tidak pernah dimatikan.

Dara mengambil satu bungkus mie instan rasa soto dan satu butir telur dari lemari es. Tidak lupa sayuran hijau dan cabe rawitnya turut dia ambil.

Dia memasak mie instan sambil bernyanyi riang dan sedikit menggerak-gerakkan tubuhnya. Tidak sadar kalau sejak tadi ada sepasang mata yang memperhatikannya dari meja makan.

Malam ini, Rafa kembali menyaksikan penampilan berbeda dari Dara. Rambutnya dicepol asal, mengenakan kaos crop top yang sedikit menunjukkan perut mulusnya yang putih. Ditambah lagi, Dara mengenakan celana pendek yang hanya sebatas paha.

Rafa yang malam itu bertugas memeriksa tugas murid kelas X, memutuskan untuk menikmati secangkir kopi terlebih dahulu. Senyum tipis terukir di bibirnya saat mendengar suara Dara yang fales saat bernyanyi.

"Eh ya ampun. Kekencengan gak ya nyanyinya. Nanti Bi Inem kebangun lagi," gumam Dara kemudian cekikikan.

"Fumm enak banget kayaknya." Dara mengaduk-ngaduk mie yang sudah dicampur dengan sayuran. Telurnya sudah dia rebus terlebih dahulu.

Dara berniat untuk mengambil gelas karena ingin membuat susu hangat. Namun, saat dia berbalik, kedua matanya melotot karena Rafa sudah berdiri di belakangnya entah sejak kapan.

"Apa rencanamu sebenarnya?" tanya Rafa.

Kedua alis Dara mengkerut, "Maksudnya?"

"Jangan pura-pura lagi di depan saya. Apa rencanamu dengan berpura-pura berpenampilan culun di depan saya dan semuanya," ucap Rafa.

"Gak ada!" jawab Dara, dia mendongak, menatap penuh berani pada sosok suaminya yang tinggi badannya tentu jauh dengannya. Tinggi Dara hanya sebatas dada Rafa.

"Jangan bohong kamu."

"Apaan sih! Minggir deh!" usir Dara.

Bukannya menyingkir, Rafa malah semakin maju, membuat Dara sontak memundurkan langkahnya.

Dara terkesiap saat tangan Rafa merengkuh pinggangnya. Kedua matanya melotot karena kaget dengan apa yang suaminya itu lakukan sekarang.

"Tadi kaki kamu kesiram kuah bakso. Kamu mau punggung kamu kena api dan kuah mie instan sekarang?" tanya Rafa.

Barulah Dara tersadar, kalau Rafa sedang menyelamatkannya.

"Ya makanya Om jangan mendekat. Hus hus! Mundur sana!" usir Dara lagi.

"Ini rumah saya. Terserah saya mau ngapain juga," balas Rafa dengan santainya.

"Ish!" Dara mendesis sebal kemudian mematikan kompor karena mie dan sayurnya sudah matang.

Rafa tetap berada di sana, menyaksikan semua yang dilakukan oleh Dara.

"Mau ke mana kamu? Kalau makan tuh di meja makan. Jangan di kamar!" seru Rafa saat Dara membawa mangkok berisi mie kuah dan segelas susu ke arah tangga.

"Ini rumah saya, kamu harus ikut semua peraturan di rumah ini. Dan saya paling tidak suka ada seseorang yang makan di dalam kamar," ujar Rafa lagi.

Dara memejamkan matanya erat dan menghembuskan napas berat. Dia berbalik dan duduk di kursi meja makan dengan perasaan kesal.

Bayangan makan mie instan sambil nonton drama korea pupus sudah. Padahal, dulu di rumahnya dia bebas mau bagaimana juga. Kini, hal kecil seperti ini saja dia tidak bisa melakukannya.

"Shibal saekkiya!" umpat Dara dalam hati. Menirukan umpatan yang biasa dia dengar di drama korea.

"Jangan dibiasakan mengumpat dalam hati!" ucap Rafa.

Dara mendengus dan mulai memakan mie instan miliknya.

"Apa kamu merubah penampilanmu untuk mendapatkan cinta sejati dari seorang pria?" tanya Rafa.

Dara melirik tajam. "Bukan urusan Om!" ketusnya.

Rafa terkekeh. Tadi, sepulang sekolah. Oma Atira memintanya untuk mengantarkan sesuatu ke kediaman orang tua Dara.

Meski malas, Rafa pun akhirnya setuju dan pergi ke sana.

Tidak disangka, saat di sana Erina, ibu mertuanya malah mengajaknya bicara dulu. Erina juga menunjukkan foto-foto masa kecil Dara padanya.

Cantik, Dara benar-benar cantik seperti sekarang ini. Meski penampilannya terkesan asal-asalan, tapi Dara tetap terlihat cantik.

Melihat Dara yang nampak menikmati mie instan itu, Rafa mendadak mau. Dia menarik mangkuk milik Dara tepat saat gadis itu hendak mengambil telur bagian kuningnya.

"Saya mau. Kamu bikin lagi aja!" ujar Rafa dengan entengnya.

Dara menganga tidak percaya. Apalagi Rafa langsung memakan mie buatannya itu.

"Iih siniin gak?! Om aja yang buat sendiri sana!" Dara hendak menarik kembali mangkuk tersebut namun Rafa langsung menjauhkannya.

"Kamu sebagai seorang istri harus melayani suaminya. Termasuk membuatkan makanan seperti ini," kata Rafa.

Dara akhirnya diam dengan wajah ditekuk. Ucapan Rafa sama dengan apa yang diucapkan oleh ibunya waktu itu.

Dara berdiri dan menghentakkan kakinya kesal. Dia berjalan ke arah dapur dan kembali membuat mie yang baru.

Beberapa saat kemudian, dia datang dengan mie yang baru.

"Jangan minta lagi!" ucapnya ketus saat melihat mie yang dimakan oleh Rafa sudah habis.

Rafa tidak menyahut, tatapannya tiba-tiba berfokus pada bibir merah muda Dara yang mengerucut karena sedang meniup mie yang masih panas.

Rafa melengos, dia menyeruput kopi yang sialnya tinggal ampasnya saja.

Rafa berdehem pelan dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

"Mencari seseorang yang tulus mencintai kita memang tidak mudah. Tapi, jangan sampai kamu berubah menjadi seseorang yang bukan dirimu sendiri," ujar Rafa dengan wajah serius.

"Percaya diri itu penting, Dara. Kamu harus percaya bahwa kamu bisa menarik perhatian pria yang tulus mencintaimu dengan menjadi dirimu sendiri. Jangan berpura-pura menjadi orang yang culun, hanya demi menarik simpati mereka."

Dara mengangkat wajah, kunyahannya terhenti saat mendengar ucapan Rafa yang terkesan peduli padanya.

Namun, tiba-tiba dia teringat pada ucapan pedas Rafa kemarin saat dia bertanya Rafa hendak pergi ke mana. Dara heran, mengapa sekarang pria di depannya itu berucap seolah-olah peduli padanya?

"Terima kasih untuk mie nya. Saya naik dulu," ucap Rafa kemudian beranjak pergi, menaiki undakan tangga menuju kamarnya.

"Dia kenapa? Jangan-jangan ... dia punya kepribadian ganda, dan barusan ... adalah pribadinya yang lain." Dara bergelut dengan pikirannya sendiri.

❤️

Besoknya, Oma Atira mengajak Dara dan Rafa untuk pergi berbelanja.

Rafa yang memang tidak bisa menolak permintaan sang oma langsung setuju, Dara pun tidak ada pilihan lain selain ikut. Padahal, dia ingin menghabiskan hari ini dengan tidur karena semalam dia begadang sampai dinihari menonton drama korea.

Rafa, Oma Atira dan Suster Tiara melihat ke arah tangga. Dara turun dengan penampilannya yang berbeda. Tidak pula menggunakan kacamata besarnya.

Dara menggunakan baju overall warna pink muda dan dalam kaos warna putih lengan pendek. Rambutnya diikat satu dengan ikat rambut yang ada pita hitam berukuran agak besar.

Dara terlihat sangat berbeda dan cantik di mata Oma Atira dan Suster Tiara. Di mata Rafa juga tentunya.

"Ini, kamu Dara?" tanya Oma Atira.

Dara tersenyum dan mengangguk.

"Ya ampun." Oma Atira memegang kedua pundak Dara. "Cantik banget kamu, Sayang. Iya kan, Tia?" tanyanya pada Suster Tiara.

Dara tersenyum malu. "Terima kasih, Oma."

Oma Atira menoleh ke arah Rafa yang tengah menatap ke arah Dara. Wanita paruh baya itu tersenyum tipis dan mengajak semuanya untuk pergi.

 

Di mall, Oma Atira berjalan sambil menggandeng lengan Dara. Senang sekali dia ada yang bisa diajak berbelanja selain Suster Tiara.

"Kamu beli apa pun yang kamu mau. Oma traktir," ucap Oma Atira.

"Gak usah, Oma. Lagian ... aku gak ada yang mau dibeli juga," tolak Dara dengan halus.

"Sudah. Oma gak nerima penolakan. Kita pergi ke toko pakaian dulu aja sekarang," kata Oma Atira.

Rafa hanya diam memperhatikan interaksi sang oma dan istri kecilnya.

"Raf, gimana? Bagus kan?" Oma Atira meminta pendapat Rafa saat Dara keluar dari ruang ganti.

Rafa terkesima, namun dia langsung merubah mimik wajahnya menjadi datar seperti semula. "Hm. Biasa aja," jawabnya.

Dara mengerucutkan bibirnya sebal, sedangkan Oma Atira mendengus. "Sudah, kamu coba yang lain lagi. Ini bagus, kok. Rafa aja yang gengsi buat ngakuin," ucapnya.

Dara mengangguk pasrah dan kembali masuk ke ruang ganti.

Banyak sekali baju yang dibelikan oleh Oma Atira, dan kini Dara dibawa ke toko sepatu.

"Oma, sepatuku masih banyak yang belum dipakai," ucap Dara.

"Ssh!" Oma Atira mendesis dan melotot, "Oma gak nerima penolakan!" ucapnya tegas.

Dara menutup mulutnya rapat-rapat, merasa tidak enak hati melihat Rafa yang terpaksa membawa banyak tas belanjaan di belakangnya.

Saat sedang mencoba sepatu, tiba-tiba ada yang menyapa Rafa.

"Wah, Pak Rafa ternyata ada di sini juga." Bu Indah yang kebetulan berada di tempat yang sama menyapa Rafa dengan ramah.

"Lho, ada Dara juga. Kalian ... keluarga?" tanya Bu Indah.

1
falea sezi
enak bgt si aldi najis pas sakit ke istri pas seneng2 ke. selingkuh an jangan. bego erina np erina di buat bloon sih
falea sezi
erina mending cerai duda tua banyak ngapain suami mu bekas. jalang lu mau
Ikky
dipersilahkan
Ikky
3
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!