Huang Xuan dengan kekuatannya mengguncang dunia memimpin pemberontakan kepada Dewa. Disaat menuju kemenangannya, hal aneh terjadi hingga membuatnya kalah yang kemudian terjatuh kembali ke alam manusia. Disaat kejatuhannya, alam manusia telah memiliki peradaban maju yang ditandai dengan berdirinya dinasti Xia yang merupakan mandat dari alam Dewa untuk manusia. Setiap pemimpinnya memiliki garis darah Dewa membuatnya menjadi penguasa sejati alam manusia. Huang Xuan yang membenci para Dewa memulai perjalanannya dengan menggulingkan Dinasti Xia sebelum dirinya kembali memberontak ke alam Dewa.
"Dengan pedang sebagai pena dan darah sebagai tinta, aku Huang Xuan menulis sejarah dengan cara berdarah-darah. Tidak takut kepada Dewa, Setan dan Iblis karena aku lah penguasa sesungguhnya"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yogasurendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi Pengikut
Huang Xuan berjalan di atas permukaan air menghampiri Canghai yang teduduk diam. Ketika dirinya mendekat, Canghai mengangkat kepalanya menatapnya dalam. Huang Xuan mengulurkan tangannya meyentuh kening Canghai kemudian masuk ke dalam lautan kesadarannya. Aura kegelapan terasa mengerikan menyebar dan mengalir seperti sungai mengurung jiwa Canghai. Benih hitam berada di dada Canghai sebagai sumber energi kegelapan yang mengubah qi menjadi energi gelap.
"Bagaimana mungkin dia memiliki benih iblis. Aku telah membunuh seluruh iblis menyegel jalur penghubung disemua titik mencegah invasi kegelapan ke alam manusia"
Perlahan-lahan benih tersebut retak menyebar kemudian hancur mengeluarkan energi kegelapan pekat membumbung tinggi membentuk siluet sosok besar dengan mata hitam dan tekanan kuat. Huang Xuan yang melihatnya terkejut tatkala mata hitam memancarkan tekanan luar biasa seakan-akan dari kejauhan sosok tersebut mengawasinya. Dari dalam tubuh Huang Xuan energi qi asal tak terbatas dengan derasnya ke luar menghantam tekanan energi gelap hingga lautan kesadaran Canghai terbelah menjadi dua.
Lingkaran cahaya berputar muncul di udara satu per satu diikuti oleh wujud bayangan mulia berwarna emas mengenakan mahkota Kaisar. Aura nya luar biasa hingga mampu menekan kegelapa dengan cahaya murni yang dimilikinya. Huang Xuan terkejut merasakan aura yang sama seperti sosok yang ada dibalik pusaran lubang hitam sebelumnya.
"Pergi!"ucap sosok tersebut tegas.
Suaranya menggema disertai hempasan angin yang mengandung energi murni menghempaskan kegelapan menghilangkan sepasang mata hitam yang mengawasi sedari tadi. Jiwa Canghai yang terpenjara kembali terbebas menyerap energi langit dan bumi.
"Kelak akan lahir alam baru di semesta ini,"ucap sosok tersebut kemudian menghilang.
Huang Xuan diam seakan tak terkejut setelah kemunculan sosok tersebut. Dia berjalan mendekat ke arah Canghai yang memiliki simbol di dahinya.
"Raja?"gumamnya begitu melihat aksara simbol yang ada pada dahi Canghai. Ia kemudian teringat akan mahkota yang ada pada kepala Canghai ketika berwujud ular.
"Sepertinya dia memiliki keterikatan akan ucapan sosok tersebut. Namun, mengapa dia muncul untuk kedua kalinya begitu melihat sepasang mata gelap yang ada di lautan kesadaran Canghai"
Huang Xuan merasakan misteri menyelimuti alasan dia kembali hidup setelah pertempuran besar dimasa lalu. Ia kembali ke alam nyata membawa tubuh Canghai menuju kapal. Begitu melihat kedatangan Huang Xuan di atas kapal membuat Luo Qingyin bernafas lega.
"Seseorang datang"ucap Huang Xuan menoleh merasakan seseorang mendekat dari jarak begitu jauh.
Luo Qingyao mengerutkan keningnya kemudian menyadari siapa sosok yang tengah menuju ke arah mereka.
"Shen Moyan. Dia orang Yinluo sama sepertiku. Sepertinya gejolak besar sungai Yinshe terasa hingga ke kerajaan membuat Raja mengutus seseorang melihat situasi,"ucapnya menjelaskan siapa sosok itu.
Huang Xuan menganggukkan kepalanya membawa tubuh Canghai masuk ke dalam kapal.
"Selain Luo Qingyin dilarang masuk,"ucapnya tegas.
Luo Qingyao mengangguk mengerti sikap Huang Xuan menyuruhnya untuk berjaga di luar.
"Mereka akku serahkan kepadamu,"ucap Huang Xuan.
"Baik," balas Luo Qingyao.
Luo Qingyin mengejek sepupunya sebelum pergi mengikuti Huang Xuan masuk ke dalam kapal menutup pintu rapat-rapat. Canghai dibaringkan di atas ranjang yang kemudian Huang Xuan mengalirkan energi qi miliknya menghentikan pendarahan yang sedang terjadi.
"Aku berhutang budi kepadamu seumur hidupku maka aku akan mengajarimu apa yang telah aku ketahui. Perhatikan dengan baik aku akan mengajarimu pengobatan yang hanya mengandalkan jiwa dan tekad dari pasien untuk kesembuhan tak peduli jika dia diambang kematian selama tekad masih ada maka dia dapat disembuhkan,"ucap Huang Xuan dibalas anggukan patuh Luo Qingyin.
Huang Xuan memulai dengan membentuk qi miliknya menjadi seutas benang tipis yang mengalir menyelimuti tubuh Canghai kemudian berubah menjadi sebuah jarum akupuntur menusuk tujuh titik vital. Setiap jarum akupuntur memperbaiki jaringan otot meregenerasinya begitu cepat hingga telinga dan kedua tangannya kembali terbentuk. Canghai membuka matanya perlahan menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya menoleh ke samping melihat Huang Xuan membuatnya terdiam.
"Siapa kau?"ucapnya bingung.
Huang Xuan menoleh ke arah Luo Qingyin yang dipahami sebagai kode untuk dirinya ke luar sebentar. Canghai berusaha untuk duduk tak henti-hentinya menatap Huang Xuan seakan sesuatu mengganjal pikirannya.
"Mengapa aku tak asing denganmu? Siapa kau sebenarnya dan apa yang terjadi kepadaku?"tanya Canghai bertubi-tubi.
"Ular kecil. Apakah kau tak ingat denganku?"balas Huang Xuan.
Canghai mengerutkan keningnya bingung. Begitu mengingat panggilan ular kecil dari membuatnya tersentak dengan mata berbinar.
"Tuan!!!"pekiknya terkejut dengan wajah senangnya seperti anak kecil.
"Bagus. Kau kembali seperti yang aku kenal dahulu. Apa yang terjadi kepadamu?" balas Huang Xuan.
Canghai memiringkan kepalanya mencoba mengingat masa lalu namun rasa sakit mendera kepalanya hingga membuatnya mengerang kesakitan.
"Cukup!" ucapnya tegas.
"Seseorang menyegel ingatanmu dan aku tak menemukan segel di dalam lautan kesadaranmu,"ucap Huang Xuan.
Canghai menganggukkan kepalanya dengan patuh setelahnya.
"Luo Qingyin!"panggil Huang Xuan.
Mendengar namanya dipanggil segera ia masuk ke dalam bertanya apa yang dibutuhkan oleh Huang Xuan.
"Apakah kau punya pakaian untuknya? Dia akan menjadi pengikut setiamu dan tak akan berkhinat sekalipun aku menjaminnya,"ucap Huang Xuan mengungkapkan alasannya.
Luo Qingyin mengangukkann kepalanya patuh kemudian berjalan ke salah satu ruangan kembali dengan pakaian berwarna putih memberikannya kepada Canghai sebelum ia ke luar. Huang Xuan menyurruh Canghai mengenakan pakaian tersebut kemudian ikut bersamanya untuk ke luar. Begitu pintu terbuka, mereka ke luar membuat Luo Qingyao terkejut untuk sesaat melihat Canghai dan simbol raja pada dahinya.
"Dia benar-benar penjaga sungai Yinshe,"batinnya kagum sekaligus ngeri.
"Sesuai ucapanku sebelumnya. Dia akan menjadi pengikut setiamu hanya kau yang bisa memerintahnya bahkan Raja Yinluo tak akan bisa memerintahnya. Ular kecil dia juga Tuanmu. Kau akan menemaniku menaklukkan kembali dunia dimulai dari mengikutinya,"ucap Huang Xuan mengecilkan nada bicaranya pada kalimat terakhirnya.
Canghai mengangukkan kepalanya patuh memberikan salam kepada Luo Qingyin yang tercengang menatapnya dengan ekspresi ketidakpercayaan.
"Penjaga sungai Yinshe menjadi pengikutku? Apakah tidak salah? Bahkan ayahanda tidak akan pernah memerintahnya melainkan menganggapnya sebagai tamu kehormatan"
"Tidak. Aku ingin berjalan-jalan dan menjagamu,"ucap Canghai.
"Sudahlah. Ular kecil, bawa kapal ini dengan cepat sampai ke tujuan,"perintah Huang Xuan.
Canghai menganggukkan kepalanya melompat ke dalam air kemudian berubah menjadi wujud ular raksasa berwarna keperakan. Tubuhnya melilit kapal membawanya melaju dengan cepat melintasi sungai Yinshe. Seluruh hewan yang ada di sekitar baik di daratan maupun di air tak berani untuk mendekat tatkala melihat keberadaan Canghai.
"Ketika sampai di Jiuyin Tai maka semuanya akan baik-baik saja,"ucap Luo Qingyin menghela nafas panjang.
"Tidak. Semuanya baru saja di mulai karena kita membawa kunci yang akan menjadi bencana peperangan," balas Luo Qingyao merujuk kepada Tang Shuyun.