Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang yang Terbuka
Hujan yang mereda tidak membawa ketenangan. Sebaliknya, udara di sekitar halte bus itu terasa semakin berat, seolah-olah atmosfer kota sedang diperas oleh tangan raksasa yang tak terlihat. Lauren berdiri mematung, menatap aspal basah yang kini mulai mengeluarkan uap hitam tipis. Bau belerang dan besi berkarat menusuk indra penciumannya, lebih tajam daripada biasanya.
"Lauren, kita harus bergerak. Sekarang," suara Herza terdengar bergetar, pendar peraknya berfluktuasi seperti lampu yang hampir mati.
Lauren tidak menjawab. Matanya menyapu jalanan raya yang biasanya ramai, namun kini tampak seperti kota mati. Lampu-lampu jalan berkedip dengan ritme yang janggal, mengirimkan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding bangunan. Di setiap sudut gelap, ia melihat siluet-siluet tinggi tanpa wajah sedang berdiri diam, mengawasinya dengan mata merah yang menyala di tengah kabut.
"Mereka tidak lagi bersembunyi," bisik Lauren. Suaranya dingin, seolah-olah emosinya baru saja dibekukan oleh hujan tadi.
"Tanpa resonansi Banyu, perisai kota ini lubang. Sangker Bumi menarik semua pengikutnya ke permukaan," Herza melayang gelisah di samping Lauren.
"Lihat ke sana."
Lauren menoleh ke arah pusat kota. Langit di atas sana tidak lagi kelabu, melainkan berubah menjadi ungu gelap yang pekat. Kilatan petir merah menyambar tanpa suara guntur, menciptakan pemandangan yang mengerikan. Dari kejauhan, terdengar suara lengkingan ribuan entitas yang menyatu menjadi satu frekuensi yang sanggup merobek kesadaran manusia biasa.
Tiba-tiba, Lauren merasakan tarikan hebat di medalinya. Benda perunggu itu berdenyut panas, mengirimkan gelombang kejutan yang memaksa Lauren untuk memejamkan mata.
Dunia di sekelilingnya lenyap. Kesadarannya ditarik masuk ke dalam sebuah visi yang begitu nyata hingga ia bisa merasakan dinginnya udara di sana.
Lauren melihat sebuah gedung tua yang terbengkalai di puncak bukit pinggiran kota. Di tengah ruangan yang luas dan berdebu, Banyu tergeletak di atas altar batu kuno. Tubuhnya dirantai oleh bayangan hitam yang terus bergerak seperti ular.
Sosok compang-camping yang Lauren temui di depan rumahnya sedang berdiri di atas kepala Banyu, memegang kotak kayu yang kini mengeluarkan cahaya merah darah yang membutakan.
"Lepaskan... aku..." rintih Banyu dalam visi itu. Suaranya terdengar sangat jauh dan lemah.
Di balik bayangan altar, muncullah sosok tinggi berjubah dengan mata emas pucat—Eyang Sangker Bumi. Ia mengulurkan tangannya yang keriput ke arah dada Banyu. Saat tangannya mendekat, asap hitam mulai keluar dari pori-pori kulit Banyu, membentuk jaring-jaring yang menghubungkan altar itu dengan langit-langit gedung.
"Kuncinya sudah patah jiwanya," suara Sangker Bumi bergema, membuat visi itu bergetar.
"Sekarang, biarkan pintu ini terbuka selamanya."
Banyu! jerit Lauren dalam batinnya.
Visi itu pecah seketika. Lauren tersentak kembali ke halte bus, jatuh berlutut dengan napas tersengal. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Air mata yang tadi sempat tertahan kini mengalir bukan karena sedih, melainkan karena amarah yang meluap-luap.
"Mereka membawanya ke gedung tua di Bukit Harapan," kata Lauren, suaranya kini sekeras baja. Ia berdiri, menghapus air mata dengan kasar menggunakan punggung tangannya.
"Lauren, kau lihat sendiri tadi. Sangker Bumi sudah ada di sana. Kau tidak mungkin melawan mereka sendirian dengan kondisi energimu yang tidak stabil," Herza mencoba menghalangi jalan Lauren.
"Lalu aku harus apa? Diam di sini dan menunggu mereka menjadikanku santapan penutup setelah mereka menghancurkan Banyu?" Lauren menatap Herza dengan sorot mata yang membuat arwah mentor itu terdiam.
"Selama ini aku selalu bertanya kenapa aku harus indigo. Kenapa aku tidak bisa normal. Kenapa aku selalu butuh dilindungi."
Lauren mengepalkan tangannya. Energi indigo mulai berpendar di sekeliling jemarinya, bukan lagi sebagai ledakan liar, melainkan sebagai aliran yang terkontrol dan padat.
"Tadi Banyu bilang aku adalah penjara baginya. Dia benar. Aku adalah penjara bagi takdir yang mereka inginkan," lanjut Lauren.
Ia merobek sedikit bagian bawah jaketnya yang kotor dan menggunakannya untuk mengikat rambutnya yang berantakan.
"Jika mereka menginginkan perang, aku akan memberikan perang yang tidak akan pernah mereka lupakan."
"Kau... kau berubah," gumam Herza. Ia melihat transformasi penuh pada diri Lauren. Ketakutan yang selama belasan tahun menghantui gadis itu telah menguap, digantikan oleh kesadaran seorang pejuang yang telah menerima identitasnya.
"Aku bukan lagi gadis kecil yang bersembunyi di balik punggungmu, Herza. Terima kasih atas sepuluh tahun ini, tapi sekarang, aku yang akan memimpin."
Lauren melangkah keluar dari halte, menembus kabut hitam yang mencoba menghalangi jalannya. Setiap kali entitas kecil mencoba mendekat, Lauren hanya perlu mengibaskan tangannya, dan gelombang energi birunya akan menghanguskan mereka seketika tanpa sisa. Ia berjalan dengan langkah konstan menuju arah perbukitan, mengabaikan teriakan-teriakan gaib yang mencoba merusak fokusnya.
Di tengah perjalanan, ia melewati jalanan komplek rumahnya. Ia melihat ayahnya, Bram, berdiri di teras rumah dengan ekspresi kosong, seolah-olah raganya ada di sana namun jiwanya sedang tertidur. Lauren berhenti sejenak, menatap rumahnya untuk terakhir kali.
Tunggu aku, Pa, Ma. Aku akan membereskan ini semua, batinnya.
"Herza, jika aku tidak kembali malam ini... pastikan orang tuaku tidak pernah ingat bahwa mereka punya anak seorang indigo," kata Lauren tanpa menoleh.
"Jangan bicara seperti itu. Kau akan kembali. Kita akan kembali," sahut Herza. Meskipun ia ketakutan, ia memutuskan untuk tetap berada di samping Lauren, memperkuat pendar peraknya untuk membantu penerangan jalan.
Lauren mempercepat langkahnya. Bukit Harapan terlihat semakin dekat, puncaknya diselimuti oleh pusaran awan merah yang semakin ganas. Ia bisa merasakan batinnya bergetar hebat saat ia mulai mendaki jalan setapak yang menanjak. Pepohonan di kanan kirinya tampak layu, daun-daunnya berubah menjadi abu hitam saat Lauren melewatinya.
Sesampainya di gerbang gedung tua itu, Lauren berhenti. Ia merasakan tekanan energi yang begitu besar hingga dadanya terasa sesak. Di depan gerbang, puluhan Sentinel bermata merah sudah berbaris, menghalangi pintu masuk dengan senjata bayangan di tangan mereka.
Lauren menarik napas panjang, membiarkan energi indigo mengalir dari medalinya menuju seluruh pembuluh darahnya. Ia tidak lagi merasakan sakit. Ia tidak lagi merasakan ragu. Ia hanya merasakan satu tujuan: mengambil kembali apa yang menjadi miliknya.
"Minggir," perintah Lauren. Suaranya rendah namun mengandung otoritas yang mampu menggetarkan fondasi gedung di depannya.
Para Sentinel itu tidak bergerak. Mereka justru meraung serempak, menerjang ke arah Lauren dengan kecepatan tinggi.
Lauren merentangkan kedua tangannya. Cahaya indigo meledak dari tubuhnya, membentuk sayap energi yang menyilaukan. Ia menerjang maju, menghantam barisan musuh itu seperti meteor yang jatuh dari langit. Dentuman energi batin dan kegelapan menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan kaca-kaca gedung tua tersebut.
Di tengah kekacauan itu, Lauren terus berlari. Ia tidak memedulikan luka goresan di pipinya atau napasnya yang mulai memburu. Pintu aula utama terlihat di depan mata. Ia bisa merasakan keberadaan Banyu di balik pintu itu, semakin redup dan semakin dingin.
"Aku datang, Banyu," bisik Lauren.
Ia menghantamkan telapak tangannya ke pintu jati raksasa itu. Pintu itu hancur berkeping-keping, memperlihatkan pemandangan ritual yang sedang mencapai puncaknya. Sangker Bumi menoleh, mata emas pucatnya berkilat saat melihat Lauren berdiri di ambang pintu dengan tubuh yang diselimuti api biru yang membara.
Lauren berdiri tegak di tengah kehampaan aula, menatap langsung ke arah sang penguasa kegelapan purba. Langit di atas gedung yang atapnya sudah runtuh itu benar-benar hitam tanpa bintang, seolah-olah seluruh dunia sedang menahan napas menyaksikan konfrontasi ini.
"Permainanmu berakhir di sini," kata Lauren tegas.
Ia mengangkat tangannya, memanggil seluruh sisa kekuatannya untuk serangan terakhir. Takdir mungkin telah menjeratnya sejak lahir, namun malam ini, Lauren akan menjadi orang yang memegang gunting untuk memutus semua jaring-jaring itu.