NovelToon NovelToon
Kembalinya Kaisar Iblis

Kembalinya Kaisar Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: BADAI PERTAMA

Fajar belum menyingsing di lembah Geumseong, tapi udara sudah bergetar oleh ketegangan.

Namgung Jin berdiri di atas menara pengawas tertinggi, menatap ke arah utara. Di kejauhan, di balik kabut tipis yang menyelimuti pegunungan, ribuan titik api menyala—api unggun pasukan Delapan Sekte yang berkemah semalam. Mereka telah tertipu oleh informasi palsu yang dikirim Komandan Yi, bergerak ke utara menjauhi markas asli Magyo.

Tapi tipuan ini tidak akan bertahan lama. Paling lambat besok, mereka akan sadar bahwa mereka disesatkan. Dan saat itu, kemarahan mereka akan berlipat ganda.

Cheon Wu-gun naik ke menara, bergabung di sampingnya. Wajah pemimpin Magyo itu tegang, tapi matanya menunjukkan secercah harapan—sesuatu yang sudah lama hilang.

"Pasukan kita sudah siap. Dua ratus orang di hutan timur, seratus lima puluh di barat, dan seratus di selatan. Markas ini hanya dijaga lima puluh orang."

"Cukup." Namgung Jin tidak menoleh. "Mereka tidak akan menyerang markas. Mereka akan mengejar 'pasukan utama' di utara."

*"Tapi begitu mereka sadar—"

"Saat mereka sadar, kita sudah menyerang mereka dari semua sisi."

Cheon Wu-gun menghela napas. "Kau yakin dengan rencana ini?"

"Tidak ada yang yakin dalam perang. Tapi ini pilihan terbaik kita."

Dari belakang, Roh Perang muncul dengan langkah tergesa. Wajahnya merah, matanya berbinar—bukan marah, tapi bersemangat.

"Laporan dari pengintai! Pasukan Delapan Sekte mulai bergerak! Mereka menuju utara, tepat ke arah jebakan!"

Cheon Wu-gun mengepalkan tangan. "Bagus."

Tapi Namgung Jin tetap diam. Matanya terus menatap ke utara.

"Ada apa?" tanya Cheon Wu-gun.

"Terlalu mudah."

"Apa maksudmu?"

"Mereka terlalu cepat percaya pada informasi palsu. Seharusnya mereka lebih curiga." Namgung Jin mengerutkan kening. "Atau mungkin..."

Ia tidak melanjutkan. Tapi di dalam hatinya, firasat buruk mulai tumbuh.

---

Dua jam kemudian, pertempuran dimulai.

Dari kejauhan, terdengar suara gemuruh—jeritan, benturan senjata, ledakan energi. Pasukan Magyo yang bersembunyi di hutan utara menyerang pasukan Delapan Sekte dari segala arah. Hutan itu berubah menjadi neraka.

Namgung Jin tidak ikut bertarung. Ia tetap di menara pengawas, mengamati perkembangan dari kejauhan. Matanya yang tajam—terasah ribuan tahun pengalaman—bisa membaca pola pertempuran hanya dari asap dan pergerakan pasukan.

"Mereka bertahan terlalu baik."

"Apa?" Roh Perang yang ada di sampingnya tidak mengerti.

"Pasukan Delapan Sekte. Mereka tidak panik. Mereka bertahan dengan teratur, seolah sudah tahu akan diserang."

Roh Perang mengamati. "Kau benar... mereka seperti sudah siap."

Namgung Jin berbalik. "Perintahkan pasukan untuk mundur. Sekarang."

*"Tapi—"

"CEPAT!"

Roh Perang berlari. Tapi sudah terlambat.

Dari timur dan barat, dua pasukan besar Delapan Sekte muncul—mereka tidak pernah bergerak ke utara. Itu hanya tipuan. Pasukan utama mereka tetap di timur dan barat, menunggu saat Magyo menyerang.

Jebakan berbalik.

---

Pertempuran di hutan utara berubah menjadi pembantaian.

Pasukan Magyo yang awalnya menyerang tiba-tiba dikepung dari dua sisi. Mereka bertempur mati-matian, tapi jumlah terlalu timpang. Satu per satu mereka tumbang.

Dari menara, Namgung Jin menyaksikan semuanya dengan mata dingin. Tapi di balik ketenangannya, pikirannya bekerja cepat.

"Mereka tahu. Mereka selalu tahu."

Pasti ada pengkhianat lain. Atau mungkin... mungkin Komandan Yi adalah pengkhianat ganda. Mungkin informasi yang ia berikan sengaja dibuat untuk menjebak Magyo.

"Bocah sialan."

Ia turun dari menara, berlari menuju ruang bawah tanah tempat Komandan Yi ditahan.

Di dalam sel, Komandan Yi duduk dengan tenang. Terlalu tenang. Begitu melihat Namgung Jin, ia tersenyum.

"Kau datang. Lebih cepat dari dugaanku."

"Kau tahu?"

"Tentu." Ia berdiri, berjalan mendekati jeruji. "Aku memang bekerja untuk Delapan Sekte. Tapi aku juga bekerja untuk Magyo. Aku pengkhianat ganda. Atau lebih tepatnya... aku bekerja untuk diriku sendiri."

"Apa maumu?"

"Kekacauan." Matanya berbinar gila. * "Dalam kekacauan, orang sepertiku bisa naik. Bukan sebagai pengikut, tapi sebagai penguasa."*

Namgung Jin menatapnya lama. Lalu ia tertawa.

"Kau bodoh."

"Apa?"

"Kau pikir dengan mengkhianati kedua belah pihak, kau akan selamat? Dalam perang, pengkhianat adalah yang pertama mati."

*"Tidak jika—"

"Tidak ada jika." Namgung Jin berbalik. "Selamat menikmati selmu. Tapi sebelum aku pergi, ada satu hal yang harus kau tahu."

Ia menoleh, tersenyum tipis.

"Racun yang kuberikan padamu saat pertama bertemu... bukan racun pelacak. Itu racun mematikan. Dalam tiga hari, kau akan mati dengan sangat, sangat sakit."

Wajah Komandan Yi berubah. "Kau bohong!"

"Coba rasakan perutmu. Apakah mulai panas?"

Komandan Yi memegang perutnya. Wajahnya memucat.

"Selamat tinggal."

Namgung Jin pergi, meninggalkan teriakan Komandan Yi yang mulai panik.

---

Di luar, situasi semakin buruk.

Pasukan Magyo kocar-kacir. Dari dua ratus orang di hutan utara, hanya sekitar lima puluh yang berhasil melarikan diri. Pasukan di timur dan barat juga terdesak. Delapan Sekte menekan dari semua sisi.

Cheon Wu-gun sudah turun ke medan perang, memimpin langsung. Tapi bahkan dengan semangatnya, jumlah terlalu timpang.

Namgung Jin mencari Roh Rahasia. Wanita itu ditemukannya di ruang komando, sibuk memetakan ulang strategi.

"Kau harus evakuasi Cheon Wu-gun."

Roh Rahasia menoleh. "Apa?"

"Bawa dia keluar dari sini. Perang ini sudah kalah. Yang bisa kita lakukan sekarang menyelamatkan nyawa."

*"Tapi—"

"Tidak ada tapi. Lakukan!"

Roh Rahasia ragu, tapi akhirnya mengangguk. Ia berlari keluar.

Namgung Jin duduk di kursi komando, menatap peta perang. Tangannya gemetar—bukan karena takut, tapi karena lelah. Lukanya di perut mulai terasa lagi.

"Tiga ribu tahun... dan aku kalah dalam pertempuran kecil."

Ironis. Tapi ia tidak menyesal. Yang ia sesali adalah... ia tidak bisa melindungi orang-orang yang sudah percaya padanya.

Simma di dadanya berdenyut—sedih, marah, kecewa.

"Diamlah. Aku belum selesai."

---

Dua jam kemudian, evakuasi besar-besaran dilakukan.

Pasukan Magyo yang tersisa—sekitar seratus lima puluh orang—mundur ke dalam gua-gua di belakang Geumseong. Delapan Sekte mengepung markas, tapi tidak berani masuk. Mereka tahu, di dalam gua, medan tidak menguntungkan.

Cheon Wu-gun selamat, meskipun terluka di lengan. Roh Perang dan Roh Rahasia juga selamat. Tapi Roh Iman—Cheon Wu-gun sendiri—terpukul hatinya.

"Aku gagal." Ia duduk di dalam gua, wajahnya muram. "Magyo hampir musnah."

"Belum musnah." Namgung Jin duduk di sampingnya. "Selama pemimpin masih hidup, sekte bisa bangkit lagi."

*"Tapi dengan kekuatan segini—"

"Kekuatan bukan segalanya." Namgung Jin menatapnya. "Dulu, Iblis Murim memulai dari nol. Dari satu orang. Lihat apa yang ia capai."

Cheon Wu-gun menatapnya. "Kau benar... tapi aku bukan Iblis Murim."

"Tidak. Tapi kau bisa belajar."

Keheningan. Di luar, terdengar teriakan pasukan Delapan Sekte yang merayakan kemenangan.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Bersembunyi. Memulihkan diri. Menunggu."

"Menunggu apa?"

"Menunggu mereka lengah. Dan saat itu..." Mata Namgung Jin berkilat. "...kita serang balik."

---

Malam itu, di dalam gua yang gelap, Namgung Jin duduk sendirian.

Ia mengeluarkan Mawanggeom dari tempat persembunyiannya—pedang itu ia bawa sejak awal, tersembunyi di balik jubah. Bilah hitamnya bersinar redup dalam gelap.

"Maaf, pedangku. Kau harus bersabar. Saatnya belum tiba."

Mawanggeom bergetar pelan, seolah mengerti.

Tiba-tiba, langkah kaki mendekat. Namgung Jin menyembunyikan pedang, berbalik.

Roh Rahasia muncul dari bayangan. Wajahnya—tanpa topeng—terlihat untuk pertama kalinya.

Ia cantik. Mungkin seusia akhir dua puluhan, dengan mata tajam dan bekas luka tipis di pipi kiri. Tapi bukan kecantikan yang membuat Namgung Jin terkejut.

"Kau..."

"Ya." Ia tersenyum tipis. "Aku perempuan. Terkejut?"

"Bukan itu." Namgung Jin mengamatinya. "Aku kenal matamu. Kita pernah bertemu sebelumnya?"

Roh Rahasia diam sejenak. Lalu ia mengangguk.

"Di Klan Namgung. Saat tim penyelidik datang."

Namgung Jin mengerutkan kening. Ingatannya bekerja cepat. Tim penyelidik... wanita... hanya satu.

"Nyonya Hwa Ryun?"

Roh Rahasia—atau lebih tepatnya, Nyonya Hwa Ryun—tersenyum lebar.

"Tebakan bagus."

*"Tapi kau—"

"Aku pemimpin Sekte Bunga Mekar sekaligus Roh Rahasia Magyo. Aku mata-mata di kedua sisi."

Namgung Jin terdiam. Ini di luar dugaannya.

"Kenapa kau memberitahuku sekarang?"

"Karena aku butuh bantuanmu." Ia duduk di sampingnya. "Delapan Sekte curiga padaku. Mereka tahu ada pengkhianat di antara mereka. Aku tidak bisa kembali."

"Jadi kau lari ke sini?"

"Aku lari ke satu-satunya tempat yang mungkin aman." Ia menatap Namgung Jin. "Bersamamu."

"Kenapa aku?"

"Karena kau berbeda. Kau tahu hal-hal yang tidak diketahui orang lain. Kau... kau seperti sudah hidup ribuan tahun."

Namgung Jin tidak menjawab.

Nyonya Hwa Ryun—atau sebut saja Roh Rahasia—melanjutkan. "Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu. Tapi aku tidak akan bertanya. Yang aku minta, ajari aku. Ajariku cara bertahan di dunia ini."

"Kau sudah bertahan selama ini."

"Tapi aku lelah. Lelah berpura-pura. Lelah menjadi orang lain."

Untuk pertama kalinya, Namgung Jin melihat kerentanan di mata wanita ini.

Simma di dadanya berdenyut—bukan marah, tapi... iba?

"Aku bukan guru."

"Tapi kau bisa mengajar."

Keheningan.

Akhirnya, Namgung Jin menghela napas.

"Baik. Tapi dengan satu syarat."

"Apa?"

"Kau harus jujur padaku. Tentang apa pun."

Roh Rahasia mengangguk. "Setuju."

---

Di luar gua, pasukan Delapan Sekte terus merayakan.

Tapi di tenda komando, suasana berbeda.

Biksu Myeongjin duduk dengan wajah muram. Di hadapannya, para pemimpin sekte berkumpul. Salah satu dari mereka—seorang pendekar tua dari Sekte Pedang Langit—berbicara.

"Kita menang. Tapi kenapa kau tidak terlihat senang?"

"Karena ini baru awal." Biksu Myeongjin menatap mereka. * "Magyo belum hancur. Pemimpin mereka masih hidup. Dan yang lebih penting..."* Ia berhenti. "...kita belum menemukan utusan iblis itu."

"Utusan iblis? Itu hanya dongeng."

"Atau kenyataan." Biksu Myeongjin berdiri. "Aku mendapat laporan dari mata-mataku. Katanya, ada seorang anak—bocah belasan tahun—yang menjadi penasihat Magyo. Bocah itulah yang menyusun strategi mereka."

"Bocah?"

"Dari Klan Namgung."

Keheningan menyergap tenda.

"Namgung Jin."

---

1
brajamusti
bacanya loncat2 ah.. soalnya jadi kayak dracin.. bosan
brajamusti
duh cewenya nempel trussss.. mau tambah kuat gimana... bikin susah aja
brajamusti
dasar murid laknat.. malah pada suka sama guru ya.. 🤣
YANI AHMAD
baru ketemu novel sikat kek gini, kereen lanjut thor 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!