Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.
Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.
Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.
Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.
Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Rahasia di Balik Laci yang Terkunci
Suasana setelah malam Gala itu terasa seperti musim semi yang baru saja tiba di kediaman Adiguna. Dingin yang membeku selama berbulan-bulan perlahan mulai mencair, menyisakan tetesan embun yang menyejukkan. Devan mulai lebih sering pulang tepat waktu, dan meskipun ia masih sering terjebak dalam tumpukan berkas di ruang kerjanya, ia tak lagi keberatan jika Nika masuk untuk sekadar membawakan secangkir teh chamomile atau duduk diam di pojok ruangan sambil mensketsa gaun. Kehadiran Nika yang dulunya dianggap sebagai gangguan, kini seolah menjadi latar suara yang menenangkan bagi Devan.
Pagi itu, Devan berangkat lebih awal untuk pertemuan mendadak di luar kota. Ia berangkat dengan terburu-buru, meninggalkan ponsel cadangannya yang terus bergetar di atas meja kerja. Nika, yang sedang merapikan beberapa buku yang berserakan, awalnya ragu untuk menyentuh area pribadi suaminya. Namun, rasa penasaran—dan keinginan untuk membantu mematikan alarm yang berisik—mendorongnya mendekat.
Saat ia meraih ponsel itu, matanya tak sengaja menangkap sesuatu yang ganjil. Sebuah laci kecil di bagian bawah meja kerja Devan, yang selama ini selalu terkunci rapat, kini sedikit terbuka. Rupanya Devan lupa memutar kuncinya dengan sempurna karena tergesa-gesa. Nika terdiam sejenak. Hatinya bergejolak antara menghormati privasi Devan atau menuntaskan rasa ingin tahu yang tiba-tiba menyeruak.
"Hanya sebentar, Nika. Siapa tahu ada dokumen penting yang tertinggal," bisiknya meyakinkan diri sendiri.
Dengan tangan sedikit gemetar, Nika menarik laci itu. Ia mengira akan menemukan draf kontrak proyek Bali yang lain, atau mungkin surat-surat berharga. Namun, apa yang ia temukan justru membuatnya terpaku dengan napas tertahan. Di dalam laci itu tidak ada dokumen perusahaan. Isinya adalah sebuah kotak beludru kecil berwarna biru gelap, sebuah kamera polaroid tua, dan seberkas surat-surat yang kertasnya mulai menguning.
Nika mengambil kamera polaroid itu. Saat ia melihat foto-foto yang terselip di belakangnya, air matanya jatuh tanpa permisi. Itu adalah foto-foto dirinya. Bukan foto yang diambil secara profesional, melainkan foto-foto candid saat ia masih kuliah dulu. Ada foto dirinya yang sedang tertawa lebar saat makan es krim di taman kampus, foto dirinya yang sedang tertidur di perpustakaan dengan buku menutupi wajah, dan foto dirinya saat sedang berargumen dengan dosen di podium.
"Jadi... Mas Devan benar-benar memperhatikanku sejak dulu?" bisik Nika serak.
Ia kemudian beralih pada kotak beludru biru itu. Dengan jantung yang berdegup kencang, ia membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah cincin yang sangat indah, namun modelnya tampak klasik, bukan model terbaru yang ada di toko perhiasan mewah. Di samping cincin itu, ada selembar kartu kecil bertuliskan tangan Devan:
"Untuk Nika, saat dia benar-benar siap untuk mencintaiku kembali. Bukan karena paksaan orang tua, tapi karena dia menemukan rumah di dalam pelukanku. Aku akan menunggu hingga hari itu tiba."
Nika menutup mulutnya dengan tangan, isak tangisnya pecah di ruangan yang sunyi itu. Penyesalan yang ia rasakan selama ini ternyata hanya puncak gunung es. Di bawahnya, ada samudera cinta Devan yang begitu dalam dan luas, yang selama ini ia abaikan dengan sengaja. Devan ternyata sudah menyiapkan rencana untuk melamarnya secara "ulang" dengan cara yang romantis, jauh dari kesan transaksi bisnis yang selama ini Nika benci.
Namun, di antara barang-barang romantis itu, ada satu amplop cokelat besar yang terletak di paling bawah. Nika menariknya keluar. Di dalamnya terdapat sebuah draf dokumen hukum, namun bukan draf perceraian. Judulnya adalah: "Penyerahan Hak Milik Saham dan Aset Adiguna Group Atas Nama Arunika Batubara."
Nika membaca poin-poin di dalamnya dengan teliti. Devan ternyata sedang memproses pengalihan sebagian besar aset pribadinya atas nama Nika. Di bagian catatan paling bawah, tertulis alasan hukumnya: "Sebagai jaminan masa depan Arunika jika suatu saat pernikahan ini gagal karena kesalahanku, agar dia tetap bisa hidup mandiri dan bahagia tanpa harus bergantung pada siapa pun."
"Kamu bodoh, Mas... kamu terlalu baik," isak Nika. Ia merosot duduk di lantai dingin, memeluk dokumen-dokumen itu. Ia menyadari bahwa selama ini ia mencurigai Devan menikahinya hanya untuk bisnis, padahal Devan justru menyiapkan segalanya agar Nika tidak dirugikan sedikit pun oleh pernikahan ini. Devan bersedia kehilangan hartanya hanya agar Nika merasa aman.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah luar. Nika panik. Ia segera merapikan semua barang-barang itu kembali ke dalam laci dengan cepat. Ia tidak ingin Devan tahu bahwa ia telah membongkar rahasianya. Tepat saat laci itu tertutup, pintu ruangan terbuka.
Namun, yang muncul bukanlah Devan. Melainkan Ibu Sofia, ibu mertuanya, yang membawa sebuah kotak kue.
"Nika? Kamu di sini, sayang?" Ibu Sofia menatap menantunya yang wajahnya sembab dan hidungnya memerah. "Loh, kenapa menangis? Apa Devan menyakitimu lagi?"
Nika segera menghapus air matanya dan mencoba tersenyum, meski terlihat getir. "Tidak, Ma. Mas Devan tidak menyakiti Nika. Nika hanya... Nika baru sadar betapa beruntungnya Nika memiliki anak Mama."
Ibu Sofia mendekat, membelai rambut Nika dengan kasih sayang seorang ibu. "Kamu sudah menemukannya, ya? Barang-barang di laci itu?"
Nika terkejut. "Mama tahu?"
Ibu Sofia mengangguk perlahan, ia duduk di kursi kerja Devan yang besar. "Devan membeli cincin itu seminggu sebelum kalian menikah. Dia bilang pada Mama, dia tidak ingin memberikan cincin keluarga karena dia ingin memulai sejarah baru bersamamu. Tapi melihat sikapmu yang begitu dingin di awal pernikahan, dia memutuskan untuk menyimpannya. Dia tidak ingin memberikannya pada wanita yang merasa terpaksa menjadi istrinya."
"Lalu soal saham itu, Ma?" tanya Nika lagi.
"Itu bentuk perlindungan, Nika. Devan tahu kalau pernikahan tanpa cinta itu menyiksa. Dia ingin, kalaupun suatu hari kamu benar-benar ingin pergi, kamu pergi dengan kepala tegak dan hidup yang terjamin. Dia tidak ingin kamu kembali ke orang tuamu dalam keadaan tidak punya apa-apa. Devan itu pria yang mencintai dengan cara melindungi, bukan dengan kata-kata manis."
Nika menunduk dalam, rasa malu kini bercampur dengan rasa cinta yang semakin membuncah. Ia merasa sangat kecil di hadapan kebesaran hati suaminya.
"Ma," ucap Nika tiba-tiba dengan nada yang mantap. "Nika ingin melakukan sesuatu. Nika ingin membuat 'Kesempatan Kedua' ini menjadi nyata, bukan sekadar kata-kata. Nika ingin Mas Devan tahu bahwa Nika sudah tidak butuh lagi dokumen jaminan itu. Nika hanya butuh dia."
"Apa yang akan kamu lakukan, sayang?" tanya Ibu Sofia penasaran.
"Mama punya resep makanan kesukaan Devan yang paling susah dibuat? Yang biasanya cuma dibuat kalau ada perayaan besar?" tanya Nika dengan binar tekad di matanya.
Ibu Sofia tertawa kecil. "Ada. Rendang paru dengan bumbu rahasia nenek Devan. Pembuatannya butuh waktu delapan jam dan kesabaran yang luar biasa. Kamu yakin mau mencobanya? Nanti dapurmu bau lagi."
Nika tersenyum lebar, senyum paling tulus yang pernah ia miliki. "Biarkan dapur ini bau bumbu, Ma. Asalkan hati Mas Devan tetap hangat. Nika akan belajar delapan jam, delapan puluh jam, atau selamanya untuk dia."
Sore itu, dapur kediaman Adiguna kembali menjadi medan perjuangan. Namun kali ini, tidak ada lagi rasa frustrasi atau kepanikan. Di bawah bimbingan Ibu Sofia lewat sambungan panggilan video, Nika mulai mengulek bumbu secara manual. Ia menolak menggunakan mesin penghalus. Ia ingin setiap tetes keringatnya menjadi bagian dari rasa makanan yang akan disantap Devan nanti.
Di tengah kesibukan mengaduk santan yang mulai mengental, Nika memikirkan cincin di laci itu. Ia membuat satu rencana gila di dalam kepalanya. Jika Devan belum siap melamarnya kembali, maka dialah yang akan melamar Devan. Ia akan menunjukkan bahwa dalam "Kesempatan Kedua" ini, dia bukan lagi wanita yang dikejar, melainkan wanita yang akan berlari paling depan untuk menjaga hubungan mereka.
Namun, sebuah pesan masuk ke ponselnya saat ia sedang asyik mengaduk rendang:
"Ni, aku harus menginap semalam lagi di luar kota. Ada kendala di lapangan. Jaga diri di rumah ya."
Nika menatap pesan itu. Rendang di hadapannya sudah hampir matang. Rasa kecewa sempat mampir, namun ia segera menepisnya. Ia mengambil kunci mobilnya. "Kalau Mas tidak pulang ke rumah, maka rumah yang akan mendatangi Mas," bisiknya dengan senyum nakal.
Nika segera mengemas rendang panas itu ke dalam wadah kedap udara, mengganti bajunya dengan pakaian yang paling cantik, dan bersiap untuk melakukan perjalanan lima jam menuju lokasi proyek Devan di luar kota di tengah malam yang mulai turun. Ia tidak tahu apa yang menantinya di sana, tapi ia tahu satu hal: ia tidak ingin membuang waktu satu detik pun lagi untuk menunjukkan cintanya.