Sebuah rumah kontrakan tua di pinggiran kota terlihat seperti rumah biasa.
Catnya kusam, halamannya sepi, dan harganya sangat murah. Terlalu murah untuk ukuran rumah sebesar itu.
Karena kebutuhan dan kondisi keuangan, tiga sahabat Raka, Bima, dan Siska memutuskan untuk menempatinya tanpa banyak bertanya.
Namun sejak malam pertama, mereka mulai menyadari bahwa rumah itu menyimpan sesuatu yang tidak biasa.
Pintu sering terbuka sendiri.
Kursi goyang bergerak tanpa ada yang menyentuh. Terdengar suara langkah dari loteng setiap tengah malam.
Dan yang paling mengejutkan… rumah itu ternyata sudah lama dihuni oleh makhluk tak kasat mata.
Pocong yang suka memasak mie di dapur. Kuntilanak yang gemar menonton sinetron.
Hingga sosok misterius dari kamar belakang yang jarang muncul, namun selalu membuat bulu kuduk berdiri.
Di rumah itu, manusia dan hantu hidup berdampingan… meski tidak selalu damai.
Karena satu per satu rahasia rumah tersebut mulai terungkap.
ini bukan rumah biasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Darah yang Tersembunyi
Rahasia Darah yang Tersembunyi
Loteng rumah kembali sunyi.
Namun suasana kali ini terasa berbeda. Seolah-olah udara di dalam rumah menjadi lebih berat sejak cincin hitam itu menempel di jari Raka.
Bima masih berdiri agak jauh dari Raka.
Ia menunjuk cincin itu dengan hati-hati.
“Rak… kalau tiba-tiba kamu berubah jadi bos kegelapan… tolong jangan jadikan gue minion ya.”
Siska langsung menyikut Bima.
“Situasi serius, Bim!”
Bima mengangkat bahu.
“Gue serius.”
Raka menghela napas panjang sambil memandangi cincin itu.
“Jujur aja… gue juga bingung.”
Ucup duduk bersila di lantai loteng sambil menatap cincin itu dengan rasa penasaran.
“Coba ceritakan lagi tadi yang kamu lihat.”
Raka berpikir sebentar.
“Gue lihat tempat besar… kayak kerajaan.”
“Gelap… tapi besar banget.”
Lodra yang masih merayap di langit-langit mendengarkan dengan serius.
Raka melanjutkan.
“Ada banyak makhluk berdiri… kayak pasukan.”
“Dan mereka semua… berlutut.”
Bima langsung menelan ludah.
“Berlutut ke siapa?”
Raka menjawab pelan.
“Seseorang yang duduk di singgasana.”
Siska bertanya,
“Wajahnya kelihatan?”
Raka menggeleng.
“Enggak jelas.”
Namun ia menatap cincin di jarinya.
“Tapi rasanya… aneh.”
Ucup mengangkat alis.
“Aneh bagaimana?”
Raka berkata pelan,
“Kayak… itu rumah gue.”
Semua langsung diam.
Bima membuka mulut pelan.
“…Oke itu mulai menyeramkan.”
Tiba-tiba makhluk penjaga gerbang lama bergerak mendekati Raka.
Langkahnya berat.
DUK… DUK…
Ia menatap cincin itu lagi.
Untuk beberapa detik ia tidak berkata apa-apa.
Namun akhirnya ia berbicara.
“Penglihatan itu… bukan mimpi.”
Semua langsung menoleh.
Siska bertanya cepat,
“Maksudnya?”
Makhluk besar itu menjawab pelan.
“Itu ingatan.”
Raka mengerutkan kening.
“Ingatan siapa?”
Makhluk itu menatap langsung ke mata Raka.
“Darahmu.”
Suasana langsung hening.
Bima bahkan lupa berkedip.
“…Rak… lo punya memori download dari nenek moyang?”
Raka terlihat semakin bingung.
“Gue bahkan nggak tahu nenek moyang gue siapa.”
Makhluk penjaga gerbang lama berkata lagi.
“Darah bisa menyimpan ingatan.”
Ucup mengangguk pelan.
“Beberapa makhluk tua memang percaya itu.”
Bima langsung menunjuk Ucup.
“Kenapa kamu tahu hal begitu?”
Ucup santai menjawab,
“Pengalaman hidup.”
Di sudut loteng, Kakek tiba-tiba berbicara.
Suaranya pelan namun jelas.
“Ada hal yang selama ini tidak pernah aku ceritakan.”
Semua langsung menoleh padanya.
Raka juga terlihat terkejut.
“Kakek?”
Kakek berjalan perlahan mendekat.
Ia menatap cincin itu.
Lalu menatap Raka.
“Aku sudah lama menunggu hari ini.”
Bima langsung mengangkat tangan.
“Tunggu dulu.”
Semua menoleh padanya.
Bima berkata serius.
“Kalau ini plot twist keluarga… gue mau duduk dulu.”
Ia langsung duduk di lantai.
“Silakan lanjut.”
Siska memutar mata.
Kakek menarik napas panjang.
“Rumah ini… bukan sekadar rumah tua.”
Semua sebenarnya sudah tahu itu.
Namun Kakek melanjutkan.
“Rumah ini dibangun di atas gerbang antara dua dunia.”
Ucup mengangguk.
“Yang tadi hampir terbuka.”
Kakek menunjuk tongkat penjaga di tangan Raka.
“Tongkat itu digunakan oleh penjaga rumah.”
Lalu ia menatap cincin itu.
“Dan cincin itu…”
Ia berhenti sebentar.
Seolah menimbang kata-katanya.
“Cincin itu milik penguasa dari dunia yang ada di balik gerbang.”
Bima langsung mengangkat tangan lagi.
“Pertanyaan.”
Siska menghela napas.
“Apa lagi?”
Bima menunjuk Raka.
“Kenapa cincin itu nempel ke dia?”
Semua kembali diam.
Itu pertanyaan yang belum ada jawabannya.
Namun penjaga gerbang lama berkata pelan.
“Karena darahnya.”
Raka langsung menoleh.
“Darah apa?”
Makhluk itu menatap Raka lama.
Namun sebelum ia sempat menjawab…
tiba-tiba cincin itu kembali bersinar merah.
Namun kali ini…
cahayanya jauh lebih kuat.
Raka langsung memegang kepalanya lagi.
“ARGH!”
Bima panik.
“RAK KENAPA LAGI?!”
Di dalam pikiran Raka…
suara berat kembali terdengar.
Lebih jelas dari sebelumnya.
“Pewaris…”
“Bangkitlah…”
Raka melihat bayangan singgasana hitam lagi.
Namun kali ini…
seseorang berdiri di depannya.
Sosok besar berjubah gelap.
Ia berkata dengan suara berat.
“Darah raja… tidak bisa tidur selamanya.”
Raka berteriak dalam pikirannya.
“SIAPA KAMU?!”
Sosok itu menjawab pelan.
“Aku… masa lalumu.”
Tiba-tiba penglihatan itu hilang.
Cahaya cincin padam.
Raka jatuh terduduk.
Semua langsung mendekatinya.
Siska panik.
“Rak kamu dengar sesuatu lagi?!”
Raka mengangguk pelan.
Wajahnya terlihat shock.
Bima bertanya pelan.
“Apa katanya?”
Raka menatap cincin di jarinya.
Lalu berkata dengan suara hampir berbisik.
“Dia bilang…”
“Darah raja.”
Suasana loteng langsung sunyi.
Bima menelan ludah.
“…Raja apa?”
Raka mengangkat wajahnya perlahan.
Matanya terlihat sedikit berbeda.
Seolah ada sesuatu yang mulai bangun di dalamnya.
Namun ia sendiri belum menyadarinya.
Ia hanya berkata pelan.
“Kayaknya… ini baru awal.”
Jika rasa penasaran kalian sudah tak tertahan, pastikan kalian terus mengikuti perjalanan ini… dan jangan lupa mampir untuk membaca, karena setiap halaman menyimpan rahasia yang tak akan kalian lihat sebelumnya. 🙏
Tulis di komentar ya 👇 Jangan lupa like dan vote supaya cerita ini terus lanjut ke session 2 ya...👍