"Aku cuma mau jadi beban keluarga CEO, kenapa malah dikasih beban nyawa Mafia?!"
Velin mengira transmigrasi ke tubuh istri pengganti dalam drama CEO klise adalah tiket liburannya dari dunia korporat. Tugasnya mudah: diabaikan suami, dihina pelakor, lalu mati konyol.
Tapi Velin menolak alur! Saat ia sedang asyik berendam mawar untuk merayakan kebebasannya, plafon kamar mandinya jebol.
Bukannya suami yang datang minta maaf, justru seorang pria asing bersimbah darah jatuh tepat di hadapannya. Kieran Marva D’Arcy—Ketua Mafia kejam yang seharusnya tidak ada dalam naskah ini.
Satu pria ingin membuangnya, satu pria lagi mengancam akan menembaknya.
Saat alur drama sudah "Salah Server", apakah Velin akan tetap mengikuti naskah, atau justru menulis takdir baru bersama sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Penculikan Istri CEO
Deru baling-baling helikopter yang membelah keheningan malam di kediaman Mally membuat kaca-kaca jendela bergetar hebat. Jaxon sudah berdiri siaga di balkon, sementara Kieran menarik tangan Velin dengan paksa.
"Ikut aku sekarang, Aveline!" perintah Kieran. Suaranya tidak lagi terdengar lemah, melainkan penuh otoritas yang tak terbantahkan.
"Enggak mau! Tuan, seratus miliarnya transfer saja, jangan bawa orangnya!" Velin meronta, jari manisnya yang memakai cincin hitam itu terasa berdenyut hangat. "Aku lebih baik dicuekin Adriano tapi tetap bisa tidur di kasur empuk ini daripada ikut kamu masuk helikopter. Aku takut ketinggian, Tuan!"
Tepat saat itu, pintu kamar didobrak dengan keras untuk kedua kalinya malam ini.
BRAKKK!
Adriano masuk dengan napas tersengal. Ia mematung melihat pemandangan di depannya: seorang pria asing bertubuh kekar dengan kemeja pink pastel sedang menarik paksa tangan istrinya menuju balkon, sementara sebuah helikopter siluman melayang di luar sana.
"Lepaskan dia!" teriak Adriano. Ia berlari maju, kemarahannya mencapai puncak. "Siapa kau?! Beraninya kau menyusup ke rumahku dan menyentuh istriku!"
Velin yang melihat Adriano datang langsung merasa mendapat harapan. Ia menjulurkan tangannya yang bebas ke arah Adriano dengan wajah memelas.
"Mas Adriano! Tolong! Aku diculik!" pekik Velin. Dalam benaknya, ia berpikir: "Mending aku di sini saja, hadapi Mirabella tiap hari nggak apa-apa, yang penting fasilitas kartu kredit masih jalan! Kalau ikut Mafia ini, jangan-jangan aku disuruh tidur di hutan!"
Adriano mencoba meraih tangan Velin, namun Jaxon dengan cepat menghalangi langkah sang CEO dengan gerakan bela diri yang sangat presisi.
"Maaf, Tuan Mally. Nona ini sudah menjadi urusan keluarga D'Arcy sekarang," ujar Jaxon dingin.
Kieran menatap Adriano dengan tatapan meremehkan. "Kau menyebut dirimu suaminya? Kau bahkan tidak tahu ada pria berdarah di kamarmu selama berjam-jam. Kau tidak layak memilikinya."
"Kau bajingan!" Adriano melayangkan pukulan, namun Kieran menghindar dengan gesit meski perutnya masih terluka.
Kieran segera menarik pinggang Velin dan membopongnya seperti karung beras di bahunya. "Jaxon, bereskan sisanya! Kita pergi sekarang!"
"TIDAK! MAS ADRIANOOO! JANGAN BIARKAN AKU PERGI! AKU TIDAK MAU DIAMBIL GINJALNYA, MAS!" teriak Velin konyol sambil menendang-nendang udara. Ia benar-benar takut kehilangan kehidupan mewahnya sebagai Nyonya CEO.
Kieran melompat ke arah tangga tali helikopter dengan Velin di pundaknya. "Diamlah, Aveline! Kau pikir pria sekikir Adriano bisa memberimu segalanya? Dia bahkan tidak sanggup membelikanmu cincin yang tidak bisa lepas!"
"Ini cincin kutukan, Tuan Mafia! Turunkan akuuu!"
Helikopter itu mulai naik menjauh dari balkon. Adriano hanya bisa berdiri di sana, menatap langit malam dengan perasaan hancur dan marah yang luar biasa. Ia melihat istrinya—wanita yang biasanya memohon cintanya—kini dibawa pergi oleh pria yang jauh lebih berbahaya darinya.
...****************...
Di dalam helikopter...
Velin terduduk lemas di kursi kulit helikopter yang ternyata... jauh lebih empuk dan mewah daripada sofa di rumah Adriano. Ia menatap interior helikopter yang dilapisi emas putih dan dilengkapi bar minuman kelas atas.
"Tuan..." Velin berkedip, air matanya (yang sebenarnya air mata buaya) mendadak kering saat melihat sekeliling. "Ini helikopter punya kamu? Bukan sewaan?"
Kieran yang sedang diperban ulang oleh tim medis pribadinya hanya melirik dingin. "Keluarga D'Arcy tidak mengenal kata 'sewa'. Apapun yang kau lihat di sini, aku bisa membelinya beserta pabriknya."
Velin menelan ludah. Ia melirik cincin hitam di jarinya, lalu melirik Kieran yang kini sudah berganti kemeja hitam sutra yang sangat mahal. "Duh... sepertinya aku salah server lagi. Kalau Adriano itu CEO kelas kota, yang ini kayaknya CEO kelas dunia. Apa ini saatnya aku naik jabatan dari beban CEO jadi beban Mafia?"
Kieran mendekatkan wajahnya ke telinga Velin, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk Velin berdiri. "Jangan pernah berpikir untuk kembali padanya, Aveline. Seratus miliarmu sedang diproses, tapi sebagai gantinya... kau harus membantuku menjelaskan pada kakekku kenapa cincin takdir ini memilih wanita konyol sepertimu."
Velin hanya bisa melongo, sementara helikopter melesat menembus awan menuju markas besar Mafia di pulau pribadi yang kemewahannya bahkan tak sanggup dibayangkan oleh penulis naskah drama Adriano.
...****************...
terimakasih 🙏🙏🙏