Kwee Lan, seorang Sinseh Wanita yang kehilangan chi akibat sakit keras menemukan seorang pemuda pingsan di bukit Peng San.
Karena Sumpah Sinseh, ia wajib menolong pemuda itu. Walaupun resikonya dicap bo-li-mo(amoral), ia takkan mundur. Tapi, warga sudah nyaris membakarnya atas tuduhan berzinah.
-----------
Sebagian besar nama dan istilah menggunakan Dialek Hokkien, sebagian Mandarin. Untuk membangkitkan kembali era Silat Kho Ping Hoo dalam sentuhan Abad 21.
AI digunakan untuk asistensi bahasa dan budaya akibat penulis mengalami penghapusan budaya besar-besaran dan kehilangan cukup banyak warisan budaya walaupun dalam hati dan keseharian masih menerangkan nilai-nilainya.
---The Bwee Lan (Anggrek Indah dari Marga The), penulis--
nb. Bwee bisa bermakna indah, cantik (wanita), atau tampan (pria).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api di Malam Tanpa Bulan
Tiga Hari Kemudian
Rumah Kwee Lan di Bukit Pheng San
Pemuda itu belum sadar juga.
Sudah tiga hari. Demamnya naik turun. Kadang mengigau, kadang diam seperti mayat hidup. Kwee Lan sudah melakukan yang bisa dia lakukan: jahitan rapi, kompres jahe, ramuan pahit yang dipaksa masuk lewat sela bibir. Tapi luka dalam? Infeksi?
Dia ingin membawanya ke Sekte Sip. Mereka punya fasilitas lebih dan melihat gembelnya Pemuda ini, ia jamin Sinseh Lam, yang juga tetua sekte, akan menolongnya dan melepaskan dia dari Kewajiban Sinseh ini.
Dia mata masyarakat ia wanita. Ia cuma tukang obat dan bidan terampil. Bukan sinseh pria.
Tapi ada masalah lain yang lebih mendesak.
Baju.
Baju pemuda itu sudah tidak layak pakai. Robek, bernoda darah kering, bau. Kwee Lan harus menggantinya kalau mau pasiennya sembuh dengan layak. Tapi baju siapa?
Baju Kwee Lan? Kecil. Baju perempuan. Tidak muat.
Baju orang tuanya? Ada. Ibu punya beberapa lemari. Ayah juga.
Kwee Lan membuka peti kayu di sudut rumah. Di dalamnya, baju-baju Ayah dilipat rapi, sudah tiga tahun tidak tersentuh. Bau kapur barus. Kainnya masih bagus—Ayah dulu suka beli bahan berkualitas, bilangnya "sinseh harus kelihatan rapi supaya pasien percaya".
Dia ambil satu stel. Celana hitam longgar, baju putih lengan panjang model sinseh. Cukup. Muat.
Tapi ada satu masalah.
Celana dalam.
Bagian daleman. Pakaian dalam pria.
Kwee Lan tidak punya. Ayah punya, tapi ikut dikubur. Aturan wajib bagi orang-orang yang meninggal kena wabah.
Sekarang dia harus mikir.
Pemuda itu tidak bisa pakai cawat terus. Dia kan bukan Sun Go Kong. Apalagi tidak higienis. Lukanya bisa tambah parah.
Kwee Lan menghela napas panjang. Lalu mengambil uang sisa dari bayaran Lau Cu, turun ke desa.
Pasar Bang Kah Chng - Sore Hari
Toko tekstik milik Tan Ku, penjual kain langganan keluarga Kwee Lan dulu. Sekarang Toko itu masih buka. Tan Ku, pria 60-an dengan kacamata tebal, sedang melayani pelanggan.
Kwee Lan masuk. Dia lihat-lihat sebentar, lalu bertanya dengan suara sepelan mungkin.
"Tek Tan, ada... celana dalam? Untuk pria?"
Tan Ku menatapnya. "Celana dalam? Pria?"
"Iya."
"Untuk siapa?"
"..."
Kwee Lan tidak menjawab.
Tan Ku mengangkat alis. Tapi sebagai pedagang, dia tahu kapan harus tidak bertanya. Dia ambilkan tiga potong celana dalam pria dari stok, bungkus dengan kertas, serahkan ke Kwee Lan.
Kwee Lan bayar. Cepat-cepat keluar.
Tapi Tan Ku sudah melihat. Dan Tan Ku punya mulut.
Malam Hari
Kediaman Lau Cu
Lau Cu baru saja mau tidur ketika pintu rumahnya digedor.
Brak! Brak! Brak!
"PAK CU! PAK CU! KELUAR! DARURAT!"
Lau Cu membuka pintu dengan mata masih setengah tidur. Di luar, sepuluh warga desa berdiri dengan obor. Di depan, Tan Ku si penjual kain dan beberapa ibu-ibu.
"Ada apa? Kebakaran? Maling?"
Tan Ku maju. "Pak Cu, kita punya masalah. Kwee Lan."
Lau Cu mengerutkan kening. "Kwee Lan? Yang kemarin benerin sumur saya?"
"Dia beli celana dalam pria di toko saya sore tadi."
"..."
Lau Cu butuh beberapa detik untuk memproses.
"Celana... dalam? Pria?"
"Pria!" sambar seorang ibu. "Anak gadis beli daleman pria! Untuk apa coba?"
"Aku ingat dia ke sini … tapi bilang apa, ya?" Lau Cu coba membela. "Dia kan tinggal sendiri, kenang-kenangan—"
"Ayahnya sudah dikubur tiga tahun!" Tan Ku potong. "Dan celana dalam itu ukuran baru, bukan model jaman dulu! Kamu jangan lembek!”
Lau Cu mulai pusing. Ini pola yang dia kenal. Masalah dimulai dari hal kecil, lalu warga mulai resah, lalu mereka datang ke rumahnya, lalu—
"Dia bawa laki-laki ke rumahnya!" teriak ibu tadi. "Anak saya lihat ada bayangan laki-laki di rumah Kwee Lan! Beberapa malam!"
"Iya! Saya juga lihat!" sahut yang lain.
"Dia tinggal sendiri di gunung, tiba-tiba ada laki-laki?"
"Gila! Anak gadis bawa laki-laki sembunyi di gunung!"
Lau Cu mengangkat tangan. "Tunggu! Tunggu dulu! Kwee Lan bilang sama saya, dia nemu orang pingsan di hutan. Dia rawat. Itu yang—"
"Kamu percaya?" Tan Ku memotong. "Alasan klasik! Nemu orang pingsan, dibawa pulang, dirawat, lalu? Lalu apa Pak Cu?"
Warga mulai gaduh.
"Kita harus periksa!"
"Bakar saja rumahnya!"
"Bawa dia ke sini! Hakim desa!"
Lau Cu ingin menjelaskan lebih lanjut, tapi dia nggak yakin apa masalahnya. Entah itu saudara Kwee Lan atau apa gitu. Lemparan kancut sudah menghilangkan sebagian memorinya. Dan dari dalam rumah, suara istrinya mulai terdengar.
"LAU CU! BERISIK! AKU MAU TIDUR!"
Lau Cu menutup muka. Dunianya hancur lagi.
Malam Tanpa Bulan
Puncak Bukit Pheng San
Kwee Lan sedang duduk di depan rumah, memanaskan air untuk kompres, ketika dia melihat obor dari bawah.
Banyak obor.
Berbaris naik ke bukit.
Dia menyipitkan mata. Matanya yang terlatih Bu Ki Sut bisa melihat detail dari jarak jauh. Warga desa. Sepuluh, dua puluh orang. Dengan parang, pentungan, dan obor.
Tanpa bulan, hanya obor itu yang menerangi malam. Tapi Kwee Lan bisa lihat jelas wajah mereka. Marah. Takut. Dan siap menghakimi.
Dia menarik napas. Berdiri.
Dia tahu ini akan terjadi. Sejak beli celana dalam itu, dia sudah curiga. Tapi tidak menyangka secepat ini.
Warga sampai di halaman rumahnya. Tan Ku maju ke depan, obor di tangan.
"Kwee Lan! Keluarkan laki-laki yang kamu sembunyi!"
Kwee Lan diam. Di belakangnya, di dalam rumah, pemuda itu masih pingsan. Tidak bisa lari. Tidak bisa jelaskan apa-apa.
"Tidak ada laki-laki," kata Kwee Lan tenang. "Hanya pasien. Saya rawat karena dia terluka."
"Pasien?" Tan Ku tertawa getir. "Kamu bukan sinseh! Ayahmu yang sinseh, kamu cuma tukang obat yang bisa bidan!"
"Aku punya plakat negara, lulus ujian!"
Tan Ku mencari alasan lain. Ia lupa kalau dulu, dialah yang memberi hutangan untuk Kwee Lan ujian semata karena nyonyanya mau melahirkan dan dia malas cari bidan.
" Lalu laki-laki itu kenapa tidak dilaporkan?"
"Sudah. Saya lapor Pak Cu."
"Pak Cu gak ada bilang kamu lapor! Tapi setelah itu? Berapa hari sudah? Kenapa tidak dibawa ke desa? Kenapa disembunyikan di gunung?"
Kwee Lan tidak bisa jawab. Karena memang dia tidak punya alasan bagus. Dia cuma... merawat. Seperti dulu Ayah merawat pasien. Sampai sembuh, baru pulang. Itu saja.
Tapi warga tidak terima.
"Sembunyikan laki-laki di gunung!"
"Anak gadis tidak tahu malu!"
"Bakar rumahnya! Usir dari Pheng San!"
Kwee Lan melihat ke arah Lau Cu yang berdiri di belakang, wajahnya pucat. Dia sudah lapor. Tapi lapor saja tidak cukup. Massa ingin darah.
Tan Ku maju selangkah. Obor di tangannya digoyang. "Bawa keluar laki-laki itu, atau kami bakar rumahmu sekarang!"
Kwee Lan diam. Ototnya tegang. Posisinya siap. Bu Ki Sut level 3—dia bisa lari. Bisa kabur ke hutan. Malam tanpa bulan, dia hafal setiap jalur.
Tapi pemuda itu di dalam. Tidak bisa ditinggal.
Dia memilih diam.
"KALAU BEGITU—"
Tan Ku mengayunkan obor, siap melemparkannya ke atap jerami rumah Kwee Lan—
BRAK!
Pintu rumah Kwee Lan terbuka. Bukan didorong, tapi meledak keluar.
Semua orang terkejut. Obor-obor goyah. Kwee Lan menoleh.
Pemuda itu berdiri di ambang pintu.
Badan compang-camping, perban di mana-mana, jahitan masih baru. Tapi dia berdiri. Matanya—
Matanya menyala.
Bukan kiasan. Bukan cahaya obor yang memantul.
Menyala beneran.
Dua titik api biru pucat di kedua matanya, menerangi wajahnya yang pucat. Di malam tanpa bulan, di tengah gelap gulita Bukit Pheng San, mata itu seperti dua bintang jatuh yang tersangkut di kepala manusia.
Tan Ku mundur. Obor di tangannya gemetar.
"A-A-A... iblis! IBLIS!"
Warga menjerit. Ada yang jatuh. Ada yang lari. Tapi pemuda itu tidak peduli.
Dia angkat tangan. Satu gerakan. Lambat. Lalu—
SHUUUAAA—!
Obor di tangan Tan Ku padam. Bukan ditiup. Bukan dipadamkan. Padam seketika, seperti ada tangan raksasa tak terlihat yang mencekik apinya.
Satu per satu, obor warga padam. Puff. Puff. Puff.
Gelap total.
Hanya dua mata biru yang menyala di kegelapan.
Kwee Lan, yang matanya sudah terlatih Bu Ki Sut, masih bisa lihat. Dia lihat pemuda itu berdiri. Lihat warga bergelimpangan ketakutan. Lihat Lau Cu pingsan di belakang.
Lalu pemuda itu menoleh ke arahnya.
Mata biru itu menatap Kwee Lan. Lalu bibirnya bergerak.
"Kau... yang merawatku?"
Suaranya serak. Habis. Tapi ada kekuatan di dalamnya.
Kwee Lan mengangguk. "Iya."
Pemuda itu diam sebentar. Lalu matanya mulai meredup. Biru pucat memudar jadi hitam biasa. Badannya goyah.
"Kau... Kenapa…selamatkan aku..."
Dia jatuh.
Kwee Lan bergerak cepat, menangkapnya sebelum tubuh itu menyentuh tanah. Dia duduk di tanah, pemuda itu di pangkuannya, napasnya lemah.
Di sekelilingnya, warga desa lari terbirit-birit. Obor berserakan. Beberapa masih pingsan.
Kwee Lan menatap pemuda itu. Lalu menatap ke langit. Masih gelap. Masih tanpa bulan.
"Habis sudah," gumamnya. "Besok pasti lebih ramai."
Di bawah, di kejauhan, teriakan warga terdengar sayup:
"PENYIHIR! IBLIS! KUTUKAN!"
Kwee Lan menghela napas.
"Besok cari kerja lagi susah."
[Bersambung]