NovelToon NovelToon
Suamiku Menyesal Setelah Mengusirku

Suamiku Menyesal Setelah Mengusirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Amirur Rijal

Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan yang Tak Terlihat

Pagi datang lebih cepat dari biasanya.

Langit kota masih berwarna abu-abu ketika mobil hitam Rania berhenti di depan gedung Hartono Group.

Beberapa wartawan sudah berdiri di depan pintu masuk.

Kamera.

Mikrofon.

Lampu kilat.

Semua mengarah ke satu orang.

Rania.

Sopir membuka pintu mobil.

Begitu Rania turun, suara-suara langsung terdengar bersahutan.

“Bu Rania! Apakah benar Hartono Group melakukan penyuapan?”

“Apakah proyek energi itu ilegal?”

“Bagaimana tanggapan Anda terhadap tuduhan korupsi?”

Namun Rania bahkan tidak melirik mereka.

Langkahnya tetap tenang.

Sepatu haknya berdetak pelan di lantai marmer ketika ia masuk ke dalam gedung.

Pintu kaca tertutup di belakangnya, meredam suara bising para wartawan.

Arsen sudah menunggu di lobby dengan wajah tegang.

“Berita itu keluar dua puluh menit yang lalu.”

Rania tidak terlihat terkejut.

“Kirim ke ruanganku.”

Mereka berjalan menuju lift.

Arsen menekan tombol lantai tertinggi.

Lift naik dengan cepat.

Di dalam lift hanya ada suara mesin yang halus.

Arsen akhirnya berkata,

“Media sudah menyebarkan berita itu ke mana-mana.”

Rania menatap layar kecil di ponselnya.

Judul berita muncul satu demi satu.

“Hartono Group Diduga Menyuap Pejabat untuk Proyek Energi.”

“Dokumen Lama Mengungkap Skandal Proyek Besar.”

“Nama Keluarga Hartono Terseret dalam Kasus Lama.”

Arsen menghela napas panjang.

“Serangan ini jauh lebih besar dari yang kita kira.”

Rania berkata tenang,

“Karena ini bukan serangan pasar.”

Lift berbunyi pelan ketika mencapai lantai mereka.

“Ini serangan reputasi.”

Mereka keluar dari lift.

Beberapa staf langsung berdiri ketika melihat Rania lewat.

Suasana kantor terasa berbeda.

Tegang.

Gelisah.

Rania masuk ke ruangannya tanpa berkata apa pun.

Arsen menutup pintu di belakang mereka.

Ia langsung meletakkan tablet di meja Rania.

“Ini dokumen yang mereka gunakan.”

Rania membuka file itu.

Beberapa lembar dokumen lama muncul di layar.

Kontrak proyek.

Surat perjanjian.

Dan satu halaman yang membuat matanya berhenti.

Di bagian bawah halaman itu ada tanda tangan.

Hartono Surya.

Ayahnya.

Arsen berkata pelan,

“Ini dokumen proyek sepuluh tahun lalu.”

Rania tetap diam.

Arsen melanjutkan,

“Jika ini benar-benar diselidiki… nama keluargamu bisa ikut terseret.”

Rania menutup tablet itu perlahan.

“Aku tahu.”

Arsen terlihat frustrasi.

“Kita harus menghentikan berita ini sebelum lebih besar.”

Rania justru berkata sesuatu yang membuat Arsen terdiam.

“Tidak perlu.”

Arsen menatapnya.

“Apa?”

“Biarkan saja.”

Arsen benar-benar tidak percaya.

“Rania, ini bukan rumor kecil. Ini bisa menghancurkan perusahaan.”

Rania berdiri dari kursinya.

Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap kota.

“Kadang musuh terlalu percaya diri.”

Ia menatap gedung-gedung tinggi di luar.

“Dan ketika mereka terlalu percaya diri…”

Ia berhenti sebentar.

“…mereka membuka semua kartu mereka.”

Arsen masih belum sepenuhnya mengerti.

Namun sebelum ia sempat bertanya pintu ruang kerja terbuka.

Seorang sekretaris masuk dengan wajah gugup.

“Bu Rania… Pak Adrian datang.”

Arsen langsung menoleh.

Rania tidak terlihat terkejut.

“Biarkan dia masuk.”

Beberapa detik kemudian Adrian masuk ke dalam ruangan.

Ia terlihat sedikit lebih baik dari malam sebelumnya, meskipun bekas luka di pelipisnya masih terlihat.

Namun ekspresinya serius.

“Aku sudah melihat beritanya.”

Arsen langsung berkata,

“Ini jelas permainan Darmawan.”

Adrian mengangguk.

“Aku tahu.”

Ia meletakkan sebuah map di meja.

“Aku juga menemukan sesuatu.”

Rania menatap map itu.

“Apa?”

Adrian membuka map tersebut.

Di dalamnya ada salinan dokumen lama.

Dokumen yang hampir sama dengan yang dilihat Rania tadi.

Namun ada satu halaman tambahan.

Adrian menunjukkannya.

“Ini arsip dari proyek sepuluh tahun lalu.”

Rania membaca cepat.

Matanya menyipit.

“Ini kontrak asli.”

Adrian mengangguk.

“Dan dokumen yang digunakan media tadi… sudah dimodifikasi.”

Arsen langsung mengerti.

“Mereka memalsukan sebagian isi dokumen.”

Adrian berkata pelan,

“Ya.”

Ia menunjuk satu bagian.

“Bagian ini.”

Rania melihatnya.

Di dokumen media tertulis bahwa Hartono Group memberi dana tambahan kepada pejabat proyek.

Namun di dokumen asli tidak ada bagian itu.

Arsen mengepalkan tangannya.

“Jadi mereka benar-benar memalsukan bukti.”

Adrian menatap Rania.

“Darmawan mencoba menghancurkan reputasimu.”

Rania menutup map itu.

Ekspresinya tetap tenang.

Namun ada sesuatu yang berubah di matanya.

“Kalau begitu kita gunakan saja.”

Arsen bingung.

“Gunakan?”

Rania menoleh.

“Jika mereka ingin perang…”

Ia berkata pelan.

“…kita beri mereka perang.”

Namun Adrian tidak terlihat sepenuhnya setuju.

“Masalahnya bukan hanya itu.”

Rania menatapnya.

“Apa lagi?”

Adrian menghela napas pelan.

“Ada sesuatu yang harus kau tahu.”

Ia berhenti sejenak.

“Proyek sepuluh tahun lalu… memang membuat perusahaan Darmawan bangkrut.”

Rania menunggu.

Adrian melanjutkan,

“Tapi bukan itu yang paling menghancurkannya.”

Rania mengerutkan kening.

“Lalu apa?”

Adrian berkata pelan,

“Putranya.”

Rania sedikit terkejut.

“Apa hubungannya?”

Adrian menjawab dengan suara lebih rendah.

“Putra Darmawan bekerja di perusahaan itu.”

Ia berhenti sejenak.

“Ketika perusahaan bangkrut… dia bunuh diri.”

Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih sunyi.

Arsen menatap Adrian dengan kaget.

“Serius?”

Adrian mengangguk.

“Ya.”

Rania memikirkan informasi itu.

Jika itu benar maka dendam Darmawan jauh lebih dalam dari yang mereka kira.

Namun Rania akhirnya berkata sesuatu yang mengejutkan.

“Dendam tidak memberi seseorang hak untuk menghancurkan orang lain.”

Adrian menatapnya.

“Benar.”

Namun ia melanjutkan,

“Masalahnya… kita sekarang ada di tengah dendam itu.”

Rania kembali ke kursinya.

Ia duduk dengan tenang.

Beberapa detik ia memikirkan semuanya.

Serangan media.

Manipulasi dokumen.

Dendam sepuluh tahun.

Semua mulai tersambung.

Namun tiba-tiba ia berkata sesuatu yang membuat suasana berubah.

“Adrian.”

Pria itu menatapnya.

“Ada satu hal lagi yang belum kita selesaikan.”

Arsen sedikit bingung.

“Apa maksudmu?”

Rania menatap Adrian langsung.

Tatapannya dingin.

“Sebelum kita melanjutkan perang dengan Darmawan…”

Ia berhenti sejenak.

“…aku masih punya urusan denganmu.”

Adrian mengerutkan kening.

“Urusan apa?”

Rania berkata pelan.

“Pernikahan kita.”

Arsen langsung menatap mereka berdua.

Ia hampir lupa bahwa dua orang ini pernah menjadi suami istri.

Rania melanjutkan dengan suara yang sangat tenang.

“Tiga tahun lalu aku diusir dari rumahmu.”

Ruangan itu menjadi sunyi.

Adrian tidak langsung menjawab.

Namun Rania melanjutkan.

“Dan sampai sekarang…”

Ia menatapnya lurus.

“…kau belum pernah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi malam itu.”

Adrian menghela napas pelan.

Ia tahu momen ini akhirnya datang.

Namun sebelum ia sempat menjawab ponsel Arsen tiba-tiba berbunyi keras.

Arsen melihat layarnya.

Wajahnya langsung berubah.

“Rania…”

“Apa?”

Arsen menatap mereka dengan ekspresi serius.

“Saham Hartono Group baru saja jatuh sepuluh persen lagi.”

Beberapa detik ruangan itu kembali sunyi.

Namun Rania justru tersenyum tipis.

Dan berkata dengan tenang.

“Bagus.”

Arsen benar-benar bingung.

“Bagus?”

Rania menatap layar kota di jendela.

“Biarkan mereka berpikir kita sedang jatuh.”

Ia berkata pelan.

“Karena ketika mereka paling percaya diri…”

Tatapannya menjadi sangat dingin.

“…itulah saatnya kita membalas.”

Dan tanpa mereka sadari perang yang sebenarnya baru saja dimulai.

1
Amirur Rijal
siap, makasih
Lena mula
Semangat terus nulisnya ya kak💪🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!