Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.
Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.
Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.
Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Ritual Darah dan Bangkitnya Sang Penguasa Kegelapan
Bau busuk daging yang terbakar dan amis darah mendadak memenuhi udara Desa Galuhwati yang malang.
Di tengah kepungan mayat-mayat hidup yang merayap keluar dari perut bumi, Wira Wisanggeni berdiri mematung.
Matanya yang biasanya berpendar ceria kini terpaku pada sosok mayat hidup di depannya, seorang prajurit dengan sisa-sisa seragam Astagina yang compang-camping, sosok yang seharusnya sudah membusuk di tanah tujuh tahun silam.
"Wira... ikutlah... bersama... kami..." suara itu kembali terdengar, serak dan penuh dengan energi kematian yang pekat.
Wira menggenggam Tongkat Pemutus Takdir hingga kuku jarinya memutih.
Ia merasakan hawa dingin yang bukan berasal dari alam ini merayap naik dari kakinya, mencoba melumpuhkan syaraf-syarafnya.
Di sampingnya, Sekar Arum sudah mulai mengayunkan sepasang pedang pendeknya, menebas kepala-kepala mayat hidup yang mencoba mendekat ke arah kedai Mak Itam.
"Wira! Jangan melamun! Mereka bukan lagi manusia!" teriak Sekar sambil menendang dada satu mayat hidup hingga tersungkur.
Wira pun akhirnya tersentak dari lamunannya. Ia menarik napas dalam, membuang jauh-jauh bayangan masa kecilnya yang kelam.
"Maaf, Kak. Sepertinya hantu-hantu ini tidak tahu caranya beristirahat dengan tenang. Biar aku bantu mereka menemukan jalan pulang ke liang lahat!" ucapnya kemudian setelah tersadar.
Wira melompat dari atap kedai dengan gerakan yang sangat cepat. Tongkat kayu lusuhnya memancarkan cahaya biru murni yang menyilaukan, kontras dengan kegelapan merah darah yang menyelimuti langit.
"Jurus Pembersih Jiwa, Angin Pembebas!" seru Wira.
Ia memutar tongkatnya di atas kepala, menciptakan pusaran angin suci yang sangat kuat.
Setiap mayat hidup yang terkena pusaran itu seketika hancur menjadi debu putih, seolah-olah energi kegelapan yang menggerakkan mereka dicabut paksa oleh kemurnian energi kanuragan dewa milik Wira.
Namun, prajurit Astagina yang menjadi pemimpin mayat hidup itu tidak hancur. Ia mengangkat pedang karatan yang dialiri energi hitam pekat dan menangkis serangan angin Wira.
Ting! Trang!
Suara benturan logam dan kayu itu bergema aneh, seperti suara rintihan ribuan jiwa yang tersiksa. Wira mendarat tepat di depan makhluk itu.
"Siapa yang membangkitkanmu? Siapa yang berani mengusik tidur mereka yang sudah tiada?!" tanya Wira dengan nada dingin yang menggetarkan udara.
Mayat hidup itu hanya menyeringai, memperlihatkan gusi hitamnya yang membusuk.
"Tuan... Kalingga... Sang... Pembawa... Cahaya... Baru..." jawab mayat hidup itu dengan lambat.
Wira tertegun.
"Kalingga? Apakah Adipati Kalingga atau Mahesa yang melakukan ini?" batinnya.
Saat ini ia tidak punya banyak waktu lagi untuk berpikir, sedangkan dari arah bukit di kejauhan, ledakan energi hitam kembali terjadi, kali ini jauh lebih dahsyat hingga membuat bumi Galuhwati berguncang hebat.
Sesosok raksasa bayaran yang tadinya merupakan teman dari pria berluka parut di kedai tadi, tiba-tiba menjerit histeris.
Tubuhnya membengkak, kulitnya pecah-pecah mengeluarkan cairan hitam, dan dari punggungnya tumbuh sayap-sayap kelelawar yang menjijikkan. Ia telah berubah menjadi Asura, iblis tingkat rendah yang merasuki tubuh manusia hidup.
"Wira! Penduduk desa mulai berubah!" teriak Sekar dengan nada panik.
Wira menoleh dan melihat pemandangan yang mengerikan. Orang-orang yang tadi berlutut ketakutan kini mulai kejang-kejang.
Energi hitam dari langit merasuk ke dalam pori-pori mereka, mengubah mereka menjadi monster haus darah. Ritual pengorbanan darah di bukit itu ternyata bukan hanya untuk memanggil iblis, tapi untuk mengubah seluruh wilayah Galuhwati menjadi ladang pembantaian demi membangkitkan sesuatu yang lebih besar.
"Kak Sekar, bawa Mak Itam dan warga yang masih selamat ke dalam kuil tua di ujung desa! Aku akan menahan mereka di sini!" perintah Wira dengan cepat.
"Tapi Wira, jumlah mereka ribuan!" sahut Sekar ragu dan khawatir.
"Percayalah padaku! Kalau aku lapar, aku akan menyusulmu untuk makan ubi!" ucap Wira, mencoba menyelipkan sedikit kata candaan untuk menenangkan Sekar, meski matanya tetap waspada menatap ke arah bukit.
Sekar pun hanya mengangguk pasrah, ia tahu ia tidak bisa berdebat dengan Wira dalam situasi seperti ini.
Ia kemudian segera menarik Mak Itam dan beberapa warga yang masih sadar untuk berlari menuju arah kuil.
Kini, Wira berdiri sendirian di tengah jalan desa yang dipenuhi ribuan mayat hidup dan manusia yang telah berubah menjadi monster. Ia menancapkan Tongkat Pemutus Takdirnya ke tanah.
"Guru... sepertinya aku harus melanggar janji lagi," bisik Wira lirih.
Ia memejamkan mata, memusatkan seluruh sisa energi kanuragan-nya.
Di dalam tubuhnya, segel kedua yang dipasang Dewi Shinta mulai bergetar. Jika segel pertama hanya melepaskan aura dewa, segel kedua ini akan memanggil Perwujudan Sukma Dewa.
"Wahai penghuni kegelapan, kalian salah memilih tempat untuk bermain!" seru Wira.
Tiba-tiba, dari belakang punggung Wira, muncul bayangan raksasa sesosok ksatria agung yang memegang tongkat bercahaya biru.
Bayangan itu tingginya mencapai sepuluh meter, memancarkan wibawa yang membuat monster-monster itu gemetar ketakutan.
Wira menggerakkan tongkatnya, dan bayangan raksasa itu mengikuti gerakannya.
Setiap sapuan tongkat raksasa itu meratakan puluhan monster sekaligus, membuat tanah desa bergetar, bangunan-bangunan yang sudah tua runtuh akibat tekanan energi yang luar biasa besar.
Wira bertarung seperti dewa perang yang turun ke bumi, menghancurkan segala bentuk kejahatan yang ada di depannya.
Namun, di tengah kemenangannya, sebuah tawa yang sangat dikenal Wira terdengar dari arah langit.
"Hahaha! Luar biasa, Wira Wisanggeni! Kau memang wadah yang sempurna untuk energi dewa itu!"
Wira mendongak dan melihat di atas pusaran awan hitam, ada sosok melayang, ia adalah Mahesa dengan zirah hitamnya.
Namun kini, wajah Mahesa tampak jauh lebih tua, dan di dahinya muncul simbol mata ketiga yang berwarna merah darah.
Sedangkan di sampingnya, berdiri seorang pria paruh baya dengan jubah kebesaran Astagina yang sangat mewah, ia adalah Adipati Kalingga.
"Ayah... lihatlah. Inilah bocah yang kau cari-cari selama tujuh tahun ini," ucap Mahesa dengan suara yang menggema.
Adipati Kalingga menatap Wira dengan pandangan dingin, seolah-olah ia sedang melihat seekor serangga yang menarik.
"Jadi, kau adalah putra dari Wisanggeni yang berhasil meloloskan diri hari itu? Aku tidak menyangka Dewi Shinta Aruna akan menyembunyikanmu sejauh ini."
Wira mengepalkan tangannya.
"Adipati Kalingga! Kau yang membunuh orang tuaku! Kau yang menyebabkan penderitaan ini!" ucapnya dengan sedikit gemetar karena marah.
Adipati Kalingga tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kebencian tersembunyi.
"Orang tuamu mati karena mereka memegang kunci yang tidak seharusnya mereka miliki, Bocah. Dan sekarang, kau membawakan kunci itu langsung ke hadapanku." jawab Adipati Kalingga dengan sinis.
"Apa maksudmu?!" teriak Wira.
"Tongkat yang kau pegang itu... itu bukan hanya sepotong kayu. Itu adalah salah satu pilar penahan gerbang Alam Dewa. Dengan menghancurkan tongkat itu menggunakan energi iblis yang sedang kubangun di sini, maka jalan menuju surga akan terbuka bagi kami, dan para dewa akan berlutut di bawah kaki manusia!.. Hahahaha.." jawabnya dengan tawa yang menggelegar.
Wira tertegun. Ia menatap tongkat kayu lusuhnya.
Ternyata, gurunya memberikan beban yang jauh lebih berat daripada yang ia bayangkan. Tongkat ini adalah kunci keseimbangan semesta.
"Mahesa, selesaikan tugasmu. Ambil tongkat itu, atau hancurkan dia bersama bocah itu," perintah Adipati Kalingga.
Tanpa menjawab, Mahesa langsung melesat turun dari langit bagaikan meteor jatuh.
Kecepatannya kini seratus kali lebih cepat daripada saat mereka bertarung di panggung kompetisi. Mahesa telah mencapai Ranah Emas Puncak berkat bantuan energi iblis.
BUM!
Wira menahan serangan Mahesa dengan tongkatnya. Benturan itu menciptakan kawah raksasa di tengah desa. Wira terdorong mundur hingga kakinya masuk ke dalam tanah.
"Kau terlalu lemah, Wira! Kau menahan kekuatanmu karena takut menyakiti manusia-manusia sampah ini!" ejek Mahesa sambil menekan pedang hitamnya ke arah leher Wira.
"Aku tidak takut... aku hanya sedang menunggu waktu yang tepat!" balas Wira sambil menyeringai, meski darah mulai mengalir dari sudut bibirnya.
Tiba-tiba, Tongkat Pemutus Takdir mulai bersinar dengan warna yang aneh, bukan lagi biru murni, tapi mulai bercampur dengan warna ungu kegelapan, membuat Wira merasakan panas yang luar biasa membakar tangannya.
"Ada apa ini? Kenapa tongkat ini menyerap energi hitam Mahesa?!" batin Wira panik karena takut tongkat itu akan berpihak kepada para iblis.
Di saat yang sama, dari arah kuil tua tempat warga mengungsi, terdengar jeritan Sekar Arum yang sangat keras.
Wira pun langsung menoleh sekilas dan melihat kuil itu telah dikepung oleh ribuan bayangan hitam yang muncul dari udara kosong.
"Sekar!" teriak Wira.
Mahesa memanfaatkan kelengahan Wira. Ia memberikan tendangan keras ke perut Wira, membuatnya terpental hingga menabrak dinding kuil.
Wira jatuh tersungkur dan penglihatannya mulai kabur. Di depannya, Mahesa berjalan perlahan dengan pedang terangkat tinggi.
"Selamat tinggal, Wira Wisanggeni. Sampaikan salamku pada orang tuamu di neraka!.. Hahahaha.." ucapnya dengan tawanya yang menyeramkan.
Tepat saat pedang Mahesa hendak menebas leher Wira, Tongkat Pemutus Takdir yang terlepas dari tangan Wira tiba-tiba berdiri tegak di tanah.
Tongkat itu mengeluarkan teriakan melengking yang memekakkan telinga, dan dalam sekejap, kayu itu berubah bentuk menjadi sebilah pedang panjang yang memancarkan cahaya hitam dan biru secara bergantian.
Di saat itu juga, muncul sebuah suara wanita yang sangat lembut namun penuh otoritas terdengar di kepala Wira.
"Wira... jika kau ingin menyelamatkan mereka, kau harus menerima sisi gelap dari takdirmu. Apakah kau siap kehilangan kemanusiaanmu demi menjadi Dewa Pembalas?
Wira menatap Sekar yang terpojok, ia menatap warga yang ketakutan, dan ia menatap wajah angkuh Adipati Kalingga di langit. Tanpa ragu, Wira meraih gagang pedang hitam-biru itu yang sebelumnya adalah tongkat kayunya.
"Apa pun... akan kulakukan! Demi kedamaian manusia!" gumamnya dengan tekad yang kuat.
Seketika itu, sebuah ledakan cahaya yang belum pernah terlihat sebelumnya menelan seluruh desa Galuhwati.
Saat cahaya itu meredup, sosok yang berdiri di sana bukan lagi Wira si bocah konyol, melainkan sesuatu yang membuat Mahesa dan Adipati Kalingga gemetar karena ketakutan yang murni.
Kini Wira berdiri dengan rambut yang berubah menjadi putih perak, sayap energi hitam muncul di punggungnya, sementara matanya kini berwarna merah darah di sebelah kiri dan biru langit di sebelah kanan.
Ia telah mencapai Ranah Baru yang belum pernah ada dalam sejarah manusia, namun di balik kekuatan itu, Wira merasakan jiwanya mulai retak.
......................
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁