Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.
Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Lampu neon parkiran yang temaram memantulkan bayangan panjang saat aku melangkah keluar dari lobi kantor yang sudah sepi. Pukul tujuh malam, dan udara Jakarta terasa lembap setelah hujan tadi siang. Langkahku terhenti seketika saat melihat sosok yang berdiri tegak di samping pilar beton sektor B-12—tepat di samping mobilku.
Baskara.
Ia masih mengenakan kemeja yang sama dengan pagi tadi, namun dasinya sudah dilonggarkan dan lengannya digulung hingga siku. Tatapannya tajam, mengunci pergerakanku hingga aku tak bisa melangkah setindak pun.
"Kenapa dibuang?" suaranya rendah, namun menggelegar di keheningan parkiran yang sunyi.
Aku terdiam, meremas tali tasku dengan tangan yang mulai dingin.
Baskara melangkah maju, memangkas jarak di antara kami. "Aku tanya sekali lagi, Aruna. Kenapa kopi itu kamu buang ke tempat sampah? Segitu menjijikkannya kah pemberianku sekarang?"
Aku tetap bungkam. Lidahku terasa kelu, dan aku hanya bisa menatap aspal basah di bawah kakiku. Jika aku bicara, aku takut pertahananku akan runtuh. Aku takut suaraku yang bergetar akan menunjukkan betapa hancurnya aku melihatnya bersama Rasya sepanjang hari ini.
"Jawab!" bentaknya, membuatku tersentak. "Apa kamu memang tidak punya hati? Apa semua kebaikan yang aku berikan, dari dulu sampai detik ini, memang tidak ada harganya di matamu?"
Baskara tertawa getir, tawa yang penuh dengan luka menahun. "Dua tahun aku bersamamu, aku memberikan segalanya. Aku mengabaikan harga diriku hanya untuk bersamamu yang dingin. Lalu kamu pergi tanpa kata, menghilang setahun, dan sekarang saat aku mencoba bersikap manusiawi dengan memberimu secangkir kopi... kamu membuangnya seolah itu sampah."
Ia mendekat hingga aku bisa merasakan deru napasnya yang memburu. "Kenapa kamu selalu bersikap seolah aku ini musuhmu, Na? Kenapa kamu harus selalu bersikap tak punya hati?"
Aku hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat. Air mata mulai mendesak keluar, namun aku sekuat tenaga menahannya. Aku tidak ingin dia tahu bahwa aku membuang kopi itu karena aku tidak sanggup menerima perhatiannya sementara hatinya sudah milik orang lain. Aku tidak ingin dia tahu bahwa rasa bersalah ini sedang membunuhku pelan-pelan.
"Diam lagi? Sama seperti setahun yang lalu?" desis Baskara. Ia mencengkeram pinggiran atap mobilku, mengurungku dalam bayangannya. "Kamu tahu? Rasya tadi meneleponku sambil menangis. Dia bertanya tentang foto di dompetku. Kamu yang menyuruhnya bertanya padaku, kan?"
Aku tetap diam, membeku seperti patung. Keheninganku tampaknya menjadi bahan bakar yang membuat kemarahannya semakin berkobar.
"Kamu benar-benar monster, Aruna," bisiknya tepat di telingaku, suaranya kini serak karena frustrasi yang memuncak. "Kamu menghancurkan hatiku dulu, dan sekarang kamu mencoba menghancurkan satu-satunya kebahagiaan yang baru saja aku bangun. Katakan sesuatu! Maki aku, tampar aku, atau jelaskan kenapa kamu harus sejahat ini! Jangan diam terus Aruna!!! "
Namun, aku hanya bisa berdiri mematung. Kebisuanku adalah satu-satunya benteng yang tersisa agar aku tidak jatuh bersimpuh di depannya dan memohon ampun atas semua dosa masa laluku.
Baskara memukul kap mobilku dengan tangan kosong, menimbulkan bunyi dentum yang memekakkan telinga sebelum akhirnya ia berbalik dan berjalan pergi dengan langkah gusar, meninggalkan aku sendirian dalam kegelapan parkiran yang kini terasa lebih dingin dari sebelumnya.
Bunyi dentum pada kap mobilku masih terngiang, seirama dengan detak jantungku yang terasa perih. Aku merosot, terduduk di samping ban mobil dengan napas yang tersengal. Kegelapan parkiran ini seolah menelan sisa-sisa kekuatanku. Aku tidak sanggup memegang setir, apalagi mengemudi dalam kondisi tangan yang gemetar hebat seperti ini.
Dengan sisa tenaga, aku merogoh tas dan mencari ponsel. Pandanganku kabur karena air mata yang akhirnya tumpah tanpa bendungan lagi. Aku mencari nama Danesha dan menekannya.
"Halo, Na? Kamu di mana? Suara kamu kok..."
"Dan..." suaraku tercekat, hanya isakan kecil yang sanggup keluar. "Jemput aku, Dan. Tolong... di parkiran kantor."
"Na! Kamu kenapa? Baskara ngapain kamu?" Suara Danesha meninggi, penuh kecemasan.
"Aku nggak bisa nyetir, Dan. Badan aku lemes banget. Tolong ke sini sekarang... sektor B-12," lirihku sebelum mematikan sambungan. Aku menekuk lutut, menyembunyikan wajahku di sana. Menangis sejadi-jadinya di tengah kesunyian gedung tua ini. Aku merasa seperti sampah, persis seperti yang dikatakan Baskara.
Sekitar dua puluh menit kemudian, sorot lampu mobil putih masuk ke area parkir. Danesha keluar bahkan sebelum mobilnya berhenti sempurna. Ia berlari menghampiriku yang masih meringkuk di lantai semen yang dingin.
"Aruna! Astaga, kamu kenapa?" Danesha langsung memelukku, membiarkan kemeja mahalnya basah oleh air mataku.
"Dia benci banget sama aku, Dan. Dia bilang aku monster," isakku di sela napas yang memburu. "Dia benar... aku emang jahat. Aku yang bikin dia trauma sampai sekarang."
Danesha tidak banyak bertanya. Ia membantuku berdiri, mengambil kunci mobilku, dan memandu aku masuk ke kursi penumpang mobilnya sendiri. "Kita pulang ke tempatku ya, Na. Kamu nggak boleh sendirian malam ini."
Saat mobil Danesha mulai bergerak meninggalkan area parkir, aku sempat melirik ke arah kaca spion. Di kejauhan, aku melihat mobil hitam Baskara masih terparkir di sudut lain, dengan lampu depan yang menyala redup. Apakah dia tidak benar-benar pergi? Apakah dia melihatku hancur seperti ini?
Aku memejamkan mata, tidak ingin tahu jawabannya. Bagiku, malam ini adalah puncak dari segala konsekuensi yang harus kubayar. Aku telah menghancurkan hatinya dua kali, dan kini, hatiku sendiri ikut hancur dalam prosesnya.