Di mata dunia, Shaneen von Asturia hanyalah putri bangsawan lulusan Oxford yang cantik dan tenang. Namun di balik layar, dia adalah "Nin", penulis lagu jenius yang menguasai industri musik global. Sebagai seorang Virgo yang perfeksionis dan mandiri, Shaneen tidak butuh pangeran, apalagi sebuah pernikahan kaku.
Namun, ketenangannya terusik saat Duke Matthias von Falkenhayn, sang Jenderal berdarah dingin yang terobsesi pada aturan, mulai mengejarnya. Matthias menginginkan Shaneen yang tangguh dan bermulut tajam, sementara Shaneen hanya ingin bebas.
Bagi Matthias, ini adalah misi penaklukan. Bagi Shaneen, ini adalah gangguan yang harus disingkirkan dengan cara elegan. Ketika si Jenderal kolot bertemu si Dewi Modern yang bermulut pedas, siapa yang akhirnya akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tahta yang Terguncang dan Sang Legenda Paris
Keheningan setelah petikan Geomungo Shaneen tidak bertahan lama. Raja, yang merasa harga dirinya diinjak-injak oleh seorang "gadis biasa", mulai tertawa sinis. Suaranya menggema, mencoba memecah kekaguman para tamu.
"Pertunjukan yang menarik, Lady Asturia," ujar Raja dengan nada meremehkan. "Namun, musik yang provokatif dan kemampuan bela diri pria tidak akan mengubah fakta bahwa darahmu adalah darah pemberontak. Kau hebat, tapi kau tetaplah cucu dari pria yang membuang tanggung jawabnya dan lari ke Paris karena tidak sanggup memikul beban mahkota. Kehebatanmu hanya menutupi aib keluargamu."
Putri Isabella dan Clarissa mulai berbisik-bisik, mengikuti nada cemoohan sang Raja. Nenek Matthias pun kembali menegakkan punggungnya, merasa mendapat dukungan untuk kembali merendahkan Shaneen.
"Benar," sambung Raja lagi, kini berdiri dari singgasananya. "Di istana ini, kemampuan teknis tidak lebih berharga daripada loyalitas dan silsilah yang bersih. Kau hanyalah monster cantik yang tidak punya tempat di—"
"BERANINYA KAU MENGHAKIMI CUCU KESAYANGANKU DI DEPANKU SENDIRI!"
Sebuah suara bariton yang berat, berwibawa, dan penuh tenaga menggelegar dari pintu masuk aula utama.
Seluruh hadirin serentak menoleh. Napas mereka seolah terhenti. Di sana, berdiri seorang pria tua dengan setelan jas hitam custom-made yang sangat elegan, menggenggam tongkat perak dengan kepala elang. Meskipun rambutnya sudah memutih, sorot matanya lebih tajam daripada mata Matthias.
Dia adalah Lord Maximillian von Asturia. Sang Raja sebelum Raja yang sekarang menjabat. Raja yang Sekarang, Dia berasal dari keluarga bangsawan lain (Keluarga Valerius) yang mengambil alih takhta karena kekosongan kekuasaan saat Ayah Shaneen menolak jabatan itu. Dia bukan saudara, bukan om, tapi orang asing yang merebut posisi yang seharusnya milik keluarga Shaneen.
Raja yang tadi berdiri congkak, mendadak pucat pasi. Lututnya seakan lemas. "Lord Maximillian? Kenapa Anda... di sini?"
Maximillian melangkah masuk dengan langkah yang sangat mantap, diikuti oleh ajudan-ajudannya yang berpakaian serba hitam. Dia tidak memerlukan protokol; dialah pembuat protokol itu sendiri. Dia berjalan melewati Matthias yang menunduk hormat, dan berhenti tepat di depan Shaneen.
Maximillian menatap Shaneen sejenak, lalu senyum tipis yang penuh kebanggaan muncul di wajahnya. Dia mengelus kepala Shaneen dengan lembut—gestur yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.
"Ninin, musikmu tadi sangat indah. Kakek mendengarnya dari pintu depan," bisiknya pada Shaneen, sebelum kembali berbalik menatap Raja dengan tatapan mematikan.
"Silsilah yang bersih, katamu?" Maximillian mendekati singgasana, membuat Raja mundur satu langkah. "Kau duduk di kursi itu karena aku yang memberikannya padamu. Kau menyebut putraku pemberontak karena dia memilih cinta? Dan kau menyebut cucuku monster?"
Maximillian menghentakkan tongkat peraknya ke lantai. DUM!
"Asal kau tahu, Shaneen tidak perlu pengakuan dari takhta rapuhmu ini. Dia memiliki darah Asturia yang lebih murni dari siapapun di ruangan ini. Jika aku mau, aku bisa mengambil kembali kunci kerajaan ini sekarang juga dan memberikan mahkota itu pada cucuku untuk ia jadikan hiasan di paviliunnya!"
Suasana menjadi sangat mencekam. Para menteri dan bangsawan, termasuk Grand Duchess Sophie, kini menunduk dalam-dalam. Mereka sadar bahwa otoritas Maximillian masih berada di atas segalanya. Bahkan Raja yang sekarang pun secara teknis hanyalah "pelaksana tugas" di bawah bayang-bayang Maximillian.
Matthias menahan senyum bangganya. Dia tahu keluarga Asturia itu kuat, tapi dia tidak menyangka sang Kakek akan datang sejauh ini dari Paris hanya untuk membela Shaneen.
Shaneen tetap berdiri dengan anggun. Dia tidak tampak terkejut ataupun takut. Dia menatap Kakeknya dengan tatapan "akhirnya kau datang juga", lalu melirik Raja yang sedang gemetar.
"Kakek," suara Shaneen tenang namun jernih. "Jangan kotori tanganmu dengan mahkota yang sudah berdebu itu. Aku lebih suka studio musikku daripada kursi yang diduduki oleh orang-orang yang tidak mengerti arti simetri kehidupan."
Maximillian tertawa terbahak-bahak, suaranya memenuhi aula. "Dengar itu?! Dia bahkan tidak menginginkan takhtamu! Jadi berhenti bersikap sombong di hadapan keluargaku."
Maximillian kemudian menoleh ke arah Matthias. "Dan kau, Jenderal. Aku sudah mendengar keberanianmu di istana kemarin. Setidaknya, seleramu dalam memilih wanita tidak serendah seleramu dalam memilih seragam."
Matthias membungkuk hormat. "Terima kasih, Lord Maximillian."
Malam itu, peta kekuatan di istana berubah total. Raja tidak lagi punya taring, dan Shaneen—si "Gadis Biasa" lulusan Oxford—kini diketahui oleh seluruh dunia sebagai cucu kesayangan sang legenda hidup, Maximillian von Asturia.