Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.
Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Sore itu, parkiran kampus NYU yang biasanya bising dengan suara mesin mobil dan tawa mahasiswa terasa sangat menyesakkan bagi Audrey. Ia baru saja meletakkan tas gambarnya di kursi penumpang dan duduk di balik kemudi mobilnya, mencoba menghirup napas dalam-dalam untuk mengusir rasa lelah. Namun, sebelum ia sempat menutup pintu, sebuah tangan menahan tepian pintu mobilnya dengan kasar.
Itu Rafael.
Wajah pria itu tampak berantakan. Matanya merah, dan napasnya memburu. Tanpa permisi, ia mendorong pintu hingga terbuka lebar dan masuk ke kursi penumpang, mengabaikan tatapan kaget Audrey.
"Kenapa kamu memblokir nomor-ku, Audrey?" suara Rafael rendah, bergetar antara amarah dan keputusasaan. "Dua tahun, Drey. Dua tahun kita bersama, dan kamu mengakhirinya seolah aku ini sampah hanya karena satu malam di apartemen Keenan?"
Audrey mencengkeram kemudi dengan erat. Ia mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar. Ia teringat tatapan tenang Keenan tadi siang, dan itu memberinya sedikit kekuatan. "Keluar, Rafael. Kita sudah selesai. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan."
"Selesai? Bagimu mungkin mudah," Rafael tertawa getir, matanya menatap Audrey dengan intensitas yang menakutkan. "Aku masih mencintaimu. Aku melakukan semua itu karena aku ingin kita lebih dekat, karena aku tidak tahan hanya menyentuh tanganmu!"
"Tapi aku tidak bisa, Raf! Dan sekarang, aku sudah memiliki kekasih. Jadi, tolong jangan ganggu aku lagi," ucap Audrey cepat, sebuah kebohongan impulsif yang ia gunakan sebagai perisai terakhir.
Suasana di dalam mobil seketika menjadi hening yang mencekam. Rafael membeku. Kata kekasih itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan fisik mana pun. Harga dirinya sebagai pria yang selalu dipuja di SMA seolah diinjak-injak di lantai mobil itu.
"Kekasih?" Rafael mengulang kata itu dengan nada tidak percaya. "Baru belum dua Minggu kita putus, dan kamu sudah punya kekasih? Ouh... jangan-jangan selama ini kamu menolakku untuk mencium bibirmu karena kau sudah berselingkuh, ya?"
"Rafael, jaga bicaramu!"
"Munafik," desis Rafael. Ia mendekatkan wajahnya, menatap Audrey dengan pandangan menghina yang tajam. "Berapa kali kau tidur dengannya, Audrey? Berapa kali? Pantas saja kau berlagak suci di depanku. Rupanya kau menyimpan semuanya untuk dia, kan?"
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Audrey. Ia merasa sangat terhina. "Aku tidak pernah berselingkuh darimu, Rafael! Tidak pernah!"
Namun, Rafael justru menunduk. Bahunya berguncang pelan. Saat ia mendongak, ada air mata yang jatuh di pipinya. "Kamu menyakitiku, Audrey. Aku hanya meminta sekali waktu di apartemen itu. Aku hanya ingin memilikimu seutuhnya karena aku takut kehilanganmu. Tapi rupanya... kau menolak ku karena takut aku tahu bahwa kau memang sudah menyerahkan diri pada pria itu, kan?"
Suara Rafael mendadak berubah. Tidak ada lagi teriakan. Ia bicara dengan nada yang sangat lembut, sangat tenang, namun justru itulah yang membuat Audrey merasa ngeri. Rafael memainkan peran sebagai pria yang dikhianati, pria yang hancur karena cinta tulusnya dibalas dengan kepalsuan.
"Siapa pacarmu itu, Audrey?" tanya Rafael lembut, seolah ia hanya bertanya tentang cuaca. "Bicaralah padaku. Aku berhak tahu siapa pria yang lebih beruntung dariku itu."
Audrey merasa sesak. Ia melihat Rafael yang menangis, dan untuk sesaat, ia merasa bersalah. Bagaimana bisa ia yang menjadi korban paksaan malam itu, kini justru terlihat seperti pelaku yang jahat, sementara Rafael memposisikan dirinya sebagai korban yang malang?
"Keluar, Rafael. Kumohon, keluar," bisik Audrey, suaranya mulai pecah.
"Jujur satu hal padaku," Rafael tidak bergeming. Ia menatap mata Audrey dengan dalam, mencari jawaban di sana. "Apa kau memang sudah tidur dengannya?"
Audrey sudah muak. Ia ingin drama ini berakhir. Ia ingin Rafael pergi dari hidupnya selamanya. Jika pengakuan ini bisa membuat Rafael membencinya dan pergi, maka ia akan melakukannya.
Audrey mengangguk perlahan. "Ya."
Rafael terdiam. Matanya berkedip pelan. "Berapa kali? Lebih dari tiga kali?"
Sekali lagi, Audrey mengangguk. Ia tidak peduli lagi dengan kebenaran. Ia hanya ingin pria di sampingnya ini menghilang.
Rafael menarik napas panjang, lalu ia bersandar pada jok mobil. Ia menatap langit-langit mobil sejenak sebelum kembali menatap Audrey. Ada senyum tipis yang aneh di bibirnya.
"Aku akan menerimamu, Audrey," ucap Rafael pelan. "Aku tidak akan mempermasalahkan kau yang pernah tidur dengannya. Aku memaafkan mu. Aku sangat mencintaimu hingga aku bisa menerima masa lalu mu yang kotor itu."
Audrey terbelalak. Ini tidak ada dalam skenarionya. Ia pikir Rafael akan marah dan pergi, tapi pria ini justru menawarkan "pengampunan" atas dosa yang bahkan tidak Audrey lakukan.
"Tapi, Audrey..." Rafael mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh pipi Audrey, namun Audrey segera menghindar. "Bisakah aku meminta satu kenangan terakhir bersamamu? Sebelum kau benar-benar pergi dengannya? Sekali saja, seperti yang kau lakukan padanya."
Deg.
Jantung Audrey seolah berhenti berdetak. Ia menatap Rafael dengan tatapan ngeri. Ini gila. Bagaimana bisa pria ini berpikir bahwa setelah semua hinaan dan tuduhan ini, ia bisa meminta hal seperti itu?
"Tidak, Rafael! Tidak!" teriak Audrey. "Aku tidak akan mengkhianatinya! Aku setia pada kekasihku!"
Audrey memegang gagang pintu mobilnya, bersiap untuk keluar dan berteriak meminta tolong jika Rafael melakukan sesuatu. Ia menyadari bahwa kejujuran atau kebohongan tidak ada gunanya di depan pria yang sudah kehilangan akal sehatnya seperti Rafael.
"Pergi, Rafael! Atau aku akan berteriak sekarang juga!" ancam Audrey dengan suara gemetar namun tegas.
Rafael menatap Audrey cukup lama, mencoba mencari celah di balik ketegasan gadis itu. Akhirnya, ia membuka pintu mobil dan keluar dengan perlahan. Sebelum menutup pintu, ia menatap Audrey sekali lagi.
"Setia, ya?" Rafael tersenyum sinis. "Kita lihat seberapa lama kesetiaanmu bertahan di kota ini, Audrey. Aku tidak akan melepaskan mu begitu saja."
Pintu mobil tertutup dengan bunyi berdehem yang keras. Audrey segera mengunci pintunya dan jatuh lunglai di atas kemudi. Ia menangis sejadi-jadinya, meratapi betapa mengerikannya pria yang dulu ia puja. Di tengah tangisnya, ia teringat pada satu nama. Nama pria yang sebenarnya tidak ada, namun kini menjadi pelindung imajiner yang ia gunakan.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
siap2....
tetep sehat
selalu semangat
karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku