Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Malam itu, Posko KKN Desa Asih terasa lebih sempit dari aslinya. Bangunan tua yang dulunya bekas kantor koperasi itu kini dipenuhi dengan tas gunung, dus mie instan, dan gulungan kasur lantai. Mika baru saja selesai membersihkan wajahnya yang kusam akibat debu ninja milik Alvaro, namun hatinya masih terasa "berdebu" karena dongkol.
Lampu neon yang agak berkedip di ruang tengah menerangi sebuah bingkai foto kayu yang tergantung agak miring di dinding. Mika menyipitkan mata, lalu mendecih keras saat menyadari siapa yang ada di foto itu. Foto resmi Kepala Desa dengan seragam PDU putih lengkap dengan atributnya.
"Dihh, mukanya nyebelin banget! Ngapain dipajang di sini sih? Udah kayak hantu, di mana-mana ada!" rutuk Mika sambil menunjuk foto Alvaro. Di foto itu, Alvaro tidak tersenyum sama sekali—tatapannya lurus, tajam, dan seolah sedang menghakimi siapapun yang melihatnya.
"Hussst! Pelan-pelan, Mik! Kalau ada warga atau perangkat desa lewat depan posko terus denger gimana?" Siti, teman sekamar Mika, buru-buru membungkam mulut Mika dengan telapak tangannya.
Mika menepis tangan Siti dengan gemas. "Biarin! Gue masih kesel sama tuh kades. Bisa-bisanya dia ngejek gue di depan kalian semua. Dia pikir gue mahasiswi yang hobi tidur apa? Cuma gara-gara gue telat ngerem pas jalan kaki?"
"Tapi dia emang ganteng sih, Mik. Tipe-tipe cool misterius gitu," sahut Asia yang sedang sibuk mengoleskan lotion ke kakinya.
"Ganteng dari mana? Yang ada malah serem! Kayak kanebo kering, kaku banget!" balas Mika berapi-api. "Awas aja besok, dia bakal gue bikin kagum. Gue ini asisten laboratorium, gue tahu semua jenis plankton dan parameter air. Dia pikir gue cuma modal tampang doang ke sini?"
Asia terkekeh kecil, matanya melirik Mika dengan penuh arti. "Awas loh, Mik... benci sama cinta itu bedanya setipis kulit bawang. Nanti kalau lo baper sama Pak Kades, gue ketawain paling kenceng."
"Ihh, amit-amit jabang bayi! Mending gue jomblo seumur hidup daripada sama cowok modelan robot denim kayak dia!" Mika bergidik ngeri, lalu menarik selimutnya tinggi-tinggi, mencoba memejamkan mata meski bayangan wajah datar Alvaro terus menari-nari di pikirannya.
Pukul tujuh pagi tepat. Sesuai perintah "Sultan Desa Asih", Mika dan timnya sudah berdiri di pinggir dermaga kayu yang menjorok ke sungai besar yang menjadi urat nadi desa tersebut. Udara pagi masih berkabut, memberikan kesan dingin yang menusuk tulang.
Suara deru mesin motor Ninja itu kembali terdengar. Kali ini, Alvaro datang tidak sendirian. Ia diikuti oleh dua orang nelayan setempat. Alvaro turun dari motornya, melepas helm, dan menyisir rambutnya yang sedikit berantakan dengan jari—sebuah gerakan sederhana yang entah kenapa membuat Siti dan Asia terpaku sejenak.
Alvaro berjalan mendekat. Ia masih memakai jaket denim andalannya, namun kali ini ia mengenakan sepatu boots karet tinggi. Ia berhenti tepat di depan Mika, menatap jam tangannya sejenak, lalu menatap Mika dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Mika hari ini sudah "berperang". Ia memakai topi rimba, sepatu outdoor yang kuat, dan membawa tas berisi botol sampel serta alat penguji pH air. Ia sengaja memasang wajah paling sombong yang bisa ia buat.
"Bagus. Setidaknya kalian tahu cara bangun pagi," ucap Alvaro datar tanpa salam pembuka.
Mika maju satu langkah, menatap tepat ke manik mata Alvaro yang berwarna cokelat gelap. "Jadi, Pak Kades yang terhormat..." Mika sengaja menjeda kalimatnya. Ia mendekat sedikit, menurunkan volumenya hingga hanya Alvaro yang bisa mendengar suaranya yang terdengar mengejek. "...jadi bapak mau kita ngapain nih? Mau saya ajarin cara menghitung kelimpahan ikan, atau bapak mau pamer motor lagi?"
Alvaro tidak berkedip. Ia justru memberikan senyum miring yang terlihat sangat meremehkan. "Ooh, jadi kamu mau langsung pamer ilmu?"
Alvaro berbalik ke arah sungai. "Dermaga ini adalah titik pertemuan arus dari hulu dan limbah pemukiman. Sebulan terakhir, banyak keramba ikan warga yang mati mendadak. Nelayan bilang ini kutukan, saya bilang ini masalah sains."
Ia menunjuk ke arah tumpukan eceng gondok yang mengumpul di bawah kolong dermaga yang berlumpur tebal. "Jangan cuma berdiri di atas kayu yang kering, Mikayla. Turun ke bawah sana. Ambil sampel sedimen lumpur di titik paling dalam di bawah keramba itu. Saya mau tahu apa yang mengendap di sana."
Mika melihat ke bawah. Airnya keruh, kecokelatan, dan penuh dengan akar eceng gondok yang melilit. Belum lagi lumpurnya yang terlihat pekat dan hitam.
"Kenapa? Takut almamaternya kotor?" sindir Alvaro lagi. "Atau tangan asisten lab ini cuma bisa pegang mikroskop di ruangan ber-AC?"
Mika merasa harga dirinya diinjak-injak. Tanpa banyak bicara, ia segera melepas tasnya dan memberikannya pada Arga. "Siapa bilang gue takut?" tantang Mika (ia lupa menggunakan bahasa formal saking emosinya).
"Mika, jangan! Itu dalem loh," cegah Arga yang kaku.
Tapi Mika sudah terlanjur panas. Ia menuruni tangga kayu dermaga yang licin. Begitu kakinya menyentuh dasar sungai di pinggir, sensasi dingin dan lembeknya lumpur langsung meresap ke sepatunya. Ia terus berjalan hingga air mencapai pinggangnya.
"Siniin botol sampelnya!" teriak Mika pada teman-temannya.
Alvaro berdiri di pinggir dermaga, melipat tangan di dada, memperhatikan setiap gerakan Mika dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tidak membantu, tidak juga pergi.
Mika mencoba menjangkau area di bawah keramba. Namun, kakinya tersangkut akar eceng gondok yang kuat. Ia mencoba menarik kakinya, tapi lumpur hisap di bawah sana seolah menahan pergerakannya.
"Aduh!" Mika kehilangan keseimbangan.
BYUURRR!
Mika jatuh terjerembab ke dalam air sungai yang keruh. Tubuhnya basah kuyup, rambutnya penuh dengan potongan daun eceng gondok, dan wajahnya terciprat lumpur hitam.
Tawa kecil terdengar dari arah dermaga. Bukan dari teman-temannya yang justru panik, melainkan dari Alvaro. Pria itu menunduk, menatap Mika yang malang dari ketinggian dermaga.
"Pelajaran pertama, Mahasiswi Perairan," ujar Alvaro dengan suara yang kini terdengar sedikit lebih santai namun tetap menyebalkan. "Alam tidak peduli seberapa pintar teorimu di kampus. Kalau kamu ceroboh, dia akan menenggelamkanmu."
Mika menyeka lumpur dari matanya dengan penuh amarah. Ia berdiri dengan susah payah, air sungai menetes dari ujung hidungnya. "Puas lo?!" teriaknya kencang, tidak peduli lagi pada sopan santun.
Alvaro terdiam sejenak melihat kemarahan murni di mata Mika. Ia kemudian mengulurkan tangan kanannya ke bawah, ke arah Mika. "Naik. Sebelum kamu kena gatal-gatal karena air itu sudah tercemar belerang tinggi."
Mika menatap tangan Alvaro yang kokoh dan bersih itu. Ada rasa ingin menepisnya, tapi kakinya benar-benar kaku karena dingin. Dengan kasar, ia menyambar tangan Alvaro.
Saat tangan mereka bersentuhan, sebuah sensasi aneh seperti sengatan listrik kecil terasa di kulit Mika. Alvaro menarik tubuh Mika ke atas dermaga dengan satu hentakan kuat, seolah berat badan Mika tidak ada artinya bagi pria itu.
Begitu sampai di atas, posisi mereka sangat dekat. Mika yang basah kuyup terengah-engah tepat di depan dada Alvaro. Aroma parfum maskulin Alvaro yang bercampur dengan bau bensin motornya menyeruak, entah kenapa terasa sangat kontras dengan bau amis sungai.
Alvaro melepaskan tangannya dengan cepat, lalu melepas jaket denimnya dan melemparnya ke arah kepala Mika, menutupi wajah Mika yang penuh lumpur.
"Pakai itu. Jangan sampai warga saya pikir saya baru saja menyiksa anak magang," ucap Alvaro dingin sambil berbalik menuju motornya. "Arga, bawa temanmu pulang. Besok jangan bawa dia kalau dia masih belum tahu bedanya sungai dan bak mandi."
Alvaro menaiki motor Ninjanya, menyalakan mesin dengan raungan keras, dan melesat pergi meninggalkan kepulan debu yang kembali menghujani Mika.
Mika menarik jaket denim itu dari kepalanya. Jaket itu hangat, dan aromanya sangat... Alvaro. Ia ingin sekali membanting jaket itu ke lantai, tapi badannya yang menggigil membuatnya terpaksa mengeratkan jaket mahal itu ke tubuhnya.
"Gue... benci... banget... sama dia!" desis Mika di sela gigi yang gemeletuk.
Siti dan Asia mendekat dengan wajah khawatir sekaligus menahan tawa. "Tadi itu... benci apa benci, Mik? Kok Pak Kades sampai ngasih jaket segala?" goda Asia pelan.
Mika hanya bisa melotot tajam, sementara di dalam hatinya, sebuah peperangan baru saja dimulai. Bukan hanya perang antara dirinya dan Alvaro, tapi perang melawan detak jantungnya sendiri yang mulai tidak beraturan.