Aira Putri Manggala tidak tahu arti kata menyerah. Sudah 99 kali ia menyatakan cinta, dan 99 kali pula Leonel menolaknya tanpa ragu.
Cowok paling cuek di sekolah itu seperti tembok es. Sulit didekati, mustahil ditaklukkan.
Tapi Aira bukan tipe gadis yang mundur hanya karena ditolak.
Bagi Aira, cinta bukan soal harga diri. Ini soal perjuangan.
Seluruh sekolah mengenal obsesinya. Sebagian menertawakan, sebagian menunggu keajaiban.
Yang tidak pernah mereka tahu…
AIRA-LEONEL DI SINI!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Diskusi
"Whattt, uangnya balik? Serius? Uangnya beneran balik?" pekik Aira sembari melompat-lompat girang di atas kasur empuknya.
Wajahnya memancarkan kebahagiaan luar biasa, hingga ia lupa kalau di layar laptop yang menyala di depannya, ketiga sahabatnya sedang menyaksikan aksi konyol itu melalui panggilan video. Aira kembali menunduk, menatap layar ponselnya dengan mata tak berkedip. Di sana tertera notifikasi transferan masuk sejumlah lima juta rupiah. Jumlah yang sangat presisi, sama persis dengan nominal yang ia setorkan pada dukun penipu itu untuk menebus gelangnya tadi pagi.
"Loh, Aira serius? Berarti dukunnya sudah tobat? Sadar dia kalau perbuatannya itu dosa?" tanya Denada dari seberang layar, tampak sangsi sekaligus heran. "Ada chat masuk nggak dari dia?"
Aira akhirnya kembali duduk, napasnya sedikit terengah. Ia segera memeriksa ruang obrolan dengan sang dukun, namun kenyataan tidak berubah. "Enggak ada. Nomor aku masih diblokir, kok," jawab Aira dengan dahi berkerut heran. "Ah, tapi ya sudahlah! Yang penting uangku kembali. Horeee! Jadi hari senin kalian mau apa? Aku traktir!"
"Yeyyy, gitu dong! Akhirnya uang sakuku hari senin bisa ditabung, yuhuuuu!" Di seberang sana, Anya yang wajahnya masih tertutup masker putih tebal langsung berjoget ria. Tawa mereka pecah bersamaan, memenuhi ruang digital malam itu.
"Eh, tapi dengar-dengar, rambutan di rumah Pak Tua itu sudah berbuah. Apa tidak ada rencana nyolong lagi kita?" Nathan mulai melontarkan ide yang di luar nalar. Namun, bukannya menolak, ketiga temannya justru langsung menyimak dengan raut wajah sangat serius.
"Yang benar, Nathan? Sudah berbuah? Kamu lihat sendiri?" tanya Aira memastikan, semangatnya kembali tersulut.
"Iya, sudah merah-merah. Bagaimana kalau senin kita beraksi lagi?" ujar Nathan penuh antusiasme.
"Ye, kamu tidak kapok jatuh tempo hari, Nathan?" Denada menimpali dengan nada menyindir, yang hanya dibalas dengan cengiran tanpa dosa dari cowok itu.
"Kalau pohon rambutan yang itu, aku sanggup manjatnya! Pohonnya pendek, terus pemiliknya tidak punya anjing galak. Beda sama yang kemarin!" bela Nathan membayangkan misi sebelumnya yang gagal total.
Aira manggut-manggut setuju, tangannya mengepal seolah sedang menyusun strategi perang. "Oke deh, kita cari waktu yang tepat buat ke sana nanti!"
...****************...
"Eh tapi... jangan lupa tugas dari Bu Nilam!" sahut Denada tiba-tiba. Kalimat itu seketika membuat ketiga temannya mengernyitkan kening dalam-pikirannya langsung macet.
"Tugas? Tugas apa?" tanya mereka serempak dengan wajah polos.
"Kan! Pasti pada lupa!" Denada menghela napas berat, menatap teman-temannya satu per satu lewat layar. "Ingat, pekan depan itu les BK di luar ruangan untuk seluruh angkatan. Jangan malu-maluin kitalah! Kerjakan sekarang, kita buat visi dan misi semenarik mungkin!"
"Ah iya, aku hampir lupa!" ujar Anya sembari menepuk keningnya kuat-kuat, tanpa sadar wajahnya masih tertutup masker tebal yang mulai mengering.
"Oke, mari kita bahas. Nathan, kamu punya visi misi apa setelah lulus nanti?" tanya Denada, mulai mengambil kendali sesi diskusi bak seorang moderator profesional.
"Kalau aku, tentu saja punya misi setelah lulus nanti akan melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Belajar berbisnis, siapa tahu nanti Om William butuh karyawan perusahaan, kan? Aira, kamu harus rekomendasikan aku di perusahaan kalian nanti," ujar Nathaniel begitu bersemangat, matanya berbinar membayangkan dirinya memakai setelan jas di kantor megah milik ayah Aira.
"Kalau misiku," potong Anya yang sedari tadi sibuk melepaskan maskernya secara perlahan, lalu memijat-mijat wajahnya pelan di depan kamera agar sisa esens maskernya meresap. "Sederhana saja. Lulus, kuliah Public Relations, terus jadi founder agensi kreatif paling hits di Jakarta. Tidak mau tahu, pokoknya kalian harus jadi klien VIP-ku nanti!" ujarnya penuh ambisi.
"Tentu lah, tapi diskon ya nanti!" timpal Denada yang langsung membuat Anya mendelik sebal ke arah kamera.
"Come on guys, ini bukan hanya visi tapi misi juga. Harus yang lebih bagus dan detail!" ujar Aira memberikan instruksi, gayanya sudah seperti mentor paling bijak di antara mereka.
"Nah, kamu contohin dong. Kamu punya gimana visi misinya?" tanya Denada balik, menantang Aira yang sejak tadi paling banyak mengatur.
Aira terdiam sejenak. Ia menarik napas panjang, lalu menarik secarik kertas yang sudah ia corat-coret dengan tinta pulpen yang tebal. Senyum penuh rahasia terukir di wajahnya.
"Bentar, aku pikir lagi. Misiku setelah lulus apa ya?" gumam Aira sembari mulai menopang dagu di depan layar. Matanya menyipit, dahinya berkerut dalam, benar-benar tampak seperti orang yang sedang memikirkan strategi masa depan yang sangat serius.
Lalu perlahan, jemarinya meraih pulpen dan kertas. Ia mulai menggoreskan tinta di setiap baris kertas itu sembari tersenyum-senyum sendiri. Gerakan tangannya begitu lincah, seolah ide-ide cemerlang sedang berdesakan keluar dari kepalanya. Sesekali ia terkikik pelan, membuat teman-temannya di seberang panggilan video saling lirik dengan heran.
"Visi dan misiku sangat mulia, gaes. Kalau aku baca sekarang, takut kalian ikut-ikutan nanti, ah. Lebih baik menjadi rahasia, biar hari senin kalian dengar," ujarnya kemudian, kembali menatap serius ke layar dengan tatapan yang sok misterius.
Ketiga temannya sontak mencebikkan bibir masing-masing, merasa sedikit jengkel dengan sifat rahasia-rahasiaan Aira. Namun, mereka akhirnya setuju. Lebih baik visi dan misi itu dibuat masing-masing agar orisinalitasnya terjaga.
Suasana panggilan video itu mendadak berubah menjadi sesi belajar mandiri yang hening namun sibuk. Mereka semua mulai berpikir serius, sembari sesekali menulis dengan penuh konsentrasi, lalu sesekali bicara sendiri di depan layar untuk mengetes apakah kalimat yang mereka susun sudah terdengar cukup keren di telinga Ibu Nilam nanti.
Tanpa mereka sadari, kertas Aira sudah penuh dengan poin-poin strategi untuk menaklukkan hati Leonel, yang jauh dari kata urusan akademik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
maap kemarin gak up😁🙏Selamat berhari senin, yang ada kuota vote, boleh lah lempar di sini🫶