NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan, Selamanya

Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Struktur Harapan

Matahari pagi menyinari rangka baja yang mulai menjulang tinggi, membentuk siluet bangunan yang modern namun tetap selaras dengan alam sekitarnya. Isaac berdiri di tengah-tengah struktur utama, memegang gulungan cetak biru yang sudah mulai lusuh karena sering dibuka. Tidak ada gangguan dari Pak Broto, tidak ada sabotase, dan tidak ada hambatan cuaca yang berarti. Seolah-olah alam sendiri ikut merestui apa yang sedang mereka bangun.

"Pemasangan atap di sayap timur akan selesai sore ini, Pak Isaac," lapor Hendra dengan wajah yang jauh lebih segar dari biasanya. Bekerja di udara terbuka pegunungan ternyata membawa dampak positif bagi asisten setia mereka itu.

Isaac mengangguk puas. "Bagus, Hendra. Pastikan ventilasi silang di area asrama anak-anak berfungsi sesuai desain Luna. Dia ingin udara pegunungan ini mengalir bebas ke dalam ruangan."

Di sudut lain lahan, Luna sedang bersama Kakek Arka. Mereka sedang mengawasi penanaman bibit-bibit pohon persik yang baru saja tiba dari pusat pembibitan terbaik. Luna tampak sangat telaten; ia tidak segan untuk berlutut di tanah, memastikan akar pohon tersebut tertanam dengan posisi yang benar.

"Kau lihat itu, Nak?" Kakek Arka menunjuk ke arah bangunan klinik yang hampir selesai dikerjakan dindingnya. "Bangunan itu tampak seperti sedang merangkul bukit ini. Persis seperti yang Dendra katakan dulu; bangunan yang bisa bicara."

Luna tersenyum, menyeka butiran keringat di pelipisnya. "Aku mulai merasakannya, Kek. Setiap kali aku berjalan di koridor yang baru jadi itu, aku merasa seperti sedang berjalan di dalam mimpi Ayah yang menjadi nyata. Semuanya mengalir begitu saja, tanpa hambatan yang berarti. Rasanya... hampir terlalu indah untuk menjadi nyata."

"Itu karena niatmu murni, Luna," sahut Kakek Arka sembari bersandar pada tongkatnya. "Tanah ini tahu siapa yang tulus padanya. Ia tidak akan memberi jalan bagi mereka yang ingin merusak, tapi ia akan membukakan pintu selebar-lebarnya bagi mereka yang ingin membangun."

Proses konstruksi ini bukan hanya tentang menyusun batu bata. Luna juga mulai merekrut beberapa guru dan tenaga medis dari kota yang memiliki visi yang sama. Ia melakukan wawancara di sebuah gubuk kayu sementara yang mereka bangun di pinggir lahan. Responsnya luar biasa; banyak anak muda berbakat yang tergerak untuk ikut mengabdi di yayasan ini setelah mendengar kisah di baliknya.

Sore harinya, Isaac menghampiri Luna yang sedang berdiri di balkon lantai dua bangunan utama yang baru saja dipasangi pagar pengaman. Mereka memandang ke arah lembah yang mulai berkabut.

"Semuanya berjalan sesuai jadwal, Luna. Dalam tiga bulan ke depan, kita sudah bisa melakukan peresmian," ujar Isaac sembari merangkul pundak istrinya.

Luna menyandarkan kepalanya di bahu Isaac. "Aku masih sering melihat foto itu, Isaac. Foto di kotak kayu itu. Setiap kali aku merasa lelah, aku melihat wajah Ayah yang tersenyum di sana. Itu memberiku kekuatan ekstra untuk memastikan tempat ini menjadi yang terbaik bagi anak-anak itu kelak."

Keheningan yang damai menyelimuti mereka. Di bawah sana, para pekerja mulai mengemasi peralatan mereka, saling bercanda dengan warga desa yang membawakan camilan sore. Keharmonisan ini adalah fondasi yang jauh lebih kuat daripada beton manapun. Pembangunan fisik mungkin hampir usai, namun pembangunan kehidupan yang baru saja dimulai.

Pembangunan yang berjalan lancar memberikan kesempatan bagi Isaac dan Luna untuk lebih memperhatikan detail-detail kecil yang membuat sebuah bangunan terasa seperti "rumah". Bagi mereka, setiap sudut The Dendra Foundation harus memiliki nyawa.

Pagi itu, suasana di lokasi proyek terasa lebih tenang. Suara alat berat mulai berkurang, digantikan oleh suara gesekan amplas pada kayu dan kuas yang menari di atas dinding. Luna memutuskan untuk menghabiskan waktunya di calon ruang perpustakaan, bagian dari yayasan yang paling ia sukai karena lokasinya yang menghadap langsung ke arah matahari terbit.

Ia sedang berjongkok, memeriksa tekstur lantai kayu parket yang baru saja dipasang. "Isaac, kemari sebentar," panggilnya lembut.

Isaac yang sedang memeriksa instalasi listrik di langit-langit segera turun dari tangganya. "Ada apa? Ada yang tidak pas?"

"Sentuh ini," Luna mengusap permukaan kayu tersebut. "Kayunya terasa hangat, bukan? Aku ingin anak-anak bisa membaca di sini tanpa alas kaki, merasa nyaman seolah-olah mereka sedang berada di pelukan seseorang."

Isaac berlutut di sampingnya, ikut merasakan permukaan kayu itu dan tersenyum. "Kau benar. Serat kayunya juga sangat halus. Kau sangat detail dalam memilih material ini, Luna."

Luna mengangguk perlahan. "Karena bagi anak-anak yang akan tinggal di sini, detail-detail kecil seperti kehangatan lantai atau aroma kayu bisa menjadi kenangan yang menyelamatkan mereka saat mereka merasa sedih nantinya. Aku ingin mereka merasa... dihargai."

Mereka menghabiskan waktu hampir satu jam hanya untuk mendiskusikan warna tirai yang cocok agar cahaya matahari tidak terlalu silau namun tetap menerangi ruangan dengan cukup. Alur pekerjaan mereka kini tidak lagi diburu oleh tenggat waktu yang mencekik, melainkan dinikmati sebagai sebuah proses meditasi.

Siang harinya, Kakek Arka datang membawakan keranjang berisi buah sawo matang dari kebunnya. Ia duduk di teras depan bangunan utama bersama Isaac dan Luna, menikmati angin sepoi-sepoi yang bertiup dari lembah.

"Kalian tahu," ujar Kakek Arka sembari mengupas buah sawo dengan pisau kecilnya, "melihat kalian bekerja seperti ini mengingatkanku pada cara Dendra memandang tanah ini dulu. Dia tidak pernah terburu-buru. Dia bisa berdiri berjam-jam hanya untuk melihat bagaimana bayangan pohon jatuh di tanah saat jam tiga sore."

Luna tersenyum, ia mengambil sepotong buah dari tangan Kakek Arka. "Sepertinya aku mewarisi sifat lambatnya itu, Kek. Aku merasa jika aku terburu-buru, aku akan melewatkan pesan yang ingin disampaikan oleh bangunan ini."

"Bagus, Nak. Hidup ini sudah terlalu cepat di luar sana," sahut Kakek Arka penuh kebijaksanaan. "Di sini, biarlah waktu berjalan mengikuti detak jantung kita sendiri."

Percakapan mereka mengalir ringan, membahas tentang hal-hal sederhana seperti rencana menanam sayur-sayuran organik di halaman belakang agar panti asuhan ini bisa mandiri pangan. Tidak ada pembicaraan tentang musuh, dendam, atau masa lalu yang pahit. Hari itu benar-benar tentang masa kini—tentang rasa manis buah sawo, kehangatan lantai kayu, dan rencana masa depan yang cerah.

Isaac menatap Luna yang sedang tertawa mendengar lelucon Kakek Arka tentang ayamnya yang mogok bertelur. Ia menyadari bahwa kedamaian inilah yang sebenarnya mereka cari selama ini. Bukan kemenangan atas musuh, melainkan kemampuan untuk menikmati waktu yang berjalan pelan tanpa rasa takut.

Sore pun menjelang dengan sangat tenang. Pekerjaan hari itu diakhiri lebih awal agar para pekerja bisa pulang dan beristirahat lebih lama bersama keluarga mereka. Luna berdiri di depan gerbang yang baru saja dicat, menatap papan nama kayu yang bertuliskan The Dendra Foundation yang baru saja digantung.

"Kita hampir sampai, Isaac," bisik Luna.

"Kita sudah sampai, Luna," jawab Isaac sembari menggenggam tangan istrinya. "Rumah ini sudah hidup, bahkan sebelum penghuninya datang."

Pagi itu, udara perbukitan terasa lebih segar dari biasanya. Wangi tanah basah sisa hujan semalam bercampur dengan aroma kopi tubruk yang disajikan warga desa di area terbuka panti asuhan. Hari ini bukan hari kerja biasa; tidak ada suara bising mesin, yang ada hanyalah tawa renyah dan percakapan hangat.

1
Nhi Nguyễn
😄
anggita
ikut dukung like👍, iklan☝aja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!