NovelToon NovelToon
Cinta Dari Perjodohan

Cinta Dari Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Romansa
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Cumi kecil

Khayla Atmaja, gadis 21 tahun yang ceria dan berani, harus menerima kenyataan dijodohkan dengan Revan Darmawangsa, pria 32 tahun yang dingin dan sibuk dengan pekerjaannya. Perjodohan yang diatur oleh Kakek Darius itu mempertemukan dua pribadi yang bertolak belakang. Khay yang hangat dan blak-blakan, serta Revan yang tertutup dan irit bicara. Awalnya pernikahan ini hanya dianggap kewajiban, namun seiring waktu, kebersamaan perlahan menumbuhkan perasaan yang tak terduga, mengubah perjodohan menjadi cinta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 KEMBALI KE IBU KOTA

Aroma nasi goreng dan teh hangat memenuhi ruang makan. Sinar matahari pagi masuk dari jendela besar, membuat suasana rumah terasa hidup namun entah kenapa, bagi Khay, pagi itu terasa sedikit… canggung. Ia duduk tegak di kursinya, tangan terlipat rapi di pangkuan. Sesekali matanya melirik ke arah Revan yang duduk di seberangnya. Revan tampak tenang seperti biasa, mengenakan kemeja santai warna abu-abu. Wajahnya datar, sikapnya sopan, seolah kejadian pagi tadi tidak pernah terjadi.

Justru itulah yang membuat Khay semakin salah tingkah. " Dia santai banget…

Apa dia nggak sadar aku tidur meluk dia? Atau sadar tapi pura-pura nggak tahu?"

“Khay.”

Suara Mamah Hera membuyarkan lamunan Khay.

“Iya, Mah?” jawab Khay cepat.

Mamah tersenyum lembut, lalu memberi isyarat dengan dagu ke arah piring Revan. “Itu… ambilin lauk buat suamimu.”

Khay refleks menelan ludah. “Oh iya,” katanya, lalu berdiri sedikit dari kursinya. ia mengambil sendok besar dan memindahkan ayam goreng ke piring Revan. Tangannya sedikit gemetar, tapi wajahnya tetap dihiasi senyum manis khasnya.

“Nih, Mas,” ucap Khay ceria, sedikit terlalu ceria. “Ayam gorengnya. Kata Mamah, laki-laki harus makan yang banyak biar kuat.”

Ayah yang duduk di ujung meja tertawa kecil. “Nah, itu benar.”

Revan melirik Khay, lalu mengangguk sopan. “Terima kasih, Khay.” Nada suaranya datar. Terlalu datar.

Khay kembali duduk, jantungnya berdetak agak cepat.

Mamah Hera mengamati mereka dengan mata penuh makna. “Sebagai istri, kamu harus mulai belajar memperhatikan suami. Hal kecil seperti mengambilkan lauk, menuangkan minum itu bentuk perhatian.”

“Iya, Mah,” jawab Khay patuh. Dalam hati, ia menghela napas. Pelan-pelan, Khay. Baru juga mulai. Ia bangkit lagi, kali ini menuangkan teh hangat ke gelas Revan. Tanpa sengaja, tangannya menyenggol sedikit gelas, membuat teh hampir tumpah. “Aduh...” Khay panik kecil.

Revan cepat menahan gelas itu dengan tangannya. “Nggak apa-apa,” katanya singkat. Jari mereka sempat bersentuhan.

Sekilas. Tapi cukup untuk membuat Khay langsung menarik tangannya seperti tersengat listrik. “Ma...maaf,” ucapnya cepat.

Revan hanya mengangguk kecil.

Ayah pura-pura berdehem, menyembunyikan senyum. “Santai saja, Khay. Kalian sudah sah.”

" Justru itu masalahnya, ayah " batin Khay. Ia duduk lagi, lalu mengambil nasi untuk dirinya sendiri. Untuk mengusir rasa canggung, Khay mulai bersikap seperti biasanya ceria, lincah, dan sedikit cerewet.

“Mas Revan,” katanya sambil mengunyah, “Mas suka nasi goreng kampung begini nggak?”

“Suka,” jawab Revan singkat.

“Nggak kepedesan, kan?”

“Tidak.”

“Kalau kurang asin, bilang ya. Soalnya Mamah masaknya kadang... ”

“Hush,” potong Mamah Hera sambil tertawa. “Berani-beraninya kamu mengkritik masakan Mamah.”

Khay nyengir. “Bercanda, Mah.”

Kakek darius yang duduk di samping Ayah tersenyum puas melihat interaksi itu. “Cucu saya kelihatan cocok sama Khay.”

Revan melirik kakeknya sebentar. “Kakek.”

Khay terkikik kecil. “Mas Revan orangnya kalem ya, Kek. Kalau saya cerewet, Mas Revan pasti cepat pusing.”

“Tidak,” jawab Revan cepat. “Tidak pusing.”

Khay mengangkat alis. “Oh ya?”

Revan menatapnya sekilas. “Iya.” Nada itu… terdengar jujur. Khay sedikit tertegun.

Mamah Hera tersenyum lebar. “Bagus. Suami istri memang harus saling melengkapi. Yang satu ramai, yang satu tenang.”

ayah mengangguk setuju. “Revan itu tipe yang tanggung jawab. ayah percaya sama dia.”

Revan meletakkan sendoknya. “Terima kasih, yah. "

Suasana meja makan perlahan mencair. Tawa kecil mulai terdengar. Khay mulai merasa lebih rileks, meski sesekali matanya masih mencuri pandang ke arah Revan dan cepat-cepat mengalihkan pandangan saat ketahuan.

Di sela sarapan, Revan menyeka bibirnya dengan tisu, lalu menatap papah dan Mamah dengan sikap serius.

" Mah, yah ” ucapnya. “ Aku ingin menyampaikan sesuatu.”

Khay otomatis menoleh. “Ada pekerjaan di ibu kota yang tidak bisa aku tinggalkan terlalu lama,” lanjut Revan tenang. “Jadi… setelah ini, aku dan Khay berencana kembali ke ibu kota.”

Mamah Hera berhenti mengunyah. “Secepat itu?”

Revan mengangguk. “Iya, mah. Paling lama satu-dua hari di sini.”

Ayah menghela napas pelan, lalu tersenyum maklum. “Ayah sudah menduga. Kerjaan kamu memang tidak bisa ditunda.”

Khay ikut menimpali, berusaha terdengar santai. “Iya, Mah. Kemarin Mas Revan juga sudah bilang ke aku.”

Revan melirik Khay sekilas seolah memastikan lalu kembali menatap orang tua Khay.

“Kami sudah membicarakannya,” kata Revan.

Kata kami itu membuat Khay sedikit salah tingkah, tapi juga… anehnya hangat.

Mamah Hera menatap putrinya dengan mata sedikit berkaca-kaca. “Mamah cuma khawatir kamu capek, Khay. Baru menikah, sudah harus ikut ke ibu kota.”

Khay tersenyum, lalu menggenggam tangan Mamah. “Nggak apa-apa, Mah. Khay kan sudah besar.”

Ayah tertawa kecil. “Katanya.”

Khay nyengir.

Kakek darius ikut bicara, “Khay tidak perlu khawatir. Revan itu bukan laki-laki yang suka menelantarkan istri.”

Revan menoleh ke arah kakeknya. “Kek.”

“Apa?” Kakek tertawa. “Kakek bicara jujur.”

Khay melirik Revan, lalu berkata ringan, “Tenang saja, Kek. Kalau Mas Revan macam-macam, saya laporin.”

Revan menatapnya. “Saya tidak macam-macam.”

“Nah, itu janji ya,” balas Khay cepat.

Sudut bibir Revan terangkat sangat tipis. Hampir tak terlihat. Tapi Khay melihatnya.

Dan entah kenapa, jantungnya kembali berdebar.

Sarapan pun berakhir dengan suasana yang jauh lebih hangat dibandingkan awalnya. Meski masih ada canggung yang tersisa terutama di antara Khay dan Revan namun pagi itu memberi mereka satu hal penting.

Rasa kebersamaan yang perlahan mulai tumbuh.

Usai sarapan, suasana rumah kembali ramai. Bukan oleh tawa, melainkan oleh kesibukan kecil yang selalu muncul saat perpisahan akan terjadi. Mamah Hera mondar-mandir ke dapur, memasukkan bekal ke dalam tas kain. Ayah berdiri di teras, menyalakan rokok tapi tak benar-benar dihisap hanya dijepit di jari, tanda pikirannya sedang ke mana-mana.

Khay berdiri di ruang tengah, ransel kecil sudah menggantung di bahunya. Wajahnya tampak ceria seperti biasa, tapi matanya tak bisa menyembunyikan rasa berat.

“Mah…” Khay memeluk Mamah Hera erat-erat. “Khay pulang dulu ya.”

Mamah mengusap punggung putrinya, suaranya sedikit bergetar. “Iya, Nak. Jaga diri baik-baik di sana.”

“Khay kan sudah sama suami,” sahut Khay mencoba bercanda.

“Iya,” Mamah tersenyum, lalu menoleh ke arah Revan. “Tapi tetap saja, kamu anak Mamah.”

Revan berdiri sopan di samping Khay. “Tenang, Mah. aku jaga Khay.” Ucapan itu sederhana, tapi membuat

Mamah Hera terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Mamah titip Khay, ya, Van.”

“Iya, Mah,” jawab Revan mantap.

Khay melirik Revan cepat. Ada sesuatu di dadanya yang menghangat mendengar Revan memanggil ibunya dengan sebutan itu. Mah. Bukan Tante. Bukan Ibu. Tapi Mah.

Ayah melangkah mendekat, lalu memeluk Khay singkat namun erat. “Belajar yang rajin. Jangan lupa makan.”

“Khay janji,” jawab Khay cepat. “Ayah jangan kerja terlalu keras.”

Ayah terkekeh. “Itu kalimat Ayah yang biasanya.”

Khay tersenyum lebar, lalu menahan napas. “Khay akan sering nelpon.”

“Iya,” jawab Ayah. “Kalau rindu, pulang.”

Revan mengangguk hormat. “Ayah, Mah… kalau ada apa-apa, hubungi saya.”

Ayah menepuk bahu Revan. “Jaga rumah tanggamu baik-baik.”

Revan mengangguk. “Aku akan jaga.”

Kakek Darius yang sejak tadi duduk di kursi rotan akhirnya berdiri. Usianya sudah lanjut, tapi wibawanya tak luntur. Ia menatap Khay dengan senyum puas.

“Cucu saya ini orangnya kaku,” kata Kakek Darius. “Kalau kamu bisa bertahan sama dia, berarti kamu luar biasa.”

Khay tertawa kecil. “Tenang saja, Kek. aku orangnya sabar.”

Revan melirik Khay. “Sejak kapan?”

“Sejak menikah,” jawab Khay cepat.

Kakek tertawa lepas. “Bagus! Rumah tangga memang butuh humor.”

Khay memeluk Kakek Darius dengan sopan. “Hati-hati di jalan juga ya, Kek.”

“Doakan saja Kakek panjang umur,” balasnya hangat.

Saat akhirnya mereka benar-benar melangkah ke luar rumah, Khay berhenti sejenak di ambang pintu. Ia menoleh ke belakang ke rumah kecil yang membesarkannya, ke kedua orang tuanya yang berdiri berdampingan, menahan haru.

Dadanya sesak. “Yuk,” ucap Revan pelan.

Khay mengangguk, lalu berjalan. Namun begitu masuk ke mobil, ia langsung membalikkan badan dan melambaikan tangan dari balik kaca.

“Mah! Ayah!”

Mamah Hera mengusap air mata. Ayah mengangkat tangan tinggi-tinggi.

Mobil perlahan menjauh.

Khay menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Senyum masih ada di wajahnya, tapi matanya berkaca-kaca.

“Kalau mau nangis, nggak apa-apa,” ujar Revan tanpa menoleh.

Khay mendengus kecil. “Siapa bilang aku mau nangis?”

Beberapa detik berlalu. “…Sedikit saja,” tambahnya lirih.

1
erma irsyad
lanjutt thor
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
siapa yang ngawasin..harusnya Khay terus terang saja kalau udah nikah,kan jadi fitnahan nantinya
Drama Queen
Lanjut kak💪
Drama Queen
apa yang kamu pegang khay🤣🤣🤣
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Khay mulai ada perasaan sama suaminya 🥰🥰
erma irsyad
dtunggu Up selnjutnya🥰
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Jaga suamimu Khay jangan ada valak kor diantara kalian
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
🤣🤣🤣🤣🤣
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Revan cemburu🥰🥰🥰
erma irsyad
thor Up ny jgn lama2 😄
Bungatiem: lanjutkan lagi Doong
total 2 replies
Bungatiem
lanjutkan
Bungatiem
di dunia nyata ada suamiku ga pernah bangunin aku walopun aku tidur sampai siang 😍 Alhamdulillah pernikahan kami sudah berjalan 26 thn 😍
Marchel: Alhamdulillah.. Semoga pernikahannya bahagia terus ya kak 🤗😍
total 1 replies
HjRosdiana Arsyam
Luar biasa
Marchel: Terimakasih kak
total 1 replies
Drama Queen
Revan perhatian banget sih ama istri kecilnya.. 😍😍😍
Drama Queen
lanjut💪
Drama Queen
Revan sangat perhatian ama istri kecil nya😍😍😍
Drama Queen
khay jangan banyak alasan bilang aja kamu takut tidurmu kebablasan dan peluk-peluk suamimu. tenang khay kalian sudah sah jadi bebas 🤣🤣
Drama Queen
gak sabar nunggu mereka malam pertama😄
Drama Queen
kenapa khay setiap bangun pasti kamu kaget dan menjerit 🤣🤣
Drama Queen
Revan sabar ya.. kalian masih masa perbekalan dan pendekatan jadi malam pengantinnya di undur sampai kalian benar-benar dekat🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!