"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga puluh Empat
Di jam istirahat, pada saat teman-temannya sibuk berbondong-bondong pergi ke Kafe untuk menagih voucher, Rey malah berdiri di tepi pagar pembatas rooftop, membiarkan terik matahari di siang hari menerpa wajahnya.
Ia merasa terjepit. Meira adalah gadis yang cerdas dan secara alami ia ingin bersaing secara sehat. Namun, ibunya telah mengubah sekolah menjadi medan perang. Rey mengambil pulpen dari sakunya, lalu mencoret-coret buku catatannya dengan kasar hingga kertasnya hampir robek. Ia mencoba menghitung ulang soal yang tadi dikerjakan Meira di kelas sebagai bentuk pembuktian diri.
"Sial, dia beneran bisa secepat itu." bisik Rey pelan.
Logikanya mengakui keunggulan Meira, tapi egonya yang terluka dan rasa takutnya pada Hera membuatnya gemetar.
Di sisi lain, Meira tidak bisa diam saja. Setelah terpaksa pergi karena ditarik teman-temannya untuk klaim voucher yang tadi pagi dimenangkan olehnya, Meira sengaja segera memisahkan diri sepulangnya dari Kafe itu. Meira beralasan ingin pergi ke toilet, namun langkahnya justru membawanya ke arah tangga menuju rooftop.
Meira sempat melihat Rey yang langsung menghindar saat bel istirahat berbunyi, cowok itu berbelok ke arah gudang yang sudah pasti akan menuju ke atap karena tidak ada akses lain di sana selain tangga rooftop. Ia merasa harus bicara pada Rey. Meira tidak ingin Rey menganggap kedatangannya sebagai saingan yang berubah menjadi kebencian, apalagi dirinya pernah disangkut pautkan dengan orang yang ada di masa lalu cowok itu.
Meira melangkah sepelan mungkin, berusaha agar deru napasnya tidak mengganggu keheningan rooftop yang hanya diisi oleh suara gesekan pulpen dan embusan angin. Di sana, di sudut pagar pembatas, sosok Rey tampak begitu tegang. Punggungnya membungkuk, bahunya naik turun dengan ritme yang tidak teratur dan tangannya bergerak liar di atas kertas.
Coretan-coretannya terdengar kasar, menunjukkan rasa frustrasi yang memuncak. Rey tampak seperti seseorang yang sedang berusaha memecahkan kode rahasia hidup dan mati, padahal Meira tahu, yang sedang cowok itu lawan adalah egonya sendiri.
Meira berhenti beberapa langkah di belakangnya. Ia melihat Rey berkali-kali menuliskan variabel, lalu mencoretnya lagi hingga kertas itu berlubang.
"Coretan sekasar itu nggak bakal bikin jawabannya ketemu, Rey." suara Meira terdengar lembut, namun cukup untuk memecah konsentrasi Rey yang sedalam lautan.
Rey tersentak hebat. Ia hampir menjatuhkan pulpennya ke lantai semen. Dengan gerakan defensif yang cepat, ia segera menutup buku catatannya dan berbalik, menatap Meira dengan sorot mata yang campur aduk, antara malu, marah dan terkejut.
"Ngapain lo di sini?" tanya Rey ketus, suaranya sedikit serak. Ia berusaha mengatur ekspresi wajahnya kembali menjadi datar, meski keringat dingin di pelipisnya tidak bisa berbohong.
Meira tidak mundur. Ia justru mendekat untuk menyimpan Caramel Latte yang masih dingin di atas semen, tepat di samping kaki Rey. Meira sengaja memisahkan satu minuman itu untuk diberikan pada Rey. Kemudian menyandarkan tubuhnya pada pagar, meski jaraknya masih terjaga.
"Teman-teman lagi sibuk ngerayain voucher di depan. Tapi ketua kelasnya malah mojok di sini sambil nyiksa buku catatan. Kenapa?"
Rey membuang muka, menatap jauh ke arah deretan gedung di cakrawala. "Bukan urusan lo. Pergi sana, jangan ganggu gue."
"Soal tadi di kelas?" Meira menebak langsung pada sasaran. "Kamu merasa keganggu karena aku jawab kuis itu?"
Rey tertawa sinis, sebuah tawa kering yang terdengar menyakitkan. "Lo pikir gue sepicik itu? Gue cuma lagi nggak mood denger sorakan norak mereka."
"Tapi tanganmu gemeteran, Rey." potong Meira pelan sambil melirik jemari Rey yang masih mencengkeram buku catatannya erat, alih-alih pulpen. "Kamu nggak perlu jadi kalkulator berjalan setiap saat buat ngebuktiin kalau kamu hebat. Semua orang di kelas juga udah tahu kalau kamu selalu jadi yang terbaik."
Mendengar itu, pertahanan Rey seolah retak sedikit. Ia menoleh perlahan, menatap Meira dengan tatapan yang kini lebih terlihat rapuh daripada tajam.
"Lo nggak tahu apa-apa, Meira. Di dunia gue, jadi hebat aja nggak cukup. Gue harus jadi satu-satunya." Rey menjeda, suaranya merendah hampir seperti bisikan. "Kalau gue nggak jadi nomor satu, gue nggak punya nilai apa pun di mata Orang tua gue. Dan kedatangan lo, itu bikin semuanya jadi makin sulit."
Meira terdiam, merasakan sesak yang tiba-tiba menjalar di dadanya. Ia teringat ucapan Ayara tentang Bu Hera. Ternyata, posisi Rey sebagai sang juara bukan sekadar prestasi, melainkan rantai yang mengikat lehernya.
"Aku ke sini bukan buat menggeser siapa pun, Rey. Aku cuma mau cari tahu soal sesuatu yang penting buatku. Kita bisa jadi partner, bukan musuh. Bukannya itu bakal bikin lebih ringan ya?"
Rey menatap Meira lama, mencari kebohongan di mata gadis itu, namun ia hanya menemukan ketulusan yang menenangkan.
"Sebenarnya tujuan lo jauh-jauh pindah kesini buat apa? Bukannya di Bogor prestasi lo udah lebih dari cukup buat bikin lo lolos ke Universitas besar?" Rey memberanikan diri untuk bertanya. Ia teringat dengan percakapan Meira dengan Bu Resma beberapa waktu lalu.
Meira tertegun sejenak. Angin di rooftop berembus lebih kencang, menerbangkan beberapa helai rambutnya yang menutupi wajah. Pertanyaan Rey tepat sasaran. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia pindah karena pesan misterius dari No Name.
Meira menghela napas, matanya menatap hamparan awan yang mulai sedikit mendung. "Prestasi di Bogor emang cukup untuk masa depan, Rey. Tapi nggak cukup buat jawab masa lalu."
Rey mengernyitkan dahi. "Masa lalu?"
"Ada hal-hal yang nggak bisa diselesaikan cuma dengan nilai sempurna atau piagam penghargaan." lanjut Meira lirih. Ia menoleh ke arah Rey, menatap mata cowok itu dengan keberanian yang baru. "Aku pindah kesini karena pengen tahu penyebab Mamaku menghilang. Dan, beberapa hari lalu, aku dapat fakta kalau ternyata Mamaku ada hubungannya sama Bu Resma dan... Bu Hera. Dia Mama kamu kan?"
Mendengar nama ibunya disebut, tubuh Rey menegang kembali. Ia terdiam cukup lama. Tatapannya yang tadi sempat melunak kini berubah menjadi kosong, menatap jauh ke arah langit. Nama Arini, ibunya Meira, bukanlah nama asing baginya. Nama itu adalah bayangan yang menghantui masa putih birunya dulu.
"Jadi lo udah tahu sejauh itu ya." gumam Rey dengan suara yang terdengar lelah. Ia melepaskan cengkeramannya pada buku catatan dan mengganti posisi, menyandarkan punggungnya pada pagar pembatas yang sama.
"Dulu, waktu mereka bertiga masih di SMP Trisakti, gue sering denger Mama nyebut nama Ibu lo. Bukan sebagai teman, Mei, tapi sebagai penghalang." Rey menoleh ke arah Meira, kilatan pahit terpancar dari matanya. "Mereka berebut posisi guru tetap di SMA ini. Hanya ada satu kuota untuk kandidat untuk masing-masing guru Fisika dan Matematika. Bu Arini termasuk guru Matematika terbaik waktu itu, dan Mama gue yang sama-sama guru Matematika merasa terancam."
Meira menahan napas. Ia tidak menyangka persaingan itu sedalam ini. "Terus apa yang terjadi? Kenapa akhirnya Mama kamu yang di sini dan Mamaku menghilang?"
Rey tertawa getir, tawa yang tidak sampai ke mata. "Mama gue itu orang yang bakal lakuin apa pun demi apa yang dia mau. Dia ngincar SMA Trisakti bukan cuma buat karier, tapi buat gue. Dia mau mastiin gue masuk ke sekolah terbaik dengan pengawasan dia langsung. Dia mau gue jadi nomor satu di tempat yang paling bergengsi dan dia nggak bakal biarin siapa pun, termasuk Bu Arini, merusak rencana itu. Apalagi Ayah gue pemegang saham terbesar di yayasan ini."
Rey menjeda sejenak, menatap Meira dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tapi, lo harus percaya satu hal sama gue. Meskipun Mama gue punya ambisi yang besar, gue yakin dia gak bakal tega buat lakuin hal yang bisa nyakitin orang lain." nada cowok itu berubah lembut, seperti ingin meyakinkan Meira.
Namun, ada sesuatu di hatinya yang bertentangan dengan ucapannya, yang terasa bergejolak meminta untuk dikeluarkan.
"Lo percaya, kan?" Rey bertanya lagi, namun kali ini suaranya sedikit bergetar. Tatapannya seolah memohon agar Meira mengiyakan, seolah jika Meira percaya, maka kebenaran pahit yang ia takuti tidak akan menjadi nyata.
Meira terdiam, menatap netra Rey yang gelisah. Ia ingin percaya. Ingin percaya bahwa wanita yang melahirkan cowok di depannya ini tidak sejahat itu. Namun, bayangan pesan-pesan gelap dari No Name dan ekspresi ketakutan Bu Resma setiap kali nama Arini disebut, membuat lidah Meira kelu.
"Rey..." Meira baru saja akan menjawab, namun kalimatnya terputus oleh suara bel pertanda masuk yang berbunyi dengan nyaring.
"Kita harus balik ke kelas." ucap Rey cepat, suaranya kembali datar dan dingin, seolah-olah percakapan emosional tadi tidak pernah terjadi. Ia menyambar buku catatannya yang sudah koyak, lalu melangkah lebar menuju pintu rooftop tanpa menoleh lagi.
Meira terpaku di tempatnya, menatap punggung Rey yang menjauh. Ia melirik dua cup Caramel Latte yang masih tersisa di atas semen. Salah satunya masih penuh, embun airnya mulai membasahi lantai.
"Rey!" panggil Meira.
Meira berlari kecil untuk mengejar Rey yang menghentikan langkahnya di ambang pintu. Ia meraih tangan Rey untuk memberikan Caramel Latte miliknya yang belum sempat tersentuh. Cowok itu tampak mematung sesaat ketika tangan dinginnya tersentuh oleh tangan hangat Meira.
Rey menunduk, menatap cup kopi yang berpindah tangan. Ia tidak segera melepaskan sentuhan Meira, seolah kehangatan itu adalah satu-satunya hal nyata yang ia rasakan di tengah kepura-puraan hidupnya. Namun, sedetik kemudian, ia tersadar dan menarik tangannya dengan canggung.
"Thanks." gumamnya singkat sebelum benar-benar menghilang di balik pintu besi menuju tangga.
Meira menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya. Ia tidak langsung mengikuti Rey. Pikirannya masih terpaku pada ucapan Rey tadi, "Mama gue nggak bakal tega lakuin hal yang bisa nyakitin orang lain."
"Kamu terlalu sayang sama Mama kamu, Rey, sampai kamu nggak sadar kalau dia lagi pelan-pelan hancurin kamu." batin Meira miris.
Saat Meira hendak melangkah turun, ponsel di sakunya bergetar. Sebuah pesan baru dari No Name.
No Name :
Jangan pernah percaya siapapun di sini. Mereka adalah penyebab Mama mu menghilang.
Meira tersentak. Siapa pun pengirim pesan ini, ia pasti berada sangat dekat atau setidaknya mengawasi setiap sudut sekolah ini dengan sangat teliti. Tanpa membuang waktu, Meira segera menuruni tangga dengan cepat. Rasa takut mulai menjalar menghantui dirinya.
...\~\~\~...
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰