Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.
Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Aku mengatur napas, memaksa degup jantungku yang menggila untuk tunduk pada logika. Aku tidak boleh hancur sekarang. Jika aku meneteskan air mata, aku hanya akan memberinya kepuasan untuk melihatku kalah lagi.
Aku menegakkan punggung, menatap lurus ke manik matanya tanpa berkedip. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa merasakan deru napasnya yang memburu karena amarah, namun aku memasang topeng paling datar yang pernah kupunya.
"Kita di sini untuk menyelesaikan laporan Pak Hendra, Pak Baskara. Bukan untuk bedah sejarah," suaraku keluar dengan nada yang sangat tenang, hampir seperti robot.
Baskara tertawa getir, cengkeramannya pada pinggiran meja semakin erat. "Pak Baskara? Formalitas itu benar-benar memuakkan, Aruna. Setelah semua yang kamu lakukan, kamu pikir panggilan itu bisa menghapus fakta bahwa kamu pernah menghancurkan hidup seseorang?"
Aku menggeser tubuhku, melepaskan diri dari kurungan lengannya dan berjalan menuju laptopku yang masih terbuka. "Jika Anda ingin jawaban tentang masa lalu, silakan cari di tempat lain. Fokus saya malam ini hanya pada data retensi pelanggan. Mau dimulai dari variabel mana?"
Aku bisa mendengar langkah kakinya yang berat mendekatiku. Baskara berdiri tepat di belakang kursiku. "Kamu benar-benar monster, ya? Bahkan setelah setahun, tidak ada satu pun kata maaf yang tulus? Yang ada hanya sikap dingin ini?"
Tanganku membeku di atas keyboard. Dadaku terasa sesak, perihnya seperti disayat sembilu, tapi aku menelan semua rasa sakit itu bulat-bulat. Aku tahu, jika aku meminta maaf sekarang, itu tidak akan mengubah apa pun. Luka yang kuberikan padanya sudah terlalu bernanah untuk disembuhkan dengan satu kata.
"Maaf tidak akan merubah angka di spreadsheet ini, Bas," lirihku, tanpa menoleh. "Dan maaf juga tidak akan membuatmu berhenti membenciku. Jadi, mari kita simpan energi kita untuk bekerja. Semakin cepat ini selesai, semakin cepat Anda bisa kembali pada Rasya."
Kalimat terakhirku sukses membuatnya terdiam. Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruang rapat. Hanya terdengar dengung AC dan detak jam dinding yang seolah mengejek kami.
Baskara akhirnya menarik kursi di seberangku dengan kasar. Ia membuka laptopnya dengan sentakan yang kuat. "Baik. Kita selesaikan ini secara profesional. Jangan harap ada percakapan lain selain urusan kantor."
Kami bekerja dalam diam. Hanya suara ketikan keyboard yang saling bersahutan, seperti dua orang asing yang dipaksa berbagi ruang. Namun, di balik wajah datarku, aku sedang merutuki diriku sendiri. Setiap kali mataku mencuri pandang ke arahnya, aku melihat sisa-sisa pria yang dulu pernah sangat mencintaiku, dan kini aku harus menerima kenyataan bahwa aku sendirilah yang telah membunuh pria itu.
Tiba-tiba, lampu sensor di ruang rapat padam karena tidak ada pergerakan yang berarti. Ruangan menjadi gelap gulita, hanya menyisakan cahaya dari dua layar laptop yang menyinari wajah kami yang sama-sama kaku.
Kegelapan itu menyergap kami secara tiba-tiba, menyisakan cahaya biru pucat dari layar laptop yang memantul di wajah Baskara. Aku tidak bergerak untuk memicu sensor lampu. Aku justru merasa aman dalam gelap ini, di mana ia tidak bisa melihat mataku yang mulai mengaca.
Namun, di tengah kesunyian yang mencekik itu, suara Baskara terdengar lagi. Bukan lagi suara penuh amarah, melainkan suara rendah yang parau dan sarat akan luka yang tertimbun lama.
"Setahun, Aruna..." ucapnya, memecah kesunyian. "Satu tahun penuh aku seperti orang gila. Aku datangi rumah Danesha tiap minggu. Aku hubungi ibumu sampai dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Aku bahkan mencari namamu di daftar pasien rumah sakit karena aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu."
Aku tetap mematung. Jemariku yang berada di atas keyboard terasa beku.
"Ke mana kamu pergi?" tanyanya lagi, kali ini lebih menuntut. "Setidaknya, beri aku satu lokasi. Satu alasan kenapa kamu harus lenyap seolah-olah aku ini wabah yang harus kamu hindari."
Aku memilih diam. Bibirku terkatup rapat hingga terasa sakit. Jika aku memberitahunya bahwa aku hanya bersembunyi di sebuah apartemen sempit di sudut Jakarta, merasa bersalah namun terlalu pengecut untuk menghadapi wajahnya, apakah itu akan memperbaiki keadaan? Tidak. Itu hanya akan membuatnya semakin membenciku.
"Jawab, Aruna!" Baskara membanting telapak tangannya ke meja. Suaranya menggelegar di ruang rapat yang sunyi. "Kamu punya mulut untuk menyerangku di depan Pak Hendra, tapi kenapa sekarang kamu mendadak bisu?"
Cahaya laptopnya menerangi wajahnya yang kini tampak frustrasi. Ia menyisir rambutnya dengan kasar, napasnya terdengar memburu di balik kegelapan.
"Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?" ia tertawa getir, suaranya pecah. "Aku bahkan sempat berpikir kamu diculik atau mengalami kecelakaan. Aku mengkhawatirkanmu setiap malam, sementara kamu... kamu mungkin sedang tertawa di luar sana, atau mungkin sudah punya penggantiku dalam hitungan hari. Benar kan?"
Aku masih bergeming. Keheningan dariku seolah menjadi senjata yang paling tajam untuk menyiksanya. Aku ingin berteriak bahwa aku juga hancur, bahwa aku melihatnya di mall hari itu dan hatiku patah, tapi keegoisanku menahan semuanya di tenggorokan.
"Bagus," desisnya, suaranya bergetar karena emosi yang memuncak. "Tetaplah diam. Tetaplah menjadi Aruna yang egois dan dingin. Kamu membuatku merasa seperti pria paling bodoh di dunia karena pernah mengemis kabar pada seseorang yang bahkan tidak menganggapku ada."
Baskara berdiri dengan sentakan kasar, membuat kursinya terseret menimbulkan bunyi decit yang memilukan. Ia berjalan menuju saklar lampu manual di dekat pintu dan menekannya dengan keras. Cahaya lampu yang terang benderang seketika menusuk mataku.
"Kerjakan bagianmu sendiri. Aku akan menyelesaikannya di mejaku," ucapnya tanpa menoleh lagi. Ia menyambar laptopnya dan keluar dari ruang rapat, meninggalkan pintu yang berayun pelan.
Begitu pintu tertutup, benteng pertahananku runtuh. Aku menutup wajah dengan kedua tangan, membiarkan isak tangis yang sejak tadi kutahan pecah di tengah ruangan luas yang kini terasa sangat hampa.