Menceritakan tentang Davidson Mahendra seorang pria dengan sikap dingin dan perfeksionis yang tak sengaja di hadapkan dengan Nindi, gadis biasa yang pernah menjadi bagian dari masalalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourbee Lebah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Sekertaris baru
Malam ini terasa lebih dingin daripada malam malam sebelumnya, entah ini hanya perasaan nindi atau memang begitu, selain itu ia juga merasa tubuhnya sangat lelah, emosinya juga tak beraturan, mungkin karena ia menghadapi kesulitan akhir akhir ini.
Namun dalam keadaan apapun ia sama sekali tak pernah melewatkan malam malam bersama ayahnya di rumah sakit, rumah sakit sudah seperti rumah kedua baginya, nindi terlalu sering mengunjungi tempat ini, dan ini semua karena ayahnya, satu satunya keluarga yang ia miliki, pria paruh baya itu sudah berada di ranjang rumah sakit selama kurang lebih 15 hari, kondisinya belum juga baik.
"Kok keliatan capek banget anak ayah?" Suara seraknya menyadarkan nindi dari lamunan.
Nindi tersenyum, ia berharap senyuman manisnya ini dapat menyembunyikan rasa lelahnya.
"Enggak, kata siapa?" Sangkal nindi.
"Maafin ayah ya?"
Nindi bosan mendengar kata itu, ayahnya selalu meminta maaf atas kesalahan yang tak pernah sengaja ia lakukan, lebih tepatnya ini bukanlah kesalahan, ini adalah takdir.
"Ayah jangan minta maaf mulu, selagi ayah belum sembuh nindi gak bakalan maafin ayah" Katanya.
Lelaki tua itu tersenyum mendengar ucapan anak tunggalnya, ia merasa sangat bersyukur membesarkan nindi menjadi wanita yang sangat tangguh dan berhati baik.
"Kalo ayah udah gak bisa, jangan di usahain lagi, biarin ayah pergi" katanya
"Terus ayah biarin nindi sendirian di dunia ini?"
"Setidaknya jerih payahmu gak habis buat ngobatin ayah, ayah malu" Katanya.
"Ayah lupa ayah yang udah nyekolahin nindi sampek sarjana?"
"Inget" Balasnya.
"Yaudah dong sekarang biarin nindi bales semuanya, nindi sayang ayah, nindi gak mau kehilangan satu satunya keluarga yang nindi punya, jangan tinggalin nindi yah" Tiba tiba gadis itu terisak pelan, ia merunduk memeluk sang ayah pada dadanya.
Percakapan seperti inilah yang selalu membuatnya lemah, namun biasanya ia mampu menahan tangis, mungkin karena tubuhnya sangat lelah nindi hanya membiarkan ayahnya melihat sisi rapuh nya
"Jangan nangis"
"Jangan tinggalin nindi yah" isaknya lagi.
"Iya enggak"
...****************...
David menghampiri ayahnya yang sedang berada dalam panggilan telepon.
"Oke oke nanti saya kabarin lagi ya?"
Surya tampak mematikan teleponnya dan beralih pada putra semata wayangnya itu.
"Dave? udah pulang" Tanyanya basa basi.
David mengangguk singkat untuk membalas pertanyaan sang ayah.
"Kenapa nih kok lesu?" Tanyanya.
"Sebenernya Dave pengen minta sesuatu sama papa" Katanya
"Sesuatu apa? kok serius banget?"
"Aku pengen ngerekrut seseorang buat jadi sekertaris pribadi aku" Katanya.
Surya tampak terkejut dengan keinginan anaknya yang tak biasa, siapa yang membuat putranya seperti ini?
"Kamu bercanda? kita kan sudah ada Sarah, dari awal papa nunjuk dia jadi sekertaris kantor Dave" Ujarnya.
"Aku tau pa, apa salahnya kita punya 2 sekertaris, lagian nindi juga makin mempermudah kerja aku" Balasnya.
"Nindi?" Tanya Surya bingung.
"Calon sekertaris pilihan aku" Lanjutnya.
"Tapi gimana sama Sarah?"
"Kita masih bisa pakai Sarah, biar nindi yang bantu kerja aku lebih banyak, please pa, selama ini David gak pernah minta apa apa kan selain ini?"
Surya menggeleng pelan, entah apa yang membuat nindi begitu spesial di mata putranya, namun ia dapat merasakan bahwa David sangat serius dengan ucapannya.
"Asal kamu mau janji sama papa, jangan main main sama kerjaan" Pinta Surya.
"Janji pa, David janji!" Ucapnya semangat.
Surya mengangguk tanda menyetujui permintaan putranya.
"Makasih banyak pa, makasih!"
...****************...
"Sekertaris?" Nindi mengulangi ucapan wanita yang berada di depannya ini.
"Bukan saya yang ngasih jabatan ini, bukan juga pak David, tapi langsung dari pak Surya" Katanya.
Nindi termenung, bahkan belum satu minggu dirinya bekerja namun ia sudah mendapatkan jabatan seperti ini.
"Ini kesempatan buat kamu, kamu pasti tau kan artinya kalau gaji kamu juga gak sama, jangan di tolak, kalau bingung sebenernya saya juga ikut bingung, kita udah punya sekertaris kantor di sini, tapi tiba tiba pak Surya meminta sekertaris khusus untuk pak David, jadi anggap aja ini rejeki kamu" Ungkapnya panjang lebar.
Nindi mengangguk ragu, "Terimakasih bu marwa" Ucapnya.
"Iya kamu boleh pergi" Katanya.
Nindi pun berpamitan pergi setelahnya.
...****************...
Nindi menceritakan pada mira kenapa tiba tiba HRD mereka memanggilnya pagi pagi sekali.
"Jadi lo beneran jadi sekertaris pak David, hebat banget!" Heboh mira.
Ia bukan tak bahagia mendapat jabatan tinggi, siapa orang yang tak suka memiliki banyak gaji, namun nindi merasa ini hanyalah cara David untuk semakin mengerjainya, apakah laki laki itu sengaja membuatnya merasa tak nyaman?
"Selamat ya nin" Ucapnya tulus.
Nindi tersenyum, senyum terpaksa, ia tak mungkin menceritakan tentang masalalu yang terkesan tak baik pada mira tentang duitnya dan David.
"Makasih mira" Balasnya.
"Jujur gue iri banget, padahal lo belum aja seminggu kerja, emang kalo rejeki gak kemana ya nin" ujar mira polos.
"Lo gak tau aja" Gumam nindi lirih.
Dari kejauhan mira melihat Sarah berjalan ke arah meja mereka, ia pun memberi isyarat pada nindi.
"Nindi?" Panggil sarah.
"Kamu yang namanya nindi?" Tanyanya.
"I-iya bu" Jawabnya gugup.
Sarah mengangguk angkuh, "Saya perlu bicara sama kamu" Katanya.
"Boleh"
"Kamu ikut Saya" Ajaknya berjalan mendahului nindi.
Nindi melirik ke arah mira, gadis itu tampak mengisyaratkan nya untuk berhati hati, nindi mengangguk dan mengikuti arah kemana Sarah pergi.
Sarah membawa nindi keruangannya, wanita itu tampak seperti biasanya, berpakaian seksi dan terlihat angkuh.
"Saya baru tau hari ini kamu jadi sekertaris nya David" Katanya.
Nindi mengangguk membenarkan, "Iya Bu"
"Kamu pasti seneng kan udah naik jabatan" Katanya.
Nindi terdiam, ia mengerti maksud sarah berkata demikian.
"Saya cuma mau ngingetin kamu, bahwa sejak awal sayalah sekertaris utama di sini, jadi jangan karena kamu di tunjuk jadi sekretaris David kamu merasa spesial" Katanya.
"Saya gak pernah berfikir begitu buk"
"Udahlah nin, jangan munafik, Saya Terima posisi kamu, tapi saya perlu ingetin kamu bahwa Saya adalah sekretaris utama di sini, kamu juga tetap harus di bawah pengamatan Saya, dan asal kamu tau kalo saya ini adalah calon istri David, kami di jodohkan" Ucapnya percaya diri.
"Saya tau" Jawab nindi.
"Ya baguslah kalo kamu tau, Saya bakalan terus ngawasin kamu, jangan pernah kamu berharap bisa gantiin posisi Saya sepenuhnya, karena Saya rasa itu gak mungkin terjadi"
"Baik" Nindi menjawab patuh dan mengangguk sopan, tak lama kemudian sarah mengisyaratkannya untuk pergi.
"Saya nyari kamu kemana mana"
Nindi mendongak saat mendengar suara David, angan angan bodoh untuk tidak bertemu pria ini pasti mustahil terjadi, bahkan sepertinya David akan mengikutinya sampai ke lubang tikus sekalipun.
"Ada apa pak?" Tanyanya ramah.
"Cukurin jenggot Saya"
"HAH?!"