Rose Moore, seorang desainer perhiasan elit di Boston yang sukses dan cantik, mendapati dunianya hancur tepat di malam perayaan ulang tahun pernikahannya yang ke-2. Suaminya, Asher Hudson, seorang Direktur Pemasaran terpandang, ternyata telah menikah siri selama tiga bulan dengan wanita bernama Mia Ruller atas paksaan orang tuanya. Alasan keji di baliknya: Rose dianggap "tidak suci" karena masa lalunya yang yatim piatu dan tidak perawan, sementara keluarga Hudson menuntut ahli waris dari darah yang mereka anggap "murni".
Alih-alih menangis dan meminta cerai, Rose yang terluka memilih jalan yang lebih dingin, ia menerima pernikahan tersebut hanya demi mempertahankan status hukumnya. Ia bertekad menyiksa Asher secara mental, menguasai hartanya, dan menghancurkan reputasi keluarga Hudson yang sombong dari dalam.
Namun, rencana balas dendam Rose tergoncang saat ia secara tak sengaja bertemu kembali dengan Nikolai Volkov, kekasih masa SMA-nya dari Texas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Pagi itu, aroma kopi hitam dan roti panggang mentega memenuhi ruang makan keluarga Volkov di Saint Petersburg. Cahaya matahari musim dingin yang pucat menembus jendela, memantul di atas meja kayu oak tempat Nikolai duduk dengan kening berkerut, menatap layar tabletnya.
"Kadar gula darahnya naik lagi, dan tekanan jantungnya tidak stabil. Dia menolak dirawat di rumah sakit swasta, dia ingin tetap di mansion," gumam Nikolai pelan, suaranya berat dan penuh ganjalan.
Rose, yang sedang menuangkan susu hangat untuk Theodore, meletakkan tekonya perlahan. Ia duduk di samping suaminya, menyentuh punggung tangan Nikolai dengan jemarinya yang lembut. "Nik, dia sudah tua. Delapan puluh tahun bukan usia yang mudah untuk menanggung beban emosional sebesar itu sendirian."
Theo terdiam, sendok sereal di tangannya tertahan di udara. Ini bukan pertama kalinya dalam minggu ini ia mendengar ayahnya membahas kesehatan sang kakek, Viktor Volkov, di Texas. Padahal, selama belasan tahun, nama itu adalah tabu. Namun belakangan ini, entah karena faktor usia atau rasa bersalah yang mulai menggerogoti, Nikolai mulai memantau kondisi ayahnya lewat informan rahasia.
"Aku tidak peduli pada hartanya, Rose. Tapi melihatnya sekarat dalam kesendirian yang ia ciptakan sendiri... itu membuatku merasa seperti pria jahat," Nikolai mendesah, menyandarkan kepalanya di bahu Rose.
Rose tersenyum tipis, mengelus rambut Nikolai yang mulai memutih di bagian samping. "Kau bukan pria jahat, Nik. Kau hanya seorang putra yang terluka. Jika kau ingin mengirimkan pesan atau bantuan medis terbaik dari sini, lakukanlah. Jangan biarkan penyesalan menjadi bebanmu di masa depan."
Theodore menatap pemandangan di depannya dengan rasa haru. Ia melihat bagaimana ibunya, yang dulu dihina dan diracuni oleh keluarga Hudson dan Volkov, kini menjadi satu-satunya pelabuhan bagi ayahnya yang tangguh. Cinta mereka adalah bukti bahwa ketulusan bisa mengalahkan badai sehebat apa pun.
Namun, di tengah kehangatan itu, tiba-tiba sebuah bayangan melintas di benak Theo.
Bukan bayangan Stevie yang sedang merajuk atau tertawa manja, melainkan bayangan sepasang mata teduh milik Felicya Thompson. Mata yang kemarin menatapnya dengan pengertian yang begitu dalam di ambang pintu kelas. Mata yang seolah-olah mengerti beban yang dirasakan Theo tanpa perlu sepatah kata pun terucap.
Deg.
Jantung Theo berdegup dengan ritme yang aneh. Ia merasa ada sesuatu yang salah. Kenapa di saat ia melihat keharmonisan orang tuanya, wajah Felicya yang muncul, bukan Stevie?
Theo segera menggelengkan kepalanya dengan kuat, mencoba mengusir bayangan itu. Ia kembali menyuap serealnya dengan terburu-buru, mencoba bersikap normal.
Ketajaman insting Rose sebagai seorang ibu tidak bisa dibohongi. Ia menyadari perubahan raut wajah putranya dan gerakan kepalanya yang aneh.
"Ada apa, Theo? Kenapa menggelengkan kepala begitu?" tanya Rose dengan nada lembut namun menyelidik. "Apa serealnya tidak enak? Atau kau sedang memikirkan sesuatu yang mengganggumu?"
Nikolai pun ikut menoleh, menatap putranya dengan tatapan tajam yang protektif. "Apa ada masalah di sekolah? Apa anak-anak kerajaan itu mengganggumu lagi?"
Theo tersentak. Ia meletakkan sendoknya dan mencoba tersenyum senatural mungkin. "Oh... tidak, Mom. Tidak ada apa-apa. Aku hanya... aku hanya sedang memikirkan masalah debat sekolah bulan depan. Ya, itu saja."
"Debat?" Rose mengernyitkan dahi. "Bukankah kau biasanya sangat percaya diri dengan hal-hal seperti itu?"
"Tantangannya sedikit berbeda kali ini, Mom," jawab Theo, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Topiknya tentang etika bisnis global dan suksesi keluarga. Agak berat, dan aku harus bekerja ekstra keras karena pasanganku adalah Felicya. Dia punya standar yang sangat tinggi."
Nikolai mengangguk paham. "Felicya Thompson? Gadis yang kau ceritakan itu? Baguslah. Jika dia punya standar tinggi, artinya kau akan dipaksa untuk melampaui batasmu. Itu latihan yang bagus untuk masa depanmu."
"Iya, Ayah. Aku hanya sedikit... gugup karena kami akan mulai latihan intensif minggu ini," dusta Theo. Ia merasa sedikit bersalah karena tidak menyebutkan bahwa kegugupannya bukan karena debat itu sendiri, melainkan karena getaran aneh yang ia rasakan setiap kali memikirkan gadis bermata teduh itu.
Rose menatap Theo dengan tatapan yang sulit diartikan. Sebagai wanita yang pernah melewati drama cinta yang rumit, ia bisa merasakan ada sesuatu yang lebih dari sekadar "proyek sekolah" di mata putranya. Namun, ia memilih untuk diam dan memberikan ruang bagi Theo.
"Jangan terlalu memaksakan diri, sayang," ucap Rose sambil mengusap tangan Theo. "Stevie juga pasti akan mengerti kalau kau sibuk latihan."
"Iya, Mom. Stevie sudah tahu," jawab Theo singkat.
Pagi itu berakhir dengan keberangkatan Theo ke sekolah. Di dalam mobil jemputannya, Theo menatap keluar ke arah salju yang mulai mencair. Ia mencoba memfokuskan pikirannya pada Stevie, pada janji makan malam mereka besok, dan pada kehangatan yang mereka miliki.
Namun, setiap kali ia memejamkan mata, suara tenang Felicya kembali terngiang.
"18 tahun adalah awal dari tanggung jawab yang besar..."
Theodore menyadari bahwa badai yang sesungguhnya mungkin bukan datang dari kakeknya di Texas, melainkan dari dalam hatinya sendiri. Ia sedang berdiri di persimpangan antara kenyamanan yang ia miliki bersama Stevie, dan sebuah koneksi jiwa yang tak terduga yang mulai tumbuh bersama Felicya.
Dan di Texas, Viktor Volkov yang sedang terbaring lemah, memegang sebuah foto satelit buram dari sebuah rumah di Saint Petersburg. Ia tidak tahu bahwa cucunya sedang mengalami pergolakan batin yang sama dengan yang pernah dialami ayahnya dulu: memilih antara logika, komitmen, dan getaran hati yang tak bisa dijelaskan.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰