Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04
"Nona, saya harap dengan melihat bagaimana murkanya Tuan Arya anda bisa mengerti dan bekerja sama. Ini demi kebaikan anda dan ayah anda." Rio berjongkok di sisi Nadia kemudian memberikan map merah yang berisi kontrak. Rio tau sakali bahwa stok kesabaran tuannya tidak banyak. " Silahkan anda tanya tangan."
Keraguan kembali menghampiri Nadia, ia berpikir cepat. Di sisa hidup ayahnya, dia masih ingin melindunginya. Terlepas dari sikap buruknya di masa lalu pada sang ibu.
Dengan tangan gemetar, Nadia terpaksa mengambil pena yang Rio berikan. Dia akhirnya menandatangani perjanjian itu, ia sebenarnya tidak mau tapi apa boleh buat ini adalah satu-satunya jalan keluar.
Cita-cita untuk menikah dengan pria yang dia cintai pupus sudah. Sekarang dia justru akan menjadi istri kontrak CEO yang kasar dan tempramental.
"Segera urus sisanya!" Arya pergi, membanting pintu di belakangnya tepat setelah perjanjian itu di tandatangani oleh Nadia. Tubuh tegapnya itu kembali menghilang di balik tembok.
Rio mengangguk kemudian mengalihkan perhatiannya pada Nadia. " Mari nona, saya antar Anda untuk mengurus dokumen pernikahan dengan tuan." Ia mengulurkan tangannya berniat membantu Nadia berdiri.
Nadia menatap uluran tangan itu, ia menggeleng pelan seraya menatap ayahnya. Ada hal yang lebih penting dibandingkan pernikahan ini.
"Anda tenang saja, sebentar lagi akan ada orang yang mengurus pemakaman ayah anda. Mari," ujar Rio seolah mengerti kekhawatiran wanita di depannya. Meski wajahnya terlihat tanpa ekpresi, namun suaranya terdengar lembut.
"Saya mohon, saya ingin memastikan ayah di urus dengan layak. Setelah itu saya akan mengikutimu."
Rio menghela napasnya, sepertinya ia harus menambah stok kesabaran untuk mengurus wanita ini. Karena jika dia menggunakan cara kasar tidak menutup kemungkinan wanita ini akan kabur lagi dan tentu saja itu akan menimbulkan masalah baru.
"Masuk! Urus mayat tuan Hermawan dengan layak," ucap Rio, berbicara dengan seseorang melalui benda yang terpasang di telinganya.
Tak lama kemudian, beberapa orang masuk ke dalam ruangan, mereka segera membopong mayat ayah Nadia yang semakin pucat. Mayat itu segera dibawa pergi.
"Bisa kita berangkat sekarang, nona?"
Nadia mengangguk, dengan berat hari dia harus mengikuti aturan suami kontaknya. Hanya dalam sekejap mata, statusnya berubah menjadi istri dari Arya Dirgantara.
.....
Nadia melangkah perlahan keluar dari balik tirai, gaun putih yang melekat di tubuh rampingnya begitu pas. Rambut panjangnya di tata sedemikian rupa dengan beberapa hiasan yang menambah keindahan. Wajah polosnya tak lupa di rias membuatnya wajahnya yang menarik semaki mempesona.
Perihal dokumen pernikahan sudah selesai diurus, kini hanya perlu mengambil foto pernikahan seperti yang Rio jelaskan.
"Tuan.." Rio terpaku melihat keindahan wanita yang tertangkap matanya.
"Ada apa?" tanya Arya heran melihat asisten nya sekarang. Apa yang membuatnya sampai seperti itu?
Detik berikutnya, Arya mengalihkan atensinya dari majalah yang sedari tadi jadi perhatiannya. Tatapan matanya mengikuti arah pandang Rio.
Sama seperti Rio, Arya terpaku. Matanya tidak berkedip, jantungnya seolah berhenti berdetak begitu matanya melihat sosok yang ada di depan sana. Wajahnya yang cantik, selaras dengan gaun indah dan riasan yang menempel pada wajahnya.
Wanita yang sebelumnya memakai seragam minimarket dengan wajah polos itu kini berubah seperti bidadari yang begitu menawan.
"Silahkan nona." Seorang wanita yang merupakan pemilik butik meminta Nadia untuk melanjutkan kembali langkahnya yang sempat terhenti. Wanita itu meraih tangan Nadia dan menuntunnya menuju dia pria yang berada di depan sana.
"Taun Dirgantoro, ini adalah calon istri anda." Wanita itu mengulurkan tangan Nadia, berharap Arya akan menyambutnya.
Tidak ada pergerakan apapun.
Arya masih terpaku, terpukau akan keindahan yang baru ia lihat. Dia seolah kehilangan kendali atas tubuhnya.
"Tuan.." panggil wanita itu untuk kedua kalinya.
"Sangat cantik," puji Arya tanpa sadar.
Wanita itu beradu pandang dengan Nadia, kemudian tersenyum. Nadia menundukkan wajahnya, malu melihat calon suaminya yang terdiam di tempat dengan mulut sedikit menganga.
"Tuan, sadar air liur anda hampir menetes," canda wanita itu sambil menutup mulutnya, ia menyembunyikan tawa agar tidak menyinggung perasaan tamu istimewanya ini.
Arya tersadar, dia segera menutup mulutnya kemudian mengusap ujung bibirnya. Tak ada apapun di sana, wajahnya merah merona. Siap, dia dikerjai.
Di saat yang sama, Rio juga mendapatkan kembali kesadarannya. Dia segera menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena telah jatuh dalam pesona calon istri tuannya sendiri.
"Baik tuan, ini adalah calon istri anda." Wanita itu kembali mengingatkan.
Arya terdeham." Bawa dia ke ruangan sebelah!"
Arya menetralkan perasaannya, jujur saja dia merasa gugup sekarang. Bahaya, bagaimana bisa wanita ini berhasil membuatnya kehilangan fokus?
Pria itu kembali memasang wajah angkuh,kemudian berbalik menuju ruangan pemotretan. Tangannya mengepal erat, berusaha menenangkan jantungnya yang seolah ingin melompat keluar dari tempatnya. Dengan gugup dia membenahi dasi yang terasa mencekik lehernya.
Rio mempersilahkan Nadia untuk menyusul Arya. Dia meraih tangan gadis itu dan menuntunnya supaya tidak terjatuh.
Dari belakang, dua orang lain yang merupakan pegawai butik membantu mengangkat bagaimana belakang gaun Nadia yang cukup panjang.
"Maaf, ponsel anda berdering." Seorang pegawai butik mendekat, menyerahkan benda pipih di tangannya pada Nadia.
"Saya permisi."
Wanita itu pergi begitu saja sebelum Nadia menyesuaikan langkahnya, ia tidak terbiasa memakai sepatu hak tinggi sehingga keseimbangannya terganggu.
"Hati-hati." Mario dengan sigap menangkap tubuh Nadia dan mendekapnya dengan erat. Tubuh mereka bersentuhan, menimbulkan getaran luar biasa dalam pria berwajah datar itu. Matanya tertuju pada wajah cantik Nadia,kemudian tatapannya turun memperhatikan bibir Nadia.
"Ma-maaf." Rio melepaskan diri, segera menarik tangannya dari pinggang ramping Nadia. Ia segera menjauh begitu Nadia berhasil berdiri dengan stabil di tempatnya. Pria itu berusaha menguasai diri.
"Tolong ambilkan sepatu lain, nona Nadia tidak nyaman dengan sepatu ini." Titah Mario, ia memalingkan wajahnya mengenyahkan pikiran liarnya.
Beberapa menit kemudian catatan sipil menghubungi pihak Arya, mengatakan bahwa dokumen pernikahan telah selesai. Kini, Nadia Winata resmi menjadi nyonya Dirgantara. Petugas catatan sipil bekerja dengan cepat, seolah mereka akan tamat jika tidak menuruti kemauan Arya Dirgantara. Sepatah kata dari Arya, layaknya Raja yang berkuasa.
"Tuan, kita bisa mulai pemotretannya sekarang." Rio mendekat ke arah tuannya.
"Lakukan dengan baik, jika hasilnya buruk, ini akan menjadi hari terakhir mu!"
"Baik tuan." Mario menundukkan kepalanya. Ia tau konsekuensi pekerjaannya. Gaji yang tidak sedikit sebanding dengan resikonya. Salah sedikit saja, ia akan kehilangan pekerjaan. Yang lebih parah, ia akan kehilangan nyawanya.
Nadia dan Rio berdiri di tempatnya yang sudah di sediakan. Dekorasi yang cantik di susun sedemikian rumah sebagai latarnya, menampilkan sisi indah yang mengagumkan.
"Silahkan Pengantin berdiri berdampingan."
Baik Nadia maupun Arya menuruti sang fotografer.
"Tolong lebih dekat lagi." Fotografer kembali mengarahkan Nadia dan Arya.
Keduanya menipiskan jarak, namun tetap terlihat renggang. Terlihat tak ada kedekatan antara keduanya. Arya terlihat lebih gugup dari Nadia. Untung saja dia berdiri satu langkah di belakang gadis itu, jadi gadis itu tidak bisa melihat wajah tegang nya.
"Tuan, tolong lebih santai." Ucap sang fotografer sambil terus memotret kedua mempelai.
Mendengar ucapan sang fotografer membuat Nadia menoleh ke arah Arya. Ia penasaran seperti apa ekspektasi pria itu sekarang.
"Apa yang kamu lihat?"