Yang Chi, seorang mahasiswi sekaligus penulis novel amatir, terbangun di dalam dunia ceritanya sendiri setelah menyelesaikan bab tragis tentang kematian sang Permaisuri, Yang Nan. Namun, bukannya menjadi pahlawan, ia justru terjebak dalam tubuh Xiao Xi Huwan, putri dari kerajaan tetangga sekaligus antagonis utama yang baru saja membunuh Permaisuri tersebut.
Kini, Yang Chi harus berhadapan dengan murka Kaisar Long Wei, pria yang seharusnya menjadi pelindung permaisurinya namun kini bersumpah akan memenggal kepala Xiao Xi dengan tangannya sendiri. Berbekal pengetahuannya sebagai penulis tentang rahasia istana dan plot masa depan, Yang Chi harus memutar otak untuk membersihkan namanya, menghindari hukuman mati, dan mengungkap konspirasi gelap yang ternyata jauh berbeda dari apa yang ia tulis di atas kertas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Basah Kuyup di Balik Punggung Kaisar"
Melihat posisinya semakin terdesak karena Yang Chi membocorkan rahasia besar tentang sabotase logistik, Li Xuan memberikan isyarat mata yang halus kepada salah seorang pengawal pribadi di sudut ruangan.
Pengawal itu, yang ternyata adalah anggota organisasi Burung Gagak, langsung menghunus belati beracun dari balik seragamnya.
"Mati kau, wanita pembawa sial!" teriak pengawal itu sambil melesat ke arah Yang Chi.
"Aaaaa! Ada pembunuh!" jerit Yang Chi spontan. Ia refleks bersembunyi di balik punggung lebar Long Wei, menarik tangan sang Kaisar yang terikat tali sutra bersamanya.
Sret!
Long Wei dengan sigap berdiri. Meski tangannya terikat dengan Yang Chi yang terus gemetar ketakutan di belakangnya, gerakan Long Wei tetap mematikan. Dengan tangan yang bebas, ia mencabut pedang dari pinggangnya dan menangkis belati tersebut hingga terpental.
Ting!
"Berani sekali kau mengayunkan senjata di hadapanku!" geram Long Wei. Dengan satu tendangan kuat, ia membuat pembunuh itu tersungkur ke lantai.
Suasana rapat menjadi kacau. Li Xuan berpura-pura terkejut. "Baginda! Lindungi diri Anda! Sepertinya Xiao Xi membawa penyusup ke sini!"
"Penyusup matamu, Om! Itu anak buahmu sendiri!" sahut Yang Chi dari balik punggung Long Wei, masih dengan gaya cerewetnya yang khas mahasiswa tahun ini.
Long Wei menatap tajam ke arah Li Xuan, lalu beralih ke pembunuh yang sudah tak bernyawa karena menelan racun di giginya sendiri. "Bawa pengawal ini dan periksa pundaknya!" perintah Long Wei pada Jenderal lain.
Saat diperiksa, benar saja—ada tato Burung Gagak di sana.
Ruangan itu menjadi sangat sunyi. Long Wei berbalik menatap Yang Chi yang masih memegangi jubah belakangnya erat-erat.
"Kau..." Long Wei menatap Yang Chi dengan tatapan yang sulit diartikan. "Bagaimana kau bisa tahu rencana mereka sampai sedetail itu?"
Yang Chi menelan ludah. "Eee... itu... saya kan bisa ramal, Baginda! Di duniaku saya ini juru ramal kelas kakap!" jawab Yang Chi asal-asalan sambil tersenyum canggung.
Long Wei mendengus, namun kali ini ia tidak melepaskan tangan Yang Chi. Ia menarik tali sutra merah itu hingga tubuh Yang Chi mendekat padanya. "Mulai sekarang, kau tidak boleh jauh dariku lebih dari satu jengkal. Jika ada yang mencoba membunuhmu lagi, mereka harus melewati pedangku dulu."
Yang Chi tertegun. Waduh, ini kok vibe-nya jadi sperti bodyguard pribadi ya? Tapi ya sudahlah, yang penting aman dari si Paman licik itu, batin Yang Chi lega.
Li Xuan hanya bisa mengepalkan tangan di balik jubahnya. Rencananya gagal total, dan sekarang posisi Xiao Xi di mata Long Wei justru menjadi sangat penting.
Setelah ketegangan di ruang rapat mereda, mereka kembali ke kamar pribadi Kaisar. Long Wei tampak lebih waspada dari sebelumnya; ia bahkan memendekkan tali sutra merah itu hingga jarak di antara mereka kini hanya tersisa setengah meter.
Sesampainya di depan bilik pemandian yang uap air hangatnya sudah mengepul, Yang Chi mulai merasa kikuk.
"Kaisar... apakah saya harus ikut mandi juga?" tanya Yang Chi dengan wajah yang sudah merah padam. "Maksud saya, kalau tangannya masih diikat begini, nanti Tuan susah sabunannya, lho."
Long Wei berhenti melangkah. Ia menatap Yang Chi dengan tatapan datar namun tajam. "Jangan bercanda, Xiao Xi. Aku tidak sudi mandi bersama wanita yang belum jelas asal-usul jiwanya."
Sret!
Long Wei melepaskan ikatan tali itu dari pergelangan tangannya sendiri, namun ujung tali yang satu lagi tetap melilit kuat di tangan Yang Chi.
"Ayo ikut masuk," perintah Long Wei tegas.
"Eh?! Tapi tadi katanya nggak sudi?" seru Yang Chi bingung.
"Kau harus berada di bawah pengawasanku. Jika aku membiarkanmu di luar, Li Xuan bisa mengirim orang untuk membungkammu selamanya," jawab Long Wei sambil menarik ujung tali itu, memaksa Yang Chi masuk ke area kolam air panas yang luas dan mewah.
Long Wei menunjuk sebuah kursi kayu kecil yang terletak di sudut depan kolam, tepat di posisi di mana ia bisa melihat Yang Chi dengan jelas saat ia berendam.
"Kau, duduk di sana. Jangan berbalik, jangan menutup mata, dan jangan mencoba lari," ucap Long Wei sambil mulai melepas jubah luarnya.
Yang Chi langsung duduk kaku seperti patung, menatap lurus ke arah tembok seberang dengan wajah yang semakin memanas. "Ba-baik, Baginda! Tapi saya tidak akan mengintip kok! Sumpah! Di duniaku, mengintip orang mandi itu bisa kena sensor!"
Long Wei tidak mempedulikan ocehan aneh Yang Chi. Ia melangkah masuk ke dalam kolam air panas dengan suara air yang gemericik. Uap air yang tebal sedikit menyamarkan pemandangan, namun suasana sunyi di ruangan itu membuat Yang Chi bisa mendengar setiap gerak-gerik Long Wei.
Aduh, ini jantung kenapa lari maraton sih? batin Yang Chi. Tenang Yang Chi, fokus! Kamu penulisnya, kamu sudah tahu bentuk tubuh tokoh utama ini di imajinasimu... tapi aslinya ternyata lebih... ah, sudahlah!
Tiba-tiba, suara Long Wei memecah keheningan. "Xiao Xi, katakan padaku... Jika kau benar-benar bisa 'meramal', apa yang akan dilakukan Li Xuan selanjutnya setelah kegagalannya hari ini?"
Yang Chi tertegun. Ia mencoba mengingat alur novelnya. "Dia... dia akan mencoba memfitnah kerajaan ayahmu—kerajaan tetangga—agar Anda segera mendeklarasikan perang. Dia ingin kekacauan terjadi supaya dia bisa mengambil alih tahta saat Anda berada di medan perang."
Long Wei terdiam lama di dalam air, hanya matanya yang terlihat mengawasi Yang Chi dari balik uap. "Kau seolah-olah tahu isi kepalanya."
"Bukan cuma isi kepalanya, Tuan," gumam Yang Chi pelan, "aku bahkan tahu setiap tahi lalat di tubuh pemeran di sini karena aku yang bikin... eh, maksud saya, ramalan saya sangat akurat!"
Long Wei bangkit sedikit dari kolam, membuat air tumpah ke pinggiran. "Kalau begitu, ramalkan satu hal lagi. Apakah aku akan selamat dari pengkhianatan ini?"
Yang Chi menoleh sedikit, tak sengaja melihat bahu lebar Long Wei yang basah terkena uap. Ia segera membuang muka lagi. "Tuan akan selamat... asalkan Tuan percaya padaku. Dan mungkin... asalkan Tuan tidak terlalu galak padaku."
Tok tok tok!
"Long Wei, Anakku? Apa kau sudah di dalam?" Suara lembut namun berwibawa itu menggema dari balik pintu kamar. Itu adalah Ibu Suri, ibu kandung Long Wei.
Long Wei langsung menegang di dalam air. Ibunya adalah orang yang sangat menjunjung tinggi tata krama istana. Jika beliau melihat musuh bebuyutan kerajaan sekaligus tersangka pembunuh permaisuri berada di dalam bak mandi pribadi Kaisar, habislah sudah.
"Xiao Xi! Cepat masuk!" bisik Long Wei dengan nada mendesak.
Yang Chi melongo panik, ia berdiri dari kursinya sambil memegang tali yang masih melilit di tangannya. "Masuk? Masuk ke mana, Kaisar? Ke lemari lagi?"
"Ke kolam! Sekarang juga!" perintah Long Wei sambil menarik tali sutra itu dengan kuat.
"Eh? Tapi saya kan pakai baju lengkap! Nanti basah semua—"
"Masuk atau kupenggal!"
Tanpa sempat protes lagi, Yang Chi terpaksa melangkah masuk ke dalam kolam air panas yang luas itu. Byur! Air hangat langsung meresap ke dalam jubah sutranya, membuatnya terasa sangat berat.
"Masuk lebih dalam, sembunyi di balik punggungku dan uap air ini!" perintah Long Wei lagi.
Perlahan tapi pasti, Yang Chi menenggelamkan tubuhnya hingga hanya sebatas hidung, bersembunyi tepat di belakang tubuh tegap Long Wei. Uap panas yang mengepul tebal membantu menyamarkan keberadaannya.
"Masuklah, Ibu," jawab Long Wei dengan suara yang berusaha tenang.
Pintu pemandian terbuka sedikit. Ibu Suri melangkah masuk dengan anggun, namun hanya berdiri di balik tirai tipis agar tetap menjaga kesopanan.
"Long Wei, Ibu dengar dari Li Xuan kau membawa Putri Xiao Xi ke kamarmu? Apa itu benar? Nak, dia itu wanita berbahaya, kenapa tidak segera kau hukum mati saja?" tanya Ibu Suri dengan nada cemas.
Yang Chi yang berada di dalam air langsung menahan napas. Jantungnya berdegup kencang hingga air di sekitarnya seolah ikut bergetar. Ia bisa merasakan punggung hangat Long Wei bersentuhan dengan dadanya karena jarak mereka yang sangat rapat di dalam kolam.
Long Wei berdeham, mencoba mengalihkan perhatian ibunya. "Itu hanya rumor, Ibu. Saya membawanya untuk interogasi rahasia. Dia memiliki informasi tentang organisasi gelap. Ibu tidak perlu khawatir, saya tahu apa yang saya lakukan."
"Tapi tetap saja, Nak. Menginapkannya di kamarmu akan menjadi skandal besar..." Ibu Suri mulai mendekat ke arah kolam.
Yang Chi panik. Jika Ibu Suri maju dua langkah lagi, dia pasti akan melihat rambut Yang Chi yang mengapung di air. Secara refleks, Yang Chi menarik jubah bawah Long Wei di dalam air, memberi kode agar Long Wei melakukan sesuatu.
Long Wei tersentak karena tarikan itu. "Ibu! Maaf, saya sedang tidak memakai pakaian... rasanya kurang sopan jika Ibu terus di sini," ucap Long Wei dengan nada sedikit tegas namun sopan.
Ibu Suri terhenti. "Ah, maafkan Ibu. Ibu hanya terlalu khawatir. Baiklah, selesaikan mandimu. Kita bicara lagi di meja makan nanti."
Begitu suara pintu tertutup dan langkah kaki Ibu Suri menjauh, Yang Chi langsung muncul ke permukaan, terengah-engah mencari udara.
"Hah... hah... hampir saja saya mati tenggelam!" seru Yang Chi sambil mengusap wajahnya yang basah kuyup. "Tuan, baju saya basah semua! Bagaimana saya keluar dari sini tanpa terlihat seperti kucing kecebur got?"
Long Wei berbalik, menatap Yang Chi yang jubahnya kini menempel ketat di tubuhnya karena basah. Suasana yang tadinya tegang tiba-tiba berubah menjadi sangat canggung.
"Kau..." Long Wei membuang muka, wajahnya sedikit memerah. "Cepat keluar dan ganti pakaianmu dengan jubahku di sana. Dan jangan berani-berani mengeluh lagi!"