Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menontonmu
Hari yang dinanti-nantikan oleh ribuan penggemar akhirnya tiba. Seoul seolah bergetar oleh energi yang dipancarkan dari arah stadion. Takara berdiri di depan cermin, memastikan pakaiannya cukup nyaman untuk menghadapi lautan manusia. Ia memilih mengenakan oversized t-shirt putih, celana kargo hitam, dan sepatu kets yang solnya empuk. Rambutnya diikat kuda tinggi agar tidak gerah.
Saat ia keluar dari unitnya, Arlo sudah menunggu di koridor. Pria itu mengenakan jaket denim gelap dan kaus hitam polos, rambutnya ditata sedikit acak namun justru memberikan kesan maskulin yang sangat kuat.
"Kamu... benar-benar siap ya," gumam Arlo, matanya menyapu penampilan Takara yang terlihat segar dan penuh semangat.
"Ayo! Kita nggak boleh telat, antreannya pasti gila-gilaan," seru Takara.
Di dalam mobil menuju lokasi konser, Arlo melirik ke kursi belakang. Di sana terdapat sebuah tas kain berisi berbagai pernak-pernik. Matanya menangkap sebuah benda berbentuk unik dengan lampu di dalamnya.
"Kamu bawa lightstick juga?" tanya Arlo sambil terkekeh pelan, sedikit terkesima melihat sisi "penggemar" dari rekan kerjanya yang biasanya sangat serius itu.
Takara tertawa kecil, pipinya sedikit merona. "Haha, iya... aku itu sahabat yang supportive, Arlo. Biarpun dia sering nyebelin, prestasinya tetep harus dirayain. Aku bahkan beli semua versi albumnya, lho. Disimpen rapi di Brisbane."
Arlo mengangguk-angguk, merasakan ada ketulusan yang luar biasa dalam suara Takara. "Jake benar-benar beruntung. Di saat semua orang mencintai 'sosok idol'-nya, dia punya kamu yang mencintai 'dirinya' sejak belum jadi apa-apa."
Sesampainya di stadion, keadaan benar-benar crowded seperti dugaan Takara. Ribuan orang membawa spanduk, mengenakan atribut grup, dan meneriakkan nama-nama member. Arlo dengan sigap memasang posisi "pelindung". Ia berjalan sedikit di depan Takara, menggunakan bahunya yang lebar untuk membuka jalan di tengah kerumunan agar Takara tidak tergencet.
"Pegang ujung jaketku kalau takut terpisah," instruksi Arlo dengan nada protektif.
Takara menurut, ia mencengkeram ujung jaket denim Arlo erat-erat. Saat mereka akhirnya sampai di barisan VVIP, posisi mereka sangat dekat dengan panggung utama. Jantung Takara mulai berdegup kencang. Ia bisa mencium aroma asap panggung dan mendengar dentuman bass yang sedang diuji coba.
Tiba-tiba, lampu stadion padam serentak. Teriakan histeris memecah kesunyian. Ribuan lightstick menyala bersamaan, menciptakan lautan cahaya biru dan putih yang luar biasa indah.
Musik intro yang megah mulai diputar. Takara mengangkat lightstick-nya tinggi-tinggi, ikut berteriak bersama ribuan fans lainnya. Namun, saat sosok Jake muncul dari bawah panggung dengan efek kembang api yang meledak, napas Takara tertahan.
Jake berdiri di sana. Mengenakan setelan glitter hitam yang memukau, wajahnya terlihat sangat tampan dan berwibawa di bawah sorot lampu spotlight. Ia mulai menari dengan enerjik, memberikan performa yang sempurna seolah tidak pernah terjadi drama apa pun semalam.
Di sela-sela lagu pertama, mata Jake menyisir barisan penonton paling depan. Ia mencari satu titik. Dan di sana, di bawah keremangan cahaya, ia melihatnya.
Jake melihat Takara yang sedang tersenyum lebar sambil mengayunkan lightstick. Namun, pandangan Jake segera beralih ke sosok pria tinggi yang berdiri tepat di belakang Takara, yang tangannya sesekali menyentuh bahu Takara untuk memastikan gadis itu tidak terdorong penonton lain.
Arlo.
Lampu stadion meredup, menyisakan satu sorot lampu spotlight yang mengikuti langkah Jake menuju tengah panggung. Musik pengiring berganti menjadi denting piano yang lembut, sebuah lagu ballad tentang cinta yang tak terucap.
Ribuan penggemar mulai mengayunkan lightstick dalam gerakan lambat, menciptakan ombak cahaya yang syahdu. Namun, bagi Jake, ribuan orang itu seolah menghilang. Dunianya mendadak menyempit, hanya menyisakan satu titik fokus di barisan depan.
Takara.
Sepanjang lagu, tatapan Jake terus terpaku pada Takara. Matanya tidak lepas, mengikuti setiap gerakan kecil Takara yang sedang tersenyum menatapnya. Jake menyanyi dengan emosi yang begitu dalam, setiap lirik yang keluar dari bibirnya seolah-olah adalah surat yang ia tujukan langsung untuk gadis itu.
Ia sendiri bingung. Ia tidak tahu apakah rasa sesak di dadanya ini adalah cinta, ataukah hanya rasa takut kehilangan yang amat sangat. Yang ia tahu pasti, melihat Arlo berdiri di belakang Takara, begitu dekat dan begitu siap untuk melindungi, membuat api kecil di hati Jake menyala hebat.
"Takara hanya boleh dekat dengannya. Hanya boleh tertawa bersamanya."
Logika Jake yang sempat ingin menjadi dewasa dan merelakan Takara punya teman baru, kini runtuh seketika saat ia berdiri di atas panggung megah itu.
Takara yang awalnya ikut bernyanyi, perlahan terdiam. Ia merasakan intensitas tatapan Jake yang sangat tajam. Itu bukan tatapan seorang idola kepada penggemarnya; itu adalah tatapan Jake Brisbane kepada Takara-nya.
"Takara," bisik Arlo, mendekatkan wajahnya ke telinga Takara agar terdengar di tengah musik. "Dia... dia nggak berhenti melihat ke arah sini, kan?"
Takara hanya bisa mengangguk kaku. Jantungnya berdebar tidak karuan. Ia merasa telanjang di bawah tatapan Jake. Semua orang di sekitar mereka mulai menyadari arah pandangan sang bintang, membuat beberapa penggemar menoleh ke arah Takara dengan bingung.
Arlo yang menyadari ketegangan itu, justru semakin mempererat posisinya di belakang Takara. Ia meletakkan tangannya di pagar pembatas, seolah memagari tubuh Takara dari pandangan Jake. Sebuah tantangan bisu dikirimkan dari bawah panggung menuju atas panggung.
Di bagian akhir lagu, saat nada mencapai klimaksnya, Jake melangkah tepat ke bibir panggung, hanya berjarak beberapa meter dari posisi Takara duduk. Ia bernyanyi sambil menunjuk ke arah dadanya sendiri, lalu menatap Takara dengan sorot mata yang penuh kerinduan dan kepemilikan.
Air mata Takara nyaris jatuh. Ia bisa merasakan rasa sakit dan egoisme Jake yang terpancar dari suaranya.
Saat lagu berakhir dan lampu mati sejenak untuk transisi, Jake masih berdiri di sana, menolak untuk berbalik sampai detik terakhir. Di dalam kegelapan yang singkat itu, ia sempat membisikkan satu kata tanpa mikrofon, namun gerak bibirnya terbaca jelas oleh Takara:
"Mine." (Milikku)
Suasana di sekitar mereka mendadak terasa hampa, meski ribuan orang di stadion masih bersorak riuh rendah menyambut lagu berikutnya. Pertanyaan Arlo meluncur begitu pelan, namun efeknya seperti dentuman meriam yang menghancurkan pertahanan diri Takara.
Arlo menatap samping wajah Takara yang diterangi cahaya biru lightstick. Ia melihat bagaimana bahu gadis itu gemetar halus.
"Takara... kamu menyukai Jake kah?" tanya Arlo lagi, kali ini dengan nada yang lebih getir. Ia sudah tahu jawabannya, tapi ia butuh mendengarnya, atau setidaknya melihatnya sendiri.
Takara tidak menjawab dengan kata-kata. Lidahnya terasa kelu. Namun, setetes air mata jatuh melewati pipinya, disusul tetesan berikutnya yang tak terbendung. Ia menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya dari sorotan lampu panggung yang masih mengejar keberadaan mereka.
Air mata itu adalah jawaban paling jujur yang pernah ia berikan.
"Bolehkah aku suka sahabatku sendiri?" bisik Takara lirih, suaranya nyaris hilang ditelan dentuman bass.
Kalimat itu bukan sekadar pertanyaan, melainkan sebuah pengakuan dosa. Ada rasa bersalah yang besar di sana, bersalah pada persahabatan mereka, bersalah pada karier Jake yang sedang di puncak, dan kini, bersalah pada Arlo yang selama ini selalu ada untuknya.
Arlo terdiam. Tangannya yang tadi memegang pagar pembatas perlahan turun. Ia merasa dadanya sesak melihat Takara menangis karena pria lain, apalagi pria itu adalah sosok yang baru saja menyatakan kepemilikan dari atas panggung.
"Suka pada sahabat sendiri itu nggak salah, Takara," ucap Arlo dengan suara yang bergetar menahan kecewa. "Yang sulit itu adalah suka pada seseorang yang dunianya sudah milik jutaan orang. Kamu tahu itu, kan?"
Takara mengangguk dalam tangisnya. "Aku tahu. Makanya aku takut. Aku takut kalau aku egois, aku cuma bakal ngerusak semuanya. Aku cuma mau dia sukses, tapi liat dia natap aku kayak tadi... rasanya sakit banget, Arlo."
Arlo menghela napas panjang. Ia menarik sebuah tisu dari sakunya dan memberikannya pada Takara. Meski hatinya hancur karena tahu posisinya telah kalah bahkan sebelum berperang, ia tetap tidak bisa membiarkan Takara menangis sendirian.