Seri ke-satu
Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.
Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang tertinggal setelah pergi
Langit malam tampak seperti kanvas kelabu yang menggigil.
Lampu-lampu jalan berkedip malas, memantulkan bayangan langkah seorang perempuan muda yang tengah berlari pelan menyusuri trotoar. Clara Ayudita mengenakan hoodie abu-abu, rambutnya diikat seadanya, napasnya tertata… seolah sedang berusaha menata lebih dari sekadar detak jantungnya.
Malam seperti ini adalah satu-satunya waktu yang ia pilih untuk berdamai.
Berdamai dengan sepi.
Berdamai dengan kenangan.
Saat langkahnya membawa tubuh lelahnya melintasi sebuah taman kecil yang dahulu nyaris tak berarti, dadanya mendadak terasa sesak. Ia memperlambat langkah. Angin menyapu wajahnya, dingin dan getir, seperti suara yang dulu sering ia dengar dari seseorang yang kini hanya tinggal nama dalam ingatan.
Ia berdiri di pinggir taman.
Menatap bangku kayu tua di bawah pohon kamboja.
Dan waktu pun mundur, begitu saja.
“Ayo, Clara! Jangan cuma duduk terus, kita coba lagi!” Suara tawa Kekasihnya, Noel masih hidup di sela gemuruh jantungnya.
Gadis cantik dengan rambut kucir dua itu mengayuh pedal sepeda warna merah muda dengan ragu. Ia ingin bisa. Ingin terlihat berani. Tapi ban belakang oleng, tubuhnya miring, dan seketika jatuh mencium tanah berbatu.
“Auw!”
Tangan lentiknya reflek memegangi lutut yang lecet. Darah merembes. Air matanya mengambang.
Noel, kekasih tampannya itu tak langsung menolong. Ia justru tertawa-tawa kecil yang menyebalkan tapi hangat.
“Kamu tuh kayak drama Korea, tahu gak? Jatuh dikit langsung nangis.”
Clara mengerucutkan bibirnya.
“Sakit, Noel. Ini berdarah.”
“Ya udah, sini… aku tiupin.”
Dan benar saja. Ia mendekat, meniup lutut Clara perlahan, lalu mengusapnya dengan ujung kaos miliknya. Tak ada plester, tak ada obat. Tapi entah kenapa, rasa sakitnya berkurang.
Sejak saat itu, Clara tahu… kebahagiaan kadang sesederhana ditertawakan dan ditenangkan oleh orang yang kau percaya.
Kini, lima tahun telah berlalu.
Clara memejamkan mata di bawah cahaya taman yang temaram. Luka itu sudah lama sembuh di kulit, tapi tidak di hatinya.
Noel telah pergi. Bukan mati, melainkan tak lagi bernafas dalam hidupnya.
Dia pergi tanpa pamit, meninggalkan pertanyaan yang tak pernah punya jawaban.
"Kenapa kamu meninggalkan aku, el?"
"Kamu sekarang ada dimana"
"Selama 3 tahun aku merindukanmu"
Langit masih sama. Pohon kamboja itu juga masih berdiri dengan kokoh.
Tapi tidak dengan mereka. Tidak dengan apa yang pernah tumbuh di antara dua remaja yang belum tahu apa itu kehilangan.
Clara membuka matanya. Ia kembali menatap jalanan yang sepi.
Tapi sekarang, sepi itu lebih sunyi dari biasanya.
Langkahnya kembali bergerak.
Bukan untuk melupakan, tapi untuk mengingat dengan cara yang baru.
Karena luka yang tak pernah diobati, akan terus menganga.
Dan kenangan yang belum sembuh, akan terus membisik.
"Yang tersisa dari kita, masih hidup di malam-malam seperti ini."
Pagi datang seperti biasa, pelan dan diam, menyelinap melalui sela-sela tirai gorden yang menggantung malas di jendela kamar Clara. Sinar mentari belum terlalu terik, tapi cukup hangat untuk membangunkan ruangan dari kedinginan malam yang baru saja berlalu. Cahaya itu jatuh tepat ke atas pigura tua berdebu di meja samping ranjang, foto ayah dan ibu Clara tertawa dalam diam, abadi dalam bingkai yang tak pernah berpindah tempat.
Clara membuka mata perlahan. Tatapannya kosong menembus langit-langit, seolah berharap hari ini hanya bagian dari mimpi panjang yang bisa ia lewati tanpa harus benar-benar hidup di dalamnya. Rambutnya kusut, pipinya masih ada bekas tekanan bantal, dan tubuhnya terasa berat bukan karena lelah fisik, tapi karena beban waktu yang terlalu lama dipikul sendirian.
Ia duduk, membiarkan kakinya menggantung di sisi tempat tidur kayu yang sudah mulai menua, bersuara lirih setiap kali bergerak. Udara pagi menggigit lembut kulitnya, namun bukan itu yang membuatnya menggigil melainkan hampa yang tak juga reda dari dalam dadanya.
Dengan langkah perlahan, ia menuju dapur kecil yang terletak di belakang ruang tamu. Rumah itu sunyi, hanya suara detik jam tua yang menggema di antara dinding-dinding bisu. Ia meraih teko, mengisi air ke dalamnya, lalu menyalakan kompor. Bunyi api yang menyala seperti bisikan halus yang menyambut Clara di tiap pagi
"Kau masih bernafas. Maka hiduplah."
Ia menunggu air mendidih. Matanya menatap lurus ke luar jendela dapur ke halaman kecil yang dulu sering dipenuhi tawa dan suara langkah kecilnya, berlarian ke pelukan ibunya setiap sore. Kini halaman itu kosong, hanya ditumbuhi rerumputan liar yang enggan dipangkas, seperti hatinya yang dibiarkan tumbuh dalam bentuk yang tak rapi.
Air mendidih. Ia menuangkannya ke dalam gelas, menyeduh teh celup murah yang tersisa dari belanja bulan lalu. Lalu duduk di meja makan, yang warnanya sudah mulai pudar karena usia. Ia menatap uap teh yang perlahan menari di udara, melayang lalu lenyap seperti mimpinya dulu tentang keluarga bahagia.
Delapan tahun yang lalu.
Hari itu seharusnya biasa saja. Ia pulang sekolah lebih awal karena guru sedang rapat. Tapi yang menyambutnya bukan ibu dengan senyuman hangat, melainkan telepon yang tak berhenti berdering, lalu kabar yang tak pernah ia duga datang secepat itu. Mobil orangtuanya mengalami kecelakaan tunggal di Tol Jakarta. Tidak ada saksi, tidak ada waktu untuk berpamitan. Mobil mereka ringsek, dan begitu pula seluruh hidup Clara.
Dalam hitungan jam, segalanya berubah. Ia yang tadinya gadis kecil dengan rumah penuh cinta, kini duduk dalam sunyi, dikelilingi kerabat yang hanya datang membawa wajah duka dan ucapan simpati yang hampa makna. Tidak ada yang benar-benar tinggal untuknya, kecuali luka.
Pamannya, adik dari ayahnya yang awalnya menenangkannya dengan pelukan dan janji perlindungan, justru menjadi pengkhianat paling awal. Dalam beberapa minggu, pria itu menggondol semua tabungan orangtuanya, ratusan juta rupiah yang mereka kumpulkan selama bertahun-tahun untuk biaya pendidikan Clara, lenyap begitu saja tanpa bekas. Tidak ada rekening, tidak ada bukti, hanya kesunyian dan pengabaian.
Belum sempat ia pulih dari kenyataan itu, nenek dari pihak ibu datang bukan untuk mengasuh atau merawatnya, tetapi untuk mengambil semua perhiasan mendiang anak perempuannya. Kalung yang biasa dipakai ibunya ke pesta, gelang emas hadiah ulang tahun, cincin kawin semua menghilang satu per satu, seolah tidak pernah ada. Clara hanya bisa terdiam, terlalu muda untuk melawan, terlalu hancur untuk berkata tidak.
Yang tersisa hanyalah rumah ini di pinggiran kota, temaram dan sepi. Tapi justru rumah inilah yang menyelamatkan Clara dari tenggelam sepenuhnya. Ia tidur di kamar yang dulu penuh dongeng dan pelukan, kini hanya ditemani gema kenangan. Dindingnya penuh bayangan. Langit-langitnya menyimpan bisik-bisik malam penuh tangis.
Namun di dalam sunyi yang panjang itu, satu sosok hadir, Noel.
Laki-laki yang tidak ia minta datang, tapi menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup. Noel yang saat itu baru pindah sekolah ke sekolah Clara, memiliki umur yang sama dengannya . namun jauh lebih dewasa dalam menenangkan luka. Noel sering menjemputnya saat pergi sekolah, kadang ia tiba-tiba datang membawakan makanan sehat hanya untuk memastikannua mendapatkan gizi yang cukup. Kadang saat Clara susah tidur, Noel datang memenaninya menyusuri taman sampai ia mulai mengantuk Dan kadang hanya duduk diteras rumahnya, membacakan banyak cerita dongeng.
“Kalau nggak ada kamu... mungkin aku udah ikut mereka juga,” bisiknya lirih, menatap uap teh yang masih mengambang. Kata-kata itu tidak akan pernah didengar oleh Noel lagi karena Noel pergi tanpa alasan yang tak ia mengerti. Tanpa pamit. Tanpa penjelasan.
Yang tertinggal hanyalah bayangan punggungnya, dan malam-malam panjang yang tak lagi ditemani.
Clara meneguk teh yang sudah mulai dingin. Ia tahu, hidup tidak akan pernah memberinya alasan yang sempurna untuk bangkit. Tapi ia belajar bahwa seseorang bisa terus berjalan meski tidak utuh, meski luka belum sembuh. Karena ada beberapa hal yang meski pergi, tetap tinggal. Dan ada beberapa orang yang meski hilang, tak pernah benar-benar lenyap dari hati.
Pagi ini, burung-burung berkicau. Radio tetangga mulai memutar lagu lama yang terdengar sendu di telinga Clara. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Entah dari arah angin, entah dari denting waktu yang terasa lebih lambat.
Hatinya seakan berbisik
"Kita akan bertemu kembali"