Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.
Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.
Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.
Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Di Depan dan di Belakang
Atyasa refleks maju setengah langkah. “Kamu yakin sudah membaca semuanya?”
Nada suaranya berubah. Sedikit terlalu cepat. Sedikit terlalu ingin memastikan.
Pulpen di tangan Zelia berhenti. Ia mengangkat wajah perlahan. Matanya tidak lagi ragu.
“Jadi, Papa sendiri tidak yakin aku harus tanda tangan?”
Mendadak ruangan terasa beku.
Are menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tenang. Seolah memang menunggu detik ini. “Pasal jebakan selalu terlihat kecil,” katanya datar. “Tapi reaksi terhadapnya… jauh lebih jujur.”
Wajah Atyasa mengeras.
Dari balik pintu, tangan Dian sedikit gemetar saat merekam. Ia tidak menyangka arah percakapan berubah secepat ini.
Zelia meletakkan pulpen. “Kalau Papa benar-benar ingin melindungi warisan Mama,” ucapnya pelan tapi tajam, “hapus ayat itu. Kita buat batas waktu jelas. Dan pengelolaan bersama, bukan sepihak.”
Tatapan ayah dan anak itu bertemu.
Dulu, Zelia akan diam. Sekarang... tidak.
Dan Atyasa menyadari satu hal yang tidak ingin ia akui, Sekarang ia tidak lagi berbicara pada gadis yang bisa ia kendalikan seperti dulu.
Beberapa detik berlalu dalam diam. Cukup lama hingga keheningan terasa seperti tekanan di dada.
Lalu—
Atyasa tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Kamu tumbuh cepat sekali,” katanya pelan.
Bukan pujian. Lebih seperti pengakuan yang terpaksa.
Ia meraih dokumen itu dari tangan Zelia. Membuka halaman yang dimaksud, membaca ulang seolah baru menyadarinya.
“Kalau itu yang mengganggumu… kita bisa revisi.”
Dari luar pintu, napas Dian tertahan.
Zelia tidak lengah. “Bukan mengganggu. Itu berbahaya.”
Atyasa menutup map perlahan. “Baik. Kita ubah jadi pengelolaan bersama. Dengan batas waktu enam bulan. Setelah itu, kontrol penuh kembali padamu.”
Are memerhatikan tanpa komentar. Terlalu mudah.
Zelia menyipitkan mata. “Tertulis.”
Atyasa mengangguk. “Tertulis.”
Ia berjalan kembali ke meja, mengambil pulpen lain, mencoret bagian ayat tersebut dan menuliskan revisi di bawahnya. Gerakannya tenang. Terukur.
Tapi rahangnya mengeras.
Ketika ia mendorong dokumen itu kembali ke arah Zelia, tatapannya berbeda.
Bukan marah. Lebih seperti menghitung.
“Kamu percaya pada suamimu,” katanya datar. “Itu bagus.”
Ia melirik Are sekilas.
“Tapi dalam urusan keluarga… kepercayaan seringkali jadi celah.”
Are tersenyum tipis. Hampir tak terlihat. “Dan manipulasi seringkali gagal pada orang yang terlalu yakin dirinya paling pintar.”
Ruangan kembali tegang, dan kini bukan lagi soal dokumen. Ini soal ego.
Zelia menandatangani dokumen itu dengan tenang. Kali ini tanpa ragu. Suara gesekan tinta terdengar jelas di ruangan yang terlalu sunyi. Begitu selesai, ia menutup map itu sendiri.
“Terima kasih, Pa.” Nada suaranya sopan. Tapi bukan tunduk.
Atyasa menatapnya lama. Lalu berkata pelan, “Semoga kamu tidak menyesal sudah belajar berdiri sendiri.”
Itu bukan doa, tapi peringatan.
"Tidak akan," jawab Zelia mantap.
Atyasa tidak segera duduk. Ia justru berdiri lebih tegak.
“Kamu tahu…” suaranya berubah. Lebih pelan. Lebih dalam. “Kamu semakin mirip ibumu.”
Zelia tidak berkedip.
“Wanita yang merasa dirinya lebih mampu dari suaminya,” lanjut Atyasa. “Tidak pernah menghargai laki-laki yang berdiri di sampingnya.”
Udara terasa menipis.
“Ibumu tidak pernah percaya padaku,” katanya lagi. “Padahal aku punya kemampuan yang sama. Tapi dia memilih berdiri di depan. Menjadi pemimpin. Membuatku jadi bahan omongan.”
Zelia tersenyum tipis. Bukan senyum hangat. “Perasaan memimpin itu warisan dari Kakek,” jawabnya tenang. “Papa tidak ikut membangunnya.”
Wajah Atyasa menegang.
“Perusahaan memang berkembang setelah Papa memimpin,” lanjut Zelia. “Tapi lambat. Karena sebagian keuntungan habis untuk memanjakan istri muda dan anak haram Papa.”
Kata-kata itu seperti tamparan tanpa tangan.
Dian yang masih mengintip di ambang pintu menggenggam ponselnya lebih keras dari seharusnya. Matanya menatap tajam Zelia.
Atyasa?
Napas Atyasa memburu. Wajahnya memerah, tapi ia menahan diri. Ia tidak boleh meledak. Tidak di depan Are. Ia mengalihkan tatapan pada pria itu.
“Kamu cerdas,” katanya datar. “Tapi kamu tidak tahu wanita seperti apa yang kamu nikahi.”
Are tidak menjawab.
Atyasa melanjutkan, suaranya kini seperti racun yang diteteskan perlahan.
“Zelia akan sama seperti ibunya. Ingin suaminya jadi bayangan. Jadi budak yang menopangnya. Kau akan bernasib sama denganku. Berdiri di samping, tapi dianggap benalu.”
Dada Zelia naik turun. “Papa jangan mencoba memprovokasi,” katanya tajam. “Menghancurkan hubungan kami.”
Atyasa tersenyum tipis.
“Kalau kamu tidak seperti ibumu… kenapa tidak serahkan saja posisi CEO pada suamimu?”
Zelia hendak menjawab. Tapi Are lebih dulu bicara. Tenang. Tanpa nada tinggi.
“Saya bukan tipe suami patriarki yang merasa harga dirinya terancam jika istrinya berdiri di depan.” Tatapannya lurus pada Atyasa. “Saya tipe suami yang mendukung.”
Ia melanjutkan, suaranya tetap datar tapi justru itu yang menghantam. “Tidak masalah istri saya tampil di depan. Saya tetap di belakang. Menopang jika ia jatuh. Itu bukan kelemahan. Itu tanggung jawab.”
Ruangan terasa lebih sunyi dari sebelumnya.
“Orang yang benar-benar mampu tidak perlu membuktikan diri dengan mengendalikan,” tambah Are pelan.
Kalimat itu menghantam lebih keras dari pukulan.
Atyasa kehilangan kata-kata. Untuk pertama kalinya, ia tidak punya celah untuk menyerang.
Zelia menatap Are sesaat. Ada sesuatu yang menghangat di dadanya. Bukan karena dibela. Tapi karena dipahami.
Tanpa perlu diminta.
Di balik pintu, Dian mematikan rekaman. Ekspresinya berubah. "Kalau cara halus gagal… mungkin cara lain yang harus dipakai."
Zelia menggenggam tangan Are hangat. “Ayo.”
Mereka berjalan keluar ruang kerja bersama. Punggung mereka sejajar. Tidak ada yang berada di depan. Tidak ada yang di belakang.
Sementara itu, Atyasa berdiri kaku di balik meja.
Tangannya mengepal di atas permukaan kayu mahoni.
Kini Atyasa menyadari satu hal yang membuat dadanya terasa berat, yaitu kenyataan bahwa ia tidak lagi memegang kendali atas putrinya.
"Pria itu benar-benar menghalangi jalanku."
Ia menatap dokumen yang baru saja ditandatangani.
"Semua rencana yang kususun matang dan hati-hati… celahnya tak luput dari pengamatannya."
Rahangnya mengeras.
"Aku belum kalah. Belum."
Di dalam kamar Zelia, begitu pintu tertutup, ia langsung berdiri di depan Are.
Menatapnya lurus.
“Benarkah kau akan jadi suami seperti yang kau bilang tadi?”
“Seperti apa?” tanya Are datar.
“Yang mendukung. Yang tidak merasa terancam.” Suara Zelia melunak. “Kalau begitu… aku bisa jadi wanita paling bahagia sedunia.”
Are menatapnya tanpa berkedip. “Kita hanya suami kontrak. Satu tahun. Kalau kau ingin suami seperti itu, kau harus bekerja keras mencarinya.”
Zelia memiringkan kepala. “Kamu gak mau jadi suamiku selamanya?”
“Sidang belum selesai,” potong Are tenang. “Fokus dulu. Jangan beri celah pada mereka.”
Zelia menghela napas panjang. “Iya, iya… tak bisakah kau biarkan aku rileks sebentar saja?” gerutunya, bibirnya mengerucut.
Are menatap bibir itu. Diam. Menggemaskan.
“Rileks?” ulangnya pelan, lalu melangkah mendekat.
Zelia mengangkat satu alis, menantang.
Tapi sebelum sempat berkata apa pun, tiba-tiba...
"Are!"
...✨“Yang merasa paling kuat biasanya paling takut kehilangan kendali.”...
...“Ia membesarkannya untuk patuh. Bukan untuk melawan.”...
...“Ia tidak berdiri di depan. Tapi semua orang tahu siapa yang paling sulit digeser.”...
...“Berdiri di belakang bukan berarti kalah. Kadang itu bentuk tertinggi dari menghargai.”...
...“Permainan belum selesai. Tapi bidaknya sudah tak lagi bisa diatur.”...
...“Ia bukan lagi gadis yang bisa diarahkan. Dan ia tidak berjalan sendirian.”✨...
.
To be continued
Percaya diri seperti kalian yang mudah di jatuhkan
Dan....
apa ya kira²?
author yang tahu