Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Tiga Jam di Ruang Hampa
Pagi itu, Jakarta lagi nggak mau diajak bercanda. Mendung, seolah langit tahu kalau di parkiran kantor Aksara Muda, gue lagi merasa kayak domba yang diantar ke kandang serigala, serigala yang pakai kacamata bingkai tipis dan nyetir mobil hitam mengkilap yang baunya persis mobil pameran.”Gara-gara proyek ‘The Soul of Jakarta’ yang kemarin diumumkan Pak Hermawan, gue harus pasrah saat Genta memutuskan kalau riset lapangan ke Bandung harus dimulai pagi ini juga.”
“Pak, beneran nggak bisa saya naik travel aja? Saya punya kupon diskon, Pak. Murah, efisien, dan yang paling penting... saya nggak perlu ngerepotin Bapak,” tanya gue untuk kesekian kalinya. Gue berdiri di samping mobil sambil memeluk ransel erat-erat, seolah itu pelampung penyelamat.
Genta melirik gue dari balik kacamatanya. Tangannya sibuk naruh koper gue ke bagasi dengan gerakan yang sangat sistematis, kayak lagi menyusun naskah yang mau masuk cetak. “Bensin mahal, Aruna. Efisiensi perusahaan itu prioritas. Masuk. Kita sudah telat sepuluh menit dari jadwal yang saya buat.”
Gue menghela napas pasrah. Dengan langkah berat, gue naik ke kursi penumpang. Begitu pintu tertutup, rasanya dunia gue langsung menyempit. Aroma sandalwood yang biasanya cuma tercium samar di kantor, sekarang mengepung gue di dalam kabin. Bau parfum itu persis kayak Genta; mahal, elegan, tapi bikin sesak napas.
Genta melajukan mobil menuju Tol Pasteur. Hening. Bener-bener hening yang menyiksa. Gue mencoba cari kesibukan dengan menghitung marka jalan, tapi lama-lama mata gue perih. Gue melirik Genta. Pria itu nyetir dengan posisi tangan di jam sepuluh dan jam dua—posisi nyetir paling kaku sedunia. Punggungnya tegak, wajahnya lurus ke depan seolah ada garis tak kasat mata yang nggak boleh dia langgar.
Gila, ini orang beneran robot atau manusia sih? batin gue.
Nggak tahan sama suasana yang lebih mirip ruang operasi itu, gue mengeluarkan HP. Satu-satunya pelarian cuma dunia maya. Gue buka aplikasi NovelToon dan ngetik dengan beringas.
Senja_Sastra: Kaka’s, gue beneran terjebak di ruang hampa! Gue lagi di mobil sama si Monster menuju Bandung. Bau parfumnya bikin pusing, dan cara dia nyetir? Ya ampun, kaku banget kayak lagi simulasi ujian SIM! Tolongin gueeee, sebelum gue mati karena kekurangan oksigen gara-gara kecanggungan ini!
Klik. Terkirim.
Satu menit kemudian, ada getaran keras dari dashboard. HP Genta yang diletakkan di sana menyala. Mata gue langsung membelalak pas lihat ikon notifikasi merah yang muncul di layar. Genta melirik layar itu, dan dengan gerakan kilat yang hampir nggak manusiawi, tangannya langsung menyambar HP itu dan mematikan fitur preview.
Gue membeku. Jantung gue berdebar kencang. Tadi itu... notifikasi NovelToon bukan sih? Ah, masa iya?
Genta tiba-tiba berdeham keras. Suaranya memecah keheningan dengan canggung banget. “Saya... saya perlu cek peta sebentar. Sinyal GPS-nya agak kacau,” dalihnya, padahal di layar depan masih terpampang rute tol yang sangat jelas.
Genta menepi ke bahu jalan. Dia sibuk ngetik sesuatu dengan dahi berkerut, seolah lagi balas email penting dari direktur utama. Nggak lama, HP di tangan gue bergetar hebat.
Kaka’s: Sabar, Senja. Mungkin dia kaku karena sebenarnya dia grogi setengah mati duduk di sebelah penulis favoritnya? Coba lo pancing dia, tawarin dengerin musik atau apa gitu. Siapa tahu seleranya nggak seburuk mukanya yang kayak mau ngajak berantem itu.
Gue hampir tersedak ludah sendiri. Gue menatap layar HP, terus menatap Genta yang sekarang sudah naruh HP-nya lagi di dashboard dengan wajah sedatar tembok. Gue memicingkan mata. Grogi? Si Monster ini? Yang benar saja!
Iseng, gue mutusin buat ikutin saran Kaka’s. “Pak Genta, sepi banget ya. Boleh saya nyalain radio? Atau Bapak mau dengerin playlist lagu-lagu galau saya?”
Genta berdeham lagi, kali ini suaranya sedikit lebih tinggi. “Silakan. Tapi jangan lagu yang liriknya nggak masuk akal. Saya butuh fokus.”
Gue tersenyum puas. Gue sambungkan HP ke audio mobil dan sengaja mutar lagu indie paling abstrak yang gue punya. Pas lirik "Aku adalah remah biskuit di lantai hatimu" menggema di kabin, gue lihat ujung bibir Genta sedikit berkedut.
“Lirik apa itu? Remah biskuit? Itu nggak logis secara sastra,” komentar Genta tanpa menoleh.
“Justru itu seninya, Pak! Kehidupan itu nggak melulu soal logika, kadang soal remah-remah yang tersisa,” sahut gue sambil gercep ngetik lagi di HP.
Senja_Sastra: Kaka’s, dia baru aja ngeritik lirik lagu remah biskuit gue. Fix, dia beneran nggak punya jiwa seni di dunia nyata. Tapi... kok tadi gue ngerasa dia agak salting ya pas gue ajak ngobrol?
Di samping gue, Genta meremas setir lebih erat. Matanya tetap fokus ke depan, tapi telinga dia memerah. Dia tahu betul gue lagi membicarakan dia di dunia maya, dan anehnya, Genta kayak menikmati setiap detik kepura-puraan ini.
"Aruna," panggil Genta tiba-tiba.
"Ya, Pak?"
"Pakai sabuk pengamanmu dengan benar. Kamu berisik sekali bergerak-gerak terus."
Gue mendengus, membetulkan sabuk pengaman sambil mencibir di belakang punggungnya. Gue nggak tahu kalau di dalam hati, si 'Monster' ini lagi sibuk menyusun kalimat balasan di kepalanya supaya nggak kelihatan kayak pecundang di depan 'Senja'-nya.
Tiga jam menuju Bandung rasanya bakal jadi tiga jam paling kocak sekaligus mendebarkan dalam hidup gue.
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.
Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻