Kala Danuarta tidak pernah meminta menjadi pahlawan. Ia hanyalah seorang teknisi jam yang terjebak dalam kutukan Chronos-10, sebuah jam saku prototipe yang memungkinkannya kembali ke masa lalu selama 600 detik (10 menit). Namun, mesin itu memiliki sistem barter yang kejam: Memori untuk Waktu.
Setiap kali Kala melakukan lompatan waktu untuk mencegah kematian Arumi—gadis yang merupakan pusat dari segala paradoks—ia harus kehilangan satu kepingan ingatannya secara acak. Mulai dari nama guru SD-nya, rasa makanan favoritnya, hingga akhirnya ia lupa bagaimana wajah orang tuanya.
Kondisi semakin rumit karena Kala tidak kembali ke masa lalu sebagai dirinya sendiri, melainkan bertukar tubuh dengan orang asing yang ada di lokasi kejadian. Ia harus berpacu dengan waktu dalam tubuh yang bukan miliknya, tanpa identitas, untuk mengubah takdir yang seolah sudah digariskan oleh baja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelundup Di sela detik
Jakarta, sepuluh tahun lalu.
Suasana Perpustakaan Nasional siang itu sangat tenang. Bau kertas tua dan suara pendingin ruangan yang berdengung halus menciptakan ilusi kedamaian yang sempurna. Di Rak 402, Kala muda sedang berinteraksi dengan Arumi muda—sebuah momen ikonik yang menjadi awal dari segalanya.
Namun, di balik rak buku yang berseberangan, Arumi "masa depan" sedang mendekap Naya. Mereka berdiri di sebuah area yang disebut Kala sebagai "Titik Buta Waktu". Secara fisik mereka ada di sana, namun mata manusia (bahkan versi muda mereka sendiri) tidak akan bisa melihat mereka. Mereka seperti hantu yang terjebak dalam rekaman video yang terus berputar.
"Bu, kenapa kita harus bersembunyi di sini?" bisik Naya. Suaranya hanya terdengar oleh Arumi. "Kenapa kita tidak menyapa Ayah yang itu?"
Arumi mengusap rambut Naya, matanya pedih menatap Kala muda yang tampak begitu polos, begitu utuh, tanpa beban dosa waktu di pundaknya. "Karena jika kita menyentuh mereka, rekaman ini akan rusak, Naya. Kita adalah tamu tak diundang di masa lalu kita sendiri."
Kala—dalam wujud entitas cahaya yang kini menyamar sebagai bayangan di lantai—terus berjaga. Ia adalah dinding yang memisahkan istri dan anaknya dari deteksi Dewan Realitas. Bagi Dewan, area ini sudah "selesai" dan "terarsip", sehingga mereka jarang memeriksanya.
Namun, hidup di dalam memori ternyata memiliki efek samping yang mengerikan.
Vera (versi masa depan) muncul di samping Arumi. Wujudnya kini hanya berupa kumpulan partikel cahaya biru yang menyerupai kunang-kunang. "Arumi, kita tidak bisa selamanya di sini. Memori ini mulai aus."
Arumi menoleh. "Apa maksudmu aus?"
"Setiap kali rekaman memori ini terulang dalam pikiran Kala yang sekarang menjadi 'Sistem', detail-detail kecilnya mulai hilang," Vera menunjuk ke arah jendela perpustakaan.
Di luar, gedung-gedung Jakarta mulai tampak seperti coretan krayon yang buram. Orang-orang yang berlalu-lalang tidak lagi memiliki wajah; mereka hanya gumpalan warna abu-abu.
"Jika memori ini terhapus sepenuhnya karena otak Kala tidak lagi kuat menanggung beban sebagai pusat waktu, kita akan ikut terhapus bersama kenangan ini," lanjut Vera. "Kita harus menemukan Pintu Keluar Statis."
"Ke mana?" tanya Arumi putus asa. "Tidak ada lagi tempat aman."
"Ke masa depan yang belum ditulis," suara Kala bergema di dalam pikiran mereka. Bayangannya di lantai bergerak mendekati Arumi. "Arumi, aku telah menemukan sebuah anomali. Di tahun 2045, ada satu detik yang kosong dari pengawasan Dewan. Sebuah glitch dalam sejarah manusia yang tidak bisa mereka perbaiki."
"Tahun 2045?" Arumi mengernyit. "Itu masa depan yang jauh."
"Itu adalah satu-satunya kesempatan bagi Naya untuk tumbuh sebagai manusia normal tanpa diburu," bayangan Kala memanjang, membentuk sebuah pintu dari kegelapan di tengah lorong perpustakaan. "Tapi aku tidak bisa ikut. Jika aku pergi dari posisiku sebagai Sistem, waktu akan runtuh."
Naya menggenggam tangan Arumi erat. "Ayah tidak ikut lagi?"
Bayangan itu mengusap kepala Naya secara metafisik. Sebuah rasa hangat yang luar biasa menjalar di hati gadis kecil itu. “Aku akan selalu ada di setiap jam yang kamu lihat, Naya. Tapi kalian harus memiliki dunia di bawah sinar matahari yang asli, bukan matahari dari kenangan.”
Tiba-tiba, perpustakaan itu berguncang hebat.
Buku-buku di rak mulai terbang ke segala arah. Langit-langit bangunan retak, memuntahkan cahaya perak yang menyilaukan. Para Pemulih telah menemukan mereka! Ternyata, keberadaan Naya yang semakin kuat membuat persembunyian ini "berbau" bagi radar Dewan Realitas.
"Mereka menjebol memori ini!" teriak Vera. "Arumi, cepat masuk ke pintu itu!"
Kala muda dan Arumi muda di depan mereka tiba-tiba mematung, lalu tubuh mereka mulai pecah menjadi partikel digital. Kenangan itu sedang dihancurkan dari luar oleh Dewan.
Dua sosok Pemulih muncul dari balik tumpukan buku yang melayang. Tangan perak mereka memegang belati yang bisa memotong garis takdir. "Penyelundup! Kalian telah mencemari arsip suci!"
Kala (Sistem) bangkit dari bayangan. Ia berubah menjadi raksasa cahaya yang menahan runtuhnya langit-langit perpustakaan itu dengan kedua tangannya. Tubuhnya bergetar hebat, menahan beban seluruh waktu yang mencoba menghancurkan ruang itu.
“LARI!” raung Kala.
Arumi menggendong Naya dan berlari menuju pintu kegelapan di tengah lorong. Di belakangnya, Vera mengorbankan sisa-sisa energinya untuk meledakkan diri, menciptakan perisai sementara agar para Pemulih tidak bisa mengejar.
"Vera!" Arumi berteriak.
"Pergilah! Masa depan butuh saksi!" itulah kata terakhir Vera sebelum ia berubah menjadi ledakan cahaya biru yang menelan para Pemulih.
Arumi melompat ke dalam pintu kegelapan.
Sesaat sebelum pintu itu tertutup, ia melihat Kala. Bukan sebagai entitas cahaya, tapi sebagai pria yang ia cintai—memakai kemeja biru yang biasa, tersenyum dengan air mata di matanya, melambaikan tangan dari tengah reruntuhan kenangan mereka.
ZAP!
Sensasi jatuh kembali menghantam mereka. Namun kali ini, rasanya berbeda. Rasanya seperti ditarik keluar dari air yang dingin menuju udara yang panas dan kering.
Arumi dan Naya terjatuh di atas permukaan logam yang sangat panas. Suara bising mesin, bau belerang, dan langit yang berwarna kemerahan menyambut mereka.
Mereka tidak lagi di perpustakaan. Mereka berada di tengah-tengah sebuah kota yang hancur, namun penuh dengan kehidupan mekanis. Papan reklame hologram yang rusak berkedip-kedip di atas mereka, menampilkan tulisan: "NEW JAKARTA - 2045. SELAMAT DATANG DI ERA TANPA AKHIR."
Arumi berdiri, memegangi dadanya yang sesak. Ia melihat ke pergelangan tangannya. Di sana, sebuah jam saku digital muncul secara otomatis di kulitnya, menghitung mundur dari angka: 60.000 detik.
"Bu... Ayah benar-benar tidak ada?" tanya Naya sambil menunjuk ke langit.
Di langit tahun 2045 yang kelam itu, tidak ada matahari yang terlihat jelas, melainkan sebuah jam raksasa yang transparan yang menyelimuti seluruh atmosfer bumi. Itu adalah Kala.
Kala tidak lagi hanya menjaga satu dimensi. Di tahun ini, Kala telah menjadi atmosfer dunia itu sendiri.
"Ayah tidak meninggalkan kita, Naya," bisik Arumi sambil menatap jam raksasa di langit. "Dia baru saja memberi kita waktu yang paling lama yang pernah ada."
Namun, dari balik reruntuhan gedung, sekelompok orang dengan mata mekanik dan senjata laser mulai mendekat. Mereka bukan Pemulih, tapi sesuatu yang lebih mengerikan: manusia yang telah memuja waktu sebagai Tuhan mereka.