Anggika Rosalia, gadis cantik berusia 27 tahun, baru kembali dari Jakarta dan harus menerima kenyataan dijodohkan dengan calon kepala desa. Luka hatinya belum sembuh setelah ditinggal menikah sang kekasih, ditambah gosip kejam yang melabelinya perawan tua. Demi kepentingan masing-masing, Rosalia akhirnya menikah kontrak dengan Mario Langit Pradana, pria tampan yang membutuhkan pasangan untuk maju sebagai lurah. Lalu, bagaimana kelanjutan rumah tangga mereka? Saksikan kisah selengkapnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lingerie
Anggika mengaduk Beef Pepper Rice di atas hot plate yang masih mengepul.
“Ah! Panas… panas!” Ia spontan menjulurkan lidah, kepedasan sekaligus kepanasan.
Mario langsung menyodorkan gelas minumannya.
“Pelan-pelan,Gi.Aku kan sudah bilang masih panas. Kamu keras kepala sih.”
Ia menarik pelan hot plate itu agar tak terlalu dekat dengan Anggika.
“Sini, biar aku aduk dulu.”
“Aku bisa sendiri, kali!” protes Anggika, meski pipinya mulai memerah—entah karena panas atau karena ditatap seperti itu.
Mario meniup sendok berisi nasi dan daging.
“Aaa… buka mulutnya.”
Anggika menahan napas sejenak.
“Nggak usah lebay deh.Sudah nggak panas. Percaya sama aku.”
Dengan ragu, Anggika akhirnya membuka mulut sedikit. Mario menyuapinya perlahan.
Suapan demi suapan berikutnya berjalan tanpa sadar. Anggika tak lagi protes, hanya sesekali berkomentar pelan.
Beberapa menit kemudian, hot plate itu hampir kosong.
Mario tersenyum miring.
“Katanya tadi nggak mau disuapin.”
Anggika tersadar dan langsung menyandarkan punggungnya.
“Itu karena kamu maksa!”
“Oh ya? Tapi habis juga tuh.” Mario menunjuk piring yang nyaris bersih.
Anggika memalingkan wajah, jantungnya masih berdebar.
“Aku laper, bukan karena kamu. Jangan salah paham.”
Mario tertawa pelan.
“Iya, Anggika. Bukan karena aku.”
Tapi matanya jelas menyimpan kepuasan kecil.
Anggika mendengus pelan, lalu tiba-tiba menarik hot plate milik Mario ke arahnya.
“Sini. Sekarang gantian.”
Mario mengangkat alis.
“Gantian apa?Aku yang suapin kamu. Biar adil.”
Mario menyandarkan punggungnya santai.
“Wah… tumben perhatian.”
“Jangan banyak komentar. Buka mulut.”
Mario tersenyum kecil.
“Siap, Bu Calon Istri.”
“Jangan mulai lagi!” gerutu Anggika, tapi tetap meniup sendok nasi dan daging itu sebelum menyuapkannya.
Mario menerima suapan itu tanpa protes, malah terlihat menikmati.
“Enak?” tanya Anggika setengah jutek.
“Kalau kamu yang suapin, rasanya beda.”
Anggika berhenti sejenak.
“Beda gimana?”
Mario menatapnya sekilas.
“Lebih manis.”
“Halah! Itu cuma nasi sama lada hitam.”
“Tetap saja. Yang nyuapin siapa dulu.”
Anggika buru-buru mengalihkan pandangan.
“Geer banget. Cepat habisin.”
Mario tersenyum puas sambil membuka mulut lagi.
“Kalau tiap hari begini, aku betah.”
Anggika spontan menyuap lebih cepat.
“Mimpi dulu sana.”
Namun kali ini, ia tak lagi menarik tangannya buru-buru.
Setelah selesai makan, Anggika memperhatikan sesuatu di wajah Mario.
“Eh, diem dulu.” Ia mendekat sedikit.
Mario otomatis memejamkan mata.
Anggika mengambil butiran nasi di sudut bibirnya.
“Jangan GR ya. Aku cuma ambil nasi, bukan mau cium kamu.”
Mario membuka mata perlahan.
“Kalau kamu mau cium juga nggak apa-apa, kok.”
Belum sempat Anggika menjawab, Mario menarik kursinya sedikit lebih dekat dan mengecup bibirnya singkat.
" Cup... "
“Mario! Malu tau, banyak orang!” bisik Anggika panik.
Mario tersenyum santai.
“Habis kamu gemesin.”
“Ih, kamu mesum!”
“Tapi tadi kamu diem aja.” goda Mario.
“Diem karena kaget! Jangan sok tahu!” Anggika langsung berdiri.
Mario ikut bangkit.
“Loh, mau ke mana?”
“Pulang!” jawab Anggika cepat.
Namun Mario malah menarik tangannya pelan.
“Sebentar. Mampir sini dulu.”
Ia membawanya ke sebuah toko lingerie Victoria's Secret.
Anggika langsung berhenti di depan pintu.
“Mario! Ini toko daleman cewek! Ngapain kamu ngajak ke sini?!”
Mario berdeham santai ke arah pramuniaga.
“Mbak, tolong carikan yang… seksi dan menggoda.”
Anggika membelalak.
“Kamu yang mau pakai begituan? Jangan-jangan kamu belok ya?!”
Mario menahan tawa.
“Sembarangan. Buat kamu lah. Kita kan mau nikah.”
Anggika memukul lengannya pelan.
“Siapa juga yang bilang aku mau pakai yang aneh-aneh!”
Pramuniaga tersenyum profesional.
“Mbak, ini koleksi terbaru kami. Desainnya elegan dan membuat suami semakin sayang.”
Anggika makin salah tingkah.
“Aku cuma lihat-lihat aja ya, Mbak.”
Mario mundur selangkah.
“Aku tunggu di luar. Nanti kalau sudah pilih, tinggal panggil. Aku yang bayar.”
Pramuniaga tersenyum ramah sambil menunjuk rak display.
“Mari, Mbak. Saya tunjukkan beberapa koleksi terbaru kami.”
Anggika mengambil satu set lingerie dengan ekspresi terkejut.
“Ini baju apa… saringan tahu?” bisiknya kaget.
“Mbak, nggak ada yang lebih tertutup?”
Pramuniaga tetap profesional.
“Hehe… memang konsep butik kami khusus lingerie premium, Mbak. Modelnya elegan, modern, dan tentu saja lebih berani.”
Anggika menelan ludah.
“Berani banget malah. Ini kaya kurang bahan udah dijual aja.”
Pramuniaga tersenyum sopan.
“Kalau Mbak mencari yang lebih tertutup, mungkin bisa ke toko gamis di lantai dua. Tapi di sini memang fokusnya pada desain yang anggun dan menggoda.”