NovelToon NovelToon
Cinta Ini Belum Usai

Cinta Ini Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Saudara palsu
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Baby.Scorpio

Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.

Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 7 Sumpah di ujung dendam

Sore itu, langit Jakarta berubah warna menjadi merah darah, seolah alam sedang memberikan pertanda akan badai yang akan segera pecah.

Di dalam ruang arsip digital yang sunyi, Sekar berdiri dengan tangan yang dingin. Flashdisk dari Alvin sudah tertancap di komputer induk. Progres penyalinan data uji coba klinis ilegal itu berjalan lambat, merayap di layar seperti detak jantung yang sekarat.

65%... 70%...

Tiba-tiba, suara sirene ambulans yang melengking memecah keheningan rumah sakit, disusul dengan pengumuman melalui pelantang suara: "Code Blue! Code Blue! Emergency di lobi utama!"

Sekar tersentak. Insting dokternya langsung bangkit, namun ia teringat ancaman Viona dan kebohongan Rahman. Ia hampir mengabaikan panggilan itu, sampai ponselnya bergetar hebat. Nama Rahman muncul di layar.

"Sekar! Cepat ke IGD sekarang!" suara Rahman terdengar panik, sesuatu yang belum pernah Sekar dengar sebelumnya.

"Viona... Viona kecelakaan di depan rumah sakit. Dia tertusuk besi pagar saat mencoba menghindari truk rem blong. Cepat, Sekar! Hanya kamu bedah vaskular yang ada di sini!"

Sekar membeku. Tangannya gemetar hebat. Viona? Wanita yang baru saja mengancam akan menghancurkan hidupnya? Wanita yang menjadi penghalang antara dirinya dan Rahman?

85%... 90%...

Layar komputer menunjukkan proses hampir selesai. Jika ia menunggu dua menit lagi, ia akan memiliki semua senjata untuk menghancurkan keluarga Wijaya dan Viona sekaligus. Namun, di telinganya, sumpah Hippokrates yang ia ucapkan bertahun-tahun lalu di Jerman terngiang seperti lonceng kematian.

"Aku akan membaktikan hidupku demi kemanusiaan..."

"Sialan!" kutuk Sekar. Ia mencabut flashdisk itu sebelum mencapai 100%, memasukkannya ke dalam saku jas putihnya, dan berlari sekuat tenaga menuju ruang gawat darurat.

Suasana di IGD sangat kacau. Rahman berdiri di sudut ruangan dengan baju yang terkena bercak darah, wajahnya pucat pasi.

Di atas brankar, Viona terbaring lemas. Sebuah besi pagar berkarat menembus paha bagian atasnya, sangat dekat dengan arteri femoralis—pembuluh darah utama yang jika robek akan membunuh manusia dalam hitungan menit.

"Sekar, lakukan sesuatu!" seru Rahman saat melihat Sekar datang.

Sekar tidak menjawab. Ia segera memeriksa denyut nadi Viona. Lemah. Wajah Viona yang biasanya angkuh kini putih pucat karena kehilangan banyak darah. Saat mata mereka bertemu sesaat, Sekar melihat ketakutan yang luar biasa di sana.

Tidak ada lagi ancaman, tidak ada lagi penghinaan. Hanya ada seorang manusia yang memohon untuk hidup.

"Bawa ke Ruang Operasi Satu sekarang! Siapkan empat kantong darah golongan O!" perintah Sekar, suaranya kembali ke mode "Tangan Dingin".

Di dalam ruang operasi, suasana jauh lebih tegang dari biasanya. Setiap tenaga medis di sana tahu bahwa pasien ini adalah tunangan CEO dan sang dokter adalah wanita yang dirumorkan sebagai "saingan" cintanya.

"Dokter Sekar, besinya menyentuh arteri. Jika kita tarik tanpa presisi, dia akan pendarahan hebat di meja ini," dr. Aris memperingatkan dengan keringat dingin di pelipisnya.

Sekar menatap paha Viona. Di dalam sakunya, ia merasakan keberadaan flashdisk yang berisi data penghancur. Pikirannya berperang hebat. Jika aku membuat satu kesalahan kecil... jika aku membiarkan tanganku sedikit saja terpeleset... Viona akan pergi selamanya.

Skandal etika itu akan mati bersamanya. Rahman akan bebas, dan aku bisa memiliki kebenaranku.

"Skalpel," pinta Sekar. Suaranya bergetar.

Tangannya kembali mengalami tremor. Getaran itu lebih hebat dari sebelumnya. Bayangan Viona yang melempar amplop ancaman dan bayangan Rahman yang menciumnya semalam berputar-putar seperti angin puyuh.

"Dokter? Tangan Anda..." Suster Maya berbisik cemas.

Sekar menatap monitor. Detak jantung Viona melambat. Bip... bip... bip...

Kenapa aku harus menyelamatkannya? tanya hati kecil Sekar yang gelap. Dia ingin menghancurkanku. Dia adalah bagian dari sistem yang membunuh orang tuaku.

Namun, saat ia menatap wajah Viona yang terlelap di bawah pengaruh anestesi, Sekar melihat sisi lain.

Viona juga hanyalah seorang wanita yang mencoba bertahan di dunia yang keras ini, sama seperti dirinya.

"Anestesi, naikkan dosis pemeliharaan. Aris, bersiap dengan klem vaskular," Sekar menarik napas panjang, menutup matanya sejenak, dan memvisualisasikan struktur pembuluh darah itu seolah-olah ia sedang melihat peta.

Ia memaksa hatinya menjadi mati rasa. Di ruang ini, ia bukan musuh Viona. Ia bukan adik angkat Rahman. Ia adalah dr. Sekar.

Dengan gerakan yang sangat halus, Sekar mulai membedah jaringan di sekitar besi tersebut. Darah mulai menyembur, membasahi masker dan pelindung wajahnya.

"Klem! Sekarang!"

Sekar bekerja dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Jemarinya menari di antara urat dan saraf dengan presisi milimeter. Setiap jahitan yang ia buat adalah bentuk kemenangannya atas ego dan dendamnya sendiri. Ia menyelamatkan wanita yang ingin menghancurkannya.

Empat jam kemudian, lampu ruang operasi padam. Sekar keluar dengan langkah gontai, seluruh tubuhnya terasa pegal. Di ruang tunggu, Rahman langsung berdiri dan menghampirinya.

"Bagaimana? Bagaimana keadaannya?" tanya Rahman, matanya mencari jawaban di wajah Sekar.

"Dia selamat, Rahman. Pembuluh darahnya berhasil disambung. Dia akan pulih, meski butuh waktu untuk berjalan normal kembali," jawab Sekar datar.

Rahman mendesah lega, hampir saja ia ambruk jika tidak memegang kursi. "Terima kasih, Sekar. Aku tahu ini sulit bagimu... setelah semua yang dia katakan padamu."

Sekar menepis tangan Rahman yang mencoba menyentuh bahunya. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan flashdisk serta sebuah amplop yang tadi diberikan Viona (yang sempat ia ambil dari meja kerjanya).

"Ini milik Viona, dia menggunakannya untuk mengancamku semalam. Dan ini..." Sekar menunjukkan flashdisk itu. "Ini adalah data yang bisa mengirim ayahmu dan kamu ke penjara atas kematian orang tuaku."

Rahman mematung, wajahnya kembali menegang.

"Aku bisa saja membiarkan Viona mati tadi, Rahman. Secara medis, kasusnya sangat sulit, tidak akan ada yang menyalahkanku jika dia tidak tertolong. Tapi aku bukan kalian," suara Sekar bergetar oleh emosi yang ia tahan sejak tadi.

"Aku menyelamatkan tunanganmu karena aku adalah seorang dokter. Tapi jangan berpikir bahwa keselamatannya adalah tanda aku memaafkanmu."

"Sekar, tolong..."

"Data di dalam ini tidak lengkap," Sekar mematahkan flashdisk itu menjadi dua di depan mata Rahman, lalu menjatuhkannya ke lantai. "Aku tidak akan menghancurkan keluarga Wijaya dengan cara kotor seperti ini. Aku akan menghancurkan kalian dengan caraku sendiri, dengan kesuksesanku, dengan namaku yang akan tetap bersih sementara kalian membusuk dalam rasa bersalah."

Sekar berbalik, berjalan pergi meninggalkan Rahman yang terpaku di lorong rumah sakit.

Namun, saat Sekar mencapai lobi, ia melihat Alvin berdiri di sana dengan wajah yang tidak lagi ramah. Alvin menatap tangan Sekar yang kosong—tanpa flashdisk.

"Kamu tidak melakukannya, kan?" tanya Alvin, suaranya rendah dan penuh kekecewaan yang berbahaya. "Kamu lebih memilih menyelamatkan wanita itu daripada membalaskan dendam orang tuamu?" imbuhnya.

Sekar menatap Alvin dengan pandangan yang baru. Ia menyadari bahwa Alvin mungkin tidak jauh berbeda dengan keluarga Wijaya—menggunakan dirinya sebagai alat.

"Aku menyelamatkan nyawa, Alvin. Itu tugasku," jawab Sekar tegas.

"Pilihan yang salah, Sekar," bisik Alvin. "Karena sekarang, bukan hanya keluarga Wijaya yang akan mengejarmu. Tanpa data itu, keluargaku tidak punya alasan lagi untuk melindungimu dari skandal yang sudah disiapkan Viona."

Sekar tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat manis namun penuh tantangan. "Kalau begitu, biarkan mereka datang. Aku sudah pernah kehilangan segalanya sepuluh tahun lalu. Kehilangan karier hanyalah masalah kecil dibandingkan kehilangan jati diriku."

Sekar melangkah keluar menuju hujan yang mulai turun membasahi Jakarta. Dendamnya belum usai, namun malam ini, ia menyadari bahwa cara terbaik untuk membalas dendam bukanlah dengan menjadi monster yang sama. Melainkan dengan menjadi cahaya yang terlalu terang hingga kegelapan mereka terlihat semakin menjijikkan.

1
lee dave
update....!
Wayan Sucani
Lanjut dong...
EmakKece
Sepertinya menarik 👏
Wayan Sucani
Asli tegang bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!