Niat hati hanya ingin menolong Putri dari mantan majikan Kakeknya yang hendak melarikan diri, Asep justru di paksa untuk menikahinya.
Hanya tiga bulan, itu yang ia katakan, namun apa benar dalam waktu tiga bulan tak akan ada perasaan yang tumbuh diantara mereka?
Asep ada kecoak! Asep ada tikus! Asep, Asep, Asep, Asep!
“Sial, kenapa dikit-dikit gue terus manggil nama dia?” Ziya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 - Orang yang selalu perhatian
Ziya merutuki kebodohannya sendiri, ‘tadi tuh malu-maluin benget sumpah.’
Ziya kembali sehabis mandi, seperti biasa Asep akan berada di dapur untuk mengurus sarapan, sepertinya itu adalah tempat favoritnya selain kamar.
“Udah mandinya Neng, ayo kita sarapan,” ajaknya dengan wajah cerah.
‘Kenapa sih dia tuh jadi orang ko perhatian banget, semua pekerjaan dia yang lakuin, apa nanti ke istrinya dia juga bakal begini ya?'
“Iya,” sahut Ziya, dia pergi ke kamar sejenak untuk merapikan diri setelah ia kembali lagi ke dapur.
“Lu gak ke ladang Sep?” tanya Ziya.
“Nggak saya capek Neng, hari ini mau istirahat aja di rumah,” ungkapnya. Ziya hanya mengangguk tanpa komentar.
“Neng gak nyamanan ya kalau ada saya di rumah?” tiba-tiba dia bertanya.
“Dih apaan sih mana ada gue gak nyaman, lagian kan ini rumah lu yang ada orang yang gak nyaman itu harusnya elu bukan gue,” ralat Ziya.
Dia mendengus senyum, “Neng mau jalan-jalan?” tawarnya.
“Jalan-jalan, katanya elu capek, lagian mau jalan kemana sih di tempat ini, keluar pintu aja langsung liat gunung, jalan dikit liat ladang sama sawah, menurut gue itu udah sama aja kaya jalan-jalan,” komentar Ziya.
“Saya cuma takut Neng merasa bosen di rumah terus.”
“Nggak gue gak bosen lu tenang aja, lu kan capek mening istirahat lagi sono gak usah pake mikirin gue segala.”
“Ya udah kalau gitu,” dia bangkit setelah sarapan kemudian kembali ke kamarnya.
Ziya menatap pintu kamar Asep yang tertutup rapat, Ziya tahu Asep selalu membuat batasan diantara mereka, dulu Ziya baik-baik saja dengan hal itu dan malah merasa senang, namun sekarang perasaannya sungguh berbeda.
‘Kayanya gue emang udah jatuh cinta beneran ama si Asep,’ Ziya menghela nafas berat, matanya tak lepas dari pintu kamar Asep.
Setelah menghabiskan sarapannya Ziya pun kembali ke kamarnya, dia melirik dinding yang menjadi penghalang antara kamarnya dan kamar Asep.
‘Si Asep lagi ngapain ya?’ Ziya menempelkan telinganya di dinding tersebut, berharap bisa mendengar suara orang di sebelahnya, namun tentu saja itu tidak terjadi.
Ponselnya tiba-tiba berdering, ‘Regan?’ Ziya tak lantas menjawab panggilan itu, dia ragu tentu saja, disisi lain hatinya ada orang baru yang tengah singgah, namun hubungannya dengan orang lama pun belum berakhir.
Ziya beranjak keluar untuk mengangkat telepon dari Regan, dia tak ingin Asep mendengar percakapannya dengan pacarnya itu.
“Halo,” ucap Ziya setelah diluar, dia duduk di bale-bale yang cukup berjarak dari rumah namun tetap di area yang sama.
“Halo sayang, aku kangen banget sama kamu. Kamu tuh susah banget di hubungin tahu gak,” keluhnya, suaranya terdengar manja.
“Maaf Re, disini sinyalnya jelek,” sahut Ziya.
“Emang kamu di negara mana sih, sampe sinyal aja jelek banget,” keluhnya.
Ziya diam tak menyahut, “Sayang, kamu gak ada niat pulang dulu gitu sebentar aku gak kuat pengen ketemu kamu.”
“Maaf Re, aku gak bisa.”
“Kalau gitu kita ganti panggilan video ya.”
“Tu-tunggu Re, kayanya gak bisa deh, jangankan untuk panggilan Video, telpon biasa aja suaranya putus-putus,” ujar Ziya.
Dia berdecak pelan, “ya udah gak papa. Yang ko selama disana kamu gak pernah sekalipun ngechat aku duluan? Jujur aku ngerasa ada yang beda sama kamu akhir-akhir ini,” ungkapnya.
“Beda apaan sih Re, itu mah perasaan kamu aja,” sanggah Ziya.
“Hem, aku harap sih gitu,” sahutnya.
Ziya menghela nafas berat, saat dia melihat kearah pintu, tampak Asep keluar dari sana, ‘Asep, kenapa dia harus keluar sekarang sih?’ batin Ziya.
“Halo Yang, halo! Kamu masih disana kan?” suara Regan masih terdengar.
Tut. Ziya mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
“Cuacanya bagus ya,” ucap Ziya berbasa-basi.
“Iya Neng, biasalah kalau habis ujan ya gitu,” tanggap Asep, “kenapa udahan neleponnya? Sinyalnya jelek ya?” tanyanya.
“Hmh, tadi temen aku yang telpon nanyain kabar, tapi sinyalnya keburu hilang,” jelas Ziya tanpa diminta.
Tangannya merasakan hpnya kembali bergetar, untung Ziya sudah mematikan bunyinya terlebih dahulu tadi, “lu mau kemana Sep, katanya mau istirahat di rumah hari ini?” tanya Ziya saat melihat penampilan Asep yang sudah mengenakan stelan kerjanya, hanya berupa celana Jeans, kaos oblong dengan kemeja diluarnya tak lupa dia memakai sepatu boot sebagai pelindung kakinya.
“Saya cuma mau ngontrol aja, biar yang lain aja yang kerja,” ujarnya.
“Gue boleh ikut nggak?” tanya Ziya.
“Boleh Neng, tapi disana kotor Neng gak papa?”
“Ck apaan sih, gue bukan Putri Kerajaan yang takut kotor, lu tuh lebay tahu gak. Dulu aja pas lagi bocil, Papah sering ajak gue main tanah, main lumpur, katanya itu bagus buat anak-anak.”
“Kalau gitu ayo atuh saya akan ajak Neng nanem benih sayuran.”
“Woah, ayay kapten!” ucapan Ziya selalu sukses membuat senyum mengembang di wajah Asep, dan Ziya kini menikmati itu semua.
Biar si benalu cari duit sendiri
❤❤😍😍💪💪
klao Asep gk cinta ma kmu ziyaa..
🤣🤣😄❤❤❤😍💪💪💪
ziya auto njerittt..
aaaaa..
🤣🤣😄😄😍😍😍❤💪💪💪
jangan samlai pak raden manfaatin ziya yaaa😍❤❤❤❤💪💪💪
jgn sampai siti curiga..
klao perlu ziya cium asep di depan siti..
🤣🤣😄😍❤❤❤❤
😍💪😍😍💪💪❤❤❤
aseppp..
siap2 aja macn netinamu ngamuk3..
🤣❤❤💪😍😄
bakal ada salah paham ini..
moga gak panjang salah pahamnya..
❤💪💪💪😍😍😄😄😄