NovelToon NovelToon
Ingat Aku Meski Kau Lupa

Ingat Aku Meski Kau Lupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Rebirth For Love / Persahabatan / Kisah cinta masa kecil / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:892
Nilai: 5
Nama Author: jaaparr.

Hellowwww
Ini adalah novel pertama sayaa.
Semoga sukaa ya 😍🙏

Sinopsis:
Bercerita tentang dua pasangan yang bucin banget di sekolah. Namun, karena suatu hal menyebabkan hubungan mereka menjadi renggang hingga ada di pinggir jurang, bahkan setelah jatuh pun mereka masih dihadapkan pada ribuan masalah.
Masalah apa ya kira-kira?
Yuk dibaca langsung ajaa!

Donasi ke aku:
Saweria: parleti

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jaaparr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Penyesalan

Seminggu telah berlalu sejak Arsa siuman dari komanya.

Asha setiap hari selalu mengunjungi Arsa di rumah sakit meskipun hatinya selalu sakit setiap kali bertemu Arsa.

Arsa yang kehilangan ingatan tentang dirinya selalu memperlakukan Asha seperti orang asing, meskipun sedikit ramah.

Hari ini, Asha kembali ke rumah sakit dengan membawa sekotak kue kesukaan Arsa.

Ia berharap setidaknya makanan itu bisa membantu Arsa mengingat sesuatu.

Tok tok tok...

"Masuk" jawab Arsa dari dalam.

Asha membuka pintu dan tersenyum tipis melihat Arsa yang tengah duduk di tepi kasur sembari membaca buku.

"Hai Arsa" sapa Asha dengan suara yang dibuat senyaring mungkin, meskipun hatinya terasa begitu berat.

Arsa mendongak dan membalas dengan senyuman ramah. "Oh, Asha. Datang lagi?"

'Asha doang dong, gak ada "sayangku", gak ada "cintaku" hanya... Asha' batin Asha dengan hati yang tercubit.

"Iya, aku bawain kue kesukaan kamu nih" kata Asha sembari menunjukkan kotak kue yang ia bawa.

Arsa menatap kotak kue itu dengan tatapan bingung. "Kesukaan aku? Emang aku suka kue apa?"

Asha duduk di kursi samping kasur, membuka kotak kue itu. "Kue sus. Dulu kamu selalu bilang kalau kue sus itu kue terenak di dunia."

Arsa tertawa kecil. "Beneran? Kok aku gak inget ya."

Ia mengambil satu kue sus dan menggigitnya. Matanya berbinar sejenak.

"Enak sih..." kata Arsa sembari mengunyah. "Tapi... Aku tetep gak inget pernah makan ini."

Asha menunduk, berusaha menyembunyikan kekecewaannya. Ia sudah mencoba berbagai cara, mulai dari membawa makanan kesukaan Arsa, menceritakan kenangan mereka, sampai menunjukkan foto-foto mereka.

Tetapi, tidak ada satupun yang berhasil membuat Arsa kembali ingatannya.

"Asha..." panggil Arsa dengan nada yang hati-hati. "Aku... Aku minta maaf ya."

Asha mendongak, menatap mata Arsa. "Maaf kenapa?"

"Maaf karena... Karena aku gak bisa ingat kamu. Aku tau kamu pasti sedih banget, dan... Dan aku juga pengen banget bisa ingat."

Arsa menundukkan kepalanya.

"Tapi gimana ya... Gimana pun aku coba, aku tetep gak bisa inget kamu. Rasanya... Rasanya kayak ada aja gitu yang hilang dari hidupku, tapi aku gak tau apa itu."

Mendengar itu, hati Asha semakin hancur. Ia ingin menangis, tetapi ia tahan sekuat tenaga.

"Gak apa-apa kok, Arsa" kata Asha dengan senyuman yang dipaksakan. "Yang penting kamu sehat. Ingatanmu... Nanti juga bisa balik kok."

Arsa menatap Asha dengan tatapan yang sulit diartikan. "Asha... Boleh aku tanya sesuatu?"

"Boleh."

"Kita... Kita pacaran udah berapa lama?"

"Setahun lebih" jawab Asha pelan.

"Setahun..." ulang Arsa dengan nada tidak percaya. "Berarti... Berarti kita pasti punya banyak kenangan ya?"

Asha mengangguk. Air matanya sudah mulai berkumpul di pelupuk mata.

"Banyak banget, Arsa. Kita... Kita punya banyak sekali kenangan bahagia."

"Cerita dong" pinta Arsa dengan mata yang berbinar, seperti anak kecil yang ingin mendengar dongeng.

Asha tersenyum getir. Ia lalu mulai menceritakan kenangan mereka.

Tentang bagaimana mereka pertama kali bertemu, tentang saat Arsa menembaknya di taman, tentang moment-moment manis yang mereka lalui bersama.

Arsa mendengarkan dengan seksama. Sesekali ia tersenyum, sesekali pula ia terlihat sedih.

"Kedengarannya... Kedengarannya kita dulu bahagia ya?" kata Arsa setelah Asha selesai bercerita.

"Iya... Kita sangat bahagia" jawab Asha dengan suara yang bergetar.

Arsa terdiam sejenak, lalu ia menatap mata Asha dengan tatapan yang begitu dalam.

"Asha... Aku bener-bener minta maaf. Maaf banget. Aku pengen banget bisa ingat semua itu. Pengen banget juga bisa jadi Arsa yang dulu lagi."

"Tapi... Tapi aku gak tau caranya gimana."

Asha tidak tahan lagi. Air matanya jatuh begitu saja. Ia cepat-cepat menghapusnya dengan punggung tangan.

"Gak apa-apa, Arsa. Aku... Aku bakal bantuin kamu buat inget lagi. Aku gak akan nyerah."

Arsa tersenyum hangat. "Makasih ya, Asha. Maaf... Maaf udah bikin kamu nangis."

Tanpa sadar, tangan Arsa terangkat dan menghapus air mata di pipi Asha dengan lembut.

Asha tersentak. Sentuhan itu... Sentuhan itu begitu familiar. Begitu hangat.

Arsa sendiri juga terkejut dengan apa yang ia lakukan. Ia cepat-cepat menarik tangannya.

"Maaf... Aku... Aku gak tau kenapa aku tiba-tiba..."

"Gak apa-apa" potong Asha dengan senyuman. Di dalam hatinya, ada secercah harapan yang tumbuh.

'Mungkin... Mungkin tubuhnya masih ingat aku, meskipun otaknya tidak.'

🌷🌷🌷🌷

Malam harinya, Asha pulang ke rumah dengan hati yang sedikit lebih ringan. Meskipun Arsa masih belum ingat, tetapi tadi ada moment kecil yang membuat Asha merasa bahwa masih ada harapan.

Ia masuk ke kamarnya dan berbaring di kasur. Menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang melayang.

Kring...

Hp-nya berdering. Cinta menelepon.

"Halo Cin" sapa Asha.

"Sha, gimana Arsa hari ini?" tanya Cinta dengan nada penasaran.

"Masih sama. Dia masih gak ingat gw."

Terdengar helaan nafas dari seberang telpon. "Lu pasti cape banget ya, Sha..."

"Cape sih cape... Tapi gw gak bisa nyerah, Cin. Arsa itu... Arsa itu satu-satunya orang yang bener-bener nerima gw apa adanya."

Asha mulai bercerita kepada Cinta tentang masa lalunya—tentang bagaimana ia selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, tentang bagaimana ia tidak pernah merasa cukup baik di mata ibunya.

"Arsa itu... Arsa itu orang pertama yang bilang kalau gw itu cantik, meskipun gw tau gw gak secantik cewek-cewek lain."

"Arsa juga tuh orang pertama yang bilang kalau gw itu spesial banget, meskipun gw gak sepintar orang lain."

"Dia... Dia bikin gw merasa berharga, Cin. Makanya... Makanya gw gak bisa dan gak mau juga kehilangan dia."

Air mata Asha mulai mengalir lagi.

"Gw nyesal banget, Cin. Nyesal banget kenapa kemaren gw egois. Kenapa gw yang selalu nyari masalah. Kenapa gw gak bisa lebih menghargai Arsa waktu dia masih sayang sama gw..."

"Kalau aja... Kalau aja gw gak egois, Arsa pasti gak akan kecelakaan. Ingetannya juga gak akan hilang..."

"Ini semua salah gw, Cin. Semua gara-gara gw..."

Cinta mendengarkan tangisan Asha dengan hati yang ikut teriris.

"Sha... Dengerin aku ya. Ini bukan salah lu. Kecelakaan itu... Itu namanya kecelakaan. Bukan salah lu, bukan juga salah Arsa."

"Yang penting sekarang, lu harus tetep kuat. Arsa butuh lu buat bantuin dia inget lagi."

Asha mengangguk meskipun Cinta tidak bisa melihatnya. "Iya... Iya, gw harus kuat."

Setelah telpon berakhir, Asha menatap foto Arsa di hp-nya. Ia mengelus layar itu dengan lembut.

"Arsa... Aku janji, aku akan bikin kamu ingat lagi sama aku."

"Aku akan jadi Asha yang lebih baik. Aku gak akan egois lagi. Aku akan sabar menunggu kamu ingat."

"Karena kamu... Kamu adalah segalanya buat aku."

🌷🌷🌷🌷

Keesokan harinya, Asha datang lagi ke rumah sakit dengan semangat yang baru.

Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan menangis lagi di depan Arsa.

Ia harus kuat. Ia harus bisa membuat Arsa nyaman, bukan malah membebaninya dengan kesedihan.

"Pagi Arsa!" sapa Asha dengan senyuman lebar ketika masuk ke ruangan.

Arsa yang tengah menonton TV langsung menoleh. "Pagi Asha. Tumben pagi banget datangnya."

"Aku mau ajak kamu jalan-jalan keliling rumah sakit. Kata dokter, kamu boleh jalan-jalan kok asal gak terlalu capek."

Mata Arsa berbinar. "Serius? Boleh?"

"Boleh lah. Ayo!"

Asha membantu Arsa berdiri dan mereka berjalan bersama keluar dari ruangan.

Arsa masih sedikit lemah, jadi Asha berjalan sangat pelan di sampingnya.

Sesekali tangan mereka tidak sengaja bersentuhan, dan setiap kali itu terjadi, hati Asha selalu berdebar kencang.

Mereka berjalan ke taman rumah sakit dan duduk di bangku taman.

"Enak ya udaranya" kata Arsa sembari menarik nafas panjang.

"Iya. Kamu kangen gak sama sekolah?" tanya Asha.

Arsa terdiam sejenak. "Entah ya... Aku bahkan gak begitu inget gimana suasana sekolah. Yang aku inget cuma... Cuma aku ada cita-cita pengen jadi dokter."

"Iya, kamu emang pengen jadi dokter" kata Asha dengan senyuman. "Kamu selalu bilang kamu pengen jadi dokter yang bisa nolongin orang."

Arsa tersenyum tipis. "Kayanya dulu aku orangnya baik ya?"

Asha tertawa kecil. "Baik banget. Terlalu baik malah."

"Terlalu baik?"

"Iya. Kamu itu friendly banget sama semua orang. Makanya... Makanya dulu aku suka cemburu."

Arsa menatap Asha dengan tatapan penasaran. "Cemburu?"

Asha mengangguk. Ia lalu menceritakan tentang bagaimana ia dulu sering cemburu karena Arsa terlalu ramah kepada cewek-cewek lain.

"Aku... Aku dulu sering banget marah-marah sama kamu gara-gara itu" cerita Asha dengan wajah yang sedikit malu.

"Dan kamu... Kamu selalu sabar ngadepin aku yang rewel."

Arsa terdiam mendengar cerita itu. "Berarti... Berarti aku dulu bener-bener sayang sama kamu ya?"

Asha menatap mata Arsa. "Iya... Kamu sangat sayang sama aku."

"Dan aku juga... Aku juga sangat sayang sama kamu."

Keheningan merajai mereka untuk beberapa saat. Angin sepoi-sepoi berhembus, membawa keharuman bunga dari taman.

"Asha..." panggil Arsa pelan.

"Ya?"

"Aku... Aku pengen bisa ingat. Pengen banget. Tapi... Tapi rasanya susah banget."

Arsa menundukkan kepalanya.

"Kadang aku merasa bersalah. Aku ngeliat kamu yang tiap hari datang kesini, ceritain tentang kita, usaha keras banget... Tapi aku tetep gak bisa ingat."

"Rasanya... Rasanya aku mengecewakan kamu."

Asha cepat-cepat menggeleng. "Enggak kok. Kamu gak mengecewakan aku."

Ia menggenggam tangan Arsa dengan lembut.

"Yang penting sekarang, kamu sehat. Ingatanmu... Nanti juga bakal balik. Aku yakin itu."

Arsa menatap tangan Asha yang menggenggam tangannya. Entah mengapa, genggaman itu terasa begitu hangat dan familiar.

"Makasih ya, Asha..." ucap Arsa dengan senyuman tulus.

"Makasih udah mau sabar nungguin aku."

Asha tersenyum, meskipun air matanya sudah berkumpul di pelupuk mata.

"Sama-sama, Arsa. Aku... Aku akan selalu di sini buat kamu."

Dan di saat itu, Asha membuat satu janji lagi dalam hatinya.

'Aku akan bikin kamu jatuh cinta lagi sama aku, Arsa.'

'Aku akan bikin kamu ingat, betapa indahnya cinta kita dulu.'

'Dan kali ini... Kali ini aku gak akan sia-siain kamu lagi.'

TO BE CONTINUED

🌷🌷🌷🌷🌷

Huhu sedih banget liat Asha yang harus sabar ngadepin Arsa yang lupa 😭 Tapi setidaknya Arsa baik kok sama Asha, walaupun gak inget.

Kira-kira Arsa bisa inget gak ya? Atau mereka harus mulai dari awal lagi?

Penasaran kan? Stay tune terus yaa dan jangan lupa follow ig author!

Follow ig author ya!

@Jaaparr.

1
Maya Lara Faderik
sangat penasay..
tapi bikin Asha sungguh movie on Thor kalau bersama arsa itu menyakitkan jangan sia siakan airmataku ,..bahagiakan asha bersama orang lain juga supaya arsa merasakan kesakitan dan air mataku
jaaparr: Siapp kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!