NovelToon NovelToon
Sendiri Di Tengah Ramai

Sendiri Di Tengah Ramai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.

Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.

Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.

Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.

Selamat membaca. Jangan kaget kalau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 Telepon Jam Sepuluh Pagi.

Jam sepuluh pagi itu sebenarnya jam yang biasa. Pelajaran lagi tanggung, nggak terlalu berat, tapi juga bukan jam santai. Aku lagi duduk di kelas, buku terbuka, tapi pikiranku nggak sepenuhnya di situ. HP-ku getar di atas meja. Nama Rara muncul di layar. Aku lihat sebentar. Nggak langsung angkat.

Bukan karena sengaja. Lebih ke refleks. Aku lagi capek. Capek mental. Capek mikir. Aku pengin sepuluh detik aja buat narik napas tanpa harus jawab apa-apa. HP-ku getar lagi.

Kali ini lebih lama. Teleponnya masih masuk. Aku lirik sekitar. Guru lagi nulis di papan. Teman-teman pada fokus ke buku masing-masing. Aku angkat pelan, tempelin ke telinga.

“Halo,” kataku pelan.

“Naya, kamu di mana?” suara Rara langsung nyamber. Nggak ada basa-basi. Nggak ada nada bercanda. “Di kelas,” jawabku.

“Kok kamu belum ngirim data jumlah fix?” Nada suaranya bikin dadaku agak ketarik. Bukan marah. Tapi jelas nggak sabar. “Aku kirim tadi malam,” jawabku, agak bingung.

“Yang lengkap, Na. Ini masih beda sama catatan aku.” Aku ngerutkin kening. “Beda yang mana?”

Di seberang sana, dia tarik napas. Kedengaran jelas. “Ya itu. Total peserta sama pembagian regunya. Aku butuh sekarang.” Aku ngelirik buku catatan di tas. “Aku cek dulu, ya. Nanti aku kirim ulang.”

“Sekarang bisa nggak?” Aku diem sebentar. Di kelas, aku nggak mungkin bongkar tas dan ngecek detail panjang. “Sekarang aku lagi pelajaran,” jawabku jujur. “Habis ini aku cek.”

“Naya, ini penting. Jangan ditunda.” Kalimat itu kena di aku. Bukan karena isinya, tapi nadanya. Kayak aku orang yang sering nunda, padahal aku tau sendiri aku bukan tipe itu. “Iya,” jawabku. Pendek. Dia nggak jawab lagi. Telepon ditutup. Aku turunin HP, taruh pelan di meja. Tanganku dingin.

Pelajaran lanjut. Guru ngomong apa, aku nggak terlalu denger. Kepalaku isinya suara barusan. Aku muter ulang nada Rara di kepala. Nada yang nggak biasa. Nada yang bikin aku ngerasa salah, padahal aku belum tau salahnya di mana.

Begitu bel istirahat bunyi, aku langsung buka tas. Buku catatan, map, semuanya keluar. Aku bandingin lagi satu-satu. Jumlah peserta, nama, regu, semua sama kayak semalam. Aku foto ulang. Aku kirim ke Rara.

“Ini datanya. Sama kayak yang kemarin.” Pesan terkirim. Dibaca. Beberapa menit nggak ada balasan.

Aku berdiri, keluar kelas. Di lorong, aku duduk di bangku panjang. Aku ngerasa kayak abis ditegur, padahal belum jelas. HP-ku bunyi lagi.

Rara: “Oke. Aku cek.” Cuma itu.

Aku baca berulang. Nggak ada “maaf” atau “ternyata sama”. Aku tau aku nggak butuh itu. Tapi aku juga tau aku pengin itu.

Tara nyamperin. “Kenapa?”

“Abis ditelepon Rara,” jawabku.

“Soal apa?”

“Data.” Dia duduk di sebelahku. “Terus?”

“Katanya beda.”

“Emang beneran beda?”

“Enggak.”

Tara diem. “Nada dia gimana?”

Aku mikir sebentar. “Nggak sabaran.”

Tara ngangguk kecil. “Belakangan dia emang gitu.”

Aku nggak nanya lanjutan. Aku takut jawabannya malah bikin aku makin kepikiran. Pelajaran lanjut. Aku masuk kelas lagi.

Tapi fokusku pecah. Aku beberapa kali ngecek HP, nunggu balasan lanjutan. Nggak ada. Jam berikutnya, aku ke toilet. Cuci muka. Ngaca. Mukaku kelihatan capek. Mata agak sayu.

Aku ngingetin diri sendiri: ini cuma miskomunikasi kecil. Jangan dibesar-besarin. Tapi kenyataannya, hal kecil itu nempel.

Siang, ruang pramuka rame. Anak-anak datang buat bahas teknis. Aku masuk belakangan. Rara sudah di dalam, duduk, ngomong sama beberapa orang. Aku berdiri sebentar di pintu. Nunggu momen yang pas buat masuk. “Naya,” Rara manggil. “Data yang tadi udah aku cocokkan.”

Aku jalan masuk. “Iya.”

“Sama,” katanya. “Berarti catatanku yang ketinggalan.” Aku berhenti sebentar. “Oh.” Itu aja. Nggak ada kelanjutan. Aku pengin bilang, “Tadi kamu nadanya bikin aku kepikiran.” Tapi kalimat itu cuma muter di kepala. Nggak keluar. Kami lanjut rapat kecil. Aku nyatet. Sesekali aku nanya. Jawabannya singkat. “Ada yang mau ditambah?” tanya Rara ke yang lain. Aku angkat tangan sedikit. “Bagian konsumsi, jadwalnya agak mepet. Mungkin bisa dimajuin setengah jam.”

Rara mikir. “Nanti aku atur.”

Biasanya dia bilang, “Oke, kita ubah.”

Kali ini, cuma, “Nanti aku atur.” Aku nurunin tangan. Nggak nambah. Rapat selesai. Anak-anak keluar satu-satu. Aku beresin papan tulis. Kebiasaan lama. Rara lagi buka HP. Aku berdiri di dekatnya. “Ra,” panggilku pelan. Dia nengok. “Kenapa?” Aku mau ngomong banyak hal. Tapi yang keluar cuma, “Kalau ada data yang kurang, bilang aja. Aku siap cek.”

“Iya,” jawabnya cepat. “Aku tau.” Nada datar. Bukan marah. Tapi juga bukan hangat. Aku ngangguk. Pergi.

Sore itu, aku pulang dengan kepala berat. Motor lewat jalan yang sama, tapi rasanya beda. Angin kena muka, tapi nggak nyegerin.

Di rumah, aku taruh tas, duduk di lantai kamar. Aku buka HP lagi. Baca ulang chat pagi tadi. Aku nyari kesalahan di kalimatku sendiri. Takut ada kata yang kedengaran defensif. Takut aku salah nada. Padahal aku tau, aku jawab biasa aja.

Malamnya, aku nggak langsung ngerjain apa-apa. Aku rebahan. Tapi pikiran jalan terus. Aku mikir: kapan terakhir Rara nelepon cuma buat nanya kabar?

Aku nggak inget. Yang ada sekarang selalu soal data, soal tugas, soal hal teknis. Aku nggak keberatan soal kerja. Aku cuma ngerasa berubah cara ngomongnya ke aku.

Besok paginya, aku bangun dengan perasaan yang sama. Belum ilang. Di sekolah, Rara nyapa. “Pagi.”

“Pagi,” balasku. Senyumnya tipis. Formal.

Di kelas, aku duduk lebih depan. Biasanya aku suka pindah-pindah, nimbrung. Hari itu aku males. Jam sepuluh lagi. HP-ku getar. Aku kaget. Refleks. Tapi kali ini cuma notifikasi grup.

Rara nulis: “Tolong dicek ulang pembagian regu. Jangan sampai salah.” Kalimatnya umum. Tapi entah kenapa, aku ngerasa itu ke aku. Aku jawab di grup: “Siap. Aku cek.” Beberapa orang baca. Ada yang nambah emot jempol. Aku cek ulang. Nggak ada yang salah. Aku kirim update. “Sudah dicek. Aman.” Rara baca. Nggak bales. Aku naruh HP. Nahan napas.

Di dalam hati, aku mulai ngerasa capek bukan karena kerjaannya. Tapi karena perasaanku sendiri yang harus terus aku tahan. Siang, aku ketemu Faris di kantin. “Lu kenapa, Na?” tanyanya. “Keliatan tegang.” Aku senyum dikit. “Biasa.”

“Rara agak keras belakangan,” katanya, pelan. Aku nengok. “Dia gitu ke semua orang?”

Faris mikir. “Nggak juga.” Jawaban itu bikin dadaku turun dikit. Kayak ada yang jatuh. “Oh,” kataku. Faris nggak nanya lagi. Kami makan dalam diam.

Sore, aku di ruang pramuka lagi. Ngerapihin map. Rara masuk, duduk, buka catatan. “Naya,” katanya tiba-tiba. “Besok kamu bisa bantu aku ke rumah Bu Santi?”

Aku nengok. “Bisa.”

“Oke.” Nada biasa. Nggak ada sisa ketegangan. Tapi juga nggak ada kehangatan lama. Aku ngerasa bingung. Pagi ditelepon dengan nada nggak sabar. Siang disindir nggak langsung. Sore minta bantuan biasa aja. Aku nggak tau harus ngerespon dengan perasaan apa. Malamnya, aku ceritain ke Tara lewat chat.

Aku: “Rara nelpon jam sepuluh pagi. Nadanya bikin aku mikir.”

Tara: “Dia marah?”

Aku: “Nggak marah. Tapi kayak… kesel.”

Tara: “Kamu salah?”

Aku: “Nggak.”

Tara: “Berarti bukan kamu.”

Aku baca pesan itu lama. Kalimatnya sederhana. Tapi bikin aku mikir. Bukan aku. Tapi kenapa aku yang ngerasa disalahin? Aku nutup chat. Taruh HP. Ngerasa capek yang nggak kelihatan. Telepon jam sepuluh pagi itu kelihatannya sepele. Tapi buat aku, itu jadi tanda pertama yang jelas. Nada berubah. Cara ngomong berubah. Dan aku mulai belajar satu hal yang nggak enak: Kadang, retak itu nggak datang dari pertengkaran besar. Tapi dari nada suara yang bikin kamu ragu sama diri sendiri.

1
@fjr_nfs
makasih yaaa... kamu jugaa...
Zanahhan226
kamu merasa semuanya harus sempurna, tapi juga ogah ribet. mirip aku, pen ada di setiap detail spya gk ada yg kelewatan. tapi lama" emg kerasa capeknya. bukan krna kerjaannya, tp krna dianggap nggak ngaruh.
Zanahhan226
dulu juga ijut pramuka, tpi bukan siapa" dan bukan apa"..
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
Zanahhan226
aku baca ini karna agak relate sama judulnya, entah ceritanya nanti ada yg relate juga atau enggak..
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
Zanahhan226
tulisannya lebih rapi dari novel yg kubaca seblumnya..
semangat trs utk berkarya, yah..
Zanahhan226
aku tim datang mepet pokoknya..
🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!