Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.
Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.
Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.
Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.
Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.
Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.
Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Di dekatnya Nyeri Itu Mereda
Shafiya berhenti. Menoleh sejenak. Ia langsung ingat hal apa yang kini mengikatnya dengan Sagara.
"Ini sebenarnya tugas saya."
Dan Shafiya tidak menunggu jawaban lagi.
Ia keluar dari ruang kerja itu dengan langkah tenang, menuju pantry kecil di ujung koridor.
Rumah besar itu tetap sunyi seperti sebelumnya. Hanya suara air yang mengalir dari keran memecah keheningan.
Ia menuangkan air hangat ke dalam gelas. Uap tipis naik perlahan.
Shafiya menatap gelas itu sesaat.
Nyeri di perutnya sendiri belum benar-benar hilang. Masih ada sisa rasa yang tertinggal sejak siang tadi. Memang tidak tajam, tapi cukup untuk membuat tubuhnya sadar bahwa sesuatu sedang terjadi.
Shafiya membawa gelas itu kembali.
Pintu ruang kerja masih tertutup. Shafiya mengetuk pelan sebelum membukanya.
Sagara masih berada di tempat yang sama. Di depan jendela.
Posturnya tetap tegak. Tapi dari jarak ini terlihat jelas, satu tangannya menekan ringan area perutnya--seperti menahan sesuatu yang tidak ingin ia tunjukkan.
Shafiya melangkah mendekat dan menyodorkan gelas di tangannya.
“Air hangat.”
Sagara menatap gelas itu sebentar. Lalu berpindah ke wajah Shafiya.
Tatapannya tajam seperti biasa, tapi tidak sepenuhnya dingin.
“Letakkan di meja."
Shafiya mengangguk. Meletakkan gelas air hangat itu di meja. Perlahan, memastikan isinya tetap utuh. Pandangannya lalu kembali ke Sagara.
"Cepat diminum." Nada yang terdengar canggung. "Saya biasa minum air hangat kalau sedang nyeri di perut."
Sagara melihat perempuan berhijab di depannya itu dengan tatap mata yang sama. Datar. Sedatar ucapannya. "Saya tidak bilang sedang nyeri perut."
“Mm… saya menyimpulkan sendiri.”
Shafiya menunjuk sekilas ke arah perut Sagara.
“Saya lihat Anda menekan perut beberapa kali.”
Shafiya terbiasa hidup dengan tatanan nilai: kebersamaan, kekeluargaan, kepedulian pada sesama. Memberikan perhatian kecil pada orang-orang di sekitarnya bukanlah tuntutan--lebih seperti panggilan jiwa.
Ia akan bereaksi begitu saja. Tanpa kepentingan pribadi.
Seperti yang ia lakukan pada Sagara saat ini.
Dan hal itu hampir pasti berbeda dengan cara hidup lelaki di depannya.
Sagara bukan tipe orang yang melibatkan diri dalam kehidupan orang lain--bahkan untuk hal kecil sekalipun--jika tidak ada kepentingan di dalamnya.
Sagara diam. Tapi tubuhnya bergerak. Ia meraih gelas di meja.
Uap tipis dari air hangat naik perlahan.
Ia baru saja mengangkatnya sedikit ketika rasa nyeri itu kembali datang, dan kini disertai mual--lebih kuat dari sebelumnya. Perutnya seperti ditarik dari dalam.
Napasnya tertahan.
Sagara menurunkan gelas itu cepat. Tangannya berpindah ke meja di sampingnya, mencengkeram permukaan kayu untuk menahan tubuhnya yang tiba-tiba terasa goyah.
Gerakan itu tertangkap jelas di pandangan Shafiya. Dan terlalu keras untuk diabaikan begitu saja.
Shafiya refleks maju. Tangannya terangkat, menahan lengan Sagara sebelum lelaki itu benar-benar kehilangan keseimbangan.
Jarak mereka mendadak sangat dekat.
Begitu dekat hingga Sagara bisa merasakan kehangatan tubuh perempuan di depannya. Tak hanya itu, ada sesuatu yang lain.
Aroma lembut yang tercium.
Tidak kuat. Tidak mencolok. Hanya samar--seperti wangi sabun yang bercampur dengan sesuatu yang sangat alami.
Sagara mengerjapkan mata sekali. Samar.
Aroma itu mendominasi. Dan...
Aneh.
Rasa mual yang tadi menekan dadanya perlahan mereda. Nyeri di perutnya yang semula mencengkeram juga berangsur longgar, seperti seseorang baru saja melepaskan simpul yang diikat terlalu kencang.
Sagara tidak bergerak. Tatapannya turun ke wajah Shafiya yang kini hanya berjarak beberapa inchi.
Sagara juga tidak segera menjauh.
Untuk beberapa detik ia hanya berdiri diam, membiarkan tangannya masih ditahan oleh Shafiya. Sekedar memastikan nyeri dan mual yang berangsur hilang sendiri itu benar-benar nyata.
Sekali lagi aroma lembut tubuh Shafiya tercium. Dan kian jelas kini
tubuhnya sendiri terasa… lebih ringan.
Rasa mual yang tadi menekan dada seperti ditarik mundur perlahan.
Sangat aneh.
Tatapan Sagara turun sedikit, memperhatikan tangan Shafiya yang masih menyentuh lengannya.
“Kamu selalu bereaksi secepat ini?”
Suara Sagara rendah. Datar.
Shafiya baru menyadari posisinya. Ia segera menarik tangannya.
“Maaf.”
Ia mundur dua langkah.
“Refleks saja.”
Sagara tidak menjawab. Tatapannya masih tertahan pada wajah perempuan di depannya, seolah sedang menilai sesuatu yang baru saja ia temukan.
“Kamu bilang ada yang ingin disampaikan."
Shafiya mengangguk pelan, kembali mengingat tujuan awalnya datang.
“Tentang kamar yang saya tempati."
Shafiya diam sebentar, melihat reaksi Sagara. Tetap datar.
"Boleh, saya pindah ke kamar yang lain saja?"
"Kenapa?" Pertanyaan singkat.
"Di kamar itu ada kamera. Saya tidak nyaman."
Sagara tak langsung menjawab. Ia justru mengambil gelas air hangat itu dari meja. Kali ini tangannya tidak lagi gemetar.
Ia meneguknya perlahan.
Nyeri dan mual di perutnya benar-benar tidak kembali.
Tatapan Sagara kembali ke arah Shafiya.
“Besok kameranya dimatikan.”
Jawaban itu datang cepat. Tanpa negosiasi.
Seolah hal itu tidak penting baginya.
Padahal, mengubah sistem yang sudah berlaku, itu bukan kebiasaan Sagara.
Shafiya mengangguk. Wajahnya tampak lega. "Terima kasih."
Sagara menaruh gelas itu kembali ke meja.
“Kamu boleh kembali ke kamar. Elara."
Nada suaranya tetap datar.
Tapi sebelum Shafiya berbalik, ia menambahkan satu kalimat lagi.
“Dan jika kamu merasakan nyeri lagi…”
Sagara berhenti sebentar.
Tatapan tajamnya kembali menahan Shafiya di tempat.
“Beritahu Ratri.”
Shafiya tak segera menjawab. Ia tidak heran jika Sagara tahu ia mengalami nyeri tadi siang. Di kamarnya ada kamera. Ia diawasi.
Namun sebenarnya, Ratri tidak banyak melapor pada Sagara. Lelaki itu memang tidak pernah mengurusi hal-hal kecil. Sistem di rumahnya berjalan sangat rapi. Presisi. Semua orang sudah memiliki bagiannya masing-masing.
Sagara tahu Shafiya juga merasa nyeri
Karena melihatnya sendiri.
Saat Shafiya datang tadi, ada satu gerakan kecil yang tertangkap pandangan Sagara--tangan Shafiya yang sempat menekan perutnya sendiri sebelum menyodorkan gelas.
Gerakan yang sama dengan yang ia lakukan beberapa menit sebelumnya.
Hening. Tak ada pembicaraan lagi.
Shafiya mengangguk. Langkahnya kemudian menjauh meninggalkan ruang kerja itu.
Sementara Sagara diam di tempatnya.
Ada hal yang bermain dalam pikirannya.
Satu pertanyaan yang tak bisa ia jelaskan.
Kenapa tubuhnya berhenti bereaksi, saat Shafiya berada sangat dekat dengannya.