Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
POV Lauren : Pintu Menuju Remaja
Lima tahun telah berlalu sejak malam di mana lemari gantung itu nyaris merenggut nyawa Ayah. Lima tahun sejak lampu-lampu di rumah kami tidak pernah lagi dipadamkan, menciptakan siang abadi yang melelahkan bagi mata, namun menenangkan bagi jiwa. Kini, aku berdiri di depan cermin, menatap bayangan seorang gadis berusia dua belas tahun dengan seragam putih-biru yang masih terasa kaku di tubuhku.
"Lauren, sarapannya sudah siap," suara Mama terdengar dari balik pintu.
Aku menarik napas panjang, mencoba merapikan dasi yang sedikit miring. Tarik napas, buang rasa takutnya, bisikku pada diri sendiri. Selama lima tahun ini, aku telah belajar banyak hal. Aku belajar bahwa tidak semua bayangan ingin mencekikku, namun aku juga belajar bahwa semakin aku tumbuh dewasa, cahaya di dalam diriku terasa semakin terang, menarik perhatian hal-hal yang seharusnya tetap tinggal di kegelapan.
Aku turun ke ruang makan. Ayah sedang duduk membaca koran digitalnya, namun matanya terus waspada menatap setiap sudut ruangan. Kebiasaan lama yang sulit hilang. Sejak malam itu, Ayah berubah menjadi perisai yang paling keras kepala. Ia memasang cermin bagus di setiap jendela dan memastikan tidak ada sudut rumah yang tidak terjangkau cahaya.
"Hari pertama SMP. Sudah siap?" tanya Ayah tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya.
"Siap, Pa," jawabku singkat sambil menyendok nasi goreng.
"Papa akan mengantarmu sampai ke dalam gerbang. Mama sudah menyiapkan garam kasar di saku tasmu, kalau-kalau kamu merasa udaranya terlalu dingin di kelas," kata Ayah dengan nada serius.
Aku tersenyum tipis. "Garam tidak akan menghentikan mereka, Pa. Tapi terima kasih."
Papa menatapku, matanya memancarkan rasa bersalah yang masih sering muncul. Ia tahu garam adalah upaya plasebo, sebuah simbol bahwa ia berusaha melindungiku dengan cara apa pun yang ia tahu. Kami semua tahu, duniaku jauh lebih kompleks daripada sekadar takhayul pengusir setan.
Perjalanan menuju SMP Negeri 1 terasa singkat. Gerbang sekolah yang besar menyambutku dengan keriuhan khas hari pertama. Ratusan siswa baru dengan seragam yang sama, tawa yang keras, dan energi yang meluap-luap. Bagiku, keramaian ini adalah kebisingan yang menyakitkan. Setiap orang membawa aura yang berbeda; ada yang kuning cerah karena gembira, ada yang abu-abu karena cemas, dan ada yang hitam pekat karena kebencian yang terpendam.
"Hati-hati, Lauren. Jika ada apa-apa, langsung telepon Papa," bisik Papa saat aku turun dari mobil.
Aku mengangguk, lalu mulai melangkah memasuki koridor sekolah yang panjang. Sekolah ini adalah bangunan tua peninggalan zaman kolonial yang telah direnovasi. Langit-langitnya tinggi, dengan jendela-jendela besar yang seharusnya memberikan banyak cahaya. Namun, saat kakiku menginjak lantai ubin koridor lantai satu, aku merasakan sengatan dingin yang menusuk tumitku.
Dingin yang tidak wajar, batinku.
Aku berjalan menunduk, mencoba mengabaikan tatapan beberapa siswa yang mulai berbisik-bisik melihatku yang berjalan terlalu kaku. Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian. Aku ingin menjadi bayangan di antara ribuan bayangan lainnya. Namun, saat aku melewati pintu laboratorium biologi, udara di sekitarku mendadak membeku.
Suara keriuhan teman-temanku tiba-tiba terdengar sangat jauh, seolah-olah aku baru saja masuk ke dalam sebuah ruang kedap suara. Aku berhenti melangkah. Bulu kudukku berdiri tegak. Di ujung koridor yang remang karena lampu neon yang berkedip, aku melihatnya.
Sesosok bayangan hitam yang sangat besar. Tingginya mencapai langit-langit, menutupi seluruh lebar koridor. Sosok itu tidak memiliki bentuk manusia yang jelas; ia tampak seperti asap yang padat dan berdenyut, dengan ribuan helai rambut yang merayap di dinding seperti akar pohon yang busuk.
Dan yang paling mengerikan, sosok itu tidak sedang berdiam diri. Ia sedang menungguku.
Bayangan itu mulai bergerak maju. Langkahnya tidak bersuara, namun setiap kali ia bergeser, ubin di bawahnya tampak menghitam dan berderit. Aku mematung. Kekuatan yang memancar dari sosok ini jauh lebih besar dari apa pun yang pernah aku temui di taman rumah atau di dalam mimpi burukku saat kecil. Ini adalah kemurnian dari kegelapan yang purba.
Jangan lari, Lauren. Jika kamu lari, dia akan tahu kamu lemah, suara Mbah Minto terngiang di kepalaku.
Aku mengepalkan tangan, kuku-kukuku menekan telapak tangan hingga perih. Aku mencoba mengatur napas, memfokuskan energi hangat di ulu hatiku untuk membentuk perisai batin. Namun, bayangan itu seolah menertawakanku. Ia mengeluarkan suara geraman rendah yang menggetarkan tulang rusukku.
"Kunci... sudah semakin matang..." suara itu bukan terdengar di telingaku, melainkan bergema langsung di dalam jiwaku.
Bayangan itu menjulurkan sebuah lengan panjang yang tampak seperti kumpulan duri hitam tepat ke arah wajahku. Aku bisa merasakan hawa busuk kematian yang menguar darinya. Aku ingin berteriak, namun tenggorokanku terkunci. Saat ujung duri itu nyaris menyentuh keningku, sebuah getaran hebat meledak dari dalam diriku.
Tanpa sadar, aku melepaskan gelombang energi yang selama lima tahun ini coba kutekan habis-habisan. Cahaya biru redup berkilat dari tubuhku selama sepersekian detik. Bayangan besar itu tersentak mundur, mengeluarkan lengkingan marah yang membuat kaca-kaca jendela di koridor bergetar hebat.
"Lauren! Kamu kenapa berdiri di situ?"
Suara lantang seorang guru memecah kesunyian gaib itu. Seketika, duniaku kembali normal. Suara tawa siswa-siswa lain kembali terdengar, dan bayangan hitam besar itu lenyap, menyisakan bau hangat sisa ledakan energiku yang hanya bisa aku rasakan.
"Maaf, Bu. Saya cuma... pusing sedikit," kataku pada Bu Ida, guru yang baru saja menegurku.
Bu Ida menatapku dengan dahi berkerut.
"Wajahmu pucat sekali. Kalau tidak kuat ikut upacara, lebih baik ke UKS dulu."
"Tidak apa-apa, Bu. Saya sudah baikan," jawabku sambil buru-buru melangkah pergi.
Aku berjalan menuju lapangan upacara dengan jantung yang berdegup kencang. Tanganku masih gemetar. Kejadian tadi adalah peringatan yang sangat nyata. Aku menyadari bahwa seiring bertambahnya usiaku, kemampuanku tidak bisa lagi ditekan dengan sekadar pengabaian. Ia tumbuh bersamaku, menjadi bagian dari kedewasaanku, dan itu menjadikanku target yang semakin berharga bagi mereka yang mengincarku sejak lahir.
Upacara berlangsung di bawah terik matahari, namun aku tetap merasa kedinginan. Aku menatap ke arah gedung sekolah yang megah itu. Di salah satu jendela lantai atas, aku bisa merasakan mata-mata tak kasatmata sedang mengawasiku. Mereka tidak lagi hanya sekadar lewat; mereka memiliki rencana.
Sepanjang hari itu, aku tidak bisa fokus pada pelajaran. Setiap kali aku menutup mata, aku melihat ribuan mata merah yang menatapku dari kegelapan lemari masa kecilku. Aku menyadari satu hal yang menyakitkan: SMP ini bukan sekadar tempat belajar. Ini adalah medan perang baru. Dan yang lebih menakutkan, aku merasa seolah-olah aku sedang dituntun menuju sebuah pertemuan yang sudah diatur oleh takdir.
Saat bel pulang berbunyi, aku adalah orang pertama yang keluar dari kelas. Aku tidak ingin berlama-lama di dalam gedung yang penuh dengan residu energi gelap itu. Namun, saat aku berjalan menuju gerbang sekolah di mana mobil Ayah sudah menunggu, aku merasakan sebuah firasat buruk yang sangat kuat.
Rasanya seperti ada sebuah jaring-jaring besar yang perlahan-lahan menutup di sekelilingku. Jaring yang menghubungkan masa laluku, kemampuanku, dan sesuatu yang lebih besar yang menungguku di masa depan. Aku menoleh ke belakang sekali lagi, menatap koridor sekolah yang mulai sepi.
Di sana, di tengah remang koridor, aku melihat bayangan hitam kecil yang tertinggal. Bukan bayangan besar yang tadi, tapi sebuah siluet yang tampak seperti seorang remaja laki-laki yang berdiri diam menatapku. Ia tidak menyerang, ia hanya berdiri di sana, seolah-olah sedang menunggu saat yang tepat untuk menyapaku.
Aku segera masuk ke dalam mobil Ayah dan membanting pintunya.
"Kenapa, Lauren? Ada yang mengganggumu?" tanya Ayah cemas melihat wajahku yang berkeringat dingin.
Aku menggeleng pelan, menyandarkan kepalaku pada jendela kaca yang panas. Aku tidak bisa menceritakan semuanya pada Ayah. Aku tidak ingin menghancurkan kedamaian yang baru saja ia bangun selama lima tahun ini. Namun, di dalam hati, aku tahu bahwa masa tenang kami sudah berakhir. Sesuatu yang jauh lebih gelap dari mata merah di dalam lemari sedang bergerak menuju arahku, dan kali ini, aku tidak yakin cahaya lampu di rumah kami akan cukup untuk mengusirnya.
Firasat itu terus menghantuiku sepanjang perjalanan pulang. Ini bukan lagi soal hantu yang haus atau arwah yang sedih. Ini adalah tentang sebuah desain besar yang menempatkanku sebagai titik pusatnya. Dan untuk pertama kalinya sejak aku lahir, aku merasa bahwa kematian mungkin adalah bagian terkecil dari apa yang akan kuhadapi ke depan.