NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mila Dunka

Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Rencana Balasan

Dinamika bergeser dari rasa putus asa menjadi strategi perlawanan yang cerdik.

​Malam itu, studio A&A Pictures tidak lagi gelap karena kesedihan. Semua lampu dinyalakan terang. Adelia duduk di depan laptop utama, sementara Arlan berdiri di depan papan tulis putih, menghapus sisa-sisa jadwal syuting dan menggantinya dengan diagram alur yang rumit.

​"Papa pikir dia sudah menang karena aku menandatangani kontrak itu," ujar Arlan, suaranya kembali menemukan nada otoritasnya. "Tapi dia lupa satu hal. Kontrak itu hanya berlaku jika investor menyetorkan dana awal ke rekening studio Sandra dalam waktu 48 jam. Sebelum itu terjadi, kontrak tersebut hanyalah tumpukan kertas."

​Adelia mengetik dengan cepat, jarinya menari di atas kibor. "Aku sudah melacak aliran dana masuk ke akun pajak kita. Papa menggunakan perusahaan cangkang bernama Lentera Mandiri untuk menyisipkan dana gelap itu. Dia pikir aku tidak akan memeriksa detail kecil di laporan bulanan."

​"Bisa kamu buktikan itu manipulasi?" Arlan mendekati Adelia, menumpukan tangannya di meja.

​"Bisa. Tapi kita butuh akses ke server internal perusahaan Papa untuk mengambil log pengiriman aslinya. Hanya dengan begitu, laporan polisi tentang fitnah keuangan ini bisa berbalik menyerangnya," jawab Adelia tegas.

​Arlan terdiam sejenak. "Masuk ke sana adalah bunuh diri. Keamanannya sangat ketat."

​Adelia tersenyum tipis, jenis senyum yang biasanya Arlan miliki saat mendapatkan sudut pandang kamera yang sempurna. "Kita tidak perlu masuk secara fisik. Kita akan menggunakan Sandra."

​"Sandra?" Arlan mengernyit. "Dia sudah berkhianat sekali, Adel."

​"Dia berkhianat karena takut, Arlan. Tapi jika kita memberinya jalan keluar yang lebih aman daripada menjadi budak Papa, dia akan memihak kita. Sandra masih punya akses pintu belakang ke sistem komunikasi perusahaan Papa karena dulu mereka adalah mitra strategis."

​Rencana pun disusun. Arlan akan berpura-pura tetap berangkat ke Paris, sementara Adelia akan bekerja di balik layar bersama Sandra untuk mengumpulkan bukti. Ini adalah pertaruhan terbesar mereka. Jika gagal, keduanya bukan hanya kehilangan karier, tapi juga kebebasan.

​Keesokan harinya, Arlan menemui ayahnya di kantor pusat. Pria tua itu duduk di kursi kebesarannya, tampak sangat puas dengan dirinya sendiri.

​"Keputusan yang bagus, Arlan. Paris akan menyembuhkan penyakit idealisme konyolmu itu," ujar sang Ayah tanpa melihat anaknya.

​"Aku berangkat besok pagi. Tapi aku ingin jaminan bahwa Adelia tidak akan diganggu selama aku tidak ada," balas Arlan dengan akting yang sempurna—dingin dan pasrah.

​"Selama kamu patuh, asisten itu akan aman di lubang kecilnya."

​Sementara itu, di sebuah kafe pinggiran, Adelia bertemu dengan Sandra. Adelia menyodorkan sebuah dokumen yang berisi bukti bahwa investor Paris sebenarnya berencana untuk mempailitkan studio Sandra segera setelah film itu selesai.

​"Mereka tidak akan menyelamatkanmu, Sandra. Kamu hanya umpan untuk menarik Arlan," ujar Adelia tenang. "Bantu kami, dan Arlan berjanji akan menjadikan studiomu mitra utama di bawah payung A&A Pictures secara sah."

​Sandra menatap dokumen itu, wajahnya pucat. Keserakahan dan ketakutannya kini beradu dengan kenyataan pahit. Setelah keheningan yang lama, ia akhirnya mengangguk. "Apa yang harus kulakukan?"

​Malam harinya, operasi dimulai. Dengan bantuan akses dari Sandra, Adelia berhasil menembus celah keamanan server Lentera Mandiri. Jantungnya berdegup kencang setiap kali layar monitor menunjukkan loading bar.

​"Sedikit lagi... sedikit lagi..." bisik Adelia.

​Tiba-tiba, alarm di laptopnya berbunyi merah. Akses terdeteksi.

​"Arlan! Mereka tahu ada penyusup!" teriak Adelia melalui sambungan telepon.

​"Tahan, Adel! Jangan putus sambungannya!" suara Arlan terdengar tegang di seberang sana. Ia sedang berada di parkiran gedung ayahnya, bersiap untuk mengalihkan perhatian tim keamanan jika diperlukan.

​Di tengah ketegangan itu, sebuah bayangan muncul di pintu studio Adelia. Pintu terbuka dengan perlahan, dan seorang pria dengan seragam serba hitam berdiri di sana. Bukan petugas keamanan, melainkan Reihan Malik.

​"Sepertinya kamu butuh bantuan untuk menekan tombol 'Enter' itu, manis," ujar Reihan dengan nada mengejek, namun di tangannya ia memegang sebuah hard drive eksternal.

​Adelia tertegun. "Reihan? Apa yang kamu lakukan di sini?"

​"Aku aktor, Adel. Aku tahu kapan harus pindah ke skenario yang lebih menguntungkan. Papa Arlan tidak membayar sisa honor sabotaseku. Jadi, anggap saja ini balas dendam profesional."

​Reihan melemparkan hard drive itu ke meja. "Di situ ada rekaman suara Papa Arlan saat memerintahkan pemalsuan pajakmu. Gunakan itu sebagai pelengkap."

​Adelia tidak membuang waktu. Ia menggabungkan data itu dan menekan tombol kirim ke alamat email firma hukum independen dan pihak kepolisian pusat.

​Sent.

​Adelia bersandar di kursinya, napasnya tersengal. Di saat yang sama, Arlan masuk ke studio dengan napas terburu-buru. Ia melihat Reihan, lalu melihat layar monitor yang menunjukkan keberhasilan pengiriman.

​Arlan mendekati Adelia, menariknya ke dalam pelukan yang sangat erat. "Kita berhasil, Adel. Kita benar-benar melakukannya."

​Namun, Reihan berdehem pelan. "Jangan senang dulu. Pesawat ke Paris berangkat dalam lima jam. Dan Papa Arlan belum tahu kalau kartunya sudah mati. Dia masih punya orang-orang di bandara untuk memastikan Arlan naik ke pesawat itu, hidup atau mati."

​Adelia menatap Arlan. "Kita tidak akan lari ke bandara. Kita akan lari ke kantor polisi."

​Catatan Penulis Bab 16:

​Bab ini mengubah tempo cerita menjadi sebuah thriller konspirasi yang cepat. Bab ini menunjukkan bahwa Adelia bukan hanya "sunshine" yang ceria, tapi juga otak yang brilian. Munculnya Reihan sebagai anti-hero memberikan kejutan yang diperlukan agar alur tidak terlalu mudah ditebak.

1
MeeMeeBo
😄😄🙏
Dwi Winarni Wina
Sutradaranya galak sekali kenerja harus ssmpurna tidak ada kesalahan, ini ujian harus sabar menghadapi pak sutradara😀
MeeMeeBo
🤩
Neferti
👍👍💪
Neferti
👍👍👍
Neferti
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!