Xavier benci dua hal di dunia ini, kekacauan dan bulu kucing. Sebagai seorang mafia yang disegani hidupnya harus selalu steril dan terkendali.
Namun, semua itu hancur saat seekor kucing liar yang ia temui tiba-tiba berubah menjadi gadis cantik nan polos bernama Luna.
Luna tidak tahu cara menjadi manusia. Dia berisik, manja, dan hobi mengacaukan ruang kerja Xavier yang rapi.
Xavier ingin mengusirnya, tapi setiap kali melihat mata bulat Luna, hatinya goyah.
Bagaimana bisa sang pemangsa justru tak berdaya di tangan mahluk manis seperti Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Xavier mondar-mandir di atas karpet mahalnya yang kini basah kuyup karena ulah Luna. Sesekali ia menendang bangkai ikan mas koki yang menggelepar dengan amarah tertahan.
Sementara itu, Luna duduk bersimpuh di atas ranjang, mengenakan kemeja hitam Xavier yang kebesaran hingga menutupi setengah pahanya. Matanya yang biru sapphire terus mengikuti setiap gerak-gerik Xavier tanpa berkedip sedikit pun.
"Manusia tampan, apa kau bisa berhenti? Kepala Luna pusing melihatmu bolak-balik sejak tadi. Kau seperti kucing bi-rahi yang sedang bingung," ucap Luna sembari menyangga dagunya dengan kedua tangan, menatap Xavier dengan kepolosan yang nampak menyebalkan di mata pria itu.
Xavier menghentikan langkahnya. Ia menarik napas dalam-dalam dan memejamkan mata sekilas, mencoba menahan hasrat untuk melempar gadis ini keluar jendela. Rasanya, ia ingin sekali mengambil senjata kesayangannya dan menghabisi makhluk aneh ini sekarang juga. Tapi entah kenapa, setiap kali ia melihat mata biru itu, ada sesuatu yang menahan tangannya.
"Panggil saja aku Xavier! Bukan manusia tampan! Benar-benar menggelikan mendengar panggilan itu keluar dari mulutmu!" geram Xavier kesal.
"Sapir?" ucap Luna dengan mata berbinar senang, mencoba mengeja nama yang baru didengarnya tapi gagal total.
Xavier membelalak. "Xavier! Bukan Sapir! Nama bagus-bagus kau ubah jadi jelek begitu dan—" ucapan Xavier terhenti secara tragis saat Luna tiba-tiba melompat dari ranjang, menerjang ke arahnya dan menjilat pipi Xavier dengan penuh kasih sayang.
"Sapir baik, Luna suka Sapir!" teriak Luna kegirangan sambil memeluk pinggang Xavier erat-erat.
Xavier membeku di tempat. Otot-ototnya menegang. Sensasi lidah hangat Luna di pipinya dan pelukan gadis itu membuat seluruh sistem sarafnya mengalami korsleting.
Sial! Apa yang terjadi dengan jantungku! Kenapa berdetak begitu kencang? Apa aku terkena serangan jantung di usia dua puluh lima tahun? batin Xavier panik.
"Ya karena Sapir hidup, coba kalau mati pasti jantungnya tidak berdetak," sahut Luna santai. Ia melepaskan pelukannya dan menatap Xavier dengan wajah tanpa dosa.
Xavier menoleh dengan tatapan bingung dan horor. "Kau... kau bisa membaca pikiranku, gadis bodoh?"
Luna mengangguk sambil cengengesan, jari telunjuknya mengetuk pelipisnya sendiri.
"Ingat, Luna bukan gadis bodoh ya! Luna hanya sedikit berbeda."
"Lalu kalau bukan bodoh apa? Masuk ke kamar seorang pria tanpa memakai baju dan menyentuhku sembarangan? Kau tidak punya sopan santun, hah?!" bentak Xavier, berusaha menutupi fakta bahwa telinganya mulai memerah padam.
"Luna kan sudah bilang kalau Luna itu sebenarnya..."
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu yang keras dan tiba-tiba membuat mereka berdua tersentak. Luna yang ketakutan langsung melompat dan bersembunyi di belakang punggung lebar Xavier, mencengkeram kemeja pria itu kuat-kuat.
"Siapa itu? Luna takut," bisiknya gemetar di balik punggung Xavier.
"Jangan dekat-dekat! Menjauhlah sedikit!" Xavier memperingatkan dengan bisikan tajam. Gadis ini tidak tahu betapa Xavier sedang panas dingin karena kulit mereka terus bersentuhan. "Kau mau aku mati karena serangan jantung?!"
"Baby Vier! Apa kau baik-baik saja di dalam, Sayang? Mama khawatir sekali! Tadi mama dengar suara ledakan!" teriak Isabella dari balik pintu. Suara wanita itu terdengar sangat histeris.
"Tenanglah, Honey. Jangan memperburuk suasana dengan panik seperti ini. Mungkin dia hanya sedang latihan menembak cicak," sahut Jonas dengan santai.
"Tapi Pa, Mama mendengar suara ledakan dan tiba-tiba lampu padam! Mama yakin semua berasal dari kamar Baby Vier! Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya? Tadi Mama juga sempat mendengar suara teriakan wanita!" cerocos Isabella.
"Apa? Wanita?!"
Mendengar kata wanita, raut wajah Jonas berubah menjadi gelap dan penuh amarah. Pendengaran istrinya memang tidak diragukan lagi jika menyangkut urusan gosip atau skandal.
"Dasar anak kurang ajar! Berani sekali dia membawa wanita masuk ke kamar tanpa izin dariku!" geram Jonas. Tangannya sudah siap memutar knop pintu.
"Tuan, tenanglah. Biar saya yang masuk dan memeriksa keadaan di dalam," sahut Gerry yang tiba-tiba muncul di antara pasangan suami istri itu. Ia ingin menyelamatkan harga diri bosnya sebelum semuanya terlambat.
Nyut!
Namun, sebelum tangan Gerry menyentuh gagang pintu, Isabella sudah lebih dulu menarik telinga Gerry dengan tenaga yang luar biasa.
"Diam di sini dan jangan ikut campur, Gerry! Ini urusan keluarga!" seru Isabella.
"Argh! Ampun, Nyonya! Ampun! Telinga saya bisa copot!" teriak Gerry kesakitan. Dasar singa betina, hobi sekali menyiksa asisten tampan seperti aku, batin Gerry mengumpat dalam hati sambil meringis.
Xavier di dalam kamar semakin panik. Ia menoleh ke arah Luna yang masih menempel di punggungnya. "Cepat sembunyi di kamar mandi! Sekarang!" perintah Xavier dengan suara tertahan.
Luna malah memiringkan kepala. "Kenapa harus sembunyi?"
"Kubilang sembunyi atau aku akan benar-benar membuangmu ke sungai!" ancam Xavier.
Melihat wajah Xavier yang sangat serius, Luna akhirnya menurut dan berlari masuk ke kamar mandi dengan langkah berjingkat-jingkat. Tepat setelah pintu kamar mandi tertutup, pintu utama kamar Xavier terbuka lebar akibat tendangan maut Jonas.
"XAVIER! JELASKAN APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN—" Jonas terhenti. Matanya menatap akuarium yang hancur, TV yang berasap, dan Xavier yang hanya memakai handuk dengan wajah pucat.
Isabella masuk dan langsung mengendus-endus udara di kamar itu.
"Baby Vier, jujur pada Mama, di mana kau sembunyikan gadis itu?!"
Xavier berdiri tegak, memasang wajah dingin andalannya. "Aku tidak tahu apa yang Mama bicarakan. Aku tadi cuma sedang memandikan kucing, lalu TV-nya meledak sendiri."
Gerry yang berdiri di ambang pintu hanya bisa menepuk jidatnya. Memandikan kucing sampai TV meledak? Alasan macam apa itu, Tuan?
Luna itu bukan cacing 😭 tenang Vier nanti bisa dilanjutkan lagi , kamu bisa kasih pemahaman ke Luna😂
uhhh cakep banget visual nya 👍👍👍👍 thanks Thor
Vier..... pelan2 tho yooo jangan asal nyosor,, ntar Luna trauma lagi 😂
kan Xander jadi semakin dekat dengan Luna
hati hati Luna sama Xander itu
Masih gak menyangka Vier bisa semanis itu 🤭 Lun kamu bener bener ya berani kiss pipi Sapir , Luna hanya Sapir yang boleh kamu cium yang lain jangan🤭😂
Vier kondisikan perasaanmu 🤣 pelan pelan ajari Luna ya , guru terbaik❤️