Akibat sebuah kecelakaan, Alea—Ratu Mafia yang ditakuti dunia bawah—bertransmigrasi ke dalam tubuh seorang siswi SMA yang cupu, norak, dan selalu menjadi sasaran perundungan.
Lebih buruk lagi, gadis itu bukan hanya dibenci di sekolah, tetapi juga ditolak oleh keluarganya sendiri. Penampilan lusuh dan tingkahnya yang dianggap memalukan membuatnya hidup tanpa suara, tanpa pembelaan.
Kini, jiwa dingin dan berbahaya milik Alea menempati tubuh yang selama ini diremehkan semua orang.
Sekolah yang dulu penuh ejekan mulai terasa tidak aman.
Keluarga yang dahulu membuangnya perlahan menghadapi perubahan yang tak bisa mereka kendalikan.
Akankah mereka menyesal telah membenci Alea?
Ataukah justru Alea yang tak lagi peduli untuk memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rs_31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Ara.
“Ada apa ini?” tanya seseorang yang baru saja turun dari tangga.
Ara menoleh malas ke arah sumber suara. Tatapannya dingin, nyaris tak peduli. Berbeda dengan Kenzo yang ikut menoleh, napasnya terdengar sedikit lebih lega.
“Ayah,” sapa Kenzo.
Andrian berjalan mendekat ke arah Kenzo dan Ara. Tatapannya menyapu wajah wanita asing itu dengan penuh selidik.
“Ada apa, Ken? Pagi-pagi sudah berteriak,” tanya Andrian, bingung.
Kenzo hanya mengedikkan bahu. Matanya beralih ke Ara.
Ara mendengus pelan.
“Apa lo lihat-lihat?” katanya garang, mata melotot tajam.
Kenzo mengerutkan kening.
“Ck. Yah, dia anak siapa sih? Pagi-pagi udah nangkring di rumah kita aja,” tanyanya pada Andrian.
Andrian terdiam. Pandangannya kembali tertuju pada Ara. Jangankan Kenzo, bahkan dirinya sendiri sama sekali tidak mengenali wanita itu. Padahal wajah itu terasa… asing tapi tidak sepenuhnya asing.
Satu per satu anggota keluarga turun dari lantai atas, langkah mereka terhenti ketika melihat pemandangan di pantry.
“Ada apa, Yah?” tanya Helena sambil mendekat ke arah suaminya.
Biasanya pagi seperti ini mereka sudah berkumpul di ruang makan. Tapi hari ini, Kenzo dan Andrian justru berdiri di dapur bersama seorang wanita asing—wanita yang entah kenapa membuat dada Laras terasa sedikit sesak.
Tatapan Helena tertuju pada Ara dia menatap Ara begitu lama san sangat dalam.
“Kamu…” Helena menunjuk Ara tanpa sadar.
Wajah itu. Sorot mata itu. Ada sesuatu yang terasa sangat familiar, tapi ingatannya menolak bekerja sama.
“Kamu siapa?” tanya Helena lagi, nadanya lebih pelan.
Ara hanya menggeleng kecil. Senyum miring terbit di sudut bibirnya. Pahit. Menyakitkan.
Tidak menyangka—ternyata sejauh ini mereka benar-benar tidak pernah mengenalnya. Bahkan orang-orang yang seharusnya paling tahu siapa dirinya.
“Bukan urusan lo,” jawab Ara ketus.
Helena semakin mengernyit bingung dan tidak suka dengan jawaban anak di hadapannya ini.
“Tapi kenapa wajahmu terasa sangat familiar?”
Ara mendengus, lalu menatap Helena tanpa gentar.
“Menurut lo, gue siapa?”
Mereka semua memang buta, tak bisa mengenali anaknya sendiri. Astaga, Alea bahkan dibuat menggeleng-geleng kepala melihat tingkah mereka semua.
“Dasar keluarga problematik,” umpat Alea kesal dalam hati.
Karena sudah muak menghadapi semua tingkah keluarganya, Ara langsung berjalan pergi meninggalkan mereka semua sambil membawa kotak bekalnya. Namun, saat baru saja melangkah, tiba-tiba Bi Wati menghampirinya.
“Non, di depan ada orang yang mencari Non Ara,” kata Bi Wati.
Helena, Andrian, dan Kenzo langsung melotot menatap Ara.
“Arabella!” ucap mereka bertiga bersamaan, sedikit berteriak.
Mereka bertiga syok melihat perubahan Ara yang begitu signifikan.
"Dia benar-benar Ara anakku," gumam Andrian dalam hati.
Ia tak menyangka orang yang tadi ia bentak dan marahi ternyata adalah Ara, anaknya sendiri. Begitu juga dengan Laras dan Kenzo.
"Gila, kenapa adik gue cakep bener," gumam Kenzo dalam hati.
Ia bahkan sampai mengucek matanya beberapa kali, memastikan kalau dia tidak salah lihat.Sementara Ara hanya memutar bola matanya malas. Di dalam kepalanya, Alea mendengus pelan.
"Kaget kan lo pada," gumamnya sembari tersenyum miring.
Ara menoleh ke arah Bi Wati, menghiraukan mereka bertiga yang masih syok.
“Siapa, Bi?” tanya Ara.
“Dealer mobil dan motor, Non,” jawab Bi Wati.
“Oh,” jawab Ara singkat, lalu berjalan meninggalkan mereka untuk menghampiri petugas dealer.
Semalam, setelah menutup sambungan telepon dengan Kakek Rakha, Ara langsung meminta tangan kanan Rakha menyiapkan mobil dan motor sport terbaru. Sekarang, keduanya sudah terparkir di depan halaman mansion.
“Nona,” sapa mereka saat melihat Ara keluar.
“Di mana pesananku?” tanya Ara to the point.
Petugas dealer menunjuk ke arah mobil dan motor yang terparkir. Keduanya keluaran terbaru, edisi terbatas.
Ara menatap keduanya sekilas.
“Bagus, gue suka,” ucapnya.
Petugas dealer mengangguk sambil menyerahkan kunci beserta surat-surat kendaraan.
“Terima kasih, Nona. Senang bisa bekerja sama dengan Anda. Semoga Anda puas dan menjadi pelanggan VVIP di dealer kami.”
“Hm,” jawab Ara.
Dari belakang, Andrian dan Laras menghampiri Ara yang sedang menerima kunci.
“Pasti itu mobil untuk kakakmu, ya, Ra?” tanya Andrian yakin.
Ara tersenyum miring, menaikkan sebelah alis, lalu bersedekap dada menatap mereka meremehkan.
“Tentu aja punya gue. Ngapain gue beliin buat Kenzo dan Kenzi? Lagian, emangnya mereka peduli sama gue? Enggak, kan?”
Helena langsung membentak, “Ara! Mereka itu kakakmu!”
Ara berdecak kesal.
" Cih, Ara keluarga lo benar-benar problematik, heran gue kenapa lo bisa tahan dengan tingkah mereka yang sedikit kurang waras," kata Alea dalam hati.
Alea tidak menyangka dia akan masuk ke dalam tubuh Ara yang lemah dan mudah di tindas sampai dia benar-benar mati.
Ara tidak menanggapi ucapan mereka, dia langsung aja berjalan pergi sembari membawa tas gendongnya menaiki motor sport terbaru miliknya.
" Bye bye," kata Ara sembari melambaikan tangan ke arah Andrian dan Laras.
Dia langsung saja memulai menjalani motornya lalu pergi. Sedangkan Helena dia tampak tidak terima dengan tingkah Ara.
" Ara berhenti kamu,"
" Arabella Kalandra," bentak Helena sambil sedikit berteriak untuk memanggil anak nya itu yang entah kenapa hari ini membuat nya naik darah dan emosi.
Sedangkan Ara dia tersenyum lebar menatap wajah kesal ibunya di balik kaca spionnya.
" Huh, Dasar tak tahu kalian semua,benar-benar keluarga problematik."