Qiara adalah anak yatim piatu yang selalu dimanfaatkan oleh pamannya. Hidupnya begitu menderita. Bahkan dirinya juga disuruh bekerja menjadi pelayan tiga badboy kembar yang akhirnya menjamah dirinya. Hidupnya penuh penderitaan, sejak ke dua orang tuanya meninggal. Dia harus bekerja mencukupi kebutuhannya. Namun akhirnya, ketiga kembar kaya raya itu jatuh cinta pada Qiara. Bahkan saling berebut untuk mendapatkan cintanya? Siapakah dari pada kembar yang bisa bersama dengan Qiara? Apakah Nolan? Apakah Natan? Apakah Noah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31.
"Noah ... Aku punya alasan melakukan semua nya. Kamu kan tahu aku sangat sangat mencintai mu Noah. Dan ... Aku itu sangat ketakutan kalau sampai kamu itu meninggalkan ku dan malah menjalin kasih dengan perempuan lain." teriak Dila dengan suara parau, jelas kesedihan terpancar di wajah Dila.
Noah terlihat menghentikan langkah kakinya, lalu ia berbicara dengan wajah dingin tanpa menoleh ke arah Dila.
"Gue kan udah bilang berkali kali sama lo, Dila. Kalau gue itu tipe laki laki yang setia. Bahkan berkali kali gue udah berjanji sama lo, kalau gue itu akan selalu setia dan juga mencintai lo saja. Harusnya lo itu percaya sama gue, bukan malah selama menjalin hubungan sama gue itu lo itu selalu nuduh gue dengan tuduhan yang tidak masuk akal. Harusnya lo itu itu percaya Dil, kalau lo itu memang mencintai gue. Bukanya saat di sekolah gue berinteraksi dengan perempuan lain perihal sekolah. Lo malah marah, bahkan hal terburuknya lo itu malah membully dan mengintimidasi orang yang dekat sama gue," jelas Noah.
Saat mobil yang di kemudikan oleh Natan berhenti tepat di depan Noah. Noah pun buru buru memasukkan Qiara yang ada di atas gendongannya tanpa memperdulikan Dila pacarnya. Lalu Natan turun dari mobil berganti Noah yang duduk di kursi kemudi.
**
Di dalam mobil, Noah berkali-kali terlihat melonggorkan kerah setelan tuksedo miliknya.
"Kenapa panas sekali? Padahal AC nya nyala paling dingin. Ditambah lagi di luar juga hujan begitu derasnya dengan di sertai kilat yang menyambar," gumam Noah. Ia merasa kebingungan mengapa tubuhnya terasa panas seperti ini. Mungkinkah ada sesuatu yang salah dengan dirinya?
"Dingin ... Dingin sekali," gumam Qiara dalam posisi mata terpejam. Mendengar ucapan itu, Noah melirik ke arah Qiara yang tidur di kursi samping miliknya.
"Astaga," ujar Noah dengan wajah kaget. Kala melihat tubuh gadis yang ada di samping nya itu nampak menggigil dengan hebatnya.
Tapi ... Karena pakaian Qiara yang minim. Noah memilih untuk fokus melakukan laju mobilnya. Apalagi ntah kenapa setelah melihat tubuh Qiara, ia malah merasakan sesuatu yang ada di dalam dirinya itu seperti bangkit.
"Sudahlah, fokus aja ke jalan," batin Noah pada dirinya sendiri, seolah mencoba meredam perasaan bersalah.
Namun, kenyataan kalau baju yang dikenakan Qiara saat ini lembab dan menggigil membuat Noah semakin merasa terpukul. Ia pun tak kuasa menahan penyesalan, "Maafkan aku, Qiara, tadi aku telat menyelamatkanmu dari gangguan teman-teman laki-laki ku saat di party. Aku tidak seharusnya membiarkan mereka memaksa kamu minum alkohol, aku tahu itu akan membuatmu tak nyaman."
Setiap kalimat yang terucap dari mulutnya itu semakin menambah rasa bersalah yang semakin menjadi-jadi. Bagaimana bisa dirinya menjadi sosok yang begitu lengah.
Apakah Qiara akan bisa memaafkannya?Noah mencoba menenangkan pikiran sejenak.
Hujan deras mengguyur kaca mobil, menciptakan kabut yang membuat buram pandangan Noah. Meski terhalang kabut tersebut, dari kejauhan ia melihat banyak mobil polisi terparkir di depan, seolah menutupi jalannya.
"Apa yang terjadi?" gumam Noah, kebingungan merasuk ke dalam pikirannya.
Sesosok polisi yang mengenakan jas hujan terlihat berjalan ke arahnya dan menghentikan Noah saat laku mobilnya mulai mendekati kerumunan mobil itu.
Dengan langkah ragu, Noah nampak membuka jendela mobil miliknya.
"Apa yang terjadi, Pak?" tanya Noah.
"Sementara akses jalan ini ditutup. Karena terjadi longsor di depan," jawab polisi itu singkat.
"Tapi, ini jalan satu-satunya menuju ke arah rumah saya," sahut Noah, merasa semakin terjepit.
"Bagaimana saya harus pulang?"
Polisi itu menatap Noah sebentar, lalu berkata, "Kalau begitu, biarkan saya kembali melakukan tugas saya. Permisi." Sambil berkata begitu, polisi itu berlalu sembari meninggalkan Noah yang masih panik.
"Bagaimana ini?" bisik Noah sendiri, lalu melirik ke arah Qiara yang tertidur lelap di kursi samping.
Pikiran tentang bagaimana cara mencapai rumah bersama Qiara tanpa melewati jalur yang ditutup membuat perasaan cemas dan khawatir semakin menyelimuti hati Noah.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" batin Noah sembari berusaha merenungkan langkah selanjutnya.
Noah merasa tubuhnya semakin panas, jadi di dalam situasi terjepit seperti ini. Ia merasa semakin kesulitan untuk berpikir.
"Qiara ... Bagaimana ini, kita gak bisa pulang ke rumah? Apa kita nginep di hotel saja?" tanya Noah untuk meminta pendapat Qiara tanpa melihat ke arah Qiara.
Karena tadi saya Noah melirik ke arah Qiara, ia melihat kalau bola mata Qiara masih terbuka walaupun sayu. Dan ntah kenapa hasratnya semakin menggebu gebu, saat melihat ke arah wajah dan juga tubuh Qiara. Makanya Noah memilih untuk mengalihkan pandangannya itu ke arah lain.
"Qiara ... " panggil Noah lagi.
Melihat ucapannya tidak mendapatkan respon dari Qiara lantas Noah pun menoleh ke arah Qiara.
Tubuh Qiara sudah tidak menggigil seperti tadi. Namun, ke dua bola matanya terlihat tertutup rapat.
Noah nampak memperhatikan seksama. Melihat wajah Qiara yang nampak pucat, akhirnya Noah pun memberanikan dirinya untuk menyentuh tubuh Qiara. Karena feeling nya buruk.
"Astaga," kota Noah terkejut, saat ia memegang dahi Qiara. Tubuhnya benar benar terasa sedingin es.
Untuk memastikan, Noah lalu memegang bagian tubuh Qiara yang lain. Bahkan ia juga nampak meletakkan telunjuk jarinya ke sela sela hidung Qiara.
"Astaga, bodohnya diriku ini. Qiara kan kedinginan karena bajunya basah. Di tambah lagi, dia tadi demam. Kenapa aku tidak peka? Bagaimana ini? Hotel juga masih sangat jauh dari sini. Mana hujan semakin lebat," gumam Noah.
Melihat banyak mobil yang terparkir di pinggiran jalan. Lantas Noah pun menepikan mobilnya.
Noah pun lantas mematikan mesin mobilnya, lalu ia nampak melepaskan setelan jas miliknya.
"Apa mungkin, Qiara hipotermia?"
Noah sudah melepaskan semua baju miliknya. Kini tubuh bagian atasnya benar benar polos.
"Kalau baju ku, ku gunakan untuk menyelimuti Qiara akan sangat percuma. Karena dress Qiara bagian atas itu sangat lembab.
Meski Noah merasa ragu, namun ia tidak ada pilihan lain. Selain melepaskan baju Qiara terlebih dahulu. Baru menggantinya dengan jas miliknya.
"Ra, maaf kalau aku tidak sopan," kata Noah lirih.
Noah berusaha mati matian, untuk menahan hasrat nya yang sekarang ini menggebu gebu.
Ia nampak memakaikan atasan miliknya pada tubuh Qiara yang tidak berdaya.
Saat sedang memakaikan atas miliknya, tiba tiba Qiara berbicara dengan nada suara yang terdengar begitu lirih.
"Sa ... Ki ... T."
"Dingin ... " Qiara nampak berbicara dengan nafas tersengal senggal dan suara yang terdengar tidak berdaya.
"Qiara aku akan memeluk mu. Maafkan aku, aku begitu egois karena kegerahan malah menyalakan AC begitu sangat dingin. Bahkan membuat mu dalam keadaan seperti ini." kata Noah sembari melonggarkan kursi kemudi nya, mendorongnya sedikit ke belakang. Lalu ia meletakkan tubuh Qiara di atas pangkuannya dan memeluknya dari arah belakang.