Liora merasa dunianya runtuh dalam semalam. Baginya, Raka adalah pelabuhan terakhir, dan Salsa adalah rumah tempatnya bercerita. Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun; dua orang yang paling ia percayai justru menusuknya dari belakang dengan cara yang paling hina. Kepercayaan yang ia jaga setinggi langit, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki tunangan dan sahabatnya sendiri.
Liora tidak pernah menyangka bahwa prinsip yang ia pegang teguh untuk menjaga kehormatan di depan Raka, justru menjadi celah bagi Salsa untuk masuk dan mengambil alih segalanya. Bagai sebuah ironi, Liora memberikan kasih sayang yang tulus, namun dibalas dengan perselingkuhan yang dilakukan tepat di belakang punggungnya.
Apakah Liora akan tetap diam dan pura-pura tidak tau atau ia akan membalaskan dendamnya kepada kedua manusia yang telah mengkhianatinya...
Penasaran ayok ikuti kisah selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 PAGI HARI
Matahari mulai menyelinap masuk melalui celah gorden, membawa cahaya pagi yang seharusnya terasa hangat, namun tidak bagi Liora, ini adalah cahaya yang menyinari semua kebohongan tunangan dan sahabatnya sendiri.
Ia berdiri di depan cermin, merapikan riasannya meski bekas tamparan di pipinya masih terlihat sedikit memerah, sebelah tangannya terangkat mengelus pipi itu dengan pelan.
"Bekas tamparan ini akan mengingatkanku atas apa yang sudah kalian lakukan."
Sesudah siap ia melangkah keluar dari kamar, tujuannya saat ini adalah dapur, ia akan membuatkan sarapan untuk Kevandra karena sudah berani membelanya di hadapan Salsa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di lantai Salsa masih bergelung dengan selimut tebalnya. Tubuhnya terasa remuk, dan kelopak matanya terasa begitu berat untuk dibuka. Di sampingnya, Kevandra sudah berdiri tegak di depan cermin, merapikan dasinya dengan gerakan yang tenang, laki-laki itu sudah siap untuk ke kantor.
Kevandra sempat menoleh sejenak, menelisik wajah Salsa yang tampak sangat kelelahan tidak ingin ambil pusing. Ia segera membuang muka. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah keluar kamar, menuruni anak tangga menuju lantai bawah.
Namun, langkahnya seketika terhenti. Matanya terpaku mendapati sebuah pemandangan yang tak biasa. Liora sedang berada di sana bersama Bi Ratih, asisten rumah tangganya. Aroma harum nasi goreng dan bumbu rempah menguar di udara, menciptakan suasana hangat yang jarang ia temukan di rumahnya sendiri.
"Li? Apa yang kamu lakukan di dapur sepagi ini?" tanya Kevandra dengan kening mengkerut heran.
Liora menoleh, memberikan senyuman manis yang tampak begitu cerah, secerah sinar matahari pagi yang menyambutnya.
"Pagi, Kevan. Aku sedang membantu Bibi menyiapkan sarapan"
Kevandra terpaku sejenak. Ia tidak terbiasa melihat wanita, selain Bi Ratih yang sibuk di dapur untuk menyiapkannya makanan.
"Kamu tamu di sini, Li. Tidak seharusnya kamu repot-repot."
Bi Ratih yang merasa segan terhadap Kevandra menyela dengan nada sopan. "Bibi sudah memberitahu Non Liora, Tuan, agar tidak perlu masuk ke dapur. Tapi Non tetap memaksa."
Liora perlahan menoleh ke arah Bi Ratih, masih dengan senyum manis yang menenangkan. "Nggak apa-apa, Bi. Ini benar-benar kemauan saya sendiri. Saya hanya ingin sedikit membantu."
Suara lembutnya seolah menenangkan kegelisahan asisten rumah tangga itu.
Kevandra hanya mengangguk kecil, matanya masih terpaku pada Liora. Ada kilat ketertarikan di balik tatapan datarnya.
"Aku nggak merasa direpotkan kok, Kevan. Anggap aja ini tanda terima kasih karena kamu sudah memberi izin aku bermalam di sini."
"Duduklah, aku siapkan kopinya dulu." lanjut Liora dengan nada perhatian yang sangat alami.
Kevandra akhirnya menggeser kursi, matanya terus memperhatikan punggung Liora. Diam-diam dari tatapan itu ada sesuatu yang hanya ia pahami sendiri.
Liora memberikan segelas kopi di hadapan laki-laki itu, seketika aroma kopi menyeruak masuk ke dalam hidungnya. Kevandra tertegun perlakuan ini benar-benar membuatnya jatuh ke dalam pesona Liora.
Ia mulai menyesapnya sedikit demi sedikit. Hingga suara langkah kaki membuatnya mengalihkan pandangannya sejenak.
Dari arah tangga Raka mulai melangkah menuju ke arah Kevandra dan Liora, tak lama kemudian, muncul Salsa dari arah belakang.
Saat Salsa melihat Liora, ia langsung menyapanya dengan nada ramah yang dibuat-buat.
"Pagi Liora, Oh ya. Pipi kamu masih sakit nggk? Aku benar-benar nggak bisa tidur semalaman ngerasa bersalah banget."
Liora mengangkat wajahnya, memberikan senyum yang begitu tulus hingga membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa tersentuh.
"Nggak apa-apa, Sa. Aku baik-baik aja."
Ia melirik sang tunangan yang sedang asyik memotong roti, tidak ada rasa ingin tahu atau menanyakan kabar tentang dirinya. Ia beralih menoleh ke arah Kevandra yang sejak tadi hanya diam.
"Kevan. Terima kasih ya, semalam kamu sudah membelaku." ucapnya dengan nada lembut yang terdengar sangat tulus.
Kevandra menurunkan tabletnya, menatap Liora dengan sorot mata yang sedikit lebih lembut.
"Sama-sama, Li. Itu hal yang benar untuk dilakukan."
Salsa mengepalkan tangannya di bawah meja. Rasa cemburu itu kembali muncul melihat interaksi antara suaminya dan Liora, namun ia berusaha menahannya.
Raka berdeham keras saat melihat keakraban Liora dan Kevandra. Ia mencoba memecah keintiman yang mulai terbangun antara laki-laki itu dan tunangannya. Ia merasa terancam melihat sorot mata Kevandra yang berbeda pagi ini.
"Sayang, sebaiknya kita segera pulang jika tidak ingin terjebak macet." sela Raka dengan nada bicara yang dipaksakan tenang.
"Bukannya kamu ada kerjaan jam delapan nanti?"
Liora terdiam sejenak menunggu respon Kevandra.
Perlahan laki-laki itu melirik jam tangannya sekilas, lalu kembali menatap Liora dengan tatapan yang dalam. Tanpa diduga, Kevandra merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kartu nama eksklusif, dan meletakkannya tepat di samping piring Liora.
"Itu kartu nama kantorku. Kebetulan minggu depan aku akan mengadakan kerja sama relasi dengan perusahaan tempatmu bekerja." ucapnya dengan nada datar, namun ada makna yang tidak mereka ketahui.
Liora tertegun ia menatap kartu nama itu sejenak sebelum jemarinya menyentuhnya. Ia bisa merasakan tatapan tajam dari seseorang, siapa lagi jika bukan sahabatnya sendiri.
"Wah, sepertinya aku mendapatkan undangan khusus secara langsung."
Wajahnya berbinar-binar ia melirik Salsa melalui sudut matanya. Senyum tipis tersirat di wajahnya saat melihat wajah Salsa yang memucat karena menahan geram.
Salsa mengepalkan tangannya di bawah meja, ia sangat marah saat melihat apa yang baru saja suminya berikan untuk sahabatnya.
Di samping lain, rahang Raka mengeras saat melihat ada laki-laki lain yang mencoba mendekati tunangannya. Kedua tangannya terkepal erat di atas meja.
Hingga suara Liora membuatnya tersadar kembali dan mencoba tetap tenang agar amarah tidak meledak di sana.
"Baiklah, aku pamit pulang dulu."
Ia bangkit dari kursinya dengan gerakan yang sangat anggun, lalu melangkah menghampiri Salsa yang masih mematung di samping Kevandra.
Liora mengulurkan tangannya, lalu menarik Salsa ke dalam pelukannya hal yang selalu biasa mereka lakukan sebagai sepasang sahabat.
Salsa sempat terpaku, tubuhnya kaku saat merasakan lengan Liora melingkar di bahunya dengan kuat. sebelum Liora melepaskan dekapannya, ia menarik napas dalam dan mendekatkan bibirnya tepat ke samping telinga Salsa. Suaranya sangat rendah, hampir seperti desisan yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.
"Ternyata menyukai milik orang lain nggak terlalu buruk."
Salsa seketika membeku. Napasnya tertahan di tenggorokkan. Jantungnya berdetak sangat cepat saat menyadari makna di balik kalimat itu.
Sebelum Salsa sempat memberikan reaksi atau membalas, Liora sudah lebih dulu melepaskan pelukannya dengan senyum paling manis yang pernah Salsa lihat.
Liora berbalik, menatap Kevandra sejenak dengan tatapan lembut, namun menyimpan makna yang tersembunyi.
"Sampai jumpa, Kevan."
Kevandra hanya mengangguk pelan, namun matanya terus mengikuti setiap gerakkan dari gadis itu.
Liora kemudian beralih pada Salsa yang masih berdiri mematung dengan wajah pucat pasinya. Ia hanya memberi senyum tipis yang nyaris tidak terlihat. Lalu melangkah pergi dari sana bersama Raka meninggalkan Salsa yang masih berusaha mencerna dari setiap kalimat yang sahabatnya bisikkan.
"Ada apa dengannya? Apa dia mengetahui sesuatu?" gumamnya pelan pada dirinya sendiri.
Dari arah samping ia melihat suaminya tidak banyak bicara, seolah menyimpan sesuatu yang tidak ia ketahui.