NovelToon NovelToon
CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ais_26

Ia berlutut pelan di depan ibunya.

“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.

Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.

Butuh dua detik untuk menyadari.

“Ara?”

Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.

“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”

Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.

“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak

Ara langsung panik setengah jengkal

“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 KESIBUKAN MENUJU HARI H-7

Dua minggu menjelang akad, waktu seperti mengecil. Pagi datang terlalu cepat, malam terasa terlalu singkat. Mereka hampir tak punya ruang untuk memikirkan apa kata orang. Setiap jam dipenuhi daftar panjang yang harus diselesaikan.

Di rumah, meja makan Ara berubah fungsi menjadi pusat komando. Buku catatan tebal terbuka hampir sepanjang hari. Halamannya penuh coretan, stabilo, tanda cek, dan catatan kecil di pinggir kertas.

Make up artist sudah dipesan.

Seserahan dibeli satu per satu.

Kain adat dilipat ulang.

Undangan dihitung kembali.

Nama-nama tamu dicocokkan dengan teliti.

Tidak boleh ada yang terlewat.

Ara sibuk mencatat dan mencocokkan. Ia bukan tipe yang suka serba asal. Setiap detail terasa penting. Bahkan warna pita pada hantaran pun ia pikirkan matang-matang.

Danu berbeda cara, tapi sama seriusnya.

Ia datang ketika dibutuhkan. Mengangkat kotak seserahan, membantu memilih warna kain, membayar di kasir tanpa banyak komentar tapi setiap keputusan kecil tetap ia pastikan.

“Yang ini sudah final?” tanyanya sambil memegang contoh kartu undangan.

“Sudah. Tinggal cetak.”

“Kurang nggak?”

Ara menoleh pada catatannya. “Kayaknya cukup… tapi nanti aku cek lagi.”

“Kalau warna dekor diganti lebih soft, kamu suka nggak?” tanya Danu suatu sore saat mereka duduk berhadapan dengan tim WO.

Pertanyaan-pertanyaan kecil, tapi dijalani dengan sungguh-sungguh.

Malam hari, setelah semua orang rumah tidur dan suara televisi dimatikan, mereka duduk berdampingan di ruang tamu. Bukan untuk bermesraan. Bukan untuk bercanda panjang.

Mereka menghitung ulang anggaran.

Mencocokkan jadwal.

Membahas urutan acara.

Beberapa kali mereka rapat dengan WO.

Setiap detail dipikirkan seperti sekarang. Meja ruang tamu berubah jadi meja koordinasi. Map-map terbuka. Timeline dicetak besar.

“Akad jam sembilan tepat ya,” kata koordinator WO sambil menunjuk kertas.

“Setelah itu langsung sesi foto keluarga inti.”

Ara mengangguk, mencatat.

Danu duduk di sebelahnya, sesekali menyela, “Kalau mundur lima menit, masih aman nggak?”

Semua dibahas seperti

Membahas rundown.

Membahas waktu akad.

Membahas siapa duduk di mana.

Siapa masuk lebih dulu.

Siapa berdiri di samping siapa

Di sela kesibukan itu, Ara sempat merasa lelah. Bukan karena acaranya besar justru karena setiap keputusan terasa berat.

Suatu malam setelah rapat kecil selesai, Ara menutup bukunya perlahan. Hampir semua daftar sudah dicoret. Hampir semua kotak sudah terisi tanda cek.

Justru di titik itu rasa tegang datang.

“Mas…” panggilnya pelan.

Danu yang sedang menghitung ulang biaya di ponselnya langsung menoleh. “Kenapa?”

“Aku takut tiba-tiba ada yang kurang.”

Ia tidak menangis. Suaranya stabil. Tapi ada kejujuran yang polos di sana.

“Takut ngecewain Ibu. Takut acaranya nggak rapi.”

Danu mendekat. Tidak langsung menjawab.

“Kamu ingat nggak,” katanya pelan, “waktu orang-orang dulu bilang kita nggak akan sampai sejauh ini?”

Ara mengangguk kecil.

“Kita tetap jalan, kan? Pelan. Tapi jalan.”

Ara menatap lantai, lalu tersenyum tipis.

“Pernikahan juga gitu,” lanjut Danu. “Nggak harus sempurna. Yang penting niatnya jelas. Tanggung jawabnya siap.”

Ara menghela napas panjang. “Aku cuma capek mikir.”

Danu meraih tangannya. “Capeknya bareng.”

Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk menenangkan.

Keesokan harinya, mereka duduk lagi di hadapan tim WO.

Rundown hampir final.

Tanggal sudah dikunci.

Jam akad ditetapkan.

“Kalau nggak ada perubahan,” kata koordinator WO sambil tersenyum, “kita tinggal eksekusi.”

Kalimat itu membuat dada Ara bergetar.

Ini bukan lagi rencana.

Ini kenyataan.

Sore setelah rapat, mereka menuju butik kecil untuk fitting terakhir sebelum pingitan dimulai. Gaun Ara digantung rapi di butik kecil langganan WO.

Ini pertemuan terakhir mereka sebelum pingitan dimulai. Setelah hari itu, mereka tak boleh bertemu langsung sampai hari akad.

Ara berdiri di depan cermin tinggi. Gaunnya belum sepenuhnya dirapikan, tapi bentuknya sudah jelas. Jantungnya berdebar bukan karena kagum tapi karena sadar ini benar-benar nyata dan cukup membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Bukan karena kagum.

Karena sadar ini benar-benar akan terjadi.

Danu keluar dari ruang ganti. Jasnya belum dikancingkan sempurna. Ia terlihat canggung, bukan karena pakaian tapi karena perasaan.

Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap lewat pantulan cermin.

Sunyi.

Bukan sunyi canggung.

Sunyi yang penuh arti.

“Kamu kelihatan beda,” ucap Ara pelan.

Danu terkekeh kecil. “Kamu juga. Nggak kelihatan kayak Ara yang suka nonton sampai lupa waktu.”

Ara menoleh tajam. “Mas.”

Danu tersenyum cepat. “Maksudku… calon istriku.”

Perias dan asistennya pura-pura sibuk. Mereka tahu ini momen yang tidak perlu disela.

“Kalau sudah pas begini,” kata perias, “tinggal sedikit penyesuaian. Selebihnya aman.”

Aman.

Kata itu terasa besar.

Fitting memakan waktu lama. Lepas, pakai lagi, dirapikan, dibenahi detail kecil yang nyaris tak terlihat tapi terasa penting.

Ara mulai lelah. Bahunya pegal. Kakinya nyeri.

Danu pun sama.

“Ini yang terakhir ya,” kata perias akhirnya. “Habis ini fix.”

Fix.

Ara menatap cermin lebih lama.

Ia bukan lagi gadis yang sibuk menenangkan diri dari omongan orang.

Ia adalah seseorang yang bersiap memulai hidup baru.

Perjalanan pulang hening tapi nyaman.

“Ini terakhir kita ketemu sebelum akad ya,” kata Ara pelan.

“Iya,” jawab Danu.

“Tapi bukan terakhir bareng.”

Mobil berhenti di depan rumah Ara.

“Makasih ya… sudah sabar,” ucap Ara.

“Kamu juga.”

Tidak ada pelukan. Tidak ada drama.

Hanya tatapan Yang menyimpan janji.

Keesokan harinya, Danu kembali ke bengkel motor seperti biasa. Pintu rolling dibuka setengah, aroma oli dan besi langsung menyambut pagi. Tangannya sudah hitam oleh noda mesin bahkan sebelum jam sembilan walaupun dia yang punya tapi danu juga turun tangan. Suara kunci pas beradu dengan baut, bunyi kompresor, dan deru motor yang dites gas memenuhi udara.

Tidak ada yang tahu atau mungkin tahu tapi pura-pura tidak bahwa beberapa hari lagi hidupnya akan berubah.

Seorang bapak turun dari motor matic yang rantainya berbunyi kasar.

“Mas Danu bapak lihat kamu kelihatan sibuk akhir-akhir ini,” katanya sambil melepas helm.

Danu mengangguk sopan, tangannya tetap fokus membuka baut penutup mesin.

“Iya, Pak. Lagi siap-siap.”

“Siap apa?” tanya bapak itu, meski senyumnya sudah memberi petunjuk bahwa ia tahu.

Danu tersenyum, kali ini tanpa ragu.

“Siap nikah”

Bapak itu terdiam sesaat, lalu tertawa kecil.

“Ohh… selamat ya, Mas. Pantesan mukanya beda.”

“Terima kasih Pak” jawab Danu.

Tangannya terus bekerja menguras oli, membersihkan busi, menyetel rantai. Rutinitas yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Tapi ada sesuatu yang berbeda di dadanya. Lebih hangat. Lebih penuh.

Setiap tarikan napas terasa seperti hitungan mundur.

Di sela-sela kesibukan, ponselnya bergetar di saku celana. Ia melirik cepat ketika bengkel sedikit sepi.

Aira: Mas… sarapan jangan lupa. Jangan cuma kopi.

Sudut bibir Danu terangkat. Ia mengetik cepat dengan tangan yang masih sedikit berminyak.

Danu: Siap calon istri.

Ia memasukkan kembali ponselnya, menarik napas pelan.

1
Irmha febyollah
lah kmren si Danu ngantarin gorengan ini ngantar motor SMA karyawan blg gak tau rumah si Ara.
Wati Anja
ko ga ada lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!