Enam tahun pengabdian dan cinta jarak jauh (LDR) berakhir sia-sia bagi Aurora. Ia didepak begitu saja lewat pesan singkat, diblokir dari seluruh aspek kehidupan sang mantan, dan digantikan oleh sosok "penjual kesedihan" yang ahli memanipulasi simpati. Luka itu dibawa pulang ke Medan, terkubur di balik kesuksesan yang ia bangun dalam diam.
Tiga tahun berlalu, ego sang mantan akhirnya runtuh. Di bawah tekanan kebutuhan penelitian S3 ibunya di pedalaman Bukit Lawang yang keras dan rawan, ia terpaksa menelan ludah sendiri (mengubungi kembali nomor yg dulu ia blokir). Ia mengharapkan bantuan, mungkin sedikit rasa iba.
Namun, yg ia temukan bukanlah mantan kekasih yg meratapi nasib.
Aurora menerima permintaan itu dengan senyum paling tenang. Bukan dengan amarah, ia menyambut mereka dengan kemewahan yg tak pernah mereka bayangkan. Sebuah Hiace VVIP dengan kursi pijat elektrik menanti di bandara, dikawal oleh sahabat2 loyal dan seorang fotografer yg siap mengabadikan penyesalan sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keheningan yang Menyembuhkan
Ibu Adrian, dengan wajah yang pucat dan air mata yang mulai menggenang, tidak lagi mampu menahan rasa ingin tahunya yang bercampur dengan rasa bersalah yang teramat dalam.
Ia merangkak mendekat, lalu meraih tangan Aurora dan memeluk wanita itu dari samping, bergabung dalam lingkaran kesedihan bersama Adrian.
"Aurora... Sayang..." suara Ibu Adrian gemetar, penuh dengan nada memohon. "Tolong katakan pada Ibu... apa maksud Kepala Suku? Buah cinta apa yang dimaksud? Apa yang sebenarnya terjadi selama kalian berpisah?"
Suasana menjadi sangat krusial. Rahasia besar itu seolah tinggal selangkah lagi terucap secara resmi di depan seluruh keluarga. Adrian hendak membuka suara, namun kalimatnya tertahan di tenggorokan.
Sebelum Aurora yang masih terisak sempat menjawab, Kepala Suku mengangkat tangannya sedikit, memberikan isyarat agar semua orang tetap tenang. Beliau menatap Ibu Adrian dengan pandangan yang sangat teduh namun penuh otoritas.
"Ibu yang baik," ucap Kepala Suku lembut.
"Kebenaran dan kenyataan akan datang tanpa diminta jika waktunya tiba. Janganlah kita membedah luka yang baru saja mulai dibersihkan. Tidak ada satu orang pun di ruangan ini, termasuk Ibu, yang punya hak untuk memaksa Nona Kecil ini bercerita jika hatinya belum siap."
Beliau kemudian beralih menatap Aurora, menyentuh lembut pundak wanita itu.
"Nona Kecil, dengarkan saya. Gunung ini, hutan ini, dan sungai-sungai di Deli telah mendengar tangis mu malam ini. Alam sudah menerima kesedihanmu. Sudah saatnya beban yang kamu pikul sendirian selama bertahun-tahun ini kamu lepaskan di tempat ini. Biarkan ia tertinggal bersama kabut pagi esok, dan jangan kamu bawa lagi saat kamu turun dari bukit ini."
Ibu Adrian tertegun. Ia menyadari bahwa ia tidak boleh egois demi memuaskan rasa penasarannya. Ia mengeratkan pelukannya pada Aurora, menyandarkan kepalanya di bahu wanita yang dulu ia remehkan itu.
"Maafkan Ibu, Ra... Ibu tidak akan memaksa. Tapi ketahuilah, mulai detik ini, apa pun bebanmu, Ibu ada di sini untuk membagi separuhnya," bisik Ibu Adrian dengan tulus.
Malam itu, tidak ada penjelasan medis atau kronologis yang keluar. Namun, semua orang di sana memahami satu hal: ada sebuah nyawa yang pernah hadir dan pergi, meninggalkan luka yang sangat dalam bagi Aurora dan Adrian.
Sesuai pesan Kepala Suku, Aurora mulai mengatur napasnya. Ia mencoba menghirup udara hutan dalam-dalam, mencoba melepaskan bayangan "Gavin" dan masa-masa kelam di Singapura agar tertinggal di rumah panggung itu.
Suasana di dalam rumah panggung itu semakin syahdu. Rico, yang biasanya menjadi tameng keceriaan bagi semua orang, kini benar-benar runtuh pertahanannya.
Melihat Aurora yang terisak begitu pilu, memori tentang saudara kembarnya, Rica, kembali menghantamnya dengan sangat keras.
Rico berlutut di depan Aurora, merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukannya yang sangat protektif.
"Cukup, Ra... Cukup. Jangan menangis lagi seperti ini," bisik Rico dengan suara yang parau. "Aku janji, Ra... Aku tidak akan membiarkanmu tersiksa lagi. Cukup Rica yang pergi dengan cara menyedihkan seperti itu, jangan kamu."
Kepala Suku mendekati Rico, menatapnya dengan pandangan yang seolah bisa membaca garis takdir di wajah pria itu.
Beliau menepuk lembut pundak Rico, memberikan sebuah ketenangan magis yang membuat napas Rico yang memburu perlahan mulai teratur.
"Anak muda," ucap Kepala Suku lembut.
"Sosok Rica memang persis dengan Nona Kecil ini. Luka mereka serupa, wajah mereka pun mungkin senada di matamu. Namun, Nona Kecil ini bukanlah Rica. Dia masih di sini, dan dia punya kesempatan untuk sembuh yang tidak dimiliki saudara kembar mu dulu."
Sentuhan Kepala Suku seolah membuka pintu kejujuran di hati Rico. Ia melepaskan pelukannya, menatap Ayah dan Ibu Adrian dengan pandangan yang sangat serius, lalu mulai berbicara dengan nada yang tenang namun menggetarkan.
"Ibu... Ayah... Maafkan saya jika saya harus melangkahi Aurora," Rico memulai, suaranya mantap.
"Tapi rahasia ini sudah terlalu lama menjadi racun. Kepala Suku benar, beban ini harus ditinggalkan di sini."
Rico menarik napas panjang.
"Saat Adrian meninggalkan Aurora dulu, Aurora tidak hanya kehilangan kekasihnya. Dia kehilangan dunianya karena saat itu dia sedang mengandung. Anak itu, yang mereka beri nama Gavin, meninggal di rahim Aurora tepat saat Aurora mengalami kecelakaan dan Adrian tidak bisa dihubungi karena sedang bersama wanita lain."
Mendengar itu, Ibu Adrian menutup mulutnya dengan tangan, air matanya tumpah seketika.
"Aurora lari ke Singapura bukan untuk bersenang-senang atau mencari pria lain," lanjut Rico dengan nada tajam yang ditujukan pada Adrian.
"Dia lari untuk menyelamatkan kewarasannya. Dia bekerja siang malam sampai hampir bunuh diri karena dihantui rasa bersalah pada bayinya dan rasa sakit hati karena pengabaian Adrian. Saya dan Firan yang menemukannya di titik paling nadir. Saya menjaga Aurora karena saya melihat bayangan adik saya, Rica, yang juga mengakhiri hidupnya karena dikhianati saat sedang hamil."
Ibu Adrian langsung merosot ke lantai, memeluk kaki Aurora sambil meraung meminta maaf. Ia tidak pernah menyangka bahwa kebencian dan sikap meremehkannya dulu telah menyiksa seorang wanita yang tengah berjuang mempertahankan nyawa cucunya.
Adrian sendiri hanya bisa terdiam dengan tubuh bergetar hebat. Rahasia itu kini sudah telanjang di depan orang tuanya. Tidak ada lagi yang disembunyikan.
"Maafkan kami, Aurora... Maafkan Ibu, Nak..." tangis Ibu Adrian pecah.
Malam itu, rahasia kelam itu akhirnya menguap bersama asap api unggun di rumah Kepala Suku. Sesuai pesan sang pemimpin suku, beban itu kini telah diletakkan.
Meskipun sangat menyakitkan, namun kejujuran itu membawa kelegaan yang luar biasa bagi jiwa Aurora.
Pemandangan di dalam rumah panggung itu begitu menyayat hati. Aurora, dengan tubuh yang masih lemas, merosot dari tempat duduknya dan bersujud di hadapan Nenek, Ibu, dan Ayah Adrian.
Di antara isak tangis yang menyesakkan dada, ia terus menggumamkan kata maaf atas khilafnya di masa lalu yang mengakibatkan tragedi besar tersebut.
"Nenek... Ibu... Ayah... maafkan Aurora. Maafkan semua dosa Aurora di masa lalu," rintihnya dengan suara yang nyaris hilang.
Namun, reaksi yang diterima Aurora sungguh di luar dugaan. Ayah Adrian, pria yang biasanya tampak tegas dan sedikit bicara, langsung berjongkok.
Dengan tangan yang gemetar karena haru, ia memapah tubuh Aurora agar kembali tegak. Beliau tidak membiarkan wanita itu bersujud lebih lama di kakinya.
Ayah Adrian kemudian memeluk Aurora dengan sangat protektif, persis seperti seorang ayah yang sedang mendekap anak kandung yang baru pulang dari peperangan panjang. Beliau mengelus rambut Aurora dengan penuh kasih sayang, sementara air matanya sendiri jatuh membasahi pundak Aurora.
Pengakuan Sang Ayah
"Sudah, Nak... cukup. Jangan meminta maaf lagi," suara Ayah Adrian terdengar berat dan tulus. "Kamu tidak salah. Kami yang salah karena tidak tahu cara menjaga mutiara sepertimu."
Ayah Adrian kemudian menatap mata Aurora yang sembab, lalu mengucap kalimat yang membuat Adrian, yang duduk tak jauh dari sana, merasa seperti ditikam tepat di jantungnya.
"Aurora, dengarkan Ayah. Ayah sangat menyayangimu sebagai anak perempuan Ayah sendiri. Dan karena Ayah menyayangimu, Ayah berdoa... Ayah sangat berdoa agar Tuhan mempertemukanmu dengan pria yang jauh lebih baik, lebih kuat, dan lebih bertanggung jawab daripada Adrian."
Beliau menjeda sejenak, melirik Adrian dengan tatapan kecewa yang sangat dalam.
"Bukan karena Ayah tidak mau kamu jadi menantu kami. Tapi karena Ayah tidak rela jika wanita sehebat dan setulus kamu harus menghabiskan sisa hidupmu dengan lelaki pecundang dan pengecut seperti anakku ini. Kamu pantas mendapatkan seseorang yang bisa menjagamu, bukan yang menghancurkanmu."
Kalimat itu menjadi hukuman sosial yang paling berat bagi Adrian. Mendengar ayahnya sendiri menyebutnya "pecundang" di depan wanita yang ia cintai adalah tamparan yang lebih menyakitkan daripada luka di punggungnya. Adrian hanya bisa menunduk, air matanya jatuh ke lantai kayu, menyadari bahwa ia memang telah gagal dalam segala hal.
Nenek pun mendekat, membelai pipi Aurora.
"Benar kata Ayahmu, Ra. Kamu adalah anak kami. Sejarah pahit itu biar terkubur di sini. Mulai hari ini, kamu tidak perlu takut pada siapa pun."
Malam itu, status Aurora di mata keluarga Adrian telah berubah sepenuhnya. Ia bukan lagi sekadar "mantan pacar" atau "pemandu penelitian", melainkan bagian dari keluarga mereka yang paling dihormati.
Suasana yang tadinya penuh dengan isak tangis rekonsiliasi kembali menjadi sunyi saat Kepala Suku berdeham pelan. Pria tua itu menatap bara api yang mulai mengecil, seolah melihat sisa-sisa takdir yang sedang dipermainkan oleh alam.
Ia menoleh ke arah Adrian yang tampak sangat hancur setelah disebut "pecundang" oleh ayahnya sendiri. Dengan suara yang datar namun berwibawa, Kepala Suku memberikan wejangan terakhir yang menjadi penutup malam yang panjang itu.
"Cinta abadi memang memiliki akarnya sendiri yang tak bisa mati," ucap Kepala Suku pelan. "Ia bisa saja kembali bersatu, mekar kembali di tanah yang sama. Namun, jalannya akan sangat sulit. Ibarat hutan yang sudah terbakar, butuh waktu bertahun-tahun untuk menumbuhkan kembali satu tunas kepercayaan."
Beliau menatap tajam ke mata Adrian, seolah sedang menghakimi jiwanya.
"Akan ada badai yang lebih besar dari sekadar pengkhianatan yang harus kamu lalui jika ingin kembali padanya, Pemuda. Dan saat ini, kamu belum punya cukup kekuatan untuk itu. Bersihkan dulu tanganmu dari darah dan lumpur masa lalumu, baru kamu boleh bermimpi tentang masa depan."
Kalimat itu membuat dada Adrian terasa seperti dihimpit bongkahan batu besar. Harapannya untuk kembali memiliki Aurora seolah digantung di atas jurang yang sangat tinggi—ada kemungkinan, namun hampir mustahil untuk digapai.
Ia menyadari bahwa memaafkan adalah satu hal, namun membangun kembali apa yang sudah rata dengan tanah adalah perjuangan seumur hidup.
Aurora sendiri hanya terdiam, menatap kosong ke arah lantai kayu. Ia tidak memberikan reaksi apa pun terhadap kemungkinan "bersatu kembali" itu.
Baginya, kata-kata Kepala Suku adalah pengingat bahwa luka yang ia bawa terlalu dalam untuk disembuhkan hanya dengan satu atau dua permintaan maaf.
...
Keesokan paginya, suasana sudah jauh lebih terkendali. Matahari menyelinap di antara celah-celah pohon besar, membawa harapan baru. Rombongan bersiap untuk turun kembali ke vila.
* Adrian tampak jauh lebih dingin dan pendiam, luka di punggungnya sudah tidak lagi ia keluhkan meski perbannya masih merembes.
* Ibu Adrian terus menggandeng tangan Aurora sepanjang persiapan, tidak membiarkan wanita itu jauh darinya.
* Rico kembali ke mode waspada, ia tahu bahwa perjalanan pulang ini bukan hanya soal fisik, tapi soal mental untuk menghadapi kekacauan di vila.
"Kita pulang sekarang," ujar Ayah Adrian tegas.
"Ada urusan yang harus diselesaikan sampai ke akar-akarnya."
aurora ni kepribadian ganda ato gimana sih kadang dingin kadang welcome😭
nyesel banget deh tu si adrian lebih milih ulet bulu kaya sherly
semoga endingnya aurora gak usah balikan sama adrian deh...