Episode 1 – Pertemuan yang Tak Pernah Terduga
Arga Wibawa adalah putra dari seorang ayah yang memiliki perusahaan ternama di Jakarta. Takdir mempertemukannya kembali dengan Alya Putri Kirana, cinta pertamanya yang tak pernah bisa ia lupakan.
Sejak perpisahan mereka di bangku SMA, Arga harus mengikuti kedua orang tuanya pindah ke Bali karena ayahnya mendapatkan proyek besar di sana. Mau tak mau, Arga meninggalkan Jakarta dan melanjutkan pendidikan kuliahnya di Pulau Dewata. Meski waktu terus berjalan, bayangan Alya tak pernah benar-benar pergi dari pikirannya.
Bertahun-tahun kemudian, Arga akhirnya lulus dari kuliahnya. Dengan tekad yang kuat, ia memutuskan kembali ke Jakarta untuk mencari sang pujaan hati. Sebulan setelah kelulusannya, Arga bersiap dan terbang menuju kota yang penuh kenangan itu.
Setibanya di Jakarta, Arga mulai mencari pekerjaan sambil berusaha menelusuri keberadaan Alya.
Sementara itu, kehidupan Alya tak berjalan semulus ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandi Wabaswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 – Di Antara Hidup dan Perpisahan
Pertemuan itu berlangsung dalam suasana yang penuh haru. Alya akhirnya berada di hadapan kedua orang tuanya setelah sekian lama terpisah oleh luka dan kesalahpahaman. Tangis, penyesalan, dan rindu bercampur menjadi satu, memenuhi ruangan sempit rumah sakit itu.
Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama.
Arga berdiri di dekat pintu, matanya sesekali melirik ke arah lorong. Nalurinya mengatakan bahwa waktu mereka sangat terbatas. Bahaya bisa datang kapan saja.
“Alya,” ucap Arga dengan suara rendah namun tegas. “Kita harus pergi sekarang.”
Alya menoleh, wajahnya masih basah oleh air mata.
“Kenapa, Ga?”
“Kita tidak aman di sini. Anak buah Rayhan bisa datang kapan saja,” jawab Arga. “Ayo cepat. Kita bawa ayah dan ibu dari tempat ini. Kita cari rumah sakit lain sebelum mereka menemukan kita.”
Alya terdiam sesaat, lalu mengangguk mantap. Ia berbalik pada ayahnya.
“Ayah, kita harus pergi sekarang. Kita cari tempat yang lebih aman,” ucap Alya sambil menggenggam tangan ayahnya erat.
Pak Hermawan tampak bingung.
“Kemana, Nak? Ayah masih lemah… kita mau ke mana?”
Alya mengusap air mata, berusaha tersenyum.
“Kita pergi ke tempat yang lebih aman, Yah. Kita harus menjauh dari sini.”
“Kenapa harus buru-buru seperti ini?” tanya ibu tirinya cemas.
Arga melangkah mendekat.
“Rayhan sudah mengetahui keberadaan kami. Jika kita tetap di sini, semuanya akan dalam bahaya.”
Mendengar nama itu, wajah Pak Hermawan seketika menegang. Ia terdiam, seolah menyadari besarnya ancaman yang tengah mengintai.
“Baik…” ucapnya lemah. “Ayah ikut apa kata kalian.”
Dengan sigap, Arga memanggil perawat, mengurus pemindahan pasien, sementara Alya membantu merapikan barang-barang ayahnya. Setiap detik terasa sangat berharga. Ketegangan menggantung di udara, seolah bahaya bisa muncul kapan saja.
Di lorong rumah sakit yang sunyi, langkah mereka berpacu dengan waktu. Di antara hidup dan perpisahan, mereka memilih untuk bertahan, meski harus meninggalkan segalanya demi keselamatan.
Namun di balik semua itu, takdir telah menyiapkan ujian yang jauh lebih besar.
Rayhan akhirnya mendapatkan kabar yang selama ini ia tunggu. Informasi dari orang suruhannya menyebutkan bahwa Arga dan Alya berada di salah satu rumah sakit di kota itu.
Tanpa ragu, Rayhan segera mengerahkan seluruh anak buahnya.
“Sekarang juga. Kepung rumah sakit itu. Jangan sampai mereka lolos,” perintahnya dingin.
Mobil-mobil hitam melaju kencang menembus jalanan kota, membawa amarah dan dendam yang menggelegak. Rayhan duduk di kursi belakang, menatap kosong ke luar jendela. Di dalam dadanya, luka hatinya berubah menjadi bara yang siap membakar segalanya.
Baginya, penolakan Alya adalah penghinaan terbesar.
Ia, Rayhan, pria mapan, terpandang, dan berkuasa, ditolak hanya karena seorang lelaki yang menurutnya tak memiliki apa-apa.
Harga dirinya hancur.
“Alya seharusnya menjadi milikku,” gumamnya penuh amarah. “Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merampasnya dariku.”
Di pikirannya, hanya ada satu tujuan: mendapatkan Alya kembali, apa pun caranya. Ia tak peduli harus melukai siapa pun, bahkan menghancurkan Arga sekalipun.
Sementara itu, di dalam rumah sakit, Arga berpacu dengan waktu. Ia menyelesaikan semua proses administrasi secepat mungkin, sementara Alya membantu ayahnya bersiap untuk dipindahkan. Jantung Alya berdetak semakin kencang, seolah firasat buruk terus membayangi.
Di kejauhan, deru mesin kendaraan semakin mendekat.
Waktu mereka hampir habis.
Dan malam itu, takdir mempertemukan cinta, pengorbanan, dan dendam dalam satu titik yang menentukan segalanya.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰