NovelToon NovelToon
Aku Anak Yang Kau Jual

Aku Anak Yang Kau Jual

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Crazy Rich/Konglomerat / Aliansi Pernikahan / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Rmauli

Bagaimana rasa nya tak mendapatkan kasih sayang dari orangtua sedari kecil, selalu di bedakan dengan saudari kembar nya yang gemilang namun pada akhir nya ia di paksa menikah sebagai penebusan hutang keluarga nya. Hal menyakitkan itulah yang di rasakan oleh Aira.

×××××××

"Jaminan? Ayah menjualku? Ayah menjual anak kandung Ayah sendiri hanya untuk menutupi hutang-hutang konyol itu?"

"Jangan sebut itu menjual!" teriak Ratna, berdiri dari kursinya.

"Ini adalah pengorbanan! Kau seharusnya bersyukur. Aristhide itu kaya raya, tampan, dan berkuasa. Banyak wanita di luar sana yang rela merangkak hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Kau hanya perlu tinggal di sana, melayaninya, dan memastikan dia puas dengan kesepakatan ini."

Penasaran bagaimana perjalanan Aira, baca di sini!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Sang Ibu

Griya tawang baru mereka di tepi pantai Amalfi, Italia, seharusnya menjadi surga. Setelah badai es di Siberia, Aristhide membawa Aira ke tempat di mana langit selalu biru dan aroma lemon memenuhi udara. Namun, bagi Adipati Narendra, ketenangan adalah kemewahan yang tidak bisa ia nikmati. Laporan dari Zurich tentang hilangnya dokumen fisik dengan sidik jari Sofia Malik terus berdenyut di otaknya seperti migrain yang tak kunjung sembuh.

"Kau melamun lagi, Ayah," tegur Aira lembut. Ia berjalan perlahan mendekati Adipati yang sedang berdiri di balkon sambil menatap laut Mediterania. Kandungannya kini memasuki bulan ketujuh, membuatnya tampak bercahaya, namun matanya tetap tajam menangkap kegelisahan ayahnya.

Adipati segera mematikan tabletnya dan menyembunyikannya di balik jas. "Hanya urusan bisnis kecil di Asia, Aira. Jangan dipikirkan."

"Ayah tidak pernah bisa berbohong padaku sejak kita keluar dari Rusia," Aira berdiri di sampingnya. "Apa ini tentang Marcus Vane? Apakah dia melarikan diri?"

"Marcus sudah membusuk di sel bawah tanah di pangkalan Kamchatka. Dia bukan ancaman lagi," Adipati menghela napas, memutuskan untuk memberikan sedikit kejujuran. "Ini tentang ibumu."

Langkah kaki Aristhide terhenti di ambang pintu balkon. Ia baru saja kembali dari kota dengan membawa sekantong buah segar. "Sofia? Bukankah kita sudah melihat makamnya di Jakarta?"

"Kita melihat makam dengan nama Sofia Malik," koreksi Adipati. "Tapi laporan dari Zurich menyebutkan bahwa seseorang telah mengakses brankas 77 dengan pemindaian biometrik yang sangat presisi. Sidik jari, pemindaian iris... semuanya cocok dengan data Sofia yang tersimpan di sistem perbankan Swiss dua puluh tahun lalu."

Aira merasakan hawa dingin merayap di punggungnya, meski matahari Italia sedang terik. "Itu tidak mungkin. Jika dia masih hidup, kenapa dia membiarkan aku menderita di tangan Bramantyo? Kenapa dia tidak mencariku?"

"Mungkin karena dia tidak bisa," gumam Aristhide. Ia meletakkan buah-buahan itu dan bergabung dengan mereka. "Atau mungkin dia sedang melindungi kita dengan tetap dianggap mati."

Keesokan harinya, sebuah paket misterius tiba di depan gerbang vila. Tanpa nama pengirim, hanya sebuah kotak kayu kecil dengan ukiran bunga melati—bunga kesukaan Sofia. Aristhide segera memanggil tim keamanan untuk memindai kotak tersebut sebelum mengizinkan Aira mendekat.

"Tidak ada bahan peledak. Tidak ada racun," lapor kepala keamanan.

Aira membuka kotak itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat sebuah kaset pita kuno dan sebuah foto polaroid yang tampak baru diambil. Foto itu memperlihatkan punggung seorang wanita yang sedang berdiri di depan katedral besar di Milan—wanita itu mengenakan selendang sutra yang sangat dikenali Aira. Selendang itu adalah pemberian Adipati pada hari pertunangan mereka.

"Itu selendang 'Cahaya Rembulan'," bisik Adipati, suaranya tercekat.

Aira segera mencari pemutar kaset tua. Suara statis memenuhi ruangan selama beberapa detik sebelum sebuah suara yang lembut namun parau terdengar.

"Aira... Putriku yang pemberani. Jika kau mendengar ini, berarti kau telah berhasil menghancurkan mahkota digital itu. Maafkan Ibu karena harus menghilang. Dunia yang diciptakan kakekmu terlalu berbahaya untuk kita tinggali bersama. Tapi ada satu hal yang harus kau tahu... Perang yang kau hadapi dengan Marcus hanyalah permulaan. The Consortium memiliki wajah yang lebih banyak dari yang kau duga. Jangan percaya pada siapa pun yang menawarkan 'kedamaian' dengan imbalan rahasia masa lalu."

Rekaman itu berakhir dengan suara langkah kaki yang terburu-buru dan suara pintu yang dibanting.

"Dia masih hidup," bisik Aira, air mata jatuh di pipinya. "Dia benar-benar masih hidup."

Aristhide memeluk Aira, namun matanya menatap tajam ke arah foto polaroid itu. "Milan. Jika dia mengirimkan ini dari Milan, berarti dia sedang memancing kita—atau dia sedang dalam pelarian."

"Atau ini adalah jebakan," sahut Adipati. "The Consortium bisa saja menggunakan teknologi deepfake untuk suara, dan selendang itu bisa saja dicuri."

"Tapi instingku mengatakan ini dia, Ayah," Aira menatap ayahnya dengan penuh permohonan. "Aku harus tahu. Aku tidak bisa hidup dalam ketenangan palsu ini jika ibuku masih berkeliaran di luar sana seperti hantu."

Malam itu, saat Aira sudah tertidur karena kelelahan emosional, Aristhide dan Adipati duduk di ruang kerja bawah tanah.

"Kau akan membawanya ke Milan?" tanya Adipati.

"Tidak mungkin dalam kondisinya yang sedang hamil tua," jawab Aristhide tegas. "Aku yang akan pergi. Aku akan mencari tahu siapa yang mengirim paket itu. Kau tetap di sini, jaga Aira dengan seluruh pasukan yang kau punya."

"Aristhide, jika Sofia benar-benar masih hidup dan dia telah menyembunyikan diri selama dua dekade, dia bukan lagi wanita lembut yang kau kenal dalam cerita. Dia adalah penyintas. Dia mungkin telah berubah menjadi sesuatu yang tidak kita duga."

Aristhide mengepalkan tangannya. "Aku tidak peduli dia menjadi apa. Jika dia adalah alasan Aira menangis di malam hari, aku akan menyeretnya pulang atau memastikannya menghilang selamanya dari hidup kita."

Tiba-tiba, layar monitor keamanan di ruangan itu berkedip. Kamera di gerbang luar menangkap sosok wanita berdiri diam, menatap langsung ke arah lensa kamera. Ia mengenakan topi lebar dan kacamata hitam, namun ia perlahan menurunkan kacamatanya.

Mata itu. Mata sayu yang tajam yang diwarisi oleh Aira.

Aristhide dan Adipati terpaku. Wanita itu menggerakkan bibirnya tanpa suara, namun mereka bisa membacanya dengan jelas:

"Jangan datang ke Milan. Mereka sedang menunggumu di sana."

Wanita itu kemudian berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan jalanan Amalfi sebelum tim keamanan sempat mencapainya.

Aristhide segera berlari ke luar, namun hanya menemukan aroma melati yang tertinggal di udara. Di lantai, wanita itu meninggalkan sebuah bros perak berbentuk burung walet—simbol kepulangan.

"Dia ada di sini," Aristhide berbisik pada kegelapan. "Dia sedang mengawasi kita."

Aira tiba-tiba muncul di balkon atas, menatap ke arah Aristhide dengan wajah pucat. "Dia baru saja masuk ke mimpiku, Aris. Dia bilang... 'Singa' yang kita lawan di Rusia hanyalah anak kucing dibandingkan dengan 'Naga' yang akan datang."

Ketegangan baru mulai menyelimuti surga mereka di Italia. Rahasia Sofia Malik ternyata jauh lebih dalam dari sekadar data biometrik. Ia membawa sebuah kebenaran yang bisa menghancurkan tatanan dunia yang bahkan Adipati Narendra pun tak sanggup hadapi.

Siapakah "Sang Naga" yang dimaksud Sofia? Dan apakah kepulangan sang ibu akan menjadi berkah atau justru kutukan terakhir bagi Aira?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!