NovelToon NovelToon
Ranjang Kedua Suamiku

Ranjang Kedua Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Pelakor
Popularitas:16.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Andila

Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.

Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.

"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.

"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.

Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?

Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Laki-laki yang Baik.

Rania terbelalak saat melihat laki-laki yang ada di hadapannya, laki-laki yang dia kenali. Bukan kenal secara personal, tapi kenal karena sudah dua kali bertemu secara tidak sengaja di apartemen Vita.

"Ka-kau?" ucap Rania tergagap.

Laki-laki itu mengeryitkan kening, bibirnya tertarik membentuk senyum tipis ketika menatap wajah Rania, wajah wanita yang sempat menarik perhatiannya.

"Kau tidak apa-apa?" tanya laki-laki itu.

Rania tersentak. "Sa-saya baik-baik saja," jawabnya gagap. Kemudian dia berusaha untuk berdiri, tetapi entah kenapa kakinya terasa sangat lemas.

"Pegang tanganku," ujar laki-laki itu seraya mengulurkan tangannya.

Rania diam sejenak, merasa ragu untuk meraih tangan laki-laki itu. Namun, tiba-tiba dia teringat Rangga, lalu dengan cepat memegang tangan laki-laki tersebut sangat erat.

Laki-laki itu menggenggam tangan Rania, kemudian tangan yang satu lagi memegangi pundak wanita itu dan membantunya berdiri.

"Pisaunya?" tanyanya seraya melirik ke arah pisau yang tergeletak di atas aspal.

Rania ikut melihat ke bawah. "Sa-saya tidak membutuhkannya lagi," jawabnya.

Laki-laki itu mengangguk dan segera menuntun Rania mendekati mobilnya, tentu saja hal itu membuat Rania mengernyit bingung.

"Ma-maaf, Tuan. Saya-"

"Aku akan mengantarmu," potong laki-laki itu. Dia segera membukakan pintu mobilnya untuk Rania tanpa menunggu balasan dari wanita itu.

Rania terdiam, menatap laki-laki itu dengan heran. "Kenapa dia mengantarku?" Dia merasa aneh sekaligus takut.

Walau masih merasa bingung, Rania tetap masuk ke dalam mobil karena harus segera pergi dari tempat itu. Sekilas dia melirik ke arah laki-laki yang ada di sampingnya, lalu memalingkan wajah saat laki-laki itu juga meliriknya.

"Wajahnya sangat tampan, tapi juga seram." Rania menghela napas berat, merutuki dirinya sendiri yang malah sibuk menilai wajah dari seseorang yang telah menolongnya.

Laki-laki itu kemudian melajukan mobilnya, membawa Rania menjauh dari tempat itu. keheningan pun terjadi, membuat Rania merasa canggung.

"Kenapa dia diam aja?" Rania melirik ke arah laki-laki itu, lalu kembali melihat ke arah depan. Dia harus menghentikan kesunyian yang sedang terjadi, tapi entah kenapa lidahnya terasa keluh.

"Terima kasih karna telah memberi tumpangan pada saya," ucap Rania akhirnya, suaranya pelan, nyaris tak terdengar.

Laki-laki itu melirik sekilas, lalu kembali melihat ke arah depan. "Tidak masalah." katanya datar.

Rania menelan salive, merasa benar-benar sangat canggung. Apalagi melihat raut wajah kaku laki-laki itu yang sama sekali tidak berubah, membuatnya tidak tahu lagi harus berkata apa. Padahal dia adalah tipe wanita yang mudah bergaul.

"Ka-kalau gitu, Anda bisa menurunkan saya di persimpangan jalan depan sana," ujar Rania. Lebih baik dia segera turun karena tidak mau semakin merepotkan laki-laki itu, padahal kenyataannya dia hanya merasa gugup dan juga canggung.

"Kenzo," ucap laki-laki itu tiba-tiba membuat Rania mengernyit bingung.

"Ma-maaf?" tanya Rania tidak mengerti, dia menatap laki-laki itu dengan penuh tanda tanya.

"Kenzo Malendra," ulang laki-laki itu. "Namaku." tambahnya saat Rania masih menatapnya dengan bingung.

"O-oh, begitu," jawab Rania dengan tergagap. "Saya Rania Felisya, seneng bisa berkenalan dengan Anda, Tuan," sambungnya ramah.

Laki-laki bernama Kenzo itu menganggukkan kepala untuk membalas ucapan Rania, sementara Rania tersenyum senang karena Kenzo mau memperkenalkan diri padanya.

"Ah, saya turun di sini saja," ucap Rania saat mobil Kenzo sudah sampai di persimpangan jalan yang dia beritahu tadi, membuat Kenzo segera menepikan mobilnya.

Rania segera melepas seatbelt dan bersiap untuk turun. "Sekali lagi terima kasih, Tuan Kenzo. Semoga kita bisa bertemu lagi," ucapnya dengan senyum tulus.

Kenzo kembali mengangguk. "Tunggu sebentar." Dia bergegas keluar dari mobil meninggalkan Rania yang menatapnya dengan bingung.

Kenzo mengambil sesuatu dari bagasi mobilnya, lalu beralih membukakan pintu untuk Rania membuat wanita itu tersentak. "Pakai ini." katanya seraya memberikan sepasang sendal berwarna biru muda untuk wanita itu.

Rania terpaku, merasa tidak menyangka jika Kenzo akan memberikan sendal untuknya. Tapi kenapa laki-laki itu punya sendal wanita?

"Te-terima kasih." ucapnya gugup, dia menerima sendal itu dan langsung memakainya sembari keluar dari mobil.

Kenzo kembali mengangguk dan berjalan cepat untuk kembali masuk ke dalam mobil. Sebelum pergi, dia melihat sekali lagi ke arah Rania yang juga sedang melihatnya sambil tersenyum cerah.

"Kita pasti akan bertemu lagi," gumamnya pelan, lalu segera melajukan mobilnya menuju tempat tujuan.

Sementara itu, Rania terus menatap mobil Kenzo sampai mobil itu tidak terlihat lagi. Dia merasa senang dan bersyukur karena laki-laki itu mau menolongnya, bahkan memberikan sendal juga, walaupun dia merasa canggung dan juga tegang.

"Semoga kita bisa bertemu lagi," ucap Rania dengan penuh harap, kemudian dia berbalik dan berjalan menuju rumah mertuanya yang berada tidak jauh dari persimpangan itu.

Beberapa saat kemudian, Rania sudah sampai di depan gerbang rumah mewah orangtua Rangga. Terlihat security berjalan ke arahnya dengan tergesa.

"Nyo-nyonya Rania?" ucap security itu dengan tergagap, dia kaget melihat kedatangan menantu majikannya, apalagi wanita itu berjalan kaki sendirian.

Rania tersenyum. "Aku mau ketemu Dafa, Pak." ucapnya seraya masuk ke dalam pekarangan rumah mertuanya.

Security itu mengangguk dan mempersilahkan Rania untuk masuk, dia juga mengatakan jika Dafa sedang berada di taman belakang rumah saat tadi tidak sengaja melihatnya.

Rania mengucapkan terima kasih pada security itu dan bergegas untuk menghampiri Dafa, dia langsung berjalan dari samping menuju belakang tanpa masuk dulu ke dalam rumah.

"Dafa!" panggil Rania seraya berlari saat melihat putra kesayangannya sedang duduk di ayunan.

Dafa menoleh ke arah samping saat mendengar suara mamanya, seketika dia melompat turun dari ayunan dan berlari menghampiri sang mama. "Mama... "

"Dafa, putraku." Rania langsung memeluk tubuh Dafa dengan erat seolah sudah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu. Dia mengecupi wajah putranya dengan gemas, merasa senang dan lega karena bisa bersama dengan Dafa kembali.

Sementara itu, Martha yang baru saja kembali dari mengambil camilan untuk cucunya, merasa sangat terkejut saat melihat keberadaan Rania.

"Ra-Rania?" seru Martha. Kedua matanya membelalak kaget, tubuhnya menegang kaku, dia bahkan hampir menjatuhkan cemilan yang dibawa saat melihat wanita itu.

Rania melepaskan pelukannya saat mendengar suara sang mertua, dia segera menoleh ke arah pintu di mana mertuanya berada.

"Aku datang untuk menjemput Dafa, Ma," ucap Rania. Suaranya pelan, tapi tegas.

Martha terdiam, merasa sedikit asing dengan sikap Rania sekarang. Tidak ada lagi keramahan diwajah menantunya itu, dan tidak ada lagi senyuman di sana, apalagi sekedar basa-basi seperti biasa.

"Duduk dulu, Rania," ujar Martha. Dia melirik ke arah kursi yang ada di tempat itu, menyuruh Rania untuk duduk di sana.

Rania menghela napas berat, kemudian dia menggendong Dafa. "Tidak perlu, Ma. Aku mau langsung pulang saja." tolaknya.

Martha terkesiap, lalu dengan cepat mendekati Rania dan Dafa. "Nanti saja pulangnya kalau Rangga sudah datang," pintanya, mencoba menahan agar mereka tidak pergi.

Rania diam sejenak, memperhatikan wajah mertuanya yang tampak sedikit pias. "Mama sudah tau semuanya, 'kan?" tanyanya.

Martha tersentak. "Ta-tau apa maksudmu?" tanyanya balik, mencoba untuk bersikap seperti biasa walau jantungnya berdegup kencang.

Rania tersenyum sinis melihat kepanikan diwajah sang mertua, jelas mertuanya itu tahu tentang apa yang terjadi dalam rumah tangganya, tentang perbuatan putra mereka. Namun, dia juga tahu betul jika sang mertua tidak pernah peduli.

"Aku akan membawa Dafa," ucap Rania. Dia langsung berbalik dan hendak pergi dari tempat itu. Namun, tiba-tiba Martha mencekal tangannya membuat dia kembali menoleh.

"Kau tidak boleh membawa cucuku!"

*

*

*

Bersambung.

1
Oma Gavin
tangkap saja rangga dan beni mereka berdua biang keroknya biar tau rasanya mendekam dipenjara jgn cuma mikirin nama baik keluarga nya
partini
👍👍👍
bener ran, yg penting bebas dulu dari cengkraman c serangga
Oma Gavin
wah perang dunia ke 3 ini saat andre dan rania jemput dafa jgn sampai dafa disandera harusnya rania ngga usah ikut rangga tau banget kelemahan rania
Yuliana Tunru
nah lho rangga dapat lawan tangguh hingga juliqn dan vidi pun tak bisa berkutik msh mau arogan ..smoga bibi bisa kabari rania ttg dafa kasihan ankmubrania lasti akan di sakiti kkga rangga
Oma Gavin
Alhamdulillah nyungsep dech keluarga beni dan rangga tinggal tunggu waktu kalian semua salah pilih lawan yg ngga kaleng" yg ada justru kalian semua dibikin bangkrut dan dibongkar semua keburu beni
Raisha: mereka otw masuk hotel prodeo & nggembel Oma 💃🤣
total 1 replies
partini
wah bisa di lacak ,,hemmm pintar juga si jul jul
Oma Gavin
Kenzo mafia kejam bila ketemu orang yg tidak berperasaan masa lalu Kenzo telah membentuk kepribadiannya yg ngga mudah
kenzo.. ngeriiii🤭
partini
lagi jatuh cinta jadinm tuan muda Kenzo ga eling🤣🤣
Ayu Andila: Wkwk😭
total 1 replies
cinta semu
apa berani polisi itu bertindak mengingat keluarga Rangga punya power ...jgn ambil Dafa dulu cari cara lain ..kalo bisa cari teman yg bisa membantu u Rania ...jika cuman sendiri pasti mudah sekali Rangga mematahkan u ...
Oma Gavin
semoga rania memenangkan semua gugatan nya hak asuh anak dan perceraian
cinta semu
g tau gimana cara Rania berpikir ...zonk terus ...coba berpikir cerdas
Ninik
Rania itu bener2 bego apa gimana sih Kenzo melarang keluar rumah kan demi keselamatan dia udah tau ada org2 suruhan Rangga tp masih aja nanya dasar kamseupay
partini
udah punya ank Rania polos nya luar biasa 🤭,sering" interaksi yg mendebar kn Thor lucu aja sama Kenzo 😂
partini
Rania kaya kurang 1/2 ons 🤣🤣
dah nurut aja kenapa sama tuan muda
اختی وحی
rania jngn oon,masa mau ambil baju dirumah lama, udah bner² sembunyi
alhamdulillah ran, ada yg mau bantu kamu
partini
Rangga rakus bin Maruk moga aja kena penyakit kelamin
Sri Wahyuni Abuzar
nenek keparat ..bukan nya menenangkan cucunya malah bikin fitnah pula 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!