NovelToon NovelToon
Melihatmu Dalam Kabut

Melihatmu Dalam Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Romantis
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Jantung Labirin SoniCorp

Kapal tongkang itu membawa Lyra dan Elias menyusuri sungai Thames yang pekat, berhenti tepat di sebuah saluran pembuangan air yang terhubung secara rahasia dengan fondasi Canary Wharf. Di balik dinding beton yang tebal, berdenyut jantung dari kekaisaran Valerius: The Sound-Box, sebuah laboratorium bawah tanah yang dibangun dengan material peredam suara paling mutakhir di dunia.

"Satu langkah salah, dan sensor tekanan suara akan mendeteksi langkah kaki kita," Elias memperingatkan, sambil menyesuaikan frekuensi pada jam tangan modifikasinya untuk mengacaukan sonar internal ruangan tersebut.

Mereka menyelinap melalui celah ventilasi, merayap di atas pipa-pipa pendingin server. Di bawah mereka, terlihat para teknisi berbaju putih yang sibuk memantau layar raksasa. Di tengah ruangan, sebuah tabung kaca besar berisi piringan emas yang terus berputar, memancarkan gelombang yang membuat bulu kuduk Lyra berdiri.

Valerius tidak hanya mereplikasi frekuensi ayah, dia menambahkannya dengan algoritma kesedihan massal."

Orang Ketiga di Balik Bayangan

Saat mereka mencoba turun ke pusat data, lampu ruangan tiba-tiba berubah menjadi merah darah. Suara sirine tidak terdengar—Valerius terlalu berkelas untuk suara bising—namun dinding-dinding kaca mulai bergetar dalam frekuensi yang membuat penglihatan menjadi ganda.

"Selamat datang di rumah yang tidak pernah kalian miliki," suara Valerius bergema dari segala arah.

Pintu besar di ujung ruangan terbuka. Valerius berdiri di sana, namun ia tidak sendiri. Di sampingnya, duduk seorang pria tua di atas kursi roda elektrik. Wajahnya penuh keriput, namun matanya tetap tajam dan dingin.

Arthur selalu mengatakan bahwa Marcus tewas di mercusuar. Namun, pria di depan Lyra adalah Marcus. Pria yang telah kehilangan separuh wajahnya akibat ledakan, namun tetap bertahan hidup dalam bayang-bayang selama dua dekade.

"Kakek?" Elias ternganga, kakinya lemas.

"Jangan panggil dia kakek, Elias," potong Valerius dengan senyum tajam. "Dia bukan lagi manusia. Dia adalah Arsitek yang sudah direvisi. Marcus adalah orang ketiga di foto itu, orang yang memberikan bibit obsesi kepada ibumu, Lyra. Dan sekarang, dia butuh kaset itu untuk menyelesaikan 'Lagu Kematian' yang gagal ia selesaikan di Skotlandia."

Pengkhianatan di Dalam Darah

Marcus menggerakkan tangannya yang gemetar, menekan tombol pada kursi rodanya. Sebuah frekuensi statis yang sangat spesifik dilepaskan. Lyra merasakan kepalanya seolah dihantam palu godam. Itu adalah frekuensi "Parental Command"—sebuah pola suara yang dirancang Marcus berdasarkan DNA keluarga Arthur untuk memaksa kepatuhan saraf.

"Berikan kasetnya, Lyra," suara Marcus terdengar parau, keluar dari alat bantu bicara di tenggorokannya. "Hanya dengan itu, aku bisa menghapus semua penderitaan di dunia ini. Kita akan menjadi satu dalam keheningan yang sempurna."

"Tidak!" teriak Lyra. Ia mencoba melawan tekanan suara itu dengan menyanyikan nada penawar yang diajarkan Arthur, namun kekuatannya tidak cukup melawan mesin besar di ruangan itu.

Tiba-tiba, Elias bergerak. Namun, ia tidak membantu Lyra. Ia berjalan mendekati Valerius dan menyerahkan sebuah benda perak dari tasnya.

"Maafkan aku, Lyra," bisik Elias tanpa berani menatap mata sahabatnya. "Mereka menjanjikan kesembuhan total untuk Mia. Adikku tidak bisa hidup selamanya dengan filter buatan ayahmu. Dia butuh dunia yang benar-benar sunyi."

Kehancuran Harapan

Dunia seolah runtuh bagi Lyra. Pengkhianatan Elias terasa lebih menyakitkan daripada frekuensi apa pun yang bisa diciptakan Marcus. Kaset pita milik neneknya kini berada di tangan Valerius.

"Bagus, Elias," Valerius mengambil kaset itu. "Sekarang, kita lihat apakah 'pesan dalam pita' ini benar-benar berisi kunci untuk mematikan sirkuit kemanusiaan."

Valerius memasukkan kaset itu ke dalam mesin induk. Namun, saat pita itu mulai berputar, suara yang keluar bukanlah senandung atau lirik. Melainkan suara detak jantung yang sangat cepat, diikuti oleh suara tawa Elara yang tumpang tindih.

"Apa ini?!" bentak Marcus. "Di mana kodenya?!"

Lyra, meskipun masih menahan sakit di kepalanya, mulai tertawa kecil. Air mata mengalir di pipinya. "Kalian pikir ayahku sebodoh itu? Dia tahu kalian akan mengejarku. Pita itu... pita itu sudah diisi ulang oleh ayah kemarin malam. Itu bukan suara nenek. Itu adalah rekaman 'Suara Kebohongan'."

Tepat saat itu, alarm asli meledak. Bukan dari sistem keamanan, melainkan dari sirkuit SoniCorp yang mulai terbakar karena frekuensi palsu yang merusak algoritma mereka dari dalam.

Di pintu masuk laboratorium, sesosok pria dengan mantel hujan panjang berdiri tegak, memegang sebuah alat kontrol manual tua.Arthur telah tiba.

1
Fadhil Asyraf
makasih kak
PanggilsajaKanjengRatu
Keren banget🔥
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!