" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"
"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"
"Halah paling juga nanti kamu nyesal"
Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan di rumah Pak Abian
Nana akhirnya sampai di kosan. Ia segera mandi untuk melunturkan penat. Setelah itu ia berjinjit menarik koper kecil dari atas lemari pakaiannya.
Uhuk! Uhuk! Nana mengibas-ngibaskan debu yang menempel di kopernya.
"Sudah lama tidak jalan-jalan, sampai berdebu begini," gumamnya. Ia mulai memasukkan beberapa helai baju kantor, dress santai untuk di Bali.
"Segini cukup kan? Cukup deh, cuma tiga hari ini."
"Nana! Nana!"
Suara teriakan dari arah gerbang kosan membuat Nana mengembuskan napas kasar. Ia sangat mengenali suara cempreng nan menyebalkan itu.
"Rian? Ngapain lagi sih itu parasit datang ke sini?" gerutu Nana. Ia melangkah keluar kamar dengan wajah ditekuk.
Benar saja, di depan pagar kosan, Rian sudah berdiri dengan tampang memelas. Begitu melihat Nana muncul, pria itu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di atas aspal kotor.
"Nana! Maafin aku, Na! Aku khilaf, aku menyesal sudah selingkuh. Tolong kasih aku kesempatan kedua!" seru Rian dramatis.
Aksi konyol itu sontak membuat beberapa anak kos yang baru pulang kerja menoleh. Mereka mulai berbisik-bisik sambil menonton drama gratis itu.
"Heh, Rian! Bangun gak kamu?!" bentak Nana, wajahnya merah padam karena malu.
"Punya malu sedikit kenapa sih? Kita sudah putus! Pergi sana!"
"Enggak, Na! Aku nggak akan bangun sebelum kamu maafin aku!" Rian mencoba meraih ujung sandal Nana, tapi Nana segera menghindar.
"Maaf? Setelah kamu habisin uang tabunganku buat foya-foya sama selingkuhanmu itu, kamu minta maaf?" teriak Nana, emosinya meledak.
"Dengar ya, Rian! Muka kamu itu sudah tidak laku di sini! Kamu pikir dengan berlutut begini kamu jadi kayak pangeran di drakor? Enggak! Kamu malah kelihatan kayak pengemis cinta yang gagal total!"
"Na, aku sayang kamu..."
"Sayang matamu! Pergi sekarang atau aku panggil satpam komplek buat seret kamu!" Nana menunjuk ke arah jalan raya dengan beringas.
"Melihat muka kamu saja sudah bikin aku mau muntah, apalagi mau maafin! Pergi!"
Anak-anak kos yang menonton mulai menyoraki Rian. Merasa terpojok dan malu karena ditonton banyak orang, Rian akhirnya berdiri sambil membersihkan debu di lututnya.
"Kamu berubah, Na. Kamu sekarang sombong karena sudah kerja sama CEO kaya itu, kan?" sindir Rian sebelum melangkah pergi.
"Sombong itu perlu kalau menghadapi sampah kayak kamu! Sana pergi!" teriak Nana terakhir kalinya sebelum membanting pintu gerbang kosan.
Nana berjalan cepat masuk kembali ke kosan dengan kepala tertunduk dalam. Ia bisa merasakan tatapan mata para penghuni kos lain yang masih berdiri di depan pintu kamar mereka, berbisik-bisik.
"Maaf ya, Kak... Maaf, Bu," gumam Nana tanpa berani menatap mata siapa pun. Ia merasa sangat malu. Rasanya ingin sekali ia menghilang saat itu juga.
Begitu sampai di dalam kamar, Nana langsung mengunci pintu dan menyandarkan punggungnya di sana. Ia menghela napas panjang, mencoba meredakan detak jantungnya yang masih tidak keruan karena emosi dan malu.
Ponsel Nana bergetar keras di atas meja nakas, memecah kesunyian kamarnya. Nana berdecak, namun tetap mengangkatnya dengan suara sesopan mungkin.
"Halo, selamat malam Pak Abian," sapa Nana.
"Haruna," suara berat Abian terdengar langsung tanpa basa-basi.
"Besok jam enam pagi kamu harus sudah sampai di depan gerbang rumah saya. Jangan telat satu detik pun."
Nana melirik jam dinding, lalu menghitung waktu perjalanannya. "Jam enam pagi, Pak? Tapi dari kosan saya ke rumah besar Bapak itu cukup jauh, apalagi kalau kena macet pagi..."
"Tugasmu bukan untuk menghitung jarak, tapi untuk sampai tepat waktu," potong Abian dingin.
"Mengerti?"
"Mengerti, Pak," jawab Nana pendek, menahan kekesalan di ujung lidah.
"Bagus." ucap Abian sebelum langsung mematikan sambungan secara sepihak.
Nana menatap layar ponselnya yang sudah gelap. "Jam enam pagi? Dia pikir aku punya baling-baling bambu apa?"
Dengan sisa tenaga yang ada, Nana menyetel alarm di ponselnya menjadi jam empat subuh. Ia harus mandi, berdandan, dan berangkat menembus fajar Jakarta demi memenuhi titah sang raja.
......................
Tepat pukul enam pagi, Range Rover hitam itu berhenti di depan gerbang besi raksasa yang menjulang tinggi. Nana menurunkan kaca mobil, menatap satpam yang berjaga dengan gugup.
"Selamat pagi, Pak. Saya Nana, sekretaris Pak Abian. Saya diminta menjemput Bapak untuk berangkat ke Bali," jelas Nana dengan senyum kaku. Satpam itu mengangguk sopan dan membukakan gerbang otomatis.
Nana memarkirkan mobil di carport yang sangat luas, lalu berjalan menuju pintu utama. Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengetuk pintu jati besar itu. Seorang asisten rumah tangga membukanya, namun tak lama kemudian terdengar suara langkah anggun dari dalam.
"Siapa yang bertamu sepagi ini, Bi?" tanya seorang wanita paruh baya.
"Anu... maaf Tante, selamat pagi. Saya Nana, sekretaris Pak Abian," ucap Nana sambil membungkuk sopan.
Mommy Lauren langsung membelalakkan mata, lalu wajahnya berubah cerah. "Ih, kamu toh! Yasudah masuk dulu, jangan di luar. Dingin!"
Nana ditarik masuk ke ruang makan yang sangat megah. Di sana, suasana hangat keluarga sangat terasa. Ada Dania yang sedang menyuapi Karel di kursi tingginya. Tak lama, turun seorang pria tinggi, gagah, dengan rahang tegas yang sangat mirip dengan Abian, namun dengan aura yang lebih ramah. Pria itu adalah Davin.
Nana sampai melongo melihat ketampanan kakak bosnya itu. "Ini keluarga isinya bibit unggul semua ya?" batin Nana.
"Mingkem," bisik sebuah suara berat tepat di telinga Nana.
Nana tersentak dan melihat Abian sudah berdiri di sampingnya dengan wajah datar.
"Itu... itu siapa Pak? Kok ganteng banget?" bisik Nana spontan, matanya masih melirik Davin.
"Jangan genit, dia sudah punya istri," jawab Abian ketus.
Mommy Lauren tertawa melihat interaksi mereka. "Nana, ayo duduk sini. Ikut sarapan sama kami. Mama sudah buatkan nasi goreng spesial."
Nana melirik Abian dengan ragu. "Emang boleh, Pak?"
"Kalau saya bilang tidak, Mommy akan mengomel seharian. Duduk saja," jawab Abian sambil menarik kursi di sebelahnya dengan kasar, mengisyaratkan Nana untuk duduk.
"Jadi Nana sudah berapa lama kerja sama si kaku ini?" tanya Davin sambil mengoles selai ke rotinya, tersenyum ramah pada Nana.
"Sudah mau satu tahun, Mas Davin," jawab Nana sopan.
"Hebat kamu bisa bertahan," timpal Dania sambil tertawa kecil.
"Dulu sekretaris sebelumnya cuma tahan tiga bulan gara-gara tidak kuat dikritik setiap lima menit."
"Saya juga sering dikritik, Mbak Dania. Tapi saya anggap saja itu radio rusak," canda Nana, membuat Mommy Lauren tertawa puas.
"Tuh, Abian! Dengar! Nana itu sabar. Kamu jangan galak-galak di Bali nanti," Mommy Lauren menyendokkan nasi goreng ke piring Nana. "Makan yang banyak, Nana. Kamu kurus sekali, pasti karena sering disuruh lembur ya?"
Abian mendengus sambil menyruput kopinya. "Dia bukan kurus, Mom. Dia saja yang makannya cuma mie instan cup kalau di kosan."
Nana tersedak sedikit. "Tahu dari mana dia?" batinnya kesal.
"Ih, Abian! Kamu kok tahu Nana makan mie instan? Berarti kamu sering perhatikan Nana ya?" goda Dania dengan mata berbinar jahil.
Wajah Abian mendadak kaku. "Tebakan saja. Wajahnya kan wajah kurang gizi."
"Enak saja! Saya sehat walafiat, Pak!" protes Nana tidak terima.
"Sudah-sudah, ayo dihabiskan. Davin, kamu jangan godain Nana terus, lihat tuh adikmu mukanya sudah mau meledak cemburu," ucap Mommy Lauren sambil mengedipkan mata pada Nana.
Abian langsung berdiri, merapikan jam tangannya. "Sudah jam setengah tujuh. Kita berangkat sekarang, Haruna. Masukkan koper saya ke bagasi."
"Ih, kok buru-buru sih Bi? Nana belum habis makannya!" seru Mommy.
"Kita ada penerbangan jam 8, Mom. Ayo, Haruna!"
Nana segera menelan suapan terakhirnya dengan terburu-buru. "Terima kasih sarapannya, Tante, Mbak Dania, Mas Davin. Saya berangkat dulu ya!"
author... author...up lagi bisa ta..🤭
penasaran 😄❤️
Nana ga ada teman laki Thor kayanya asik deh kalau satu tempat kerja ketemu teman lama