NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Setelah Tewas Bersama Istri

Terlahir Kembali Setelah Tewas Bersama Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu / Keluarga
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Setelah hidup lontang-lantung selama separuh hidupnya, Denzel Bastian mengacaukan kehidupannya dengan tangan sendiri. Dia kehilangan istri dan ketiga anak kembar untuk selamanya. Hingga saat berada dalam lautan api, istri yang sudah bercerai bertahun-tahun dengannya tanpa ragu menerjang masuk ke kobaran api untuk mati bersamanya.

Denzel pun sadar, ternyata istrinya begitu mencintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Bab 23 Aku Akan Bercerai Kalau Tidak Sanggup

Setelah tertegun beberapa saat, Revan akhirnya sadar kembali.

Si bajingan Denzel ini pasti khawatir kalau Fiona pergi, tidak ada lagi yang akan mencari uang untuk menghidupinya. Jadi sekarang, Denzel mencoba membujuk putrinya dengan ucapan manis.

Jangan harap.

Revan yang sadar kembal, segera berjalan ke menghampiri Denzel dan Fiona, dia pun berkata, "Fiona, jangan tertipu oleh bajingan ini. Cepat cerai!"

Berkata, "Betul. Fiona, kamu jangan tertipu lagi oleh ucapan manisnya. Coba pikirkan kondisimu sekarang."

Kalau Denzel benar-benar baik kepada putri mereka, bagaimana dia bisa membiarkan Fiona tinggal di rumah yang bobrok ini dan membiarkannya pergi bekerja? Sementara Denzel hanya menganggur seharian?

Pergelangan tangan Fiona digenggam oleh Merry. Setelah mendengar ucapan orang tuanya, Fiona melirik ke arah Denzel dan tidak tahu harus menjawab apa.

Fiona memang kecewa dengan Denzel, tetapi dia masih belum ... ingin bercerai.

Dia tidak ingin meninggalkan Denzel.

Melihat putrinya masih ragu, Merry langsung melanjutkan, "Fiona, jangan

Setelah mendengar ucapan suaminya, Merry pun sadar kembali. Dia mengikuti suaminya dari belakang, lalu meraih pergelangan tangan Fiona dan

Bodoh. Apakah kamu masih ingin mencari uang untuk menghidupi Denzel setelah hamil tujuh sampai delapan bulan? Atau setelah anakmu lahir, kamu masih ingin menghidupi Denzel sambil membesarkan anak?"

Setelah mendengar ucapan Merry, Fiona pun menunduk dan tidak tahu harus menjawab apa.

Denzel sudah memberi tahu Fiona bahwa dia akan berubah. Namun sekarang, kalau Fiona memberi tahu orang tuanya, apakah orang tuanya akan percaya?

Tepat ketika Fiona tidak tahu harus menjawab apa, suara Denzel tiba-tiba terdengar di telinga semua orang.

"Besok aku akan meminta Fiona untuk mengundurkan diri. Mulai sekarang, aku, Denzel akan menghidupinya. Kalau aku tidak sanggup, aku akan menceraikannya!"

Kalau Denzel benar-benar tidak bisa memperbaiki kehidupan mereka dan membiarkan Fiona terus menderita bersamanya, itu artinya Denzel benar-benar sampah tidak berguna. Dia tidak layak untuk Fiona dan tidak boleh menunda kebahagiaan Fiona lagi.

Tentu saja, Denzel juga percaya diri. Selanjutnya, kehidupan dia dan Fiona akan semakin membaik. Mereka tidak mungkin akan bercerai.

Pada saat ini, selain Fiona yang berdiri di depan Denzel.

Bahkan Revan dan Merry yang berdiri di samping juga tercengang begitu mendengar ucapan Denzel.

Revan diam-diam memperhatikan Denzel dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Kondisi dan penampilan bocah ini sama sekali tidak terlihat sedang mabuk.

Bukankah bocah ini selalu mabuk setiap hari?

Merry membuka mulutnya, tetapi tidak tahu apa yang harus dikatakan.

Tentu saja, Merry juga berharap putrinya memiliki pernikahan yang bahagia. Dia juga berharap anak di perut Fiona bisa memiliki seorang ayah yang baik.

Namun... bisakah benar-benar mempercayai bajingan ini?

Fiona juga tidak menyangka Denzel akan mengatakan itu. Fiona mengangkat matanya dan menatap kosong pada pria di depannya.

Denzel tampaknya telah ... benar-benar berubah.

Setelah keheningan sesaat di halaman, Revan bereaksi lebih dulu. Merasa ada yang tidak benar, Revan

Langsung berkata kepada Fiona, "Fiona, aku tanya sekali lagi. Apakah kamu ingin pulang bersama kami?"

Tidak bisa dipungkiri bahwa Revan mulai goyah setelah mendengar ucapan Denzel. Namun, bahkan jika Denzel ingin berubah, dari mana dia bisa mendapatkan uang untuk menghidupi keluarga ini dalam waktu singkat. Revan tidak ingin putrinya menderita lagi dengan Denzel, tidak untuk sehari pun!

Setelah mendengar ucapan Revan, Denzel tidak lagi berbicara.

Denzel tidak begitu peduli dengan sikap Revan dan Merry, melainkan lebih memedulikan orang di depannya, Fiona.

Denzel benar-benar tidak ingin berpisah dengan Fiona.

Namun, kalau Fiona memilih untuk berpisah sementara waktu agar bisa bahagia, Denzel tidak akan memaksanya.

Hampir pada saat yang sama,

tatapan ketiga orang di halaman terjatuh pada Fiona.

Fiona merasa gelisah ketika merasakan tatapan oleh ketiga orang itu.

Satu sisi adalah orang yang dicintainya.

Sisi lain adalah orang tua yang memikirkan dirinya.

Setelah terdiam beberapa saat, Fiona seolah-olah telah membuat keputusan besar. Dia menggertakkan gigi, lalu menarik tangannya dari Merry dan mendongak dengan air mata berlinang, lalu berkata, "Ayah, Ibu, bagaimana kalau kita percaya sekali lagi kepada Denzel? Aku pikir dia..."

"Cukup. Kamu tidak perlu lanjutkan lagi..." Sebelum Fiona selesai bicara, Revan langsung memotongnya. "Kalau kamu masih ingin bersama Denzel si

Bajingan ini, aku tidak peduli. Tapi, kamu harus ingat bahwa ini adalah pilihanmu sendiri. Jagalah dirimu dengan baik!"

Selesai berkata, Revan menoleh ke arah Merry dan berkata, "Ayo pergi."

Setelah itu, Revan memelototi Denzel sebentar, lalu pergi dari tempat ini tanpa menoleh ke belakang.

Merry baru saja bertemu dengan putrinya, dia tidak ingin pergi begitu saja. Ketika Revan sudah berjalan beberapa langkah, Merry masih berdiri di tempat.

"Ayo pergi!"

Revan pun mundur kembali untuk menarik tangan Merry dan membawanya pergi.

Merry melihat putrinya, kemudian melirik ke arah Denzel dan berkata,

"Ingat ucapanmu itu! Kalau tidak, aku akan membawa Fiona pulang kapan saja."

Selesai berkata, Merry pun menggertakkan gigi dan berbalik. Dia menyeka air mata dan pergi bersama Revan tanpa menoleh ke belakang.

Melihat kepergian orang tuanya dari belakang, Fiona mengambil beberapa langkah untuk mengejar mereka. Namun, dia pun menghentikan langkahnya dengan tak berdaya. Fiona menunduk dan menahan air mata yang akan segera keluar serta suasana hati yang sangat buruk.

Apa gunanya dia mengejar mereka?

Fiona sudah memutuskan untuk tidak pulang dengan orang tuanya. Dia sudah menyakiti hati orang tuanya

Denzel tentu saja merasa senang ketika melihat Fiona memilih untuk tinggal. Namun, dia juga merasa sedih

Ketika melihat Fiona yang kesepian dan sedih itu.

Denzel berjalan ke hadapan Fiona, dia melihat Fiona sedang menunduk dan menangis. Denzel segera mengulurkan tangan untuk memeluknya.

Melihat Fiona tidak menolak, Denzel buru-buru memeluknya dengan erat dan berkata dengan lembut, "Jangan sedih lagi, kita akan segera membaik.

Percaya padaku, ya?"

Fiona yang berada di pelukan Denzel terus menyeka air matanya.

Namun, air matanya tidak mau berhenti.

Hidup selalu begitu.

Tidak peduli seberapa sulit atau buruk situasinya, kita dapat menahannya.

Namun, kita selalu takut dengan kenyamanan dan perhatian yang datang tiba-tiba menerobos pertahanan kita.

Ucapan Denzel langsung membuat Fiona kehilangan kendali dan menangis lebih kuat lagi.

hati. Denzel benar-benar sangat sakit

Dia hanya bisa memeluk Fiona dengan lebih erat. Sambil memberinya rasa aman, Denzel pun menepuk punggung Fiona dengan pelan.

"Sudah, sudah. Semua akan membaik."

Pada saat ini, ketika mendengar suara mesin mobil yang menjauh dari rumah mereka, Fiona sekali lagi kehilangan kendali. Dia memendamkan kepala di pelukan Denzel, kemudian menangis lebih keras lagi. Dia terisak kencang di pelukan Denzel.

Denzel juga bingung, dia hanya bisa menepuk punggung Fiona dengan pelan, lalu mencoba menghiburnya, "Sudah, sudah. Semua akan membaik."

Setelah menangis beberapa saat, air mata Fiona sudah membasahi baju Denzel. Fiona pun akhirnya tenang kembali.

Setelah merasakan emosi Fiona yang sudah lebih tenang, Denzel pun melepaskannya dan mengulurkan tangan untuk menyeka air mata di wajah Fiona, lalu berkata, "Percaya padaku, aku akan membuat mereka merestuiku."

Sambil berbicara, Denzel tiba-tiba teringat dengan uang dua puluh juta rupiah lebih yang dihasilkannya hari ini.

Revan memang tidak mudah ditipu, tapi berbeda dengan Fiona. Fiona lebih mudah ditipu karena tidak akan pergi menyelidikinya di kota kabupaten.

Melihat Fiona yang begitu sedih, Denzel hanya bisa membuatnya percaya bahwa dia akan memegang janjinya. Dengan begitu, Fiona mungkin akan lebih gembira.

Setelah memikirkannya, Denzel melihat ke arah Fiona dan berkata dengan misterius, "Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan sesuatu untukmu.

Aku jamin suasana hatimu akan membaik."

Meskipun Fiona masih sangat sedih, dia masih menatap Denzel dengan kooperatif. "Apa?"

"Tunggu sebentar."

Setelah Denzel mengatakan ini, dia menepuk pundak Fiona dan dengan cepat berbalik untuk memasuki ruangan.

Fiona menyeka air matanya dan mengendus. Dia menunggu Denzel keluar dengan patuh.

Fiona tidak boleh menangis lagi.

Kalau Fiona menangis lagi, dia mungkin saja akan memengaruhi bayi di perutnya.

Sebab Fiona sudah membuat keputusan seperti ini. Jadi, dalam waktu dekat, hubungan Fiona dengan orang tuanya tidak mungkin membaik.

Namun, Fiona tetap sedikit khawatir. Setelah suasana hatinya lebih stabil, dia mengeluarkan ponsel, lalu mengirimkan pesan singkat kepada Revan agar mereka berhati-hati di jalan.

Setelah mengirimkan pesan singkat itu, kedua mata Fiona mulai berlinang air mata lagi.

"Sudah."

Tepat pada saat ini, suara Denzel terdengar dari depan.

Fiona mendongak dan melihat

Denzel membawa dua kantong plastik besar yang terisi penuh.

Namun, Fiona masih berlinang air mata, sehingga tidak bisa melihat jelas isinya.

Fiona mengerutkan keningnya dan berkata, "Apa itu?"

Denzel berjalan ke hadapan Fiona, lalu menggoyangkan kedua kantong itu di depannya.

"Uang, ini semua uang!"

Setelah mendengar ucapan Denzel, Fiona segera mendekat dan akhirnya melihat jelas uang yang ada di dalam kantong plastik transparan itu.

Setelah bereaksi, Fiona pun membelalakkan kedua matanya yang masih penuh dengan air mata. Sambil mengendus, Fiona menutup mulutnya

Dan berseru dengan kaget.

"Astaga... banyak sekali uangnya!"

Ekspresi Fiona benar-benar sangat lucu dan indah.

Melihat reaksi Fiona, Denzel benar-benar tidak berdaya.

Efek penyembuhan dari kedua kantong uang ini benar-benar lebih cepat dari yang Denzel bayangkan ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!