NovelToon NovelToon
Pengantin Genderuwo

Pengantin Genderuwo

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Dunia Lain / Suami Hantu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat Salah Alamat

​Dunia konstruksi di Jakarta tidak mengenal kata ampun bagi mereka yang memiliki hati yang sedang terluka. Di bawah sengatan matahari yang seolah berada tepat di atas ubun-ubun, Aditya bekerja seperti mesin. Tubuhnya yang tegap kian menghitam dan mengurus karena beban kerja yang melampaui batas manusiawi. Namun, yang jauh lebih menggerogoti tubuhnya bukanlah semen yang ia panggul atau panas yang membakar kulit, melainkan rasa gelisah yang kian hari kian tak terbendung.

​Sore itu, setelah jam kerja berakhir, Aditya memberanikan diri mengetuk pintu bedeng yang digunakan sebagai kantor Mandor Darto.

​"Kang, saya mohon... ijinkan saya pulang. Hanya tiga hari saja," pinta Aditya dengan suara serak. Ia berdiri menunduk di depan meja kayu yang penuh dengan tumpukan berkas.

​Mandor Darto mendongak, matanya menatap Aditya dengan tajam dari balik kacamata hitamnya. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam sebelum menjawab. "Pulang? Kamu lupa kontrak yang kamu tanda tangani, Dit?"

​"Saya ingat, Kang. Tapi perasaan saya tidak enak. Ada urusan keluarga yang sangat mendesak."

​"Dengar, Aditya. Kamu itu pekerja paling rajin di sini. Tapi aturan tetap aturan," Mandor Darto menggebrak meja dengan pelan namun tegas. "Proyek ini sedang kejar tayang. Kalau kamu pulang sekarang, kamu melanggar kontrak. Kamu tahu dendanya? Dua kali lipat dari nilai kontrakmu. Bukan cuma kamu tidak dapat upah sisa, kamu malah harus bayar ke perusahaan. Apa kamu punya uang sebanyak itu?"

​Aditya terdiam. Lidahnya kelu. Uang yang selama ini ia kumpulkan dengan memeras keringat di bawah terik matahari bahkan belum cukup untuk membayar setengah dari denda tersebut, apalagi untuk modal melamar Mirasih nantinya.

​"Tahan rasamu itu, Dit. Selesaikan tiga bulan lagi. Setelah itu, kamu pulang dengan uang penuh. Jangan jadi laki-laki yang kalah oleh perasaan," tambah Mandor Darto sebelum menyuruh Aditya keluar.

​Aditya berjalan lunglai menuju baraknya. Ia duduk di pinggir kasur, menatap telapak tangannya yang penuh kapalan. Rasa sesak di dadanya hampir membuatnya gila. Ia merasa seperti burung yang sayapnya dipatahkan dan dimasukkan ke dalam sangkar besi. Ia ingin lari, namun kemiskinan adalah rantai yang mengikat kakinya dengan sangat kuat.

​Malam itu, di bawah temaram lampu neon yang berkedip, Aditya menuliskan surat. Ia tidak bisa pulang secara fisik, maka ia membiarkan jiwanya pulang melalui tulisan. Ia mengambil dua lembar kertas usang.

​Surat pertama untuk ibunya dan adiknya, Siti. Ia mengabarkan bahwa ia sehat dan meminta mereka untuk bersabar menunggu kepulangannya. Ia menyelipkan sedikit uang kiriman yang ia sisihkan dari uang makannya sendiri.

​Surat kedua, ia tulis dengan tangan yang bergetar. Surat itu ditujukan khusus untuk Mirasih.

​"Mirasih, cah ayu...

​Maafkan aku karena belum bisa menepati janji untuk pulang cepat. Di sini, langit Jakarta terasa sangat jauh dari pohon randu tempat kita berjanji. Aku sering memimpikanmu, Mir. Aku takut kamu kesepian, aku takut Paman dan Bibimu masih kasar padamu. Tapi kumohon, Mir... bersabarlah sedikit lagi. Jangan menyerah. Aku bekerja siang dan malam hanya untuk satu tujuan: menjemputmu dari sana.Aku akan berusaha pulang secepatnya.

​Gelang hitam yang kuberikan dulu, peganglah erat-erat. Jika kamu merasa sedih, bayangkan aku sedang menggenggam tanganmu. Aku akan pulang, Mir. Aku pasti pulang membawamu pergi. Tunggu aku."

​Aditya melipat surat itu dengan sangat rapi, memasukkannya ke dalam amplop, dan menitipkannya pada seorang teman yang akan pulang ke kampung sebelah pada keesokan harinya. Ia berharap, kata-kata dalam kertas itu bisa menjadi pelindung bagi Mirasih di tengah badai yang tidak ia ketahui.

​Seminggu kemudian, surat itu tiba di sebuah gubuk kecil di pinggir desa. Mak Inah, ibu Aditya, menerima surat itu dengan mata berkaca-kaca. Ia memanggil Siti, anak bungsunya yang masih duduk di bangku SMP, untuk membacakannya.

​"Siti, ini ada surat dari Masmu," ucap Mak Inah haru.

​Siti, seorang remaja yang lincah dan berhati polos, membacakan surat untuk ibunya terlebih dahulu. Setelah selesai, ia menemukan amplop kecil yang terselip di dalamnya.

​"Bu, ini ada surat buat Mbak Mirasih juga. mas Adit minta tolong dikasihkan langsung," kata Siti.

​"Oh, ya sudah. Kamu kan mau berangkat sekolah siang, sekalian mampir ke rumah Paman Broto. Kasihkan pelan-pelan ya, jangan sampai ketahuan bibinya yang galak itu," pesan Ibunya

​Siti mengangguk semangat. Ia sangat menyayangi kakaknya dan ia tahu betapa mas nya itu mencintai Mirasih. Siti segera berganti seragam SMP-nya, menyoren tasnya, dan mengayuh sepeda bututnya menuju rumah besar milik Paman Broto.

​Namun, Siti terkejut saat sampai di depan rumah itu. Rumah yang dulunya kusam kini tampak sangat mentereng. Pagar besinya baru dicat, dan ada aroma kemenyan yang harum bercampur bau bunga yang sangat kuat tercium dari halaman.

​Siti ragu-ragu di depan gerbang. Saat ia hendak memanggil Mirasih, pintu depan terbuka. Bukan Mirasih yang keluar, melainkan Paman Broto yang sedang mengenakan sarung sutra dan menyalakan rokok mahal.

​"Eh, Siti? Ngapain kamu di depan rumah orang siang-siang begini?" tanya Broto dengan nada yang tidak lagi kasar, melainkan penuh keangkuhan orang kaya baru.

​Siti turun dari sepedanya, merasa sedikit terintimidasi oleh perubahan penampilan Paman Broto. "Anu, Paman... ini ada surat dari Mas Aditya buat Mbak Mirasih."

​Mata Broto langsung berkilat mendengar nama Aditya. Ia tahu betul pemuda miskin itu adalah satu-satunya alasan Mirasih masih memiliki harapan. Broto melangkah mendekati pagar dengan senyum yang dibuat-buat ramah.

​"Oh, surat dari Aditya? Kebetulan sekali, Mirasih sedang tidur, dia kurang enak badan. Sini, biar Paman yang kasihkan nanti kalau dia sudah bangun," ucap Broto sambil mengulurkan tangannya.

​Siti yang masih polos dan tidak tahu mengenai konflik batin di rumah itu, percaya begitu saja. Ia berpikir Paman Broto sudah berubah menjadi baik karena sekarang sudah kaya. "Oh, nggih Paman. Tolong dikasihkan ya, Paman. Mas Adit bilang ini penting sekali."

​"Tentu, tentu. Paman pasti kasihkan. Kamu sekolah yang rajin ya," kata Broto sambil menerima amplop itu.

​Setelah Siti mengayuh sepedanya menjauh, senyum ramah di wajah Broto langsung hilang, digantikan oleh seringai licik yang mengerikan. Ia masuk ke dalam rumah, duduk di kursi jati barunya, dan tanpa rasa ragu sedikit pun, ia merobek amplop itu.

​Ia membaca barisan kalimat yang ditulis Aditya dengan teliti. Kata demi kata, janji demi janji.

​"Bersabar sedikit lagi? Menjemput?" Broto tertawa kecil, suara tawa yang dingin dan kering. "Hah! Pemuda miskin ini benar-benar tidak tahu diri. Dia pikir dia bisa mengambil persembahan Ki Ageng Gumboro begitu saja?"

​Broto melirik ke arah kamar depan tempat Mirasih kini tinggal. Mirasih yang sekarang sudah mulai terlihat lebih segar namun tatapannya kian mati. Broto menyadari satu hal: surat ini adalah senjata. Sebuah senjata untuk memastikan Mirasih tetap "patuh" dan tidak berulah di depan sang Genderuwo. Selama Mirasih berpikir Aditya masih mencintainya dan akan menjemputnya, Mirasih akan berusaha untuk tetap hidup. Dan selama Mirasih hidup serta melayani sang penguasa hutan, emas-emas itu akan terus mengalir ke kantong Broto.

​Namun, Broto juga melihat ancaman. Jika Mirasih tahu Aditya akan segera pulang, Mirasih mungkin akan nekat melarikan diri.

​"Ibu! Sini!" panggil Broto pada istrinya.

​Bibi Sumi datang dari dapur dengan tangan yang masih basah habis mencuci bunga setaman. "Ada apa, Pak?"

​Broto menunjukkan surat itu. "Lihat. Si Aditya kirim surat cinta. Katanya mau jemput Mirasih."

​Bibi Sumi membaca surat itu dan langsung panik. "Loh, Pak! Kalau si Aditya pulang dan tahu soal Ki Ageng, urusannya bisa panjang! Bisa-bisa dia lapor polisi atau bawa Mirasih lari!"

​Broto melipat surat itu kembali dan menyimpannya di dalam sakunya. "Tenang, Bu. Surat ini tidak akan sampai ke tangan Mirasih. Justru surat ini yang akan jadi tali pengikat Mirasih. Kita akan gunakan harapan kosong ini untuk membuatnya tetap mau melayani 'Tuan' kita setiap malam Selasa."

​Broto tersenyum licik, membayangkan rencana-rencana jahat lainnya. Baginya, Aditya bukan lagi teman masa kecil keponakannya, melainkan sebuah bidak yang bisa ia mainkan untuk mengontrol "tambang emas" di rumahnya.

​"Kita simpan surat ini. Biarkan Mirasih tetap menunggu dalam ketidakpastian. Harapan itu adalah rantai yang paling kuat, Bu. Lebih kuat dari rantai besi manapun," ucap Broto penuh kemenangan.

​Mirasih di dalam kamarnya, tidak tahu bahwa surat yang paling ia tunggu-tunggu hanya berjarak beberapa meter darinya, namun berada di tangan orang yang paling ingin menghancurkan hidupnya. Ia hanya bisa menatap langit-langit, memegang pergelangan tangannya yang kosong, dan bertanya-tanya dalam hati: Aditya, apakah kamu masih mengingatku? Apakah kamu tahu aku sedang berada di neraka ini?

1
☠ 🍒⃞⃟🦅 SULLY
kelamaan kamu mnjadi bodoh Mirasih ,
apa pasrah bgtu saja hidupmu
di permainankan paman bibi mu ??
sia sia pengorbanan orangtua mu selama hidup
bangkit donk
balas perbuatan busuk mereka
Halwah 4g: ashiapppppppppp kaa...lagi pasang kuda-kuda dia..masih bucin akut dulu 🤭
total 1 replies
☠ 🍒⃞⃟🦅 SULLY
hukuman yang seperti apa akan di terima Broto dan Sumi
manusia busukk
Asphia fia
mampir
Halwah 4g: trimksih kaa 😍
total 1 replies
Evi Anjani
mampir🥰
Halwah 4g: terima ksih kka cantikkkkkk 😍
total 1 replies
Amiera Syaqilla
pengantinnya seram tapi kok juga cantik banget sih😅
Halwah 4g: iya ka🤭 biar gek jlek2 bnget
total 1 replies
Bp. Juenk
sadis amat thor sama gendruwo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!