"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.
"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.
Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.
***
Sebuah kisah tentang dua remaja yang sedang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang Kulit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 - Makan Malam
Giselle melangkah perlahan memasuki rumah. Aman. Suasana rumah terlihat sepi. Segera saja ia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamarnya di lantai atas. Sayangnya, keberuntungan tidak berpihak padanya. Baru saja beberapa langkah menaiki tangga, suara ibunya terdengar menggema di penjuru ruangan.
"Tumben pulang sore? Habis dari mana?" tanya Atika dengan mata memicing. Seingatnya, Giselle tidak meminta izin untuk pulang terlambat.
Giselle berbalik dengan cepat untuk menatap ibunya yang berdiri di ujung tangga.
"Ah, anu... habis main di rumah Libra," jawab Giselle dengan gugup. Takut jika saja Atika memarahinya.
Atika tampak mengangguk beberapa kali sebelum berjalan menuju dapur. "Mandi, ganti baju," perintahnya tanpa menoleh.
Giselle menghela napas lega, mungkin karena ia hanya bermain di rumah Libra, ibunya tidak masalah. Dalam hati, ia sangat-sangat bersyukur. Melanjutkan langkah, Giselle sempat terhenti di depan pintu yang terletak di sebelah pintu kamarnya. Melongok sebentar untuk mengintip apakah pemiliknya ada di dalam atau tidak karena pintu itu sedikit terbuka.
"Kenapa, Gi?"
Giselle tersentak mendengar suara seorang pemuda yang berdiri tepat di belakangnya. Jantungnya berdebar kencang saking terkejutnya. Seperti maling yang baru saja ketahuan, Giselle menjadi panik.
"Gak papa," jawab Giselle singkat kemudian melangkah cepat memasuki kamarnya. Suara keras dari pintu yang ditutup kasar membuat Abram sedikit mundur selangkah. Agak terkejut dengan kelakuan adiknya yang terlihat aneh. Meskipun begitu, senyuman hangat tersungging di bibirnya.
"Ada-ada aja," gumamnya sembari memasuki kamarnya sendiri.
...***...
Di dalam kamar, Giselle tidak langsung melaksanakan perintah ibunya untuk mandi. Gadis itu berdiri di depan lemari pakaiannya kemudian membuka tasnya. Mengambil lembaran ulangan dengan angka 40 yang tertulis sangat besar di atasnya. Kemudian, dengan hati-hati, ia meletakkan kertas itu di rak paling bawah. Bergabung dengan kertas-kertas lainnya yang tertutupi oleh pakaian. Setelah merasa cukup, gadis itu segera memasuki kamar mandi yang berada di kamarnya.
Selesai mandi, bertepatan dengan azan magrib yang berkumandang. Giselle pun melaksanakan kewajibannya terlebih dahulu sebelum beranjak turun untuk makan malam.
Di meja makan sudah ada Abram yang sedang berkutat dengan laptopnya. Sedangkan Atika masih berada di depan kompor. Sepertinya belum selesai memasak untuk makan malam.
"Ayah, mana, Bu?" tanya Giselle sembari mencomot tempe goreng yang baru saja Atika tiriskan.
"Aduh, panasss." Giselle meringis merasakan lidahnya kebas. Ia meletakkan kembali tempe itu di piring. Atika hanya menggelengkan kepalanya melihat itu.
"Ayah ada di kamar. Bantuin ibu siapin makan malam!" perintah Atika sembari menata piring di atas meja. Giselle segera melaksanakan perintah ibunya. Ia membawa panci berisi sayuran dan beberapa lauk ke atas meja.
"Abram, lanjutin nanti. Makan dulu."
Abram menurut, mematikan laptopnya dan fokus pada hidangan di depannya. Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat. Brama datang dan duduk di sebelah istrinya dengan tenang. Setelah selesai menata makanan, Giselle pun mengambil tempat di sebelah Abram.
Di tengah-tengah makan berlangsung, terdengar obrolan ringan di antara keluarga kecil itu. Brama memang tidak pernah melarang mereka mengobrol ketika sedang makan. Katanya, agar hubungan keluarga mereka tetap hangat dengan mengobrol santai.
"Gimana sekolah kamu, Gi?" tanya Brama menatap putri bungsunya. Pria itu memang selalu sibuk, sampai tidak mengetahui perkembangan Giselle di sekolahnya. Makan malam bersama seperti ini sebenarnya sangat jarang dilakukan. Brama lebih sering pulang malam karena sibuk dengan pekerjaan kantornya. Sedangkan Atika yang berkerja di salah satu rumah sakit sebagai dokter bedah, sama sibuknya seperti Brama.
"Baik, Ayah."
"Gimana nilai-nilai kamu?" Gantian Atika yang bertanya. Mendapat pertanyaan seperti itu setelah menerima nilai ulangan yang 'fantastis' membuat Giselle sedikit tertekan.
"Gak gimana-gimana," jawab Giselle lirih tanpa menatap ibunya. Abram melirik adiknya yang terus menunduk. Pria itu mulai merasakan atmosfer di ruang makan ini mulai berubah. Sudah menebak bagaimana kelanjutannya.
Atika tidak puas dengan jawaban Giselle. Wanita itu memang sangat tegas dalam hal nilai.
"Jangan sampai Ibu lihat nilai kamu menurun ya! Kamu boleh main ke mana pun kamu mau. Ibu gak pernah ngelarang asalkan kamu juga rajin belajarnya. Jangan males-malesan," ujar Atika dengan serius.
Giselle hanya mengangguk patuh, dalam hati ia sedikit takut. Bagaimana jika ibunya benar-benar melihat nilainya?
"Kamu kan temenan sama Libra. Harusnya kamu juga belajar dari dia. Temen kamu itu pinter, Giselle!" lanjut Atika.
Giselle menghentikan kunyahannya. Meskipun ia dan Libra berteman dekat bahkan bersahabat, tetapi ia tetap tidak suka jika ibunya sudah mulai membanding-bandingkan mereka. Terasa menyesakkan baginya. Ia dan Libra adalah dua orang yang berbeda, tetapi ibunya selalu saja menyamaratakan mereka. Jika Libra pintar, maka ia pun harus pintar.
"Iya," gumam Giselle. Lebih memilih mengiyakan saja.
"Atau kamu bisa belajar sama kakak kamu. Kamu kan tau dia lulusan dengan nilai tertinggi di SMA dulu. Sekarang juga kuliah jurusan kedokteran. Apa kamu gak pengen seperti kakakmu? Harusnya kamu ambil jurusan IPA, bukan IPS."
Giselle menghela napas pelan. Ia lebih tidak suka dibanding-bandingkan dengan kakaknya yang menurut Atika sempurna itu. Dan lagi, tidak ada yang salah dengan jurusan IPS. Ia heran dengan pemikiran ibunya yang berpikir IPA lebih baik dari IPS. Bukankah sama saja?
"Bu, sudah," tegur Abram. Merasa kasihan melihat wajah Giselle yang berubah murung. Gadis itu memang sangat mudah ditebak hanya lewat ekspresi wajahnya.
"Giselle udah kenyang." Giselle berjalan meninggalkan meja makan begitu saja. Meskipun Atika sudah memanggilnya berkali-kali, ia tidak peduli. Mata Giselle berkaca-kaca. Ia hanya tidak ingin menangis di depan keluarganya. Karena menangis pun tidak akan ada yang peduli.
Hatinya kembali terluka oleh perkataan ibunya yang menyakitkan.
...***...
17 Januari 2026